QUEENESYA

QUEENESYA
123


__ADS_3

Mobil mereka sudah ada di parkiran sebuah Restoran kota tersebut. Evan membukakan pintu mobil untuk Esya lalu menggenggam tangan wanitanya itu. Mereka masuk kedalam restoran tersebut dan memilih meja makan.


Seorang pelayan mendatangi mereka, "Permisi tuan, nyonya. Anda ingin pesan apa?"


"Dua steak Frites dan 2 Lemon tea."


"Baik, saya ulang lagi pesanannya, dua steak Frites dan dua Lemon tea. apakah ada tambahan lagi?"


"Tambahin macaron."


"Baik nyonya, dua Steak Frites, dua Lemon tea dan satu Macaron yah?"


"Iya."


"Baik, Tuan dan nyonya ditunggu pesanannya."


Pelayan tersebut pergi menuju ke kasir untuk menyerahkan pesanan tadi. Seorang pemuda menghampiri meja mereka, melihat itu Esya mengangkat salah satu alisnya.


Evan menjadi heran, "Ada apa?" dia bertanya.


"Aku merasa orang itu ingin menghampiri kita."


"Siapa?"


"Seorang pemuda berkacamata yang sedang berjalan kemarin."


Mendengar itu Evan mencoba untuk menoleh kebelakang. Benar saja, seketika wajah pemuda tersebut tersenyum. Esya mulai bingung, Seorang pelayan mengantarkan makanan mereka.


"Lama tidak bertemu, Stev."

__ADS_1


"Kau..."


"Ayolah, jangan pura-pura tidak mengenalku."


Pemuda tersebut duduk tepat di samping Esya, lalu memandangi wajah Esya dengan intens. Melihat tingkah orang itu membuat Evan sontak memberi tatapan tajam. Esya yang tidak tahu mengenai apa yang terjadi diantara keduanya mulai menyantap makanannya.


"Edward!! Menjauh dari wanitaku."


"Ah, ternyata kau belum lupa denganku yah, Stev."


"Kau..."


"Hei, boleh kita kenalan? aku Edwardo, sahabat Steve, boleh aku tahu siapa anda nona cantik?"


Esya menatap rajam kearah Edward, makannya jadi tertanggung karena keributan yang terjadi. Edward sangat terlihat santai, ia masih belum puas menggoda Evan.


"Aku Bella, malaikat maut mu sekaligus istri dari Steve."


"Kau tidak tahu? aku pikir salah satu wanita mu yang tidak ingin memberitahu tentang itu."


Edward diam, ia kembali memikirkan siapa wanita yang tidak memberitahunya tentang pernikahan Evan. Dia memiliki banyak wanita di luar sana, dan tidak terhitung jumlahnya.


Lelah berpikir, Edward memanggil pelayan dan memesan secangkir coffee. Sekarang meja Evan dan Esya tenang, tanpa keributan dari Edward. Esya sudah selesai makan, sekarang ia sedang membalas beberapa pesan yang masuk kedalam Ponselnya, sementara Evan masih menikmati makanannya.


"Ah, aku ingat sesuatu. Sebenar aku cari dulu..."


"Ah, sial... tumben sekali aku tidak membawanya."


"ada apa?" Evan bertanya.

__ADS_1


"Aku lupa membawa barang ku. biasanya aku meletakkan foot uty di dompetku, kenapa sekarang tidak ada yah?" jawab Edward.


"Kau... apa kau masih menyimpan benda sialan itu?" Evan kembali bertanya.


Esya pura-pura kembali sibuk dengan ponselnya, matanya mengarah pada layar ponsel namun telinganya fokus mendengarkan pembicaraan Edward dan Evan. Sang pelayan kembali datang dan meletakkan pesanan Edward dimeja.


"Edward... serahkan barang itu padaku."


"tidak bisa sekarang... lagi pula tidak akan ada yang mengenali dirimu didalam foto itu."


"Kau... kapan kau dewasa, kau tau foto itu sangat memalukan untukku."


"Tidak masalah, kau menggemaskan didalam. seperti anak perempuan."


"anak perempuan?" Tiba-tiba Esya bertanya.


Evan langsung melotot kearah Edward lalu menatap Esya dan menggelengkan kepala serta sedikit tertawa kecil. Edward kembali mengganggu Evan, setiap kali Esya tiba-tiba bertanya pada mereka. Semakin Esya bertanya semakin bersemangat pula Edward menggoda Evan.


"Cukup. aku tidak akan perduli lagi, Simpan saja barang itu sesuka hatimu."


"hahaha, maaf. sebenarnya aku tidak membawa barang itu kali ini."


"Kau tidak menghilangkannya kan?"


"Tentu saja tidak. aku menyimpannya ditempat yang aman, kurasa." jelas Edward sedikit tidak yakin.


"Kau terlihat mencurigakan."


"Tidak-tidak, percaya padaku. Barang itu berada di tempat yang aman."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan percaya padamu kali ini."


Barang yang mereka sebutkan sejak tadi adalah sebuah lembaran foto dimana didalamnya Evan Kecil berpenampilan seperti seorang gadis kecil, saat diadakannya sebuah pesta kecil di taman kanak-kanakan dulu.


__ADS_2