
Disinilah mereka sekarang, didalam kamar Evan. Orion sejak tadi sudah mencoba mencari alasan yang tepat untuk membohongi sepupunya itu, namun hingga kini ia sama sekali belum menemukan alasan yang tepat.
"Sekarang. Katakan semuanya padaku" ucap Evan sudah menopang dagunya dengan tatapan mengintimidasi yang ia tujukan pada Orion.
"Seb-enar-nya, kemarin aku mendapat kabar dari orang tuanya jika gadis itu akan segera menyusul kesini"
Evan mengangkat salah satu alisnya, mimik wajah lelaki itu sedikit berubah. Ia sudah mengerucutkan bibirnya tanda bahwa ia sudah merasa sedikit kesal, sejak tadi Rio sepupunya tidak memberikan ia jawaban yang sedikit memuaskan.
"Siapa gadis itu!?, Sejak tadi kita membicarakan dia tapi kau sama sekali tidak memberitahu aku namanya" ucap lelaki itu, nada suaranya sudah sedikit meninggi.
Oh, dan lihatlah bahkan Rio yang melihat mimik wajah milik Evan sekarang pasti akan sangat ingin tertawa. Sayang sekali kondisi sekarang tidak memungkinkan lelaki itu untuk melakukannya. Evan seorang laki-laki, tetapi kelakuannya bisa saja sedikit berubah jika ia sedang dalam keadaan yang seperti ini.
Rio mengwajarkan hal itu, Karena dari pihak keluarga Evan sendiri meskipun orangtuanya selalu mengajarinya untuk menjadi anak yang mandiri namun tak tertutup kemungkinan Evan juga sedikit di manja, bagaimanapun Evan adalah satu-satunya putra mereka.
"Kau akan segera tahu setelah hari esok berlalu" ucap Rio, perasaannya sekarang sudah sedikit netral. Kembali lagi pada Evan, tidak puas karena mendapatkan jawaban seperti itu darinya. Akhirnya Evan kembali memberi pertanyaan yang membuat Rio sedikit tegang.
"Apa hubunganmu dengannya!?"
Ya ampun, Rio benar tidak habis pikir dengannya. Beberapa menit yang lalu Evan bertingkah seperti seorang anak kecil dan sekarang lelaki itu justru bertingkah seperti seorang yang memiliki rasa penasaran yang tinggi.
"Rio, kau mau jawab atau aku langsung tanya aunty saja?" ucap Evan lagi
"Eh, i-ya aku akan mengatakannya padamu jadi berhentilah memasang wajah seperti itu dan letakkan ponselmu kembali" ucap Rio, menarik napasnya dalam
Evan tersenyum tanda kemenangan. Akhirnya ia akan segera tahu ada apa dibalik kegugupan sepupunya ini, berbeda dengan Rio yang sudah kebingungan mencari alasan untuk menutupi kebenarannya.
"Dia adalah teman masa kecilku di Perancis" ucap Rio berbohong, meskipun tidak sepenuhnya. Ia harap dengan alasan ini Evan akan segera menyudahi pertanyaannya.
"Ah, kau menyukai gadis itu yah!?"
Bisakah Rio menenggelamkan wajah lelaki itu sekarang juga!? Jika iya, tolong katakan padanya dimana tempat yang bagus untuk ia lakukan itu. Bagaimana bisa tebakan Evan Benar? Dan sekarang apa ia harus menjawabnya lagi.
'Stev ini, benar-benar mulai menyebalkan.' batin Rio, menekan kata menyebalkan.
__ADS_1
Rio mengatur napasnya lagi, memilih untuk bersabar menghadapi sepupunya itu. Untung saja Evan merupakan satu-satunya saudara sepupu Rio kalau tidak, Rio benar-benar akan menenggelamkan wajahnya itu.
"Kau tidak perlu banyak tau, urus saja kisah asmaramu sendiri" ucap Rio yang sudah lebih memilih untuk berbaring di kasur king size yang ada di ruangan itu. Lebih baik ia tidur dari pada harus menjawab pertanyaan Evan.
Salah satu alis Evan terangkat lagi kala melihat Rio sudah mulai tertidur di kasur berukuran besar itu. "Hei... Kembalilah ke kamarmu" ucap Evan sedikit meninggikan suaranya tepat didekat telinga Rio.
"Sstss... diamlah. Jangan ganggu tidurku" ucap Rio mengubah sedikit nada bicaranya, berpura-pura bahwa ia benar-benar sudah mengantuk dan ingin segera tertidur. Melihat itu Evan pasrah saja dan memilih untuk ikut membaringkan dari tepat di samping Rio.
🌺 Queenesya🌺
T
Tidak terasa sekarang sudah hari Senin pun akhirnya tiba, cuaca hari ini juga terlihat cerah sama seperti Evan yang terlihat selalu menampilkan senyum khasnya, berbeda dengan sepupunya, Orion. Lelaki itu justru tak secerah cuaca pagi ini, sejak lelaki itu menuruni tangga mansion ia sudah tidak bersemangat.
Evan terheran akan hal itu, seharusnya Rio bahagia karena akan bertemu dengan gadis kecilnya itu, bukannya memasang mimik wajah kurang bersemangat seperti sekarang.
"Hei, Rio. Mengapa kau memasang tampang seperti itu!?" tanya Evan padanya
"Hnm..."gumam Rio mengalihkan pandangannya pada Evan.
"Kau tidak mengerti, Stev. Aku ...." ucap Rio tergantung
"Sudahlah, ayo cepat. Kalau tidak kita akan terlambat" ucap Evan lebih dulu beranjak dari ruang makan meninggalkan Rio sendiri.
'tidak memiliki keberanian untuk menatap matanya lama' batin lelaki itu melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti tadi lalu menyusul Evan keluar dari mansion menuju ke arah sebuah kendaraan.
Kendaraan itupun melaju setelah dirasa kedua tuan mudanya itu sudah lengkap. Orion masih saja memasang mimik wajah seperti pagi tadi, Evan yang berada tepat disampingnya sekarang hanya menghembuskan napasnya malas. Setelah Ketiga temannya itu pulang pada hari itu, Evan langsung memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi pada sepupunya. Meskipun jawaban yang ia dapat cukup tidak memuaskan untuknya .
Tidak butuh waktu lama untuk tiba di QHS. Setelah kendaraan itu terparkir Evan lalu lebih dulu keluar disusul dengan Rio, namun sebelum ia menginjakkan kakinya di tanah lebih dulu ia menarik napasnya lagi, menetralkan detak jantungnya yang sudah berdegup kencang.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke kelas mereka, mengabaikan lingkungan sekitarnya bahkan tidak sadar jika ada tiga orang laki-laki yang sudah menatap mereka sejak tadi. Ah, tidak lebih tepatnya tatapan itu ditujukan untuk Evan sendiri.
"Kenapa anak itu!? Dia terlihat berbeda hari ini" ucap Ken lebih dulu
__ADS_1
"Yah, tidak seperti biasanya" ucap Gion, setuju dengan perkataan Ken
"Sudahlah. Ayo kembali" kali ini Dion yang berbicara, sambil lebih dulu meninggalkan kedua saudaranya itu.
Kembali pada Evan dan Rio. Kedua remaja itu akhirnya tiba di depan kelasnya, mereka lalu melangkah memasuki ruangan itu. Didalamnya sudah agak ramai, teman-teman merekapun juga sudah berdatang semua.
Evan dan Rio memilih untuk menuju singgasananya masing-masing. Evan bersama dengan Angga sedangkan Rio sendiri karena hari itu kelas mereka harus mendapatkan tambahan kursi tepat di samping meja Evan dan Angga.
Sedangkan Melsha saat itu mengisi kekosongan tepat dimana Esya dulu duduk, bersama dengan Zee.
Tidak lama kemudian bel tanda pelajaran akan segera dimulaipun berbunyi, seluruh penghuni kelas pun langsung duduk manis di kursi mereka masing-masing, meninggalkan segala aktivitas yang mereka lakukan tadi. Sekitar lima menit menunggu, akhirnya pintu utama kelas itu pun terbuka juga, menampilkan seorang pria dewasa dan seorang gadis remaja yang turut mengekorinya dari belakang.
Gadis itu berjalan sambil menundukkan kepalanya, bukan malu hanya saja ia sudah tau jika akan berada dikelas yang sama dengan seorang laki-laki yang sudah sebulan ini menghilang tanpa kabar.
"Baik, semuanya perhatikan kedepan. Kalian sekarang memiliki kawan baru, silahkan perkenalkan dirimu lebih dulu" ucap Mr. Andi, guru fisika mereka.
"Baik Mr." ucap gadis itu
"Hello, perkenalkan nama saya Claudette Alexandria. Dari Perancis, salam kenal" ucap gadis itu sambil memberi senyum manisnya. Membuat kaum lelaki di kelasnya memberi tatapan kagum minus Evan, Angga dan Orion tentunya yang sudah memasang wajah kesalnya melihat teman-teman sekelasnya itu.
"Baik, sekarang kau bisa duduk bersama
...." ucap Mr. Andi menggantung karena ia masih menelusuri ruangan kelas itu mencari apakah ada kursi yang kosong untuk murid barunya itu.
"Orion"
'sial' batin Orion langsung menundukkan kepalanya namun telinganya masih bisa mendengar derap langkah kaki dari gadis itu yang semakin mendekat padanya.Evan yang mengamati kelakuan Orion sejak tadi tersenyum geli, ia sedikit gemas dengan tingkah sepupunya itu.
Gadis itu kemudian duduk tepat disamping Orion, kemudian mengangkat satu alisnya sedikit heran dengan kelakuannya, sejak tadi lelaki itu bahkan tidak ingin menatapnya
"Tenang saja aku tidak akan mengganggumu. Kita sudah bukan anak kecil lagi sekarang" ucap Claudette, yang sialnya justru membuat jantung Rio semakin berpacu kencang.
🌱
__ADS_1
Orion \= Rio
Claudette \= Audet