QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 53 Memori yang Hilang


__ADS_3

Sudah lewat seminggu Esya masih terbaring lemah didalam ruangan yang didominasi dengan warna putih. Bunda Melan tak hentinya selalu setia berada didekat Esya, seperti tak ingin sampai membiarkan putri kecilnya itu hilang lagi.


Dion, Gion serta ayah Yohan juga selalu menemani Esya setiap saat. Bahkan rapat yang semestinya begitu wajib untuk dihadiri oleh Yohan justru sudah ia batalkan semua, sejak seminggu ini Ayah Yohan hanya pergi ke rumah sakit dan sesekali pulang ke mansion hanya untuk mengambil beberapa barang.


Yang jelas seluruh keluarga besar Vondrienty telah mengosongkan seluruh jadwalnya hingga Esya putri kecil mereka, putri yang begitu mereka rindukan selama ini kembali sehat.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu itu berhasil membuyarkan lamunan bunda Melan,ia sudah tahu siapa gerangan yang datang. Ia tidak lain adalah Evan dkk.a yang tidak lain merupakan teman sekelas Esya. Ada Orion juga, sepupu Evan yang memutuskan untuk melanjutkan sekolah dimana Evan saat ini menuntut ilmu.


"Selamat siang, aunty" ucap mereka berbarengan di ambang pintu sebelum melangkah memasuki ruangan itu.


"Selamat siang, juga" ucap bunda Melan membalas salam dari semuanya diiringi dengan senyum tipis namun berbeda dengan perasaannya yang ia miliki sekarang ini.


"Apa Esya sudah ada perkembangan, aunty?"


"Begitulah, sampai sekarang masih belum ada"


Mendengar penuturan bunda Melan, Evan tersenyum kecut. Dirinya selalu berharap agar ketika ia melangkah memasuki ruangan ini, ia bisa melihat Esya sudah sadarkan diri. Namun nyatanya sepertinya sekarang ini masih belum waktunya.


Evan berjalan mendekati ranjang dimana Esya berbaring. Dilihatnya wajah gadis itu begitu tenang, Esya tersenyum dalam tidurnya. Evan bisa mengira mungkin saja Esya sedang bermimpi indah sehingga ia tidak ingin mengakhiri mimpinya itu.


"Bunda, apa Esya sudah sadar!?" Tanya Gion yang baru tiba dengan membawa beberapa paper bag.


Entah sudah berapa kali Gion bertanya seperti itu ketika memasuki ruangan putih itu selama seminggu ini. Jika Gion seperti itu,maka beda lagi dengan Dion. Lelaki dingin itu justru sama sekali tidak ingin meninggalkan ruangan itu, alhasil seluruh kebutuhan Dion harus Gion yang datang membawakannya.


Di sofa yang tak jauh dari ranjang Esya disana ada Oma Hellen, Oma Amel, Opa Hans dan Opa Robert. Sedangkan disisi lainnya lagi ada Ayah Yohan, Aunty Sasha, Uncle Andreas, Kenned dan tentunya Dion.


Setelah meletakkan paper bag itu, Gion segera menghampiri ranjang Esya. Menatap wajah gadis itu dengan lekat, sebelum ia mengecup kening Esya dengan lembut, Gion kemudian menggenggam erat jari-jemari itu sembari tertunduk.


"Cepat bangun yah Sya,Jangan buat kami semakin kuatir. Kami sangat menyayangimu, Queenesya" ucap Gion, lagi dan lagi ia memberi kecupan pada kening Esya. Namun kali ini begitu agak lama dari sebelumnya.


Lantas setelah Gion menghentikan kecupannya, matanya tiba-tiba terbelalak kaget karena mendapati sebutir air jatuh dari kelopak mata Esya yang masih saja terpejam. Esya menangis dalam tidurnya, setelah itu salah satu jari tangan Esya mulai bergerak.

__ADS_1


"Cepat panggil dokter!?" teriak Bunda Melan yang langsung membuat seisi ruangan itu kaget.


"Ada apa!!?"


"Esya yah... Esya sudah sadar. Salah satu jarinya tadi sudah memberi kode"


Ayah Yohan yang mendengar hal itu langsung saja mengambil ponselnya lalu mencari sebuah kontak,ia segera menghubungi salah satu dokter di rumah sakit ini. Tanpa menunggu waktu lama, setelah mengetuk pintu itu seorang dokter pun sudah memasuki ruangan.


"Tolong,tuan dan segenap keluarga untuk keluar sebentar" ucap salah satu suster


Setelah mendengar arahan dari dokter itu, ayah Yohan dan segenap keluarga tak terkecuali Evan dkk.a pun beranjak keluar dari kamar dimana Esya di rawat.


Tidak lama setelah pemeriksaan, pintu ruangan itu akhirnya terbuka memperlihatkan lelaki yang tidak jauh berbeda usianya dengan Yohan sendiri.


"San,Bagaimana keadaan putriku?" Tanya Yohan pada lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu Santos Mohede, teman satu perguruan tinggi ayah Yohan.


"Syukur, sekarang anakmu sudah melewati masa kritisnya. Sebentar lagi dia pasti akan sadar."


"Terima kasih dok"


Setelah kepergian dokter Santos, seluruh keluarga serta teman-teman Esya kini memasuki ruangan itu lagi. Bunda Melan, Ayah Yohan, dan kedua remaja kembar itu langsung berjalan menuju ranjang ruang sakit dimana Esya terbaring.


Ayah Yohan menggenggam tangan kiri Esya sedangkan Bunda Melan menggenggam tangan kanan Esya. Diikuti oleh Dion disebelah kiri dan Gion disebelah kanan. Sedangkan anggota keluarga dan yang lainnya kembali ke tempat semua, memberikan waktu untuk saling melepas rindu terutama Melan dan Yohan sebagai orang tua biologis Esya sendiri.


Tidak lama,Ayah Yohan dan Bunda Melan mulai merasakan lagi pergerakan dari jari jemari Esya. Lantas mereka berdua pun mengalihkan pandangan dari yang sebelumnya tertunduk sekarang menatap wajah Esya. Menunggu mata itu terbuka.


Esya perlahan-lahan mulai membuka matanya,menampilkan lensa mata berwarna biru. Hal pertama yang ia lihat adalah plafon ruangan itu, setelahnya baru keempat orang yang ada di dekatnya saat ini, Bunda Melan dan ayah Yohan menatap mata Esya sendu langsung saja memeluk Esya. Hal itu membuat semua orang langsung saja berkumpul, mengerumuni ranjang Esya.


Esya mengangkat satu alisnya semua orang dihadapannya saat ini begitu terlihat asing dan baru baginya, kecuali Bunda Melan, yang sepertinya sedikit tidak asing baginya.


"Ka-lian si-a-pa?" ucap Esya terbata. Semua orang terdiam melihat tingkah Esya yang sepertinya tidak mengenali mereka. Dengan cepat ayah Yohan menghubungi dokter Santos lagi untuk mengecek apakah ada sesuatu yang terjadi pada Esya.


"Apakah kamu masih mengingat namamu?" tanya dokter Santos lembut pada Esya ketika telah berhadapan dengan gadis manis itu, tetapi Esya hanya membalas pertanyaan itu dengan sebuah menggeleng

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang kamu ingat?"


" Taman"


"Bisa sebutkan nama taman itu?"


"El Pueblo de Los Angeles"


"Ada apa disana?"


"Aku bertemu dengan aunty itu" ucap Esya sambil menunjuk bunda Melan yang mulai semakin bingung mendengar perkataan Esya. Dokter Santos lalu menarik napasnya pelan, hal semula memang sudah ia prediksi akan terjadi sudah ada didepan matanya sekarang.


"Kapan kamu bertemu dengannya?"


"Tadi siang, aunty itu duduk di tas kursi roda. Dan sedang termenung seperti sedang merindukan seseorang"


"Baiklah,sekarang kamu istirahat dulu"


Setelah mengatakan itu, dokter Santos kini berjalan keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh para orang tua sedangkan para remaja itu tetap berada di dalam ruang inap tersebut.


"Sya, kau benar-benar tidak mengingat kami!?" tanya Zee memastikan kembali, sama seperti yang tadi Esya hanya membalas dengan gelengan kepala saja.


"Dengar yah, nama kamu Queenesya. Kedua remaja kembar itu bernama Dion dan Gion, mereka berdua adalah kakak biologismu. Dan aku adalah Kenned satu-satunya kakak tertampan mu, ketiga gadis itu adalah Zee, Ginta dan Eve sedangkan yang disana adalah Orion, Angga dan...."


"Perkenalkan aku adalah Evan, pacar kamu dan calon adik ipar kedua remaja kembar itu"


"Enak saja, siapa yang memberi kau izin untuk berpacaran dengan adikku"


"Siapa juga yang mau jadi kakak ipar mu!?"


"Kalau mau nikah saja sama tiang listrik" ucap ketiga lelaki itu dengan kompak


Dion dan Gion berjalan semakin mendekati Esya memeluk tubuh gadis itu

__ADS_1


Dengan erat. Esya hanya bisa diam dirinya masih belum mengerti semuanya, bagaimana ia bisa terbaring di rumah sakit ia begitu tidak mengingat apapun kecuali pertemuan dirinya dengan Bunda Melan di taman.


__ADS_2