
Pria yang sudah tak terlihat muda lagi itu baru saja bersiap-siap seperti biasanya. Istri tercintanya sudah menyiapkan setelannya Seperti biasa. Pria itu mengambil sebuah arloji kesayangannya dan menggunakannya, tak lupa ia mengecek apakah ada panggilan atau pesan di dalam ponselnya.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Sudah lebih baik, dokter mengatakan jika tidak lama lagi dia akan sadar"
"Semoga saja. Aku tidak ingin jika kesalahpahaman itu justru berakibat buruk pada cucu kesayanganku"
"Tenang saja, Ellen. Semua pasti akan baik-baik saja, percaya padaku. Aku tidak akan membiarkan kejadian dua tahun lalu terulang lagi"
Robert, pria itu mengambil duduk didekat Hellen istrinya lalu memeluk tubuh wanitanya itu. Ia mencium kening Hellen, memberikan kenyamanan pada wanita yang sudah tak lagi muda itu.
"Aku pergi dulu, aku harus memeriksa keadaan Gilbert dan mencari Alvian"
"Baik, berhati-hatilah. Aku mencintaimu"
"Aku juga, baiklah aku berangkat dulu"
Robert keluar dari kamar mereka, tak lupa ia menutup kembali pintu kamar mereka. Ia berjalan menuruni rentetan anak tangga mansion, menuju ke halaman mansion.
Dua hari telah berlalu, hari ini adalah akhir pekan dimana Robert, sang Opa akan keluar lagi seperti biasanya bersama dengan Opa Hans. Gion sengaja bangun pagi untuk mengikuti kedua Opanya. Ia masih sangat penasaran dengan apa yang sudah di jelaskan Opanya tempo hari.
Gion mengecek jam weker miliknya, disana terlihat dengan jelas jam sedang menunjukkan pukul 10.35 pagi. Waktu yang tepat seperti biasanya sebentar lagi Opanya pasti akan segera menuruni anak tangga dan memanggil sopir pribadinya.
Derap langkah kaki membuat Gion dengan cepat membuka pintunya dengan perlahan. Opanya sudah turun dan sebentar lagi adalah gilirannya untuk menguntit kedua Opanya dari belakang.
Di sana sudah ada Opa Hans dan sopir pribadi mereka, Opa Robert berjalan mendekat lalu memasuki mobil.
"Aku merasa ada yang menguntit ku sejak tadi"
"Ah, itu pasti hanya perasaanmu saja. Sudahlah, ayo berangkat"
"Baik, tuan"
Gion terus mengamati gerak-gerik Opanya, untung saja hari ini jadwalnya kosong jadi ia bisa seharian penuh melakukan kegiatannya sekarang ini, mengawasi dan membuntuti kemana Opanya pergi selama seharian penuh.
'Sebenarnya opa mau kemana setiap akhir pekan seperti ini?' batinnya
"Hnm, apa yang kau lakukan mengendap-endap seperti itu?"
"Astaga Ken, kau mengagetkan aku saja. Diam lah, jangan sampai kita ketahuan Opa"
__ADS_1
"Kau, sebenarnya apa yang sedang kau perbuat?"
"Apa kau tidak lihat, aku sedang membuntuti mereka. Apa kau tidak penasaran setiap akhir pekan kemana opa pergi?"
"Aku penasaran sih, tapi...."
"Ah, kau lama. Ayo cepat, aku tidak mau tertinggal jauh"
Tanpa membiarkan Ken menyelesaikan ucapannya terlebih dulu, ia sudah langsung di tarik oleh Gion menuju ke mobilnya. Ia pasrah l, padahal sekarang ia sedang memiliki jadwal lain di kampus yang sedang menunggunya.
"Kau serius, ingin mengawasi Opa seharian?" tanya Ken.
"Tentu saja, aku sangat penasaran tahu"
"Kalau begitu, antar aku ke kampus dulu. Aku memiliki urusan penting hari ini"
"Oh, ayolah. Tidak bisakah kau menemani sepupu mu ini?"
"Hah, kau ini benar-benar deh"
Ken mengambil ponsel serta earphone miliknya di saku celaannya, memakainya lalu memutar musik favoritnya yang belakangan ini ia dengar. Gion dengan antusiasnya terus menyetir dan mengikuti arah kendaraan Opanya. Sekitar 45 menit mereka di perjalanan, akhirnya mobil Opanya berhenti disebuah gedung besar bertembok putih dan berlantai 4. Gion berusaha membangunkan Ken yang sejak tadi tertidur.
"Ayo,cepat. Opa sudah lebih dulu masuk kedalam"
"Ayo cepatlah. Kalau tidak jangan salahkan aku jika aku menarik mu sekarang"
"Iya...aku bangun, sudah puas!?"
Gion yang sudah tidak sabar, memilih untuk mengabaikan Ken dan berjalan lebih dulu memasuki gedung putih itu. Ia tidak tahu jika Opanya memiliki properti lain selain rumah sakit, hotel, dan perusahaan.
Gedung ini, seperti rumah sakit namun lebih mengarah ke gedung penitian lebih tepatnya seperti sebuah laboratorium besar. Ada banyak orang yang sepertinya sedang melakukan percobaan ilmiah.
Gion terus mengikuti Opanya, ia melihat kedua opanya memasuki sebuah ruangan dan menggunakan pakaian seperti di gunakan di rumah sakit biasanya ketika ingin menjenguk seorang pasien.
"Ayo lihat, siapa yang sering ditemui oleh opa?"
"Iya, berhentilah mengoceh dan lihatlah kedepan sana"
"Eh, Opa sedang berbicara dengan siapa?"
"Sepertinya ia dokter, tunggu. Dimana Opa Hans?"ucap Ken setelah sadar bahwa Opa Hans tidak berada di antara Opa Robert dan seorang lelaki berjas putih dengan stetoskop di tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian berdua lakukan disini?" Suara khas Opanya terdengar jelas di telinga keduanya.
Dengan ragu Gion dan Ken berbalik, entah sejak kapan Opanya sudah berdiri di belakang mereka dengan alis yang dikerjakan.
"O-opa...."
"Bisa beri opa penjelasan?.... Hnm, sebaiknya kalian berdua ikut dengan Opa dulu baru bicara"
"Maaf, Opa. Aku sangat penasaran sampai membuntuti Opa"
Ken dan Gion mengikuti langkah kaki Opa Hans mendekat kearah Opa Robert yang masih berbincang dengan seorang dokter. Mereka berdua agak menunduk, Gion merasa sedikit malu karena kedoknya terbongkar oleh Opanya sendiri.
"Hnm, jadi kalian yang membuntuti Opa sejak tadi?" tanya Opa Robert ketika kedua cucunya sudah berada di dekatnya.
"Maaf, Opa. Aku hanya ditarik ikut oleh Gio karena rasa penasarannya" jawab Ken
"Opa jangan salahkan aku, tapi salahkan saja rasa penasaranku"
"Penasaran,yah?! Kalau gitu ikut Opa"
"Aku akan disini untuk melanjutkan pembicaraan dengan dokter Tomi"
"Baiklah Hanz, aku akan berbicara Dengan kedua bocah ini dulu"
Robert berjalan lebih dulu memasuki sebuah ruangan diikuti oleh Ken dan Gion. Setibanya mereka di dalam Opa Robert memperlihatkan seseorang yang sedang terbaring tak sadarkan diri dari luar ruangan.
"Dia adalah Gilbert, teman lama Opa yang tempo hari Opa Cerita. Saat kejadian pembantaian itu, Gilbert mengalami luka yang serius yang membuatnya tidak sadarkan diri sampai saat ini"
"Apakah masih ada harapan?"
"Iya, meskipun kecil kemungkinan tapi belakangan ini kondisinya sudah mulai semakin membaik, dokter mengatakan jika tidak lama lagi dia akan segera bangun"
"Semoga saja, jadi karena hal ini setiap akhir pekan Opa rutin keluar?"
"Iya, Opa harus sesering mungkin mengamati perkembangannya"
Kini rasa penasaran Gion sudah terbalaskan, ia sudah tahu tentang alasan opanya keluar setiap akhir pekan. Ada satu hal lagi yang harus Gion cari tahu lagi, yaitu latar belakang keluarga Hera dan tabung yang di cerita oleh Opanya hari itu.
Kata Opanya, tabung itu adalah hasil penelitian temannya tapi Gion lebih penasaran lagi dengan isi dari tabung itu sendiri.
Apakah benda yang penting, atau hanya sekumpulan barang lama. Mengingat terkadang ada orang-orang yang menyimpan atau mengoleksi barang-barang lama dan menjadikannya sebagai harta Karun tersembunyi yang khusus mereka buat sendiri agar bisa mereka kenang kembali ketika sudah berada di usia yang tak muda lagi.
__ADS_1
Tbc