QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 72 Tangisan


__ADS_3

Sore hari yang cerah, tidak seindah suasana hatinya. Rasa ragu masih saja menggerogotinya, ia ingin mengutarakan namun takut mendapat penolakan. Ia ingin menjadi salah satu orang yang istimewa di hati gadis itu. Mengizinkannya untuk tetap berada dekat dengannya, menjaga dan melindungi gadisnya adalah keinginan terbesarnya.


Perkataan teman dan saudaranya masih terus saja terlintas jelas dalam pikirannya, padahal ini sudah lewat seminggu lebih. Ia tahu seharusnya sudah sejak lama ia mengutarakan perasaannya, namun apa boleh dikata jika hal ini adalah yang pertama untuknya. Ia sama sekali tidak memiliki pengalaman sedikitpun tentang bagaimana mengutarakan perasaan, padahal jika dilihat seseorang hanya perlu mengucapkan perasaannya tepat didepan seseorang yang ia sukai.


Sayang sekali, mengucapkan hal itu tidak semudah membuka mulut atau membalikkan telapak tangan. Setidaknya begitulah yang sedang dirasakan oleh Evan belakang ini. Membuatnya sesekali melamun atau mencari tempat tenang untuknya tanpa adanya kebisingan dari sekitarnya.


Seperti sekarang ini, entah sudah berapa lama Evan duduk di bangku taman, tempat pertama ia berkenalan dengan Esya sekitar setahun yang lalu. Ia memutuskan untuk mencari tempat aman dan jauh dari jangkauan kedua lelaki itu.


Siapa yang akan menyangkah bahwa Evan memilih tempat ini untuk menjadi pelariannya. Menikmati hembusan angin di sore hari memanglah sangat nyaman. Pikirannya bisa kembali jernih dan perasaannya bisa sedikit tenang. Evan menutup matanya dan bersandar pada sandaran bangku taman yang ia duduki sejak tadi.  


'menenangkan' satu kata itu yang dapat ia utarakan sekarang, saku celananya bergetar disusul oleh dering ponsel miliknya. Evan merogoh saku celananya lalu mengambil benda Pipih itu, di lihatnya layar ponsel miliknya disana terpampang jelas nama 'My Queen'


Senyum di wajah Evan kian melebar, ketika mengetahui siapa yang menelpon dirinya. Itu adalah gadis pujaannya, Evan  tidak mau membuat gadisnya itu menunggu terlalu lama. Ia menetralkan perasaannya, lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo,Sya"


"..."


"Iya,ada apa,Sya?"


"..."


"Ada kok,Sya"


"..."


"Bisa dong,Sya. Mau ketemu kapan?"


"..."


"Baiklah, Sabtu sore jam 3 di taman. Mau aku jemput, Sya? " 


"..."


"Baiklah, sampai jumpa di hari Sabtu"


"..."


Entah sekarang ini Evan harus merasa beruntung atau apa, sejak tadi yang ada di dalam pikirannya hanya gadis berlesung pipi dan bermata biru indah, ponselnya berdering dan menampilkan nama kontak gadis itu.


Senyumnya tetap merekah indah di wajahnya, gadis pujaannya baru saja menghubunginya dan meminta untuk bertemu di akhir pekan. Evan tidak sabar menunggu hari itu tiba, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bersama dengan Esya.


'Aku harap ketiga monster itu tidak akan ikut bersamanya'  batinnya berkata.


Tanpa di jelaskan, kalian pasti sudah tahu siapa ketiga serigala yang Evan maksud barusan. Ketiga kakak Esya selalu saja mengekorinya, kemana dan kapanpun itu.

__ADS_1


Evan mengambil kunci motornya disusul dengan tas punggung berwarna hitam miliknya, ia berniat untuk segera kembali ke mansion dan memikirkan apa yang akan ia persiapkan untuk pertemuannya di akhir pekan nanti.


Ponselnya terus saja bergetar, ketika ia mengetahui siapa yang menelponnya, Evan hanya berniat untuk mengabaikan panggilan telpon dari Rio, sepupunya itu. Ia sudah tau jika Rio akan segera mencarinya karena ini kali pertama ia tidak mengajak Rio jika bepergian di sekitar kota Hollywood ini.


🌺 Queenesya🌺


Esya berjalan mondar-mandir didalam kamarnya, pikirannya kembali berdenyut  dipenuhi oleh banyak pertanyaan setelah mendengar cerita dari Angga dan Rio sepulang sekolah tadi.


Ia kembali berpikir mengapa ia bisa melupakan lelaki itu, lelaki yang selama ini selalu melindungi dirinya ketika ia dalam bahaya sebelum insiden yang membuat ia harus terbaring di kasur rumah sakit hampir setahun.


Ia juga kembali bertanya-tanya, mengapa keluarganya menyembunyikan hal ini darinya, seharusnya mereka menceritakan kejadian itu. Esya juga berhak mengetahui segala hal yang telah terjadi pada masa lalunya.


Pantas saja, Opanya selalu menempatkan banyak bodyguard berpakaian serba hitam dari ujung rambut hingga ujung kaki mereka. Ternyata alasan adanya mereka karena kejadian yang sudah menimpahnya dulu.


Esya mengambil ponselnya dan mencari sebuah kontak hendak untuk menghubungi kontak tersebut. Ia harus menanyakan pada Evan perihal liontin yang selalu ia gunakan sejak ia tersadar dari komanya.


"..."


"Halo,Van"


"..."


"Apa kamu ada waktu kosong Minggu ini?"


"..."


"..."


"Bagaimana kalau akhir pekan?"


"..."


"Tidak perlu,Van. Aku akan berangkat sendiri"


"..."


"Baiklah,Van. Aku tutup dulu telponnya, sampai jumpa diakhir pekan"


Setelah panggilan itu berakhir Esya memilih untuk menyimpan ponselnya kembali, berikutnya ia berniat untuk mengetahui segalanya dari bibir keluarganya sendiri. Ia harus mengetahui semuanya, agar rasa penasarannya tidak semakin bertumpuk.


Esya membuka pintu kamarnya lalu bergegas menuju ke halaman belakang mansion tempat dimana keluarganya akan menghabiskan waktu untuk bersantai di sore hari.


"Princess, kemana aja sejak tadi. Bunda sama Oma nyariin kamu loh"


"Maaf kak, aku baru saja kembali dari mansion Melsha"

__ADS_1


"Oh, baiklah. Kakak ke kamar dulu yah" kata Gio, mengacak rambut adiknya gemas.


"Kak Dio, Kak Ken dan aunty kemana ya kak?" tanya Esya karena tidak melihat kehadiran aunty dan kedua kakak tersayangnya itu.


" Dio sedang ikut ayah mengurus beberapa dokumen sedangkan Ken dan Aunty Sasha sedang pergi berbelanja"


Jawab Gio, lalu kembali berjalan menaiki anak tangga.


Sedangkan Esya juga kembali berjalan menuju ke halaman belakang mansion, menemui ketiga wanita yang sangat ia sayangi itu.


Esya memeluk ketiga wanita cantik itu, ketika tiba di halaman belakang. Yang di peluk pun membalas pelukan Esya dengan sayang, satu persatu dari mereka memberikan kecupan pada dahi, dan kedua pipi Esya.


"Sayang, kau dari mana saja?" tanya Oma Hellen


"Aku baru kembali dari mansion Melsha, Oma." Jawab Esya


"Pantas saja, bunda dan Oma tadi mencari mu princess ingin mengajakmu untuk pergi berkunjung ke Hescar Company, perusahaan yang akan kamu pimpin kelak" ucap Bunda Melan


"Ah...maaf Bunda,Oma. Aku benar-benar lupa tadi jika ada jadwal kunjungan ke perusahaan" ucap Esya, meminta maaf atas kelalaiannya tadi.


"Tak apa sayang, kita bisa pergi lain hari saja" ucap Oma Amel


Esya tersenyum pada ketiganya, ia berniat untuk berbasa-basi lebih dulu sebelum bertanya pada ketiganya tentang segala hal yang memenuhi pikirannya.


"Ehm, bisa aku bertanya pada Bunda dan Oma?"


"Mau tanya apa princess?"


"Apa aku benar-benar anak kandung Bunda?"


Refleks bunda Melan dan kedua Wanita paruh baya itu tertegun mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir mungil gadis yang sangat mereka sayangi ini.


"Tentu saja sayang, kamu anak kandung bunda dan ayah" jawab Bunda Melan


"Jika benar begitu, bunda. Lalu mengapa aku tidak pernah menemukan potret masa kecilku di album keluarga?" tanya Esya lagi. 


Sekarang apa yang harus mereka katakan, seluruh keluarga sudah sepakat tidak akan membahas kejadian yang hampir merenggut nyawa putrinya, terlebih jika Esya kembali berpikir keras mengenai hal itu,mereka Takut jika kejadian itu akan membuat Esya mereka kembali drop lagi.


"Aku sudah mengetahui tentang itu, dulu aku tinggal bersama keluarga Petter kan Bun. Dan aku tidak mendapat perlakuan baik dari mereka, sampai aku bertemu dengan Kak Dio,kak Gio dan kak Ken. Benarkan Oma,Bunda!?"


"Mengapa kalian semua menyembunyikan hal ini dariku....Hiks.... Termasuk tentang kejadian itu....Hiks.... Aku juga berhak untuk mengetahui semua itu....hiks....ketiga kakakku juga tidak pernah mengatakan.... Hiks... bahwa ketika aku di bully oleh Aurel dkk.a ....Evan lah yang selalu melindungi aku....Kenap-a...."


Esya yang terseduh-seduh karena tidak dapat lagi menahan tangisnya, kini sudah lunglai dan tidak sadarkan diri, Bunda Melan dan kedua Omanya terlihat sangat khawatir dengan kondisi putih kecil mereka, Gion mengepal tangannya dengan erat, menahan amarahnya. Entah siapa yang telah berani menceritakan semau itu pada adiknya.


'sial' umpat Gion dalam hatinya, ia lalu bergegas mengambil ahli tubuh mungil Esya dan membawanya menuju ke kamar. Bunda dan kedua Omanya mengikuti Gion dari belakang, tak lupa mereka mengambil ponsel dan mengabari suami dan anak-anak mereka. 

__ADS_1


TBC


__ADS_2