
Seperti yang sudah direncanakan oleh Esya dan Evan untuk hari ini mereka akan mengunjungi destinasi yang cukup menyenangkan terutama khusus untuk para pengantin baru.
Setelah makan siang, Evan dan Esya meninggalkan Edward sendirian di restoran, mereka akan menuju ke Disneyland Paris, lalu terakhir akan menuju ke menara Eiffel untuk menikmati keindahan kota Paris.
Mobil mereka sudah terparkir, ada banyak orang yang berkunjung disana. lampu kelap-kelip menjadi hiasan yang cantik, disepanjang jalan. Esya dan Evan bergandengan tangan menuju ke menara Eiffel.
"Ayo, aku akan membawamu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Ikut saja, kau pasti akan suka. disini terlalu ramai, jangan jauh-jauh dariku."
"Baik."
Evan membawa Esya menuju ke menara, dan menaiki sekumpulan anak tangga yang ada disana. Setibanya mereka disana, mereka berdiri di dekat jendela. dan memandangi seisi kota.
Evan melirik Esya, lalu memeluk pinggangnya "Apa kau senang?"
"Tentu, terima kasih. aku sudah sejak lama ingin kemari. tak ku sangka, hari itu tiba juga."
"Apapun yang kamu mau, aku pasti akan berusaha untuk mewujudkannya."
Esya tersenyum, lalu mencium pipi Evan. " Terima kasih, tapi aku harap kedepannya kau tidak akan memanjakan aku."
"Tidak ada salahnya memanjakan istri sendiri."
"Tapi itu akan membuat aku selalu bergantung padamu, aku tidak mau seperti itu."
__ADS_1
"Aku tidak masalah, jika itu masih berkaitan denganmu...."
"Jadi biarkan aku melakukannya..."
Evan bersandar di bahu Esya, menghirup wangi parfum waniamtanya, Esya menutup matanya. mereka menikmati waktu pribadi mereka bersama cukup lama sebelum kembali ke Hotel.
Angin malam berhembus, waktu terus berganti, hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, bulan berganti bulan, sudah lewat 4 tahun pernikahan mereka. Setelah menikah, Esya dan Evan tinggal bersama di Inggris. Untuk perusahaan, Esya akan menggunakan sosial media untuk mengurus dan mengawasi setiap hal disana.
.
Inggris, Mansion Shakespeare.
Esya sedang berada di dapur sekarang, setelah mengerjakan beberapa dokumen ia memutuskan untuk membuat teh dan beberapa camilan untuk dinikmati saat sore hari. Di mansion yang besar ini, nyonya muda menjalani hidupnya sepanjang 4 tahun belakangan.
Kadang ketika liburan bersama Keluarga kecil mereka yang sekarang pasti akan selalu memilih untuk kembali ke los angeles, untuk bertemu dengan keluarga Esya. Kondisi rumah juga mulai ramai sejak tiga tahun yang lalu.
Semakin Esya mendekat, semakin terdengar pula suara tawa ketiganya. Seorang balita berlari dengan kaki kecilnya ketika menyadari kedatangan ibunya, disusul dengan balita yang satunya lagi.
"Mami....."
"Liam, Lion... sepertinya kalian sedang bersenang-senang."
"Tentu mami, Lion... ayo kita main lagi."
"ayo, aku akan membuat menala yang besal."
"Aku tidak akan kalah dalimu."
__ADS_1
"Beristirahatlah jika kalian lelah."
"Baik mami...."
Liam dan Lion kembali membuat menara mereka dari permainan pasel bongkar pasang milik mereka. sementara itu sambil menikmati Teh dan camilan, Evan dan Esya sesekali mengawasi kedua putra mereka.
Liam adalah anak pertama, durasi mereka sekitar 15 menit. Liam lebih dekat dengan Evan, sedangkan Lion, ia jauh lebih manja kepada Esya. Sekarang karena mereka sudah memiliki permata yang berharga, rencana mereka kedepan hanya ada satu, yaitu mengawasi dan menjaga kedua putra mereka yang paling utama adalah menyaksikan tumbuh kembang keduanya.
Kurang lebih seperti itulah kisah hidup seorang Queenesya. Bertahun-tahun ia hidup jauh dari keluarganya karena suatu insiden, di rumah orang tua angkatnya Esya selalu tidak mendapatkan perlakuan baik, Esya selalu menjalani hidupnya dengan Sabar karena seorang Queenesya selalu percaya bahwa kebahagiaan itu akan datang kepada orang yang percaya dan tidak pantang menyerah dalam menjalani hidup.
***QUEENESYA
END
Ps:
Author minta maaf untuk segenap pembaca yang masih mengikuti cerita ini. Author tau cerita ini memang banyak TYPO, Alurnya yang kadang mutar-mutar dan membuat para pembaca tidak nyaman.
Ada banyak alasan kenapa author pengen selesaikan cerita ini, sebenarnya ini di mulai karena Corona. sebelum Corona saya masih sangat lancar untuk mengupdate cerita ini, namun setelah wabah menyerang, author jadi gak fokus baut update selain itu author sangat kekurangan inspirasi.
Terkadang untuk mendapatkan ide, dan imajinasi author pasti jalan-jalan di luar, dengan begitu otak author bisa penuh dengan banyak ide. jika diibaratkan author bisa seperti ikan, gak akan bisa bertahan kalau air tidak ada.
Sekali lagi, author minta maaf dengan sangat dan sedalam-dalamnya. Maaf udah mengecewakan kalian dengan cerita yang berantakan seperti karya author yang satu ini.
Kedepannya author pasti akan mencoba yang yang terbaik untuk kalian semua. .
Terima kasih
__ADS_1
Sampai jumpa dilain kesempatan***