
Bel pulang baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, para siswa maupun siswi sekarang sekarang sedang berbondong-bondong untuk sesegera mungkin beranjak pergi dari tempat ini. Tidak terkecuali dengan mereka, seperti sekarang ini mereka sedang berkumpul di parkiran khusus QHS, hendak ingin kembali.
"Ekhm" gumam Eve, mencairkan Suasana yang agak sunyi itu. Sekarang perhatian semuanya sudah tertuju pada dirinya dan Zee yang sedang berada tepat disampingnya.
Mengetahui arti dari sorot mata itu membuat Eve langsung tersenyum simpul. Sebelum dirinya berbicara tak lupa ia menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum mengatakan ajakannya.
"Mau piknik gak?"
"Ide yang bagus"
"Aku setuju"
"Bisa"
"Aku ikut saja"
"Hm" gumam Dion yang kurang yakin karena mendapati ekspresi Esya yang
terlihat tidak bersemangat.
Sejak Esya kembali dari toilet tadi tingkahnya menjadi aneh, gadis itu seperti mulai menjaga jarak dari mereka. Ia hanya terdiam dan larut dalampikirannya sendiri. Sejak tadi Esya selalu memikirkan ucapan yang di lontarkan Aurel tadi, belum lagi peristiwa yang hampir menimpanya di belakang sekolah tadi semakin membuat pikirannya pusing.
Sekarang apa yang harus Esya lakukan satu sisi Esya sangat merasakan kenyaman berada di tengah-tengah keluarga Dion namun disatukan sisi Esya setuju dengan perkataan Aurel, dirinya memang selalu menyusahkan orang lain sejak dulu.
"Ada apa Sya? Apa kau tidak ingin ikut piknik besok?" Tanya Eve dengan sedikit rasa curiga.
"A-ku tidak tahu" jawab Esya dengan pelan sambil menundukkan kepalanya, Dion yang kebetulan berada tidak jauh dari posisi Esya menaruh kekuatiran penuh pada diri Esya.
"Kenapa Saya?" tanya Eve lagi
__ADS_1
"B-esok aku ada sift Sore" jawab Esya lagi.
Mereka yang mengerti hanya tersenyum simpul, namun dalam pikir mereka juga ada banyak kekuatiran pada Esya sama halnya dengan rasa kuatir yang di rasakan oleh Dion. Di dalam pikiran Gion sendiri tak hanya rasa kuatir yang ada bahkan sekarang rasa waspada Gion akan dua sosok yang menurutnya berbahaya, disatu sisi ada Aurel dan satu sisi lagi ada Evan yang tiba-tiba datang dalam hidup Esya. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu dengan lelaki itu, dirinya sudah tidak menyukainya, padahal Gion tidaklah begitu kenal dengannya.
"Em, Sya..."
"Iya, ada apa ka-k"
"Apa kau kenal dengan lelaki yang kita temui tempo hari?" Tanya Gion pada Esya
"Mak-sud kakak, lelaki mesum yang di kelas itu?" Tanya Esya balik pada Gion untuk memastikan pikirannya
"Mesum!!!" Ucap semuanya bersamaan
Sejak tadi Yang lain hanya diam mendengarkan percakapan keduanya, namun setelah satu kata itu berhasil menarik rasa penasaran dalam diri mereka, kecuali Dion yang hanya tetap pada expresi khas miliknya.
"Apa maksudmu dengan lelaki mesum?"
"Apa dia mengganggumu?" Tanya Dion
Pikirannya kembali pada siang tadi ketika dirinya tidak sengaja bertemu dengan Esya di belakang sekolah. Ia memang sempat mendapati seorang lelaki sedang membuntuti Esya namun ia tidak terlalu yakin akan hal itu.
"Tad-i lelaki itu ham-pir..."
"Hampir apa?" Tanya Gion tidak sabar
"Diamlah dulu, biarkan Esya menyelesaikan ucapsnnya" ucap Zee kesal pada Gion
Esya lalu menghirup hapasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya. Dirinya masih kurang yakin ingin menceritakan hal ini, namun daripada hal itu mengganggu pikirannya lebih baik ia menceritakan hal ini.
__ADS_1
"Tadi siang lelaki itu hampir saja menciumiku"
"Hah!!! Apa???" ucap semuanya lagi dengan bersamaan
Memang benar apa yang dipikirkan oleh Gion selalu tepat. Pantas saja firasatnya tidak pernah bisa tenang belakangan ini. Ternyata lelaki itu memiliki tujuan tersendiri untuk mencoba mendekati Esya, entah itu tujuan baik atau buruk. Yang jelas jika Gion melihat dari sorot mata milik Evan, sepertinya lelaki itu memiliki rasa tertarik pada Esya.
Tatapan milik Evan yang selalu ia amati setiap memandang lelaki yang dekat dengan Esya selalu mengeluarkan sorot mata kebencian. Gion dengan mudah dapat mengetahui jalan pikir seseorang harus dengan menatap matanya.
"Sialan!!! Lancang sekali dia" ucap Dion sambil mengepalkan jemarinya.
"Tapi dia tidak berhasil bukan?" Tanya Ken yang baru bersuara seksrnag untuk memastikan ucapan Esya lagi
Esya mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan yang di lontarkan oleh Ken dan mulai menunduk takut karena nada bicara Dion yang sedikit menyeramkan untuknya.
Dilihatnya ketiga sahabatnya itu sedang tersenyum lebar pada dirinya yang memiliki arti tersirat didalamnya.
"Bisa kau ceritakan kejadiannya?" Ucap Eve yang sudah penasaran
"Pantas saja sejak pagi tadi dia selalu menatapmu" ucap Ginta yang sudah menemukan jawaban atas apa yang sudah mengganggunya sejak pagi tadi
Inilah alasan mengapa Ginta sejak di kelas tadi selalu diam tidak seperti biasanya. Sejak pagi tadi dirinya memang sudah mendapati Evan sang siswa baru itu selalu memandang Esya, bahkan ketika jam istirahat tadi Ginta sadar akan pergerakan mereka namun ia diam dan tidak ingin membahas hal itu.
"Ayo cerita Sya aku juga jadi penasaran" ucap Zee
"Huh, baiklah jadi ceritanya seperti ini..."
Esyapun mulai menceritakan awal kejadian itu, hingga cerita dimana dirinya menginjak kaki Evan sebelum meninggalkan lelaki itu sendiri di belakang sekolah. Mereka yang mendengar cerita Esya bahkan tertawa tak hsbis-habisnys, mungkin bukan karena ceritanya tapi karena ekspresi Esya selama bercerita yang sangat menggemaskan sehingga ketiga lelaki itupun mencubit gemas wajah Esya. Gion di pipi kiri, Dion di pipi kanan lalu Kenned di hidung mancung milik Esya.
"Gadis pintar" puji Dion
__ADS_1
"Kalau dia macam-macam tendang saja perutnya"
'Adikku memang jenius' batin Gion berucap ia bangga dengan kecerdikan Esya. Untungnya pribadi Esya sangat berbeda dengan pribadi gadis remaja lainnya sama seperti yang sudah ia harapkan sejak dulu. Memiliki adik yang wataknya bertolak belakang dari watak milik si nenek sihir itu.