QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 106 Rencana


__ADS_3

PAGI hari di depan tempat persembunyian Alvi  Evan, Ken, Angga, Leon, Briand, Dion dan Gion sedang bersandar di bebatuan. Mereka hanya tidak tahu jika bebatuan yang mereka gunakan sebagai sandaran dibaliknya adalah dinding baja yang merupakan jalan menuju ke ruangan rahasia milik Alvi selama ini.


Mereka memilih untuk beristirahat sebentar setelah membuang tenaga sejak malam kemarin di sekitaran tempat ini. Menyebalkan memang mencari seseorang di tempat yang bahkan tidak di huni oleh warga.


"Hmn, apakah GPS mu itu baik-baik saja? Apa benar tempatnya disini, kita sudah berada disini semalaman"


"Aku yakin, aku sudah berulang kali memastikan lokasi Alvi, tidak mungkin GPS ku salah. Saat kau mengejar dia juga berakhir disini kan?"


"Memang sih, tapi... Ah sudahlah sebenarnya orang itu ada dimana?"


"Aku pikir dia memiliki IQ yang setara dengan Albert Einstein, sangat cerdik"


"Cerdik apanya, apakah orang cerdik akan melakukan hal seperti ini? Meneror anak orang lain sampai melakukan penculikan?"


"Awas saja jika aku menemukan dia aku pasti akan membuat dia menyesal karena telah membawa adikku, untung saja Oma dan bunda gak ada di mansion" 


"Apa kau sudah bisa berhenti mengoceh, Gio. Sebaiknya kau hubungi opa saja"


"Baiklah, aku akan menghubungi opa dan memintanya kemari sekarang juga"


Dari balik dinding itu, Esya dan Alvi terus mengamati mereka. Esya tertawa kecil kala melihat kakaknya Gion yang sejak tadi tidak berhenti mengumpat sampai membuat Dion lelah sendiri. Melihat Esya yang tersenyum seperti itu, membuat Alvi mengukir senyum tipisnya.


"Hei, Sya. Kira-kira nanti Opaku akan datang juga tidak,Yah?"


"Aku tidak tahu, tapi bukankah kita harus segera membuat skenario?"


"Benar, kira-kira apa yang akan membuat mereka merasa tegang yah?"


"Bagaimana dengan ruangan dingin kemarin? Aku bisa berpura-pura ketakutan ketika aku kembali mengapung di udara"


"Apa kau serius?"

__ADS_1


"Hmn, ya"


Alvi kembali menatap Esya lagi, ia sedikit tidak yakin dengan ide itu. Mau bagaimanapun juga saat Alvi meletakkan Esya di sana, jujur ia sedikit gemetar. Ini kali pertamanya ia menculik anak orang lain dan parahnya dia adalah Esya, cucu dari Robert teman Opanya.


Sebuah getaran ponsel membuat Alvi tersadar  dari lamunan singkatnya. Sebuah nomor tak di kenal sedang terpampang jelas di layar ponselnya, Alvi menggeser tombol berwarna hijau itu keatas lalu ia berjalan sedikit menjauh dari Esya untuk menerima panggilan.


"Halo, ada apa?"


"...."


"Selama ini Kau sudah berbohong padaku kan?"


"...."


"Sebenarnya, dimana Opaku berada? Kau pasti tahu sesuatu"


"...."


"...."


"Baik, aku tutup dulu"


Alvi kesal pada sang penelepon, orang yang menelponnya adalah orang yang sulit ia prediksi. Sang penelpon itu jugalah yang merupakan biang dari semua kejadian ini. Awalnya ia mendapat informasi bahwa orang-orang yang merupakan dalang dari pembantaian keluarganya 12 tahun yang lalu adalah Robert, Opanya Esya.


Dan ia juga yang memberi inisiatif untuknya membalaskan dendam dengan syarat tidak membahayakan nyawa Esya. Yah, baginya ini memang aneh. Terlebih lagi ia belum pernah bertemu dengan sang penelepon. Selama ini ia hidup dari bantuan orang misterius itu yang selalu mengirimkan uang kedalam rekeningnya.


"Sekarang sebaiknya kita mulai bersiap, ku pikir kakak mu sudah menelepon Opa mu untuk segera mungkin datang kemari"


"Baiklah, dimana orang-orang mu itu berada sekarang?"


"Aku akan segera memanggil mereka, sepertinya mereka sedang bermain sebuah permainan catur di belakang"

__ADS_1


"Tidak perlu, aku yang akan kesana sendiri. Kau tetaplah di sini dan awasi kakakku saja"


"Jangan lupa berikan aku kode jika semuanya sudah siap. Aku juga akan mengajarimu jika mereka sudah sampai disini"


"Kalau begitu, aku kebelakang dulu. Dimana aku meletakkan kain dan tali pengikat kemarin yah?" Ucap Esya sembari bertanya pada dirinya sendiri.


Kemarin setelah Mereka selesai melakukan kesepakatan, Esya sudah di lepaskan oleh Alvi dan yah, entah dimana ia meletakkan tali pengikat dan kain yang menutupi mulutnya. Sepertinya Esya harus sedikit mengobrak-abrik isi ruangan dimana ia tidur kemarin. Ia juga belum mengabari teman-temannya karena ponselnya juga di simpan oleh Alvi.


Setelah melakukan banyak persiapan, Esya sudah berada di posisinya. Dengan tangan yang terikat dan mulut yang di bungkam oleh kain. Beberapa luka buatan sudah semaksimal  mungkin Esya buat tadi, dengan Betadine sebagai darah palsu. Ia kini terapung kembali di tempat pertama kali ia membuka matanya dengan rantai besi sebagai pengamannya.


Esya masih sering bertanya pada dirinya sendiri entah dari mana Alvi menemukan wadah yang seperti akuarium raksasa ini dengan sekumpulan Es yang bahkan sepertinya tidak akan bisa lama mencair.


"Apa kau tidak berlebihan dengan penampilanmu itu?" tanyanya


Esya hanya menggeleng sebagai jawabannya


"Huh, baiklah. Sepertinya mereka juga sudah tiba dan sedang berbicara di depan" ucapnya sambil mengamati layar monitor.


Esya menggunakan sebuah alat komunikasi di dekat telinganya untuk berkomunikasi dengan Alvi, dari ruang monitor tempat Alvi mengawasi setiap celah di sekitar lokasi persembunyiannya. Terdapat sebuah mobil yang kini berhenti tidak lama setelah mobil milik Hans.


Mereka memang tidak berangkat bersama karena Opa Robert masih harus mengurus Opa Gilbert yang kesehatannya belum begitu baik dan membutuhkan perawatan intensif namun karena sifatnya yang memang agak sedikit keras kepala membuat Robert harus mengalah dan membiarkan Gilbert untuk ikut bersama dengannya menyusul Hans yang sudah lebih dulu berangkat.


"Opa, itu benar-benar kau. Kau masih hidup, syukurlah"


"Sekarang kalian bersiap di posisi masing-masing" perintah Alvi melalui alat komunikasi


Alvi melihat Opanya duduk di sebuah kursi roda dengan menggunakan pakaian rawat inap, banyak hal yang ingin Alvi tanyakan pada kedua orang tua itu. Kemana sebenarnya mereka membawa Opanya selama ini dan apa yang sudah di lalui Opanya? Ia sudah mencari keberadaan Opanya di setiap tempat dan rumah sakit namun tidak menemukan beliau disana, yah itu setidaknya sebelum ia memeriksa dokumen kematian milik Opa Gilbert yang banyak di palsukan oleh beberapa oknum termasuk dari keluarga Vondrienty itu sendiri.


Tbc


Makin aneh yah ceritanya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2