
Sore hari di mansion yang megah itu, sebuah mobil Lamborghini Gallardo memasuki mansion, dari dalam mobil itu turunlah dua orang yang sudah tidak muda lagi, beserta seorang gadis , yang sudah memasang senyum manisnya sejak menginjakkan kaki di teras mansion ini.
"Ayo,sayang," ucap wanita itu, sambil memeluk sang putri
Ting tong...
Suara bel itu berbunyi, dikala pria itu telah menekan sebuah tombol di samping kiri pintu utama mansion itu. Tidak lama kemudian, dari balik pintu itu muncullah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi.
"Cari siapa ya tuan?" Tanya Bibi Tutik, penuh selidik
"Saya ingin bertemu dengan tuan Vondrienty" jawab Johan
"Apa tuan sudah membuat janji?" tanya bibi Tutik lagi.
Keluarga vondrienty adalah salah satu keluarga yang dikenal dengan keamanan yang begitu ketat, tidak akan mudah untuk pihak luar jika ingin bertemu dan membuat janji. Seperti sekarang ini, keluarga Petter baru bisa mendapat kesempatan sekarang padahal mereka sudah dari beberapa hari yang lalu mereka mengajukan permohonan itu.
"Hm,Iya" jawab Johan
" Kalau begitu silahkan tunggu sebentar" ucap bibi Tutik, serayah mempersilahkan mereka masuk untuk menunggu, lalu berjalan untuk memanggil tuan maupun nyonya mansion ini.
Setelah memasuki mansion ini, mata mereka menelusuri seluruh isi ruangan ini, termasuk property yang harganya mencapai selangit itu. Jennie dan sang putri begitu tertarik akan isi dan harta benda milik keluarga ini, sampai mereka membayangkan jika seluruh harta benda ini adalah milik mereka.
"Coba saja, kau bisa menjadi menantu keluarga ini sayang. Kau pasti akan menjadi tuan putri yang sesungguhnya" ucap Jennie pada Aurel Puteri tercintanya itu. Mendengar itu, Aurel hanya tersenyum kikuk, membenarkan ucapan maminya itu.
Aurel tersenyum, dan menatap papinya dengan penuh harap, seperti meminta sesuatu dari sorot matanya itu. Johan yang mengerti akan isyarat itu, hanya tersenyum sambil menyapu lembut puncak kepala Aurel.
"Nanti papi akan coba"
Setelah berkata demikian, terdengarlah dua suara langkah kaki yang mulai menghampiri mereka, Aurel lagi-lagi memasang senyum termanisnya, lalu berdiri mengikuti gerakan kedua orangtuanya, lalu memberi salam pada sang pemilik rumah.
__ADS_1
"Duduklah" ucap Lucas pada ketiga tamunya itu
"Ada urusan apa kalian kemari?" Tanya Melan dengan agak malasnya.
Sebenarnya beberapa jam yang lalu, mood bunda Melan masih bagus. Hanya saja setelah mendengar alasan kedatangan keluarga itu dari sang suami, moodnya langsung hancur.
"Kami datang untuk membicarakan tentang pencabutan saham"
"Lalu"
"Bisakah tuan menarik keputusan itu?"
Ayah lukas menatap ketiganya dengan aura yang dingin dan penuh selidik. Setelah mendengar permintaan dan alasan dari putra pertamanya tempo hari, ia tidak memiliki alasan untuk menolak, karena ayah Lukas sendiri tidak akan membiarkan seseorangpun untuk mengancam keluarganya.
"Alasannya?"
"Ini pasti ada salah paham tuan, yang salah disini adalah gadis yatim itu tapi kenapa tuan justru melimpahkan kesalahannya pada keluarga kami?" Jawab Jennie seraya bertanya
"Itu Aunty Queenesya, gadis yang tinggal bersama kalian. Dia itu jalang, aku melihatnya sendiri dia menggoda Dion di belakang sekolah" jawab Aurel enteng, seperti tidak memiliki rasa takut dalam dirinya.
'Qu-een-es-ya, namanya mirip seperti putri kami' pikir ayah Lukas dan bunda Melan secara serentak, lalu tersenyum simpul, yang menurut Johan dan sang istri bahwa keberuntungan akan segera berpihak pada mereka, namun nyatanya tidak.
"Benarkah?"
"Jadi, anak anda adalah jalang. Begitu maksudnya?"
Johan dan Jennie kaget mendengar perkataan dari kedua pasang suami istri di hadapan mereka itu. Ingin marah namun tidak memiliki keberanian, karena itu sama saja akan semakin memperburuk keadaan mereka saja. Sedangkan Aurel hanya mematung mendengar ucapan itu, niat untuk menyudutkan Esya justru balik menyerang dirinya.
"Apa maksud nyonya?, Putri saya adalah gadis yang baik-baik"
__ADS_1
"Benar, putri kami adalah gadis yang baik dan penurut"
Kata mereka berdua demi membela sang putri, meskipun kata penurut bukanlah kata yang bisa menwakili pribadi putrinya itu. Namun mereka harus melakukan ini untuk membuat Aurel terlihat baik di hadapan mereka.
"Mak-sud Aun-ty a-pa?" tanya Aurel dengan terbata
"Ini berdasarkan hasil pengecekan CCTV di sekolah, anak anda selalu menggoda Dion kami. Terakhir beberapa hari lalu di koridor sepi tempat loker para pelajar"
"Apa anda ingin melihat buktinya" tawar Lucas pada Johan yang hanya terdiam, dan hal itu menandakan sebagai jawaban iya di mata ayah Lucas.
Prok...prok...prok...
Setelah tiga kali tepukan tangan itu, seorang pria berbadan kekar, berjas hitam dan berkacamata hitam itu, keluar dari tempat persembunyiaan sembari membawa sebuah kamera digital yang di dalam sudah terdapat salinan dari ruang CCTV sekolah.
"Tunjukkan padanya" perintah Lucas pada orang kepercayaannya itu.
Pria itupun mengarahkan kamera tersebut lalu menunjukkan rekaman video yang terjadi beberapa hari yang lalu dimana ketika di malam yang sama mereka mengusir Esya, gadis manis yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang sedang melanda keluarga mereka.
Kaget, itulah yang telah dirasakan oleh Johan dan Jennie. Tidak menyangka akan perilaku sang putri selama berada di luar mansion, mereka lalu menatap Aurel yang sudah menunduk takut dengan penuh selidik seperti meminta penjelasan.
"Sudah lihat?" Tanya Melan, dengan senyum yang merekah di wajahnya.
"Maaf tuan,nyonya sepertinya sekarang kami harus segera kembali" ucap Johan menatap Jennie dan sang putri
"Bukannya ini masih terlalu cepat, kalian belum lama datangnya" ucap Yohan pada mereka
"Tidak tuan,maaf sepertinya dilain waktu lagi. Karena sekarang kami memiliki urusan lain lagi" ucap Jennie dengan senyum palsunya
"Oh, baiklah, hati-hati di jalan" ucap Melan
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, keluarga Petter pun segera berpamitan, lalu melangkah keluar mansion yang megah itu. Bukannya mendapat hal baik mereka justru mendapat rasa malu, karena ulah anaknya sendiri, sekarang bagaimana mereka akan memasang muka di hadapan keluarga besar itu lagi.