
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamar milik seorang gadis manis berlesung pipi itu, pencahayaan di ruangan itu tidak terlalu terang, karena kemarin malam ia ia mematikan lampunya lalu mencoba untuk menyalakan lampu tidur baru yang belum lama terpasang di kamarnya.
Mata gadis itu terbuka secara perlahan, ia mencoba mencari letak alarm berbentuk Doraemon miliknya untuk menghentikan benda berisik itu. lalu menyusul dengan menekan sakelar lampu yang berada tidak jauh dari jangkauannya.
Pukul 09.17 waktu sekitar, masih ada beberapa jam lagi untuknya bersiap sebelum jadwal pertemuannya dengan seseorang sore nanti. ia segera turun dari kasur Queen size miliknya, mengambil handuk mandinya sesegera mungkin untuk bersiap. karena hari ini ia memiliki jadwal kunjungan bersama dengan kedua Oma tercintanya ke Hescar Company, sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan pada malam hari kemarin.
Tidak butuh waktu lama untuknya bersiap, hanya memakan waktu 30 menit saja. Esya sudah siap dengan setelan outfitnya, rambutnya yang memang tidak basah sengaja ia kuncir agak tinggi, ia menggunakan polesan yang natural tentunya menampilkan kecantikan alami yang terpancar dari gadis itu.
Setelah dirasa pas, Esya tak lupa mengambil tas ransel kecil berwarna biru agak keunguan, memasukkan ponselnya serta dompet untuk berjaga-jaga jika di jalan ia tiba-tiba ia ingin membeli sesuatu di jalan nanti.
Ia berjalan keluar dari kamarnya, lalu menuruni anak tangga. Tak lupa ia selalu memasang senyum manisnya ketika berpapasan dengan maid kepercayaan keluarganya di tengah perjalanan menuju ke lantai dasar.
"Selamat pagi, Yah, Bun" sapa Esya pada kedua orang tuanya ketika tiba di ruang makan.
"Selamat Pagi juga Princess" balas sepasang suami istri itu.
"Apa cuma ayah dan bunda yang disapa, kakak gak gitu?!" Gio mulai angkat bicara, apa mungkin adiknya itu tidak menyadari kehadiran mereka bertiga, sehingga hanya orang tua mereka yang disapa.
"Hn, kau tak lupakan princess kalau kau memiliki tiga orang kakak!?" Kali ini Dion yang bicara, rasanya adiknya itu sedikit berbeda sejak ia sadar dari pingsannya beberapa hari yang lalu.
"Aku ingat kok kak" Esya mencium pipi Dion lalu di susul oleh senyum termanisnya, membuat Gio semakin kesal dengan tingkah adiknya itu.
"Apa untuk Kakak gak ada?!" tanya Ken yang tidak digubris oleh Esya.
Sepertinya Esya masih marah dengan kedua kakaknya itu, pasalnya ketika sejam ia terbangun dari pingsannya Angga menelpon dan mengadu padanya tentang kelakuan kedua kakaknya itu padanya dan membuat hubungannya dengan Melsha berada di siaga satu.
"Bun,Yah. Oma ada dimana?" tanya Esya setelah acara makannya selesai.
"Oma udah lebih dulu ke perusahaan, princess. Tadinya mereka menunggumu tapi ketika melihat kamu masih tertidur nyenyak mereka mengurungkan niat dan memilih untuk lebih dulu kesana" jawab Bunda Melan.
"Begitu yah. Kalau begitu aku berangkat dulu Bun,Yah"
"Mau kami antar princess?" Tawar Dion
"Tidak perlu kak, aku akan di antar supir. Lagipula kak Dio juga punya jadwal bersama Opa kan?" Esya menolak tawaran Dio, sebelum ia berangkat tak lupa ia kembali mencium pipi Dio, dan kedua orangtuanya. Mengabaikan kedua anak remaja yang memberikan dia tatapan kesal.
"Apa kau merasa, princess sengaja mengabaikan kita berdua?!" Bisik Ken pada Gio.
"Kau benar, Ken. Apa salah kita berdua?" ucapnya
"Mungkin ada seseorang yang sudah mengadu pada princess tentang suatu hal" ucap Dio, yang bangkit dari duduknya dan segera berangkat setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Bukankah kalian berdua juga punya jadwal masing-masing?" tanya ayah Yohan, menyadarkan lamunan berdoa berdua.
"Ayah/Uncle benar" ucap mereka berdua, lalu menyusul Esya dan Dio. Gio memiliki jadwal bersama dengan Opa Hans sedangkan Dio memiliki jadwal bersama Opa Robert, lalu seperti biasa Ken memiliki jadwal mingguan bersama dengan sang Ayah.
🌺Queenesya🌺
Mobil itu sudah terparkir indah di parkiran khusus, Hescar Company. 5 menit yang lalu, Esya baru tiba di tempat ini. Setelah memantapkan dirinya, ia keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu masuk gedung itu.
Ia mengabaikan tatapan bertanya yang di lontarkan oleh para karyawan disana, berjalan menuju kearah resepsionis untuk sekadar menanyakan keberadaan kedua Omanya.
"Maaf ada perlu apa yah, Nona?"
"Saya mau bertemu dengan CEO perusahaan ini"
"Atas nama siapa yah Nona?, Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?"
__ADS_1
"Aku Esya, bisa katakan Ruang Oma ada dimana?"
"Maaf Nona, anda tidak bisa bertemu dengan beliau jika belum memiliki janji. Ini sudah ketetapan di perusahaan ini"
"Siapa bilang cucuku harus membuat janji dulu sebelum ia bertemu dengan kami!?"
Resepsionis yang mendengar ucapan dari Oma Hellen, langsung kikuk dan menundukkan kepalanya.
"Maaf Nona, saya tidak mengenali anda"
"Tak apa, aku baru pertama kali kemari jadi wajar jika kau tidak mengenali aku"
Mungkin resepsionis itu tidak mengikuti perkembangan berita beberapa Minggu yang lalu sehingga ia tidak mengenali wajah Esya yang sudah jelas terpampang jelas di setiap Media.
"Dan tidak usah seformal itu, lagi pula umur kakak lebih tua dariku" ucap Esya lagi, ia bisa menerka jika gadis muda di depannya ini sepertinya adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang magang.
"Baiklah, karena cucuku sudah disini maka aku akan memperkenalkan dia pada kalian....."
Selesai Oma Hellen dan Oma Amel memperkenalkan Esya, mereka bertiga pun memasuki lift dan menuju ke ruang kerja yang akan di tempati oleh Esya kelak. Esya mencerna dan memperhatikan setiap penjelasan yang yang berasal dari kedua wanita paruh baya itu dengan seksama.
Sesekali Esya akan bertanya mengenai hal-hal yang masih kurang ia pahami atau mengenai sejauh mana perkembangan perusahaan ini. Karena mulai sekarang, ia akan di bimbing oleh segenap keluarganya tentang bagaimana cara mengelola dan memanage keuangan perusahaan untuk bekalnya nanti.
Esya mengamati jam dinding yang ada di ruangan itu, pukul 14.30. ternyata waktu yang ia lalu terasa begitu cepat baginya, nyatanya sudah kurang lebih 2 jam ia habiskan di ruangan ini bersama dengan kedua Omanya.
"Oma, Esya baru ingat ada janji sama teman. Apa Esya bisa pamit pulang lebih dulu?" tanya Esya, membuka percakapan
"Tentu sayang"
"Kamu bisa pergi princess, tapi jangan pulang kemalaman yah. Jika terjadi apa-apa segera hubungi kami"
"Iya Oma, Esya hanya sebentar kok"
Esya bergantian memeluk kedua Omanya tak lupa ia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pagi tadi sebelum berpisah dengan Ayah Yohan dan Bunda Melan.
🌺 Queenesya🌺
Mobil itu terparkir dengan mulusnya, Esya keluar dari dalam mobil dan segera mungkin bergegas mencari keberadaan seseorang yang begitu ia kenali. Karena kemacetan ia jadi terlambat sekitar 15 menit dari jam yang sudah mereka sepakati sejak awal.
Esya mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari sosok Evan. Setelah menemukan sosok yang ia cari, Esya langsung saja menghampirinya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu sampai ia tidak menyadari kehadiran Esya.
"Ehm... Maaf yah Van agak lama soalnya ada urusan sama Oma tadi" ucap Esya menghancurkan lamunan Evan
"Gak apa Sya, aku juga belum lama kok"
Bohong, jika Evan mengatakan belum lama karena Evan sudah berada di tempat ini selama 2 jam lebih. Entah apa yang ia pikirkan tadi, sehingga mengira bahwa pukul 12 siang adalah pukul 3 sore. Esya mengambil duduk tepat di samping Evan, membuat jantung lelaki itu semakin berdetak tak karuan.
'hua....Rio apa yang harus aku lakukan sekarang' batin Evan, berharap sepupunya itu akan me dengar telepatinya.
"Ada apa Van?! Apa kau sakit?" tanya Esya dengan meletakkan telapak tangannya tepat di dahi lawan bicaranya.
"T-tidak apa Sya. Aku dalam keadaan baik kok" jawab Evan, berusaha menetralkan kegugupannya.
"Syukurlah, aku pikir kau sakit. Jika memang iya, kau tidak harus memaksakan diri untuk datang. Kita bisa berbicara dilain hari"
'aku baik-baik saja Sya. Jantungku yang sedang dalam keadaan kurang baik' Batin Evan
__ADS_1
Lama mereka terdiam, Esya tidak tahu harus memulai dari mana. Ia ingin menanyakan suatu hal pada Evan. Sedangkan Evan sendiri sudah bingung ada hal apa sehingga Esya meminta untuk bertemu dengannya hari ini. Terlebih ia juga tidak yakin apa sekarang adalah waktunya dia untuk mengatakan perasaannya pada gadis itu.
"Van/Sya" ucap mereka berdua, tatapan mata mereka bertemu cukup lama sebelum kesadaran mereka kembali.
"Bicaralah,Van" Esya memberi senyum manisnya
"Ladies First" ucap Evan
Mendengar hal itu, Esya kembali terdiam cukup lama. Ia lalu mencoba menghirup udara segar agar ia bisa sedikit lebih tenang, sedangkan Evan juga melakukan hal yang sama dan kembali berurusan dengan Kecepatan detak jantungnya.
Setelah Esya siap, ia lalu mengeluarkan sebuah liontin dari balik kaosnya, memberi tatapan pada Evan seperti mengintimidasi lelaki itu.
"Apa benar ini pemberianmu? Tolong katakan yang sejujurnya. Aku sudah tahu semuanya" tanya Esya, Evan hanya memberi anggukan sebagai jawabannya. Lantas Evan langsung mengambil liontin yang selalu ia gunakan, dan memperlihatkannya pada Esya.
"Kenapa?!" Esya bertanya mencari jawaban yang lebih dalam lagi dari lelaki itu.
"Karena kamu gadis yang paling penting didalam hidupku, setelah Bundaku" Evan memberikan jawaban pada Esya, entah kemana rasa gugupnya sekarang, sehingga mampu membuat bibirnya mengakui suatu hal.
Mendengar penuturan dari lelaki itu, Esya membuang wajahnya dari hadapan Evan dan lebih memilih untuk menunduk,
Menunggu kalau-kalau masih ada hal yang ingin dikatakan oleh lawan bicaranya. Evan kembali menarik napasnya ketika melihat kelakuan Esya, ia sudah merasa mantap untuk mengutarakan perasaannya, berhubung tidak ada pengganggu disekitarnya.
Dengan mantap, Evan meraih dagu Esya dan membuat wajah gadis itu kembali menatapnya. Mata mereka kembali bertemu, Evan suka ketika bisa menatap wajah Esya dengan bebas, terlebih pada bagian mata Esya yang menurutnya sangat indah, selain senyum gadis itu, Evan sangat menyukai bagian matanya, sorot mata yang terpancar dari lensa mata milik Esya seperti bisa mengalihkan dunianya, menghadirkan senyum di wajahnya.
"Sya, dengarkan aku dan jangan menyela. Aku tidak tahu kapan perasaan aneh ini selalu mengganggu pikiranku, jantungku selalu saja berdetak tidak karuan ketika aku berada di dekatmu, pada awalnya aku mengira jika apa yang aku rasakan adalah sebuah rasa ketertarikan saja padamu, seperti Obsesi untuk bisa memiliki...."
"Sampai ketika telah hampir sebulan aku menjadi pelajar di QHS, aku selalu menatapmu dari jauh, tidak bisa dipungkiri jika rasa tertarik yang awalnya muncul berubah menjadi rasa ingin melindungi. Aku tidak ingin melihat kamu bersedih, dan aku marah pada diriku sendiri jika melihatmu sampai terluka...."
"Hingga kejadian itu membuatku merasa sangat bersalah dan ingin mengutuk diriku sendiri karena tidak bisa melindungimu, aku terlambat datang dan semua itu membuatmu harus terbaring di ranjang rumah sakit...."
"Aku tau jika aku adalah lelaki yang tidak berpengalaman dalam seputar perasaan, terlebih untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seorang gadis bermata indah dengan kedua tindikan di pipinya. Aku jatuh cinta padamu sejak pertemuan pertama kita"
Esya yang mendengar ucapan Evan kembali tertegun, ia bingung apa yang akan ia katakan nantinya, jujur saja ketika mendengar hal itu, ada rasa yang membelenggu perasaannya, tapi ia tidak tahu apakah ini karena ucapan Evan atau karena kecanggungan yang tercipta diantara mereka sejak tadi.
"Jadi apa kamu mau menjadi bagian penting dalam hidupku? Can we be more than friends?, I promise to be one of your protectors " ucap Evan lagi
Untuk pertama kalinya, Esya memeluk tubuh Evan. Untuk menghindari tatapan lelaki itu, ia tidak ingin lelaki itu tahu bahwa sejak tadi ia sudah menahan tetesan air matanya agar tidak jatuh. Sedangkan Evan sendiri masih kaget dengan apa yang ia dapatkan dari Esya, apakah ini adalah pertanda bahwa ia mendapat lampu hijau dari gadis ini!? Evan tidak tahu, tetapi satu yang ia syukuri. Gadis pujaannya ini memeluk dirinya, setelah sadar Evan membalas pelukan Esya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Evan
"Terima kasih karena sudah melindungi aku selama ini, terima kasih juga karena sudah jujur dengan perasaanmu, aku menghargainya. Tapi, bisakah kita saling mengenal lebih dulu? Kamu tau apa yang terjadi denganku bukan? Memori ku sudah tidak bisa di kembalikan lagi, jadi mari kita memulai semuanya dari awal lagi, sebagai seorang teman"
Deg...
Jantung Evan seolah terhenti, ini uang ia takutkan jika untuk pertama kalinya mendapat penolakan dari seorang gadis.
"Apa ini artinya aku sudah ditolak?!" 0ertanayan polos pun keluar dengan sendirinya dari bibir Evan, dengan sigap ia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, membuat Esya terkekeh melihatnya.
"Apa dalam kalimatku ada yang mengatas namakan Penolakan?" tanya balik Esya, lalu mengambil potongan kalung liontin yang bertengger di leher Evan, menyatukan kedua potong itu lalu memberi senyum manisnya pada Evan.
"Aku akan memberi jawabannya jika kamu bisa mendapat restu dari ketiga kakakku" senyum manis sekali lagi ia berikan untuk Evan, membuat Evan justru meneguk berat salivanya.
'jadi aku harus berurusan dengan tiga monster sister Complex itu' batin Evan berkata, banyak harap agar sang pencipta melancarkan misinya kedepan, semoga saja ketiganya tidak menyusahkan niatnya.
Esya sengaja mengatakan itu agar ia bisa melihat seberapa besar kesungguhan Evan padanya. Lagi pula Esya juga memang wajib harus meminta persetujuan dari kakaknya, ia tidak ingin menjadi adik yang tidak patuh.
"Bagaimana?" tanya Esya.
__ADS_1
"Baiklah, aku pasti akan mendapat lampu hijau dari ketiga bodyguard mu itu Sya. Lihat saja nanti" ucap Evan bertekat, yang hanya mendapat kekehan geli dari Esya.
'Semoga berhasil' batin Esya penuh harap setelah mendengar tekat dari seorang William Stevand Shakespeare. Seorang lelaki yang sejak beberapa hari lalu mulai mengganggu pikirannya.