QUEENESYA

QUEENESYA
Episode118


__ADS_3

Melakukan hal baru tentu saja akan membuatmu mudah lelah, namun itu juga bagus untuk menambah pengalaman tersendiri. Seperti yang di lakukan oleh Evan dan Angga sekarang ini. Keduanya tampak sangat serius meskipun sudah mulai lelah.


Evan seharian menghabiskan waktu bersama dengan Angga. kedu pemuda ini sedang sibuk-sibuknya mencari informasi seputar patung lilin. Mereka berdua tentu saja tidak ingin tertinggal jauh dari Briand dan Leon. sudah mampir seminggu proses pembuatan pesanan para konsumen.


Tentu saja sepanjang Minggu ini Briand jauh lebih berkembang dari Evan. Ia tentu saja sangat santai dalam setiap prosedur yang ia lakukan. Leon juga, walaupun pemuda itu emang tidak terlalu lihai dalam pembentukannya.


Angga menghela napasnya pertanda bahwa pemuda ini mulai lelah.


"Sudah aku bilang, aku tidak punya keahlian dalam bidang ini."


"Sudahlah, kerjakan saja."


"Hanya karena ingin unggul dari Briand dan hebat di mata Esya, kau tidak perlu melakukan hal yang tidak kau kuasai. Lihat ini sangat tidak mirip dengan manusia"


"Jangan mengeluh. kau bisa menonton di YouTube saja jika tidak paham."


"Memangnya kau sudah paham?"


"Ya, tidak sih. tapi coba saja dulu. bentuk wajahnya semirip mungkin dengan gambar."


"Ini sulit tahu. seharusnya sekarang aku sedang menghabiskan waktu dengan Melsha, kau tau?"


"Iya-iya.... cepat selesaikan beberapa prosedurnya dulu baru kau boleh pergi."


Evan melanjutkan pekerjaannya, telinganya seolah tuli mendengar celoteh Angga. pemuda itu memang sedang kesal sekarang, bagaimana tidak Evan tiba-tiba datang ke mansion lalu menggedor-gedor pintu kamarnya. Padahal hari ini ia memiliki janji yang sangat penting dengan kekasihnya.


Tok...tok...tok...


Ketukan pintu itu membuat Evan dan Angga menghentikan pekerjaannya. saat knop pintu terbuka, terlihat Esya dan Melsha membawa sebuah kotak makan. Kedua gadis itu tersenyum manis pada keduanya, itu seolah-olah menjadi penyemangat tersendiri untuk keduanya.


"Semangat dong, ini pemesanan pertama kita loh."


"Sya, bilangin sama ni orang aku mau berhenti."


"Beneran mau berhenti? kalau iya, yaudah hubungan kita berhenti juga."


"Ih, apa hubungannya sama kita sih." kesal Angga.


"Ini bagus, biar kamu punya pengalaman dikit."


"Ya udah kalian berhenti dulu kerjanya. ini aku sama Melsha bawain makanan, belum pada makan kan?"


"Mantap Sya, kebetulan banget."

__ADS_1


Setelah makan, Evan dan Angga kembali melanjutkan pekerjaan mereka. seminggu ini mereka menyempatkan waktu untuk membuat miniatur patung lilin, karena memang tugas kampus mereka tidak terlalu padat. Lalu untuk urusan lain, sudah ada asisten yang akan mengurusnya.


"Oh, iya... Zee, Ginta sama Eve kemana? biasanya kalian bareng terus," kata Angga.


"Pada sibuk sama pacar. si Eve nemenin Leon di rumah Briand buat ngerjain patung lilin."


"Perhatian banget, kamu kapan gitu Sha?"


"Ini apa? aku udah masakin kamu makanan loh, kurang perhatian apa lagi?"


"Hehe, makasih Bunny."


"Makasihnya udah telat."


Evan dan Angga kembali melakukan pekerjaan mereka. padahal sudah berulang kali Esya katakan bahwa akan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama-sama, namun Kedua pihak tidak ingin mendengarkan Esya. Mereka berdua ngotot sendri, dan keduanya tidak ada yang mau mengalah.


"Hah, sudahlah."


"Ada apa,Sya?"


"Gak. Cuma mikirin sesuatu aja, gak penting."


Ddrrt...ddrrt....


Princess, Bunda sama Aunty udah pulang. Mereka nyariin kamu tuh, kalau lagi bareng Melsha ajak dia juga yah, Love u.


Senyum tiba-tiba mekar di wajah Esya, ia menatap kearah Melsha dengan sangat Bahagia. Dahi Melsha berkerut, menandakan ia agak tidak paham dengan senyum Esya. Karena saking senangnya mengetahui Bunda dan Aunty pulang, Esya sampai memeluk Melsha dengan sangat erat.


"?"


"Sha, pulang yuk." ajak Esya.


"Eh, ada apa sih? kamu kok keliatannya senang banget."


"Hihihi, gimana gak senang Bunda sama Aunty udah balik. mereka nyariin kamu juga."


"Ah, beneran?" Tanya Melsha memastikan. gadis ini juga langsung kegirangan seperti Esya.


"Iya, aku baru aja dapat pesan dari kak Dion."


"Wah, ayo deh. aku juga udah lama gak ketemu sama bunda dan aunty."


"Makanya itu, Yuk...."

__ADS_1


Esya dan Melsha berjalan ke arah pintu, mereka akan segera pergi sekarang. Evan dan Angga melihat keduanya, sangat bahagia. Evan menghentikan pekerjaannya begitu pula dengan Angga. keduanya nampak serius sekarang. kedua gadis itu lantas menjadi heran sendiri.


"Kenapa?"


"Kalian akan kemana?" tanyanya


"Pulang,"jawab Melsha singkat.


"Apa tidak bisa menunggu kami sebentar?"


"Tidak, yuk Sya. kita udah di tungguin."


"Kami pulang dulu,yah. Bunda dan Aunty udah nungguin."


"Eh, ikut dong."


Angga berlari mengejar Esya dan Melsha. ini kesempatannya untuk kabur dari pekerjaan yang merepotkan dirinya. Evan juga karena tidak ingin di tinggal sendiri, iapun juga mengikuti Esya dan Melsha. Mereka sekarang berada di dalam mobil yang sama, Angga yang menyetir.


Disepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Evan terus saja memperhatikan Esya yang sedang asik bermain ponsel dan sesekali ber-selfie ria dengan Melsha. Tidak Lama waktu perjalanan mereka, kini mobil itu masuk kedalam halaman mansion Vondrienty. Setelah memarkirkan kendaraan Merekapun turun, lalu berjalan memasuki mansion di ruang keluarga tampak dua wanita yang cantik sedang minum teh.


"Bunda, Aunty," ucap Esya dan Melsha.


"Eh, putri-putrinya Bunda. dari mana aja sih?


"Gak dari mana aja kok, Bun."


"Halo...Bun,Aunty." sapa Evan dan Angga.


"Hai kalian."


Evan dan Angga tersenyum bahagia karena bunda Melan dan Aunty Sasha balik menyapa mereka. Bunda dan aunty baru pulang dari luar kota, mereka disibukkan dengan beberapa hal disana dan yah, hal itulah yang membuat mansion Vondrienty tampak sangat sepi. Para wanita sibuk, begitu pula dengan para Pria, lalu Esya, dan ketiga kakaknya selain harus sibuk kuliah, mereka juga mengurus pekerjaan di perusahaan.


"Evan, kabar bunda dan ayahmu gimana?"


"Baik kok Bun, syukur mereka juga sehat-sehat."


"Baguslah. Bunda titip salam yah, sama mereka."


"Baik Bun, nanti Evan akan sampaikan."


Bunda Melan tersenyum, ia sedang mengusap kepala Esya dan Melsha sekarang. ia merindukan kedua putrinya, meskipun Melsha bukan darah dagingnya namun ia sudah menganggap Melsha seperti anak sendiri. Kedekatan mereka juga jangan ditanya lagi, sudah sedekat apa.


Setelah kejadian yang pernah menimpah Esya dan pertemuan antara Esya dan Melsha lagi, keduanya semakin dekat seperti saudara. tidak menutup kemungkinan seringkali Melsha akan main ke mansion atau menginap, jika ia sendiri sedang bosan di mansion sendirian.

__ADS_1


__ADS_2