
Evan dan Gio sudah tiba di Villa, dengan cepat Gio membawa Esya ke salah satu kamar Yang ada di lantai pertama. Zee yang kebetulan mengambil jurusan kedokteran pun dengan cepat mengambil tindakan pemeriksaan. Untung saja ia selalu membawa tas praktiknya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.
"Apa yang terjadi padamu, Sya?" tanyanya dalam hati sembari memandang wajah Esya.
"Bagaimana keadaannya, Zee?" tanya Evan ketika Zee sudah selesai memeriksa.
"Tidak ada yang buruk. Ia hanya kelelahan, sebaiknya kita membiarkan Esya beristirahat dulu" jawab Zee lalu menyimpan peralatannya.
Dion, Gion, dan Ken serta Angga mendekat ke arah ranjang Esya lalu mencium kening Esya secara bergantian. Gio kembali menatap kearah Evan cukup lama, lalu berjalan mendekati lelaki itu.
"Apa sekarang bisa kau jelaskan tentang Maslaah tadi?" tanya Gio
"Tentu, sebaiknya kita ke ruang tengah" jawab Evan
Keduanya pun beranjak dari sana, meninggalkan ruang kamar. Disusul oleh Dion dan Ken, sedangkan Zee dan yang lainnya memilih untuk menemani Esya di kamar saja.
"Kira-kira apa yang terjadi pada Esya tadi yah? Membuat aku khawatir saja" ucap Melsha
"Benar,Sha. Andai tadi dia tidak keras kepala ingin pergi sendiri, pasti semua ini tidak akan terjadi" kata Eve
"Nanti aja kita tanya lebih detail jika ia sudah bangun"kata Ginta
"Benar, biarkan Esya beristirahat dulu" ucap Zee, lalu tersenyum.
Sedangkan di ruang tengah dari villa tersebut, kelima lelaki itu sudah berkumpul dan akan mendiskusikan suatu hal mengenai apa yang terjadi malam ini. Angga berjalan bolak-balik menunggu Evan maupun Gio untuk mulai berbicara.
"Bisa kalian cepat katakan, oh astaga. kalian membuat aku penasaran" ucap Angga
"Benar, kalau bisa langsung saja pada intinya" kata Ken
"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan tadi" kata Gio
"Baiklah" ucap Evan
Sebelum berbicara lagi, Evan menarik napasnya agar perasaannya lebih santai sedikit. Sedangkan Dion sejak tadi cuma memandang mereka, sembari memikirkan lagi mengenai apa yang terjadi ada adik manisnya tadi.
"Apa keluarga kalian, memiliki musuh atau saingan bisnis yang kemungkinan berpotensi timbulnya pertikaian?" tanya Evan
__ADS_1
"Aku kurang tahu, mengapa kau bertanya demikian?" ucap Ken, sembari bertanya balik
"Benar, meskipun saingan bisnis ada dimana-mana namun sepertinya mereka tidak memiliki potensi untuk mencari masalah dengan keluarga Vondrienty" ucap Gion
"Bagaimana denganmu, Dio? Apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Evan
"Kurasa tidak. Ayah, uncle dan opa tidak pernah membahas mengenai hal itu"
"Memangnya ada apa?" tanya Angga
"Aku curiga, ada musuh yang mengincar Esya karena ia merupakan cucu perempuan tunggal dari empat keluarga besar"
"Tapi apa tujuan mereka sebenarnya?!" tanya Angga lagi.
" Ku pikir antara menginginkan kehancuran dan atau balas dendam" jawab Evan mencoba menebak.
'Kehancuran dan Balas dendam?!' Batin mereka bertiga sembari berpikir kembali.
Rasa penasaran mereka kembali menjadi-jadi, mengingat kata tersebut. Sepertinya jika mereka sudah kembali ke kota, mereka harus segera menanyakan hal ini pada opa mereka dan mencari tahu lebih mendetail mengenai masaalah ini.
"Sepertinya seseorang menargetkan Esya sebagai kunci keberhasilan mereka...."
"Sepertinya ini bahaya, kita harus segera kembali"
Tok...tok...tok...
Pukul 01.45 subuh Bunyi ketukan pintu membuat mereka alhasil terdiam, Tidak ada mau berbicara, mereka saling bertatapan satu sama lain. Entah siapa yang bertamu di jam segini, padahal di sekitar villa tidak ada rumah warga satupun. Evan dan yang lainnya bersamaan menatap kearah Angga, yang di tatap justru menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Apa?!" tanya Angga binggung
"Buka pintunya, dan lihat siapa yang datang" jawab Gio
"Kenapa harus aku?!" tanya Angga lagi
"Karena kebetulan, disini hanya kau saja yang sedang berdiri jadi mau tidak mau kau yang harus membukanya" jawab Evan
"Ck, aku bukanlah tuan rumah" kata Angga lalu berjalan menuju ke depan pintu utama, ia mengatur napasnya lagi sebelum membuka pintu kayu tersebut.
__ADS_1
"Ahhh.....apa-apaan ini?!" Teriaknya cukup keras ketika bukannya mendapati seseorang di balik pintu ia justru mendapat surat berdarah dan kepala rusa di lantai, Karena teriakan Angga, Evan dan yang lainnya pun bergegas menghampiri.
"Ada apa?!" Tanya Dion
"Lihat saja sendiri, aku tidak mau melihat barang menjijikan itu lagi" jawab Angga lalu menjauhi pintu.
Angga sangat tidak suka dengan hal semacam ini, kepala hewan yang berada tepat di depan pintu dengan darah segar yang masih mengalir dan di tambah dengan surat berdarah berada tepat di mulut rusa.
"Hah, apa ini sebuah teror? tapi siapa yang melakukannya?" tanya Evan, ia lalu mengambil surat itu dan memberikannya kepada Gio. Tak lupa ia segera membereskan teras villa agar teman-teman wanitanya tidaknya khawatir dan merasa ketakutan.
"Coba buka suratnya, kira-kira apa kata orang itu" ucap Ken
Gio dengan perlahan membuka lipatan kertas itu dengan pelan agar kertasnya tidak sobek, berhubung karena Surya itu tadi mengenai darah segar yang bahkan belum kering sepenuhnya.
"Sudah ku temukan, Bersiaplah" ucap Gio, alisnya terangkat satu kembali bingung dengan isi surat yang sudah ia baca.
"Apa maksudnya sih, bersiap untuk apa?!" Heran Gion, sama seperti yang lainnya.
Kini pikiran mereka kembali di paksa untuk berpikir semakin keras, sepertinya mereka harus segera memecahkan misteri ini agar bisa semakin siap mengantisipasi kemungkinan kejadian yang akan terjadi kedepannya, terutama untuk melindungi adik dan teman yang begitu berharga bagi mereka.
"Untuk masalah ini, jangan sampai mereka tahu. Cukup kita saja" ucap Dion
"Benar, sekarang apa yang harus kita lakukan?!" tanya Angga
"Nanti kita pikirkan lagi, untuk sekarang sebaiknya kita meningkatkan keamanan di sekitar para gadis, terutama Princess. Aku yakin target utama orang itu adalah Queenesya kita" ucap Ken
PRAKK....
Suara meja yang di pukul keras membuat semuanya memandang Gion, keadaannya seperti semakin kurang baik saja. Rambutnya sudah acak-acak kan, pakaiannya tidak rapi dan matanya mulai memerah.
"Sialan, kenapa selalu adikku yang berada dalam bahaya, kenapa bukan aku saja" lirih Gion yang sudah duduk sembari menundukkan kepalanya.
"Tenanglah, Gio. Kali ini kita pasti bisa melindungi princess, jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi. Aku juga merasakan apa yang kau rasakan, namun jika kita seperti ini pasti kita akan mengalami kegagalan lagi, dan justru membuat princess semakin berada dalam bahaya" ucap Dion, mencoba menenangkan kembarannya itu.
"Benar, kali ini kita harus lebih bergerak cepat dari pada orang-orang itu" kata Ken
"Aku juga akan membantu, kali ini yakinlah dan percaya padaku, aku akan melindungi Esya dengan nyawaku. Aku tidak akan lagi datang terlambat seperti saat itu" ucap Evan yang baru memasuki ruang tengah.
__ADS_1
Gio lagi-lagi memandang kearah Evan, entah kenapa melihat kesungguhan dan tekat lelaki itu membuatnya sedikit melunak, sepertinya ia memang harus mempercayakan adik perempuannya itu pada Evan, namun ia tinggal diam jika Evan mencoba melakukan sesuatu yang macam-macam pada princess kecilnya itu.
Tbc.