QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 102 Taman


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu sejak pengejaran mereka tempo hari, Gion juga sudah lebih baik dari kemarin. Lebamnya sudah mulai hilang, ia juga sudah mendapat siraman rohani dari bunda tersayangnya saat itu,dengan di temani Esya dan Dion di ruang baca keluarga.


Ketika itu terjadi, Esya yang tidak tahu cerita pastinya hanya menyimak saja, pembicaraan yang terjadi antara kakak dan bundanya. Setelah itu, Esya menemani Gio semalaman sampai mereka terbangun  di pagi harinya dengan Esya yang tidur di tengah-tengah Dion dan Gion.


Rabu siang ini, Esya memiliki janji dengan Evan. Mereka akan keluar menghabiskan banyak waktu bersama, tentu saja dengan seizin Dion dan pengawasan kecil dari Gion. pagi tadi kedua kakak Esya, sempat berseteru karena perbedaan pendapat. Esya lebih bingung pada kakaknya Dion, dua hari ini kakaknya itu terlihat sedikit berbeda, ia jauh lebih cerewet dari biasanya.


Awalnya, Esya sampai mengira jika kepala kakak gunung esnya ini sudah berbenturan dengan kepala kakak gunung Merapi nya makanya sifatnya jadi sedikit berubah. Tapi sepertinya semua itu karena Dion memang ingin berbicara lebih banyak dengan keluarganya.


Esya duduk disebuah kursi, dekat dengan ruang kelasnya tadi. Ia sedang menunggu Evan yang baru saja selesai kelas. Ginta sedang bersama dengan Kakaknya dan Eve sepertinya sedang menghadapi sedikit masalah kecil dengan Ken dan juga Leon.


"Hai, Sya. Udah lama nunggunya?"


"Enggak, Van. Ini baru aja aku nungguin kamu, baru selesai kelas juga"


"Baiklah, ayo pergi"


"Hei, kalian mau kemana?" teriak seseorang dari jauh


Evan melirik kearah suara itu, disana ia melihat Briand yang sedang menghampiri mereka. Rencananya untuk keluar berdua bersama Esya sepertinya akan gagal lagi kali ini, sekian banyak Evan mengajak Esya maka sekian banyak pula Briand akan selalu ada disana dan mengganggu.


"Ada apa, kau kemari?"


"Apa salah aku menghampiri temanku sendiri?"


"Memang kapan kita berteman?"


"Aku tidak berbicara tentang mu, ini tentang aku dan Esya. Iyakan,Sya?"


Alis Esya terangkat satu, kepalanya kembali menggeleng bukan karena membantah ucapan Briand namun karena kelakuan kedua lelaki di depannya ini. Mereka selalu mulai ribut jika bertemu, meski itu hanya hal kecil saja. Karena tidak ingin berlama-lama disini dan menjadi tontonan, Esya menggenggam tangan mereka lalu menarik mereka ke parkiran.


"Hei, Sya"


"Diam dan masuk ke mobil" tegasnya


"Kau dengar itu, cepat masuk mobil"


"Kalian berdua".

__ADS_1


" E-eh...."


"Cepat masuk atau aku tinggal!?"


Esya masuk lebih dulu kedalam mobil, ia duduk di kursi  kemudi. Evan dan Briand kembali bertengkar di luar, mereka memperebutkan kursi di samping kemudi. Esya menggerakkan giginya kesal, dengan keduanya. Ia kembali berpikir siang tadi ia sedikit menertawakan Eve yang di perebutkan oleh kakaknya Ken dan Leon, teman satu jurusan Evan dan Briand. Sekarang justru ia yang menghadapi masalah disini.


Pippo....Pipp....


(Bunyi klakson baru versi author)


"Kalian berdua, duduk di kursi belakang"


"Eh, Sya. Ini diluar aturan. Seharusnya aku yang kemudikan mobil"


"Dan seharusnya kalian tidak sering bertengkar. Sekarang naik atau aku tinggal?"


"Baik-baik, kami naik. Ini salahmu karena mengganggu kami"


"Salahku? Bukankah ini semua salahmu? Kau terlalu membesar-besarkan masalah kecil. Memang apa salahnya kalau aku ikut dengan kalian?"


"Mengapa kau selalu seperti itu? Esya saja tidak masalah. Iyakan,Sya?"


"Diam. Jangan ganggu konsentrasiku. Mengapa kalian selalu ribut jika bertemu? Kalian membuatku pusing sendiri"


Mobilnya berhenti karena lampu merah, ini adalah kesempatan untuk Esya memasang earphone kesayangannya agar tidak mendengar keributan yang di timbulkan oleh kedua lelaki yang ada di belakangnya. Tujuan Esya sekarang adalah menuju ke Taman Bunga, sesuai dengan rencana awal mereka. 


Briand terus mengganggu Evan setiap kali lelaki itu mencoba untuk berbicara dengan Esya. Bukan karena suatu tujuan, ia hanya suka mengganggu Evan. Dan Evan selalu menyangkutkan hal seperti itu dengan persaingan keluarga mereka hingga saat ini.


"Kita mau kemana, Sya?"


"Ke laut"


"Ngapain? Mau nyelam?"


"Gak"


"Terus?"

__ADS_1


"Mau buang Kalian"


"Eeh, jangan dong nanti yang tunangan sama kamu siapa?"


"Jangan mau,Sya. Dia di fakultas banyak yang naksir, lebih baik sama aku aja"


"Apa katamu? Jangan percaya, Sya. Dia bohong"


"Sudah CUKUP. Kalau kalian masih ribut lagi aku akan turun disini"


Mobil menjadi hening, Evan memutuskan untuk mengalihkan seluruh perhatiannya pada layar ponselnya untuk bermain game Moba dan mengabaikan Briand yang sudah menertawainya sejak tadi. Ini adalah hal yang paling menggembirakan baginya. Tidak sia-sia ia menerima kerja sama dengan Gion, dua hari lalu.


Gion menghubunginya dan meminta bertemu  di salah satu cafe. Lalu meminta tolong padanya untuk tidak membiarkan adiknya Esya hanya pergi berdua dengan Evan. Terutama karena dirinya memang sedang banyak kerjaan, ia juga tidak bisa memantau Esya seharian dan melimpahkan hal ini pada Briand karena pernah mendengar gosip kecil tentang mereka bertiga di kampus.


Setelah lama menyetir, Esya menghentikan kendaraannya di pinggir jalan dan menyuruh kedua lelaki di belakang untuk keluar. Tugas rahasia Briand ini sama sekali tidak di ketahui oleh Evan dan mungkin Esya juga. Briand melakukan ini bukan karena ia ingin berebutan dengan Evan tapi karena  permintaan dari Gion.


Rumor yang ada di kampus juga tidak sepenuhnya benar, awalnya Briand merasa memiliki ketertarikan khusus pada Esya namun lambat laut perasaan itu justru berubah menjadi rasa ingin melindungi, entah mengapa sekarang ini dari pada merebut hati Esya ia lebih ingin menjadi pelindung gadis itu, seperti layaknya seorang kakak.  


"Ayo duduk"


"Sekarang apa yang akan kita lakukan di sini?"


"Makanya jangan ikut kalau masih bertanya"


"Ck, kau memang dari dulu belum pernah berubah Steve. Masih saja menyebalkan"


"Aku kesana dulu, kalian selesaikanlah pembicaraan kalian, jangan ada yang mengikuti aku"


"Tapi, Sya. Disini bahaya loh"


"Gak papa, lagi pula disini juga ramai. Gak akan ada orang yang berani macam-macam, aku kesana dulu"


Esya pergi meninggalkan Briand dan Evan yang masing-masing duduk saling berhadapan. Ia akan berada tidak jauh dari mereka agar tidak terpisah. Mungkin saja jika Esya membiarkan keduanya bisa saling akur agar telinganya tidak sakit mendengar celoteh dari Evan.


Di balik pohon yang agak jauh dari Esya, ada seseorang yang sedang memandanginya. Orang itu sudah mengikuti mobil Esya dari kampus tadi, Esya sama sekali tidak menyadari akan kehadiran orang itu, langkah demi langkah orang itu semakin dekat dengan Esya. Setelah berada tepat di belakang gadis itu, orang itu langsung membekap mulut dan hidung Esya, membuat Esya seketika ambruk.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2