
PS: yang ini kebanyakan narasi dialog hanya ada beberapa
•
•
•
🌺🌺🌺
•
•
•
Dua hari berlalu sejak kejadian dimana Esya mengetahui semuanya. Kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, ia juga sudah bisa kembali menjalankan aktivitas nya seperti yang biasa ia lakukan.
Ketika Esya sadar, ia langsung menanyakan pertanyaan yang sama lagi. Mau tidak mau mereka pun menceritakan semuanya, dengan syarat Esya tidak boleh terlalu banyak berpikir setelah mendengar kebenaran itu.
Yang pertama bercerita adalah Opa dan Omanya tentang awal kehamilan bunda Melan sampai pada kelahirannya, bagaimana perasaan mereka kala itu mereka ceritakan pada Esya, rasa bahagia mereka dan bagaimana mereka berempat berebutan nama untuk cucu perempuan mereka.
__ADS_1
Yang kedua, dari ayah Yohan yang menceritakan bagaimana perjuangan ia ketika masa-masa ngidam sang istri yang begitu aneh dan sulit untuk ia lakukan karena hal-hal yang menurutnya memalukan. Bayangkan saja, Istrinya kala itu ingin melihat dirinya menggunakan pakaian serta dandanan seperti badut selama sehari penuh, padahal saat itu ia harus menghadiri rapat umum pemegang saham.
Untung aja orang-orang yang hadir saat itu mengetahui bahwa istrinya sedang Hamil dan meminta yang aneh-aneh pada suaminya. Jika tidak, sudah pasti seisi ruangan itu akan tertawa terbahak-bahak karena seorang CEO yang terkenal dingin justru melakukan hal yang konyol.
Ketiga Bunda Melan, ia bercerita seberapa besar rasa harunya ketika ia lahir ke dunia, suara tangis pertama yang Esya keluarkan selalu teringat jelas dalam pikirannya sampai sekarang. Ia juga bercerita tentang penculikan Esya setelah genap seminggu kelahirannya dan tentunya pertemuan mereka di Yaman yang sama sekali tidak ia sadari karena kondisinya saat itu.
Dan yang keempat, kakaknya yang menceritakan tentang bagaimana perjuangan mereka untuk tetap mencari keberadaan adiknya yang hilang, hingga Dion menemukannya. Mereka juga bercerita tentang perlakuan kasar yang selalu Esya dapat dari keluarga Petter, dan bagaimana Evan selalu melindunginya ketika Aurel dkk.a kembali melakukan bullying padanya, hingga ketiga kakaknya itu membawanya ikut serta dengan mereka ke mansion.
Gion menceritakan juga tentang pertemuan pertemuan pertama Esya dengan Evan di taman saat itu, ia juga mengatakan pada Esya bahwa ia dulu pernah bekerja di sebuah cafe dan hal itu membuat Esya sedikit antusias ingin kesana.
Ken kebagian cerita tentang bagaimana bagaimana Esya di culik dan disekap di gubuk tua di bukit sampai bagaimana insiden itu terjadi, yang membuatnya harus terbaring di kasur rumah sakit hingga ia sadar dan kehilangan segala memorinya.
Setelah mendengar semuanya Esya kembali menangis ternyata seperti itu masa lalunya sungguh perih namun apa boleh dikata sekarang Esya hanya bisa melanjutkan hidupnya yang baru ia tidak akan lagi bertanya tentang kepingan masa lalunya dulu.
Ia harus mengetahui semuanya secepat mungkin. Agar rasa penasarannya bisa hilang, entah mengapa setelah mengetahui tentang Evan yang selalu melindunginya membuat jantungnya sedikit berdetak kencang, seperti ada sesuatu yang bergejolak didalam relung hatinya.
'apa aku menyukai Evan?!' tanya Esya pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak mengerti dengan kondisi jantungnya saat ini.
🌺Queenesya🌺
Evan mondar-mandir didalam kamarnya sudah dua hari ini ia lelah memikirkan apa yang akan ia lakukan jika bersama dengan Esya lusa nanti. Apakah ia harus membawa hadiah berupa sebuket bunga mawar dan cokelat ataukah hanya datang dengan tangan kosong saja. Seperti layaknya pertemuan biasa antar teman.
__ADS_1
'apa aku tanya saja pada Rio atau Angga?!' batin Evan, kepalanya ia gelengan tanda bahwa ia tidak mungkin melakukan hal itu, yang ada ia akan kembali diejek oleh keduanya itu karena tidak memiliki keberanian,ia lalu mulai membandingkan antara Rio dan Angga.
Berbicara mengenai keduanya, mereka tiba-tiba menjadi sibuk dengan kekasihnya masing-masing, karena kejadian dua hari yang lalu. Awalnya Evan sangat murka dengan kelakuan keduanya namun ia mengurungkan niatnya ia tidak ingin mencari masalah.
Tenang saja, karena sekarang sudah ada Audet dan Melsha yang akan memberi pelajaran pada kedua pria di depannya. Ketika kesal dengan Angga dan Rio, Evan sudah menelpon mereka berdua dan menceritakan tentang kelakuan kekasihnya yang membuat Esya sahabat kesayangan mereka drop.
Evan mengambil kunci mobilnya lalu bergegas keluar Mension, ia berniat akan pergi berkeliling untuk mencari sesuatu yang mungkin akan disukai oleh Esya, sekaligus untuk menghirup udara segar dan menenangkan pikirannya.
'huh, apa yang akan aku lakukan besok?"
Evan memukul setir mobilnya, menundukkan kepalanya dan menyandarkannya pada setir itu, menarik napasnya lagi, lalu mulai menyalakan mesin kendaraanya dan segera berlalu dari mansion. Hari ini ia sama sekali tidak memiliki rencana ingin kemana dan untuk apa, ia bosan di mansion namun keluar dari mansion pun membuatnya kebingungan, karena tidak memiliki tempat tujuan.
Pada akhirnya Evan lebih memilih untuk memutar balik kendaraannya dan kembali ke mansion, jika seperti ini pilihan terbaik untuknya hanya kembali ke kamar dan memilih untuk tidur saja. Untuk mengistirahatkan pikirannya yang sudah lelah berpikir sejak kemarin.
'entah bagaimana keadaan Esya sekarang' batinnya berkata
Hari ini ia tidak masuk sekolah karena keterlambatannya terbangun pagi tadi, jadi selama seharian ini ia belum bertemu dengan Esya sama sekali. Bahkan sepupunya saja sejak tadi tidak pernah ia temukan sosoknya, biasanya Rio akan berteriak di depan pintu kamarnya jika ia belum membuka matanya. Namun untuk hari ini, sedikit berbeda dari biasanya. Rio terlihat terburu-buru ingin sampai di sekolah dan berbicara dengan Audetnya untuk menyelesaikan masalah yang timbulkan oleh Angga kemarin dulu.
Evan membaringkan dirinya di atas kasur miliknya dan mencoba untuk tertidur, ia tidak sabar untuk menunggu hari esok tiba. Sekarang ia sudah memutuskan untuk tidak membawa apapun untuk gadis itu, selain ungkapan perasaannya. Mungkin malam ini, Evan akan mulai berlatih untuk menyusun kata-kata manis yang akan dia katakan pada Esya lusa nanti.
'Huah.... Aku benar-benar akan gugup nanti' batinnya lagi berkata demikian.
__ADS_1
Karena terlalu lama menghayal, Evan pun tidak sadar bahwa ia akhirnya tertidur. Dari balik pintu kamar itu yang terbuka sedikit, Rio menatap sepupunya itu dengan senyum lalu di susul oleh kekehan dari remaja laki-laki itu. Ia berjalan menjauhi pintu kamar itu setelah menutup pintunya dengan pelan, lalu berjalan menuju ke arah dimana kamarnya berada.