QUEENESYA

QUEENESYA
122


__ADS_3

Udara di kota Paris sangat sejuk pagi ini, matahari bersinar terang, burung Pipit berkicau ria. Esya baru saja terbangun dari dari tidurnya, sepanjang malam Evan selalu memeluk Esya sepanjang malam.


Esya memandangi wajah Evan yang masih tertidur pulas, ia merantau wajah Evan lalu tersenyum manis. Evan perlahan membuka matanya dan menyesuaikannya dengan cahaya didalam ruangan itu.


"Sudah bangun," ucap Esya lembut.


"Bisa kita tidur lagi? aku masih ingin memelukmu."


"Bangunlah sayang, bukankah kita punya jadwal seharian ini?"


"Ck, batalkan saja. kita masih punya banyak waktu bersama."


"Tapi Kauman sudah berjanji ingin membawa aku kesana."


"Kemana?"


"Menara Eiffel, kau berjanji padaku kemarin."


"Menara Eiffel akan sangat indah jika menjelang malam, jadi sekarang ayo kita tidur lagi.


"Tidak, kalau begitu ayo kita ke Jardin du Luxemburg."


Evan membuka matanya lebar-lebar, ia menatap Esya yang sudah memasang wajah herannya. "Ada apa? mengapa bereaksi seperti itu?"


"Dari mana kau tau tempat itu?".


"Ayolah, itu.banyak di internet. memangnya ada apa?"

__ADS_1


Evan menggelengkan kepala dan melepas pelukannya pada Esya. Ia berdiri dan segera mengambil handuk mandinya, sementara itu Esya melirik keluar jendela. Ada apa dengan suaminya? baginya reaksi Evan tadi sangat mengherankan.


Setelah Evan selesai mandi, sekarang giliran Esya, Evan menunggu Esya selesai bersiap lalu mereka akan Memulai liburan pertama mereka di kota Paris ini. tapi sebelum itu, mereka harus sarapan lebih dulu. 1 jam berlalu, Esya sudah siap dengan stylenya. mereka juga sudah sarapan, kini mereka menunggu Tiger untuk mengambil kunci mobil.


"Apa kau yakin tidak mau makan lagi, Sya?"


"Sudah, aku sudah kenyang. Dimana pria kemarin?"


"Dia sebentar lagi akan tiba disini. Nanti akan aku kenalkan denganmu."


"Baiklah."


15 menit kemudian.


Sebuah mobil berhenti didepan Evan dan Esya, tentu saja Evan sudah tau siapa pemilik mobil tersebut. tidak lama, seorang pria berjas dan berkacamata turun dari mobil tersebut. Pria itu melempar kunci mobilnya pada Evan.


Esya meraih ukuran tangan Tiger. " Tidak masalah, aku sudah tau dari Evan."


"Begitu yah? kalau begitu, semoga hari kalian menyenangkan."


Tiger pergi dari sana, Evan dan Esya menaiki mobil Tiger. di bagian belakang ada banyak Robot-robotan


"Itu milik Jaguar, anak Tiger. usianya sekarang sepertinya sudah menginjak tiga tahun."


"Benarkah? ah, aku juga tidak sabar ingin memilikinya juga."


"Hehe, aku rasa kita juga sebentar lagi akan menyusul."

__ADS_1


Rona merah muncul di wajah Esya, tidak ingin Evan mengetahuinya Esya mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. dia tidak ingin suaminya tau jika ia sedang malu sekarang. Beberapa hari setelah pernikahan mereka, Esya masih harus menyesuaikan diri dengan Evan, meskipun mereka sudah lama saling mengenal.


Jardin Du Luxembourg


Taman Luxembourg adalah salah satu taman yang indah di kota Paris. Taman ini menyimpan banyak sejarah, dibangun pada tahun 1612 dibawah perintah Marie de' Medici, istri dari Raja Henri IV dari Perancis sebagai taman dari istana Luxembourg yang baru saja dibangun pada saat itu.


Rerumputan hijau dan deretan jenis bunga yang mekar di taman semakin menambah indah tempat tersebut. Di sekeliling taman juga terdapat banyak pohon yang rindang. Esya dan Evan mulai berkeliling menikmati keindahan taman tersebut.


Evan melirik sekitarnya, ia berharap tidak bertemu dengan orang menyebalkan disana. Seorang pemuda yang sering mengganggunya selain Briand saat masih kecil dulu. Terlebih lagi, pemuda yang satu ini menyimpan rahasia memalukannya, yang tidak boleh di ketahui oleh orang lain.


Inilah mengapa Evan kaget saat mendengar Esya ingin pergi ke taman ini, ia takut jika bertemu dengan orang itu, Esya bisa tahu rahasia memalukannya. Belum lagi, berdasarkan informasi yang ia dengar pria yang satu ini suka menggoda para wanita, dia terkenal sebagai seorang tuan muda yang playboy di sekitar sini.


"Van, ada apa?" suara Esya membuat Evan menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Sya. Bisa kita kembali sekarang?"


"Tapi aku masih belum puas, kita baru saja keluar kenapa harus buru-buru?"


"Tidak kok, hanya saja aku sedikit lapar."


"Alasan macam apa itu?"


"Ayo, Sya. setelah makan kita bisa ke Disneyland, Sungai Seine atau jembatan gembok cinta."


"Tapikan....."


"Udah ayo," Evan menarik tangan Esya menuju ke parkiran mobil dan segera menjauh dari sana.

__ADS_1


Mobil mereka melaju menuju ke sebuah restoran, disepanjang jalan mobil mereka sangat sunyi. Esya malas berbicara dan hanya fokus pada ponselnya atau sesekali memandang keluar jendela mobil, dan tentu sangat jelas kalau wanita satu ini tidak memiliki mood yang bagus untuk berbicara dengan pria di sampingnya sekarang ini.


__ADS_2