
Kedua remaja kembar itu kini turun dari kendaraannya. Mereka berdua menghampiri beberapa orang yang sudah begitu dekat dengan mereka selama ini.
Kenned sang sepupu dan uncle Andreas yang sudah mereka anggap seperti ayah mereka sendiri.
"Bagaimana selanjutnya?"
"Dimana ayah dan Opa?"
"Mereka sedang menuju kemari melalui pasukan udara, kalian tenang saja"
" Kami sama sekali tidak bisa tenang uncle firasat kami begitu buruk"
"Hmm....sembunyi" ucap uncle Andreas memerintahkan kedua keponakannya itu untuk segera bersembunyi dikala tatapan matanya tidak sengaja mendapati dua orang pria sedang mengangkat tubuh Esya ke arah salah satu mobil hitam yang ada disana.
"Astaga, uncle tunggu apa lagi itu Esya kita harus segera menyelamatkannya" ucap Gion yang sudah tidak sabaran
"Tenang dulu, apa kau tidak melihat situasinya"
"Kami tidak perduli dengan situasi yang jelas Esya harus segera berada dalam pelukan kami lagi"
"Mengapa kalian jadi seperti ini sekarang!?"
"Itu karena Esya adik kami. Batin kami terikat dengannya"
Uncle Andreas memikirkan kembali ucapan kedua keponakannya itu. Sebelum ia mengalihkan pandangannya pada Kenned putra semata wayangnya yang hanya memberikan senyuman padanya.
"Apa kalian menyembunyikan semua ini sejak lama!?"
"Itu karena kami menunggu waktu yang tepat ayah. Sekalian menunggu tes laboratorium itu keluar, ayah tau sendiri bukan kita sudah berapa kali salah mengira anak orang sebagai Queenesya hanya karena ia berlesung pipi dan bermata biru." ucap Ken sesantai mungkin, meski tak dapat dipungkiri jika ia juga memiliki rasa kuatir yang begitu dalam pada Esya, meskipun disini ia hanya sebagai saudara sepupu.
Tok...
Suara ketukan yang berhasil mendarat pada dahi Ken mampu membuat remaja itu sedikit meringis kesakitan. Entah kenapa rasanya ketukan sang ayah jauh lebih sakit dari pada cubitan sang bunda
"Dasar bocah. Andai saja kalian mengatakan hal ini lebih awal semuanya tidak akan jadi seperti ini" kesal Andreas pada sang anak
Bisa-bisanya Kenned dan kedua keponakannya itu menyembunyikan hal penting sebesar ini dari mereka. Coba saja ia lebih dulu mengetahui hal tersebut bisa dipastikan Esya akan berada didalam penjagaan selama 24 jam.
"Ayah, dimana kedua bocah kembar itu?" Tanya Ken pada ayahnya ketika baru menyadari hal tersebut
"Apa kau bilang!? Mereka ada di... Dimana mereka!?" Ucap uncle Andreas dikala sudah tidak mendapati kedua keponakannya itu.
Sedangkan disisi lain, Dion dan Gion sudah hampir mendekati lokasi yang sudah di targetkan. Yaitu mobil hitam tanpa nomor kendaraan yang biasanya tertera jelas di bagian depan dan belakang.
Kondisi disekitar terlihat begitu berpihak pada mereka. Kedua pria tadi baru saja pergi entah kemana dan meninggalkan kendaraan itu tanpa penjagaan. Aurel juga sejak tadi belum pernah menampakkan diri sejak mereka berdua tiba di sini.
"Ayo cepat"
"Hn"
Dion dan Gion mulai melangkah perlahan mendekati kendaraan beroda empat itu. Dengan cepat Gion memegang kenop pintu kendaraan itu, mencoba ingin membukanya.
__ADS_1
Namun, sangat nihil. Kendaraan tersebut sama sekali tidak bisa terbuka dengan mudah. Sepertinya rencana Aurel sudah begitu Matang sehingga mempersiapkan segala macam kemungkinan yang mungkin akan terjadi nantinya
Prokkk...Prokkk...Prokkk...
Suara tepukan tangan itu mulai terdengar, membuat kedua remaja itu otomatis mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang menurut mereka memang sudah gila.
"Hai Gion. Eh,ada Dion juga ya!?"
"Aurel!! Dimana Esya!? cepat lepaskan dia"
"Apa? Melepaskan dia!? Setelah semua hal yang sudah aku lakukan? Jangan harap!!"
"Dasar cewek gila"
"Gila!? Hahaha... Aku masih waras sayang." ucap Aurel sambil berjalan menuju ke salah satu kendaraan berwarna hitam itu
"Sebenarnya apa sedang kau rencanakan!?"
"Aku berencana untuk membantu Esya bertemu dengan keluarganya di alam baka sana. Kau lihat di bagian bawa ke daratan ini ada batu yang menghalangi. Sekali baru ini aku lepas maka semuanya akan berakhir" ucap Aurel sambil mempraktikkan perkataannya itu.
Mobil yang sebelumnya terhalang oleh batu itu kini sudah perlahan melaju menuruni bukit. Aurel tersenyum sumringah ketika melihat kendaraan itu melaju dengan cepatnya
"Astaga aku lupa!? Yang dua ini hanyalah pengecoh saja, Esya sebenarnya berada di sana" ucap Aurel sambil menunjuk kendaraan yang sudah semakin laju karena penurunan.
"Sial dasar cewek gila, Gion cepat telpon ayah"
Tidak ada waktu. Ayo cepat kita harus segera mengejar mobil itu"
"Uncle cepat telpon ayah, Esya berada di dalam mobil itu"
"Apa!!? Astaga"
Uncle Andreas pun tidak tunggu waktu lama ia segera mengabari sang kakak yang memang masih berada didalam perjalanan. Sementara Dion, Gion dan Kenned sudah lebih dulu melaju tak lupa mereka membawa beberapa pasukan dari divisi organisasi.
"Sial, kenapa kendaratan ini begitu lambat" Ucap Dion yang sudah begitu ketakutan
Trrttt...trrtt...
Getar ponsel milik Gion sudah sejak tadi berbunyi. Pemuda itu bahkan bersumpah akan memberi pelajaran pada orang yang sudah mengganggunya saat ini. Apa penelpon itu tidak mengerti dengan situasi sekarang, sial.
Dengan kekesalannya ia merogoh saku celananya, mengambil benda pipih itu lalu melihat nama yang tertera dilayar ponselnya itu. Di sana terlihat jelas nama dengan sebutan si Kampret.
Gion sudah tau siapa orang itu, dengan perlahan Gion menarik napasnya agar bisa sedikit menetralkan rasa deg-degannya karena situasi yang sedang di alami oleh Esya saat ini.
"Halo, dimana kau sekarang kampret. Kondisi disini begitu mencekam"
"...."
"Kalau begitu kau diam disana dan cobalah menghentikan mobil hitam tanpa plat nomor itu sebisa mu"
"...."
__ADS_1
"Esya berada didalamnya. mobil itu, tanpa pengemudi"
"...."
"Kami sedang mencoba untuk mengejar mobil itu"
"...."
"Terserah lakukan saja"
Tut...
Gion meletakkan kembali ponselnya dilihatnya mobil hitam itu semakin melaju lurus kedepan dimana didepan terdapat sebuah pohon besar yang terlihat sudah begitu tua. Prediksi Dion kali ini salah, tadinya ia mengira jika mobil itu akan. Terus melaju lurus mengikuti jalur kendaraan. Nyatanya ia lupa jika di hadapan mereka terdapat pembelokan.
"Astaga dimana ayah dan Opa?" Dion mengacak rambutnya frustasi. Dari jarak mereka sekarang sudah dipastikan tidak akan keburu lagi.
Brakkkk.....
"ESYA!!!" Teriak keempat remaja lelaki itu bersamaan lalu langsung keluar dan berlari menuju lokasi dimana Esya berada
Tak lama jet pribadi milik Vondrienty itupun baru saja mendarat dengan cepat ketiga pria dewasa itu sudah keluar, ayah Yohan, opa Robert serta opa Hans menatap kaku ketiga cucu mereka yang sudah bersumpah darah. Di sana mereka bertiga juga melihat tubuh seorang gadis yang sedang berada didalam pelukan ketiganya.
Tak jauh dari sana ada pula tubuh Evan uang sudah tertunduk kaku di tanah.
"Ayah, kita terlambat"
"Ayo kita hampiri mereka"
"Ayah...cepat selamatkan Esya yah...cepat aku tidak ingin kehilangan Esya untuk yang kedua kalinya"
Kedua opa dan juga ayah Yohan mulai kaku mendengar ucapan Dion. Tidak mengerti akan maksud dari ucapan sang anak, sebelum akhirnya opa Robert melihat gelang yang begitu tidak asing baginya, bertengger di tangan kanan Esya. Ia menyenggol besannya itu seakan mengerti opa Hans juga langsung melihat kearah yang sama.
"Tidak mungkin!!! Cucuku!!! Bertahanlah"
Teriak histeris opa Hans ketika telah dengan jelas melihat ukuran gelang itu
"Apa maksudmu Hans!? Jangan bilang dia..."
"Ayah ini tidak benar bukan!? Katakan Ayah semua ini hanya tipuan"
"Dia Queenesya kita, aku langsung bisa menyadarinya ketika sekilas melihat gelang itu. Gelang itu satu-satunya gelang di dunia yang memiliki ukiran Phoenix di sisi sebelah kirinya meskipun jika dilihat dari kejauhan desain gelang itu tidak jauh berbeda dengan yang di pasaran"
"Anakku!!!"
"Cucu Opa!! Bertahanlah sayang"
Ucap ayah Yohan dan opa Robert bersamaan. Sebelum dengan refleks ayah Yohan mengambil ahli tubuh Esya kedalam pelukannya dan segera membawa Esya memasuki jet pribadi itu.
"Bertahanlah sayang, ayah ada disini" di kecupnya puncak kepala Esya dengan lembut. Rasa kustirnya semakin besar ketika darah itu tak henti-hentinya menetes dari kepala Esya serta beberapa luka di daerah lainnya
Dari belakang ayah Yohan sudah ada opa Hans dan opa Robert yang sudah dilanda penuh kekuatiran, dari belakang pula ada Dion, Gion, Kenned, dan terakhir Evan. Mereka memilih untuk ikut Jet saja dan meninggalkan kendaraan mereka disana.
__ADS_1