
Evan berjalan dengan gaya cool dan dinginnya di gedung fakultas mereka, banyak tatapan memuja yang ia tera dari para mahasiswi disana tetapi tetap saja tidak ada yang melebihi seorang Queenesya di hatinya.
Evan dengan menggandeng tas punggung warna hitamnya berjalan di koridor menuju ruang kelasnya. Setelah tiba di ruangan, ia lalu mencari sosok yang sudah tidak asing lagi baginya.
Terlihat Angga sedang murung di pojok ruang kelas, Evan menghampiri sosok sahabatnya itu lalu menepuk pundak Angga, lelaki itu menoleh dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan kosong.
"Kau kenapa?"
"Hn, Melsha masih marah padaku" lesu Angga
"Apa cara kemarin tidak berhasil?"tanyanya
"Huh, biasanya berhasil. Tapi yang kemarin itu entahlah, ku pikir kali ini Melsha benar-benar serius"
"Ini salahmu,tidak memberi kabar padanya"
"Kau tahu, aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau aku sedang mempersiapkan kejutan kecil untuknya"
Sudah seminggu lebih Angga memang tidak memberi kabar sedikitpun pada Melsha, setiap kali Melsha menelpon atau mengirimi ia pesan, Angga hanya mengabaikannya. Angga sadar, ini memang salahnya tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
"Apa yang harus aku lakukan,Van?"
"Aku tidak tahu, mengapa kau tidak jujur saja padanya?"
"Dan membiarkan kejutanku hancur, tidak mungkin"
"Kalau begitu yasudah, tunggu hari jadi kalian saja, hanya 3 hari lagi kan?"
"Itu sangat lama, aku tidak tahan jika dia me diami aku selama itu"
"Kalau begitu, pergi dan temui dia"
Setelah berkata seperti itu, Evan duduk dan mengabaikan Angga yang masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan agar kekasihnya itu menghentikan aksi diamnya.
Evan kembali mengingat kejadian kemarin, tidak sadar jika wajahnya sudah menampilkan senyum,membuat para mahasiswi tertegun melihatnya.
'kamu juga yang pertama ,Van' ucapan Esya kemarin .asih sangat terngiang jelas di pikirannya. rasa bahagia kini menggerogoti lubuk hatinya, hingga ia kembali mengingat kelakuan Gio, yang membuatnya sebal sendiri.
Kakak laki-laki Esya yang satu ini memang sejak dulu membuatnya naik darah. Perilakunya tidak pernah berubah, berbeda dengan Dio dan Ken yang semakin terlihat dewasa dan bijak dalam berpikir.
Dari balik pintu kelas itu, muncullah Briand dan temannya Leon, mata mereka bertemu memancarkan aura kebencian. Briand berjalan melewati Evan begitu pula dengan Leon yang mulai bertanya-tanya tentang ada apa di antara Evan dan Briand.
"Sepertinya kau punya dendam padanya, aku benar tidak?"
__ADS_1
"Sudahlah, Leo. Aku tidak ingin memikirkan tentang itu"
"Huh, kau sama sekali tidak berubah"
"Ck, diamlah"
Briand duduk dengan tenang di kursinya, sesekali ia mencuri pandang kearah kursi Evan. Sedikit kesal, sepertinya keberuntungan memang tidak pernah berpihak padanya.
Bisnis keluarganya berada di bawah Evan, ketenaran selalu berada di sekeliling Evan yah meskipun ia juga sedikit tenar di kalangan mahasiswi sih, gadis manis yang menarik perhatiannya ternyata begitu dekat dengan Evan. Bahkan sudah seperti sepasang kekasih saja.
'aku harus lebih unggul darinya, jika di dunia bisnis tidak bisa maka aku harus bisa unggul di hati Esya' batin Briand
Setelah sekitar hampir dua jam berada diruang kelas, Evan dan Angga bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang kelas. Jam kelas sudah habis sepanjang 15 menit yang lalu, seperti biasa tujuan pertama kedua mahasiswa ini adalah menghampiri pujaan hati mereka.
Kebetulan jadwal kuliah mereka sama, meskipun berada di fakultas yang berbeda. Dewi Fortuna masih berpihak pada mereka, ketika proses pembagian jadwal mata kuliah jadi mereka tidak akan kesusahan untuk menemui kedua gadis mereka di hari-hari sibuk seperti sekarang ini.
"Ga, kau sudah punya rencana?"
"Huh, belum. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, diamnya Melsha kali ini benar-benar serius"
"Mungkin saja, gadis mu itu sedang kedatangan tamu bulanan"
"Apa benar? kalau begitu aku memang sudah harus dalam mode waspada"
"Bukannya itu bagus? Aku malah berharap Melsha ku bisa seperti Esya kalau begitu"
"Apa katamu? Beraninya Kau membedakan aku dengan sahabatku sendiri, aku tidak mau lagi berbicara denganmu selama sebulan"
Deg
Jantung Angga berdetak semakin kencang, sepertinya hari ini ia baru saja ketiban sial, oh ayolah. Bibirnya juga kenapa tidak mau terkatup saja, kalau sudah begini habislah dia sebulan. Melsha tidak pernah mempermainkan perkataannya.
"Bunny, maksud aku bukan gitu kok. Dengerin aku dulu, please?!" mohon Angga, ia mengejar langkah Melan yang sudah agak jauh darinya.
Mengapa mereka tidak sadar jika sudah tiba di gedung fakultas anak bisnis?
"Astaga mereka itu" kata Evan, lalu menghela napas.
Matanya memicing tepat ke depan, mencoba memastikan siluet coklat yang sedang berbicara dengan Queenesya nya. Tangannya mengepal kuat, rahangnya mengeras. dengan langkah cepat Evan menghampiri keduanya.
Entah sejak kapan, lelaki menyebalkan itu mendahului langkahnya, padahal sudah jelas tadi mereka lebih dulu keluar dari kelas dibandingkan Briand, Atau mungkin saja hari ini ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pikirannya.
"Aku bisa mengantarmu pulang, Sya. Bukankah kita ini teman?"
__ADS_1
"Maaf Bri, aku bawa mobil"
"Begitu,yah. Apa lain kali kita bisa pergi bersama, sekedar untuk minum Coffee mungkin?!"
"Uhm, ak-"
Belum selesai Esya berbicara, Evan sudah menggenggam tangannya erat dan membawanya kedalam pelukannya. Membuat Briand nampak sinis kearahnya tapi Evan masa bodoh dengan lelaki berambut coklat itu. Prioritasnya sekarang adalah mengamankan gadis manisnya ini.
"Ayo, pulang Sya. kakakmu akan marah jika tidak menemukan adik kecilnya di mansion"
"Histt, Evan. Sejak kapan kau mulai menyebalkan, huh"
"Sejak aku merasa, ada ancaman untuk hubungan kita" ucapnya lalu memberi tatapan sinis kepada Briand
Briand tersenyum sumringah, menganggap remeh lelaki di hadapannya ini. Lalu kembali tersenyum manis pada Esya yang mengangkat alisnya sebelah karena merasa ada yang tidak beres dengan kedua lelaki di dekatnya ini.
'apa maksud Evan, dengan ancaman?' pikirnya
"Ayo Sya, aku akan mengantarmu"
"Aku bawa mobil,Van"
"Tak apa, aku akan menyuruh orang untuk membawa mobilku"
"Kalau begitu baiklah. Briand, kami duluan yah" kata Esya padanya
"Yah, lain kali bisakan,Sya?"
'tidak akan ada lain kali" batin Evan
"Hnm, nanti akan aku pikirkan.Bye Bri"
Briand menatap kepergian Esya dan Evan yang semakin menjauh. senyum sumringah sudah jelas ia tunjukkan pada Evan, kali ini ia tidak mau kalah dari anak saingan bisnis Orang tuanya itu.
'aku pasti akan mendapatkannya, Evan' batinnya berkata, lalu pergi meninggalkan gedung fakultas itu.
TBC
Ditunggu aja yah, chapter selanjutnya
Jangan lupa tinggalkan Voment-nya biar author bisa semangat buat ngetiknya
°Salam dari Author °
__ADS_1