
Gadis itu duduk disisi ranjang Esya, menggenggam erat tangan Esya sambil tertunduk kaku. Air matanya kembali hadir ketika melihat kondisi Esya yang sampai sekarang belum membuka matanya.
Melsha sangat ingin memperkenalkan dirinya lagi lebih dalam untuk gadis itu. Selama ini, mereka hanya sekedar bertatap muka saja tanpa adanya obrolan sedikitpun bahkan sampai Tidak ada yang sadar jika mereka berdua adalah teman masa kecil dulu.
Belum lagi kondisi Esya yang Melsha ketahui tadi dari bunda Melan jika Esya terkena amnesia yang mengakibatkan gadis itu lupa akan segala hal yang terjadi pada masa kecilnya dulu kecuali pertemuan pertama bunda Melan dan Esya sendiri di taman kala itu.
"Sya,kamu bisa gak sih buka mata kamu?.apa kamu gak lelah!?, Menutup mata terus Sya." ucap Melsha
Sebuah usapan lembut yang Melsha rasakan pada puncak kepalanya saat ini, berhasil membuat gadis itu menolehkan kepalanya ke arah kanan. Tepat disampingnya saat ini, sudah ada bunda Melan yang sedang tersenyum kearahnya.
"Aunty tahu, apa yang kamu rasakan sayang!?. Tapi, untuk saat ini Esya lebih membutuhkan doa kita ketimbang air mata" ucap bunda Melan sambil mengantar tubuh mungil Melan kedalam pelukannya.
"Apa dia kelak akan mengingat aku, Aunty!? Aku takut jika dia sudah tidak mengingat aku lagi"
"Berdoa saja yah, sayang. Semoga kondisi Esya segera membaik"
"Semoga saja" ucap Melsha membalas pelukan bunda Melan
Sedangkan ketiga remaja lelaki itu sejak tadi, hanya memperhatikan Melsha dan bunda Melan sejak tadi. Pikiran mereka masih belum percaya dengan ucapan Melsha tadi, mengenai hubungan masa kecil diantara diri gadis itu dengan Esya yang notabenenya adalah adik mereka.
"Apa kau percaya dengan ucapan siput tadi!?" Tanya Gion, membuka percakapan diantara mereka.
"Entahlah, siapa yang mau tau soal masa kecilnya. Dia sangat menyebalkan" jawab Kenned yang masih asik dengan game di ponselnya.
Menyebalkan!?... Itulah pendapat Kenned tentang Melsha, gadis yang hanya terpaut setahun dari mereka. Sedangkan untuk Gion sendiri, sama halnya dengan Zee lelaki itu juga menyediakan satu nama khusus untuk Melsha.
Siput. Itulah nama yang telah disediakan Gion sejak dulu, menurut lelaki itu kata sipit tidak berbeda jauh dari kosa kata siput hanya berbeda pada penempatan huruf vokalnya saja.
Menurutnya juga, julukan itu sangat sesuai dengan bentuk mata Melsha yang sipit, menandakan penampilan mata khas orang China pada umumnya.
"Hmm... Sudahlah"
Dion berjalan menuju salah satu sofa yang berada di seberang Kenned. Ia lalu membaringkan tubuhnya sehingga langit-langit ruang inap itu sudah berada tepat di depan matanya.
Dengan hembusan napas yang semakin teratur, akhirnya Dion pun memasuki ruang mimpinya. Mengabaikan Gion yang masih saja berceloteh mengenai suatu hal yang sangat tidak berniat ingin ia ketahui.
"Dia tertidur!?"
"Sudah kukatakan bukan!? Dion tidak akan tertarik dengan ucapan mu"
Bukannya membalas ucapan Kenned, Gion justru mengikuti kelakuan Dion barusan. Ia menuju ke arah dimana salah satu sofa panjang yang masih kosong dan ikut tertidur seperti Dion, sang kembarannya.
"Dasar mereka ini benar-benar..." ucap Kenned terpotong karena munculnya seutas senyum diwajahnya.
Lelaki itu sangat bersyukur karena pada akhirnya sumber kebahagian kedua saudara sepupunya itu sekarang sudah kembali meskipun masih dalam keadaan yang kurang baik seperti sekarang.
Ia harap kedepannya senyum dan tawa kedua saudara sepupunya itu bisa kembali seperti dulu, terlebih pada Dion sendiri. Padahal ketika kejadian itu berlangsung seharusnya Gion lah yang lebih terpuruk karena ia sendiri yang menyaksikan seseorang itu membawa Queenesya pergi.
"Sudahlah, sebaiknya aku juga tidur saja"
Ken mematikan ponselnya lalu meletakkannya di atas meja samping sofa yang sudah sejak tadi ia tempati berbaring sambil bermain game. Memejamkan matanya dan mulai terlelap.
__ADS_1
Sekarang diruangan ini hanya ada bunda Melan dan Melsha saja yang masih terbangun. Mereka masih saja asik bercerita membahas tentang bagaimana Esya selama berada bersama bunda Melan. Tentunya, sebelum bunda Melan mengetahui fakta mengejutkan yang sempat membuatnya harus terbaring beberapa hari di kasur rumah sakit waktu itu.
"Aunty,Uncle Yohan kemana!?" Tanya Melsha
"Ah, kurasa dia sedang mengurus perlengkapan untuk besok"
"Perlengkapan untuk apa?"
"Sayang, besok kami berencana membawa Esya ke Singapura untuk pengobatan lebih lanjut karena RS ini masih dalam proses pengembangan"
"Sampai kapan, Aunty?" tanya Melsha lagi
"Sepertinya sampai kondisi Esya sudah benar-benar pulih" jawab Bunda Melan lembut.
Melan begitu tahu apa yang sedang dirasakan oleh Melsha, sedikit tidak rela karena pertemuan mereka yang sangat terbilang singkat setelah sekian lamanya. Wanita itu bisa melihatnya dari sorot mata yang dikeluarkan oleh gadis manis itu.
"Jika ada kesempatan, datanglah bertemu Esya"
"Tentu"
"Sekarang tidurlah"
Melsha tersenyum sebagai jawaban untuk ucapan Bunda Melan barusan. Ia lalu berdiri dari duduknya lalu menuju ke sisi lain dari ruangan itu dimana disana teradapat sebuah tombol.
Ia menekan tombol hitam itu lalu dengan sendirinya lantai ruangan itu terbuka lebar, dari bawah muncullah sebuah ranjang yang mampu menampung dua tubuh orang dewasa.
🌺Queenesya🌺
Ia yakin pasti kemarin malam mereka sampai lupa untuk menutup tirai jendelanya. Didepannya sudah ada banyak orang yang berkumpul, ada Evan, dan Angga serta Zee, Ginta dan Eve.
Gion mulai yakin kali ini mereka berlima pasti memilih untuk bolos sekolah lagi demi untuk mengantar Esya, Dion dan Ken juga entah sekarang berada Dimana. Tidak biasanya mereka pergi tanpa mengajaknya dan bahkan mereka tidak membangunkannya.
Dan apa lagi ini, disudut lain ruangan itu. Gion melihat Melsha masih tertidur pulas di atas kasur. Tidak adil , seharusnya kemarin Gion lebih dulu memilih untuk untuk menempati kasur itu, bahkan ia sampai tidak kepikiran jika di dalam ruang inap Esya terdapat kasur tersembunyi.
Gion berjalan memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya agar lebih terlihat segar sedikit. Urusan kedua saudaranya itu, biarlah ia urus nanti yang terpenting sekarang dirinya harus segera mungkin bersiap karena sebentar lagi Queenesya akan segera berangkat bersama Ayah,Bunda serta Oma dan Opanya.
Pukul 09.05, tidak butuh waktu lama untuk Gion bersiap. Sekarang ia sudah rapi dengan kaos oblong berwarna biru tua miliknya, jeans pendek serta sepatu sneaker kesayangannya.
"Selamat pagi semua, Gion yang tampan ini sudah rapi dan wangi" ucap Gion menghancurkan kesunyian yang sedang terjadi antara kelompok Zee dengan Melsha sendiri.
Sudah sejak tadi mereka saling tatap menatap, tanpa adanya perbincangan diantara kelimanya. Mengetahui hal itu membuat Gion merasa jengkel, ia begitu tidak menyukai atmosfer yang seperti ini.
"Ada apa dengan kalian!?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang di lontarkan Gion, para agadis itu justru tetap diam bahkan masih saling memandang satu sama lain seperti tadi.
"Kau..." ucap Zee dan Melsha bersamaan.
"Zee-Zee/Mel-Mel" ucap keduanya lagi bersamaan lalu saling melempar pelukan satu dengan yang lainnya.
Sekarang kebingungan justru menghampiri isi kepala Gion. Lelaki itu sangat tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara gadis-gadis ini. Memang benar, baginya cewek memang sangat sulit untuk di mengerti dan Gion sudah membuktikan hal itu sekarang.
__ADS_1
Ia lebih memilih meninggalkan mereka dari pada hanya menjadi patung diantara mereka dan lebih memilih untuk ikut berkumpul bersama para cowok-cowok itu.
"Hei, aku sangat merindukan kalian" ucap Melsha yang masih saling memeluk Zee,Ginta dan Eve
"Kami juga sangat merindukanmu" ucap Zee
"Aku tidak menyangka, pertemuan aku dengan Esya akan mempertemukan kita lagi" ucap Eve
"Benar, hadirnya Esya adalah suatu anugrah tersendiri untuk kita" ucap Ginta
Mereka semua tersenyum setelah mendengar ucapan Ginta. Hal itu memang benar, pertemuan dan perkenalan mereka dengan Esya mampu mengantarkan mereka bertiga kepada pertemuan indah dengan Melsha. Teman masa kecil mereka di elementary school dulu.
Disisi lainnya, ditempat Gion lelaki itu masih saja diam sejak ia berkumpul dengan teman-temannya itu. Ah tidak kurasa Gion belum bisa mengatakan teman untuk ketiga lelaki itu, terutama Evan yang entah mengapa menurutnya akan menjadi pengganggu diantara kedekatannya dengan Esya yang merupakan adiknya sendiri.
"Jam berapa mereka akan berangkat!?" Tanya Orion yang baru saja tiba beberapa menit yang lalu.
"11.35" jawab Gion singkat
Gion memilih untuk merogoh saku celananya lalu mengambil ponsel yang tadi ia masukkan. Di layar ponselnya sendiri sudah terdapat 13 panggilan tidak terjawab, 35 pesan singkat dan 14 pemberitahuan lain dari akun sosial medianya.
Gion membuka pesan untuk melihat siapa saja yang mengirimi pesan untuknya. Matanya terbelalak melihat pesan dari saudara kembarnya itu, dan beberapa panggilan dari ayah Yohan dan Kenned.
Message
IceBoy -08.55-
cepat ke mansion dan jemput Oma, Opa sedang berada di bandara dan aku serta Kenned sedang ada urusan lain.
Ck, memangnya kalian berdua sedang mengurus apa!?
Ada seseorang hampir saja berhasil menerobos sistem keamanan dimana data pribadi Queen tersimpan.
Baiklah... Katakan pada Oma sebentar lagi aku akan segera sampai.
Hn...Cepatlah.
Ck...
Message end
Gion berdiri dari duduknya, lalu segera mungkin mengambil kunci mobil yang berada di atas nakash tepat di samping kasur dimana Esya masih terbaring. Sebelum pergi tak lupa ia memberikan sebuah kecupan hangat tepat di atas dahi Esya.
"Sya, kakak pergi dulu yah"
"Bunda, Gio pergi jemput Oma dulu"
"Hati-hati dijalan sayang, jangan ngebut"
Gion kini berlari keluar ruangan, untuk sesegera mungkin pergi menjemput kedua Omanya itu. Ia tahu jika sekarang Omanya sudah begitu bosan karena sudah lama menunggunya. Dan Gion tidak ingin membuat kedua wanita hebatnya itu terlalu lama menunggu.
Sebenarnya bisa saja Oma Hellen ataupun Oma Amel untuk menyetir sendiri, hanya saja karena umurnya yang sudah terbilang cukup tua bagi cucu-cucunya. Mereka sudah melarang Omanya untuk melakukan hal itu, mereka takut jika akan terjadi sesuatu pada kedua wanita yang begitu mereka sayangi itu.
__ADS_1