
Siang hari yang cerah gadis itu sedang berjalan seorang diri di trotoar. Tadinya gadis itu ingin meminta bantuan pada para sahabatnya Hanya saja ia berpikir lagi. Ia merasa jika selama sebulan lebih mereka kenal, gadis itu sudah merasa terlalu banyak merepotkan orang-orang sekitarnya.
Esya, gadis berlesung pipi itu sudah melangkah keluar dari lingkungan sekolah beberapa menit yang lalu. Ia berencana ingin menuju ke coffee cafe tempat dimana ia bekerja selama ini, dengan dan tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Dion dkk.a seperti biasanya.
Tanpa ia sadari jika sejak tadi ada beberapa orang yang sedang menatapnya penuh selidik, seperti ingin mencari waktu yang tepat untuk menghampiri gadis itu dan segera melaksanakan tugas dari seseorang yang sudah membayar mereka dengan harga yang terbilang tinggi.
Esya masih saja belum menyadari kehadiran mereka. Gadis itu masih memperlambat jalannya, sembari berargumen dengan pikirannya, memikirkan jika seharusnya dirinya tidak pernah masuk dan mengenal mereka lebih dalam, sampai akhirnya ia sendiri larut dan merasa memiliki ikatan yang tidak seharusnya ia rasakan pada orang-orang yang baru saja ia kenal sebulan lebih ini.
Gadis itu sadar, jika tempatnya bukanlah berada diantara mereka. Masih ada seseorang diluar sana yang lebih berhak darinya, berada di tengah-tengah mereka, dengan kasih sayang tulus yang baru saja Esya rasakan.
Esya berhenti sebentar, mengamati sekelilingnya. Sekarang ia baru sadar jika sejak tadi ada beberapa pasang mata yang selalu mengikuti gerak-geriknya. Setelah ia merasa aman, Esya melanjutkan jalannya lagi.
Didepan matanya sudah ada cafe yang berlogo sayap dengan sekumpulan miniatur biji kopi di sekitarnya. Dengan cepat Esya melangkah, hendak ingin segera sampai dan membuka kenop pintu cafe tersebut.
Namun, belum tangannya menyentuh kenop pintu itu, sebuah tangan yang kekar telah membekap mulutnya dengan sebuah kain yang telah diberi obat bius terlebih dulu.
Salah seorang dari mereka mengambil ponselnya dan mengetik beberpapa digit nomor untuk ia hubungi, tidak berapa lama seseorang di seberang sana sudah mengangkat telponnya.
"Bagaimana?," Ucap seorang pria misterius yang berada diseberang sana
"Semuanya Beres, bos. kami akan segera menuju ke lokasi"
"Kerja bagus" ucap pria itu lagi, sebelum mematikan sambungan telponnya.
Setelah sambungan telpon itu mati, tanpa pikir panjang lagi kedua orang itu sudah membawa Esya pergi memasuki sebuah mobil hitam, didalamnya orang-orang itu kini mulai mengikat tangan dan kaki Esya serta tak lupa mereka menambal bibir Esya dengan menggunakan kain lain yang tersedia di dalam mobil tersebut.
"Kenapa bos ingin kita menangkap gadis ini?"
"Ini sudah jelas permintaan dari keponakan tersayangnya itu"
"Ah, sudahlah yang penting sekarang uang masuk kantong"
Mobil itupun melaju dengan cepat ke arah matahari terbenam, salah satu tempat yang di takuti banyak orang karena rumor di sekitarnya. Sarang para mafia Black shadow yang merupakan musuh besar dari White butterfly yang sekarang berada di bawa pimpinan Andreas Mahesa Heskiel putra kedua dari Hellen Heskiel pemimpin sebelumnya.
Dendam masa lalu membuat permusuhan itu tidak pernah berujung, bahkan sampai sekarang ini dendam itu masih saja terus diturunkan kepada setiap generasinya, sekarang ini sudah pada generasi ke-5 Tidka tau kedepannya akan seperti apa jadinya.
Tak terasa Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mobil yang mereka kendarai sudah tiba di depan pintu gerbang sebuah mansion yang kondisinya sudah tidak terawat lagi.
__ADS_1
Halaman yang kumuh, dengan dedaunan yang berserakan dimana-mana. Pepohonan rindang dengan hanya tinggal tangkai saja, menambah kesan horor bagi setiap orang yang melihatnya.
"Ayo cepat, bawa dia masuk" ucap salah seorang penjaga berpakaian serba hitam itu.
"Hn"
Tangan kekar itu mulai memapah tubuh mungil Esya kedalam mansion tersebut. Lalu mendudukkan tubuh yang masih belum sadarkan diri itu di sebuah kursi kayu, dan mengikatnya lagi.
"Dimana gadis sialan itu?" ucap pria itu dengan penuh penekanan.
"Lapor tuan,korban sudah ada di ruangan."
"Bagus, sekarang kalian boleh pergi"
"Baik tuan"
Pria misterius itu, mulai berjalan memasuki ruangan yang di katakan oleh para budaknya tadi. Dilihatnya tubuh Esya yang sudah terikat, dengan senyum meremehkan. Dengan perlahan pria itu mulai mendekati Esya, memegang lengan kiri Esya lalu tatapannya terfokus pada sebuah gelang yang selama ini melekat padanya.
"Queenesya M.H.C.V"
Beberapa menit setelah pintu itu terkunci, Esya baru membuka matanya. Sejak pria tadi itu masuk, Esya sudah sadarkan diri hanya saja ia terus menutup matanya seolah-olah jika dia memang belum sadarkan diri.
Esya merutukki kebodohannya hari ini, ia keluar dari lingkungan sekolah tanpa memberi tahu mereka lebih dulu dan parahnya Esya meninggalkan jaket yang selama ini setia menemaninya jika berada di lingkungan sekolah dan luar sekolah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Esya pada dirinya sendiri, dengan mata yang sudah mulai berbinar-binar dengan air mata.
Esya sekarang benar-benar sudah mulai merasa takut, ruangan ini gelap dan pengap. Ikatan tali yang mengikat dirinya terlalu kuat sehingga rasanya Esya sudah hampir tidak.bisa bernapas lagi, bagaimana Esya akan bisa melepaskannya jika seperti ini dan bagaimana pula Esya bisa pergi dari tempat ini nantinya.
🌺Queenesya🌺
Sedangkan di QHS Sendiri sekumpulan anak remaja itu sedang kuatir memikirkan kemana Esya pergi. Mereka sudah berkeliling sekolah mencari Esya bahkan hampir sudahbmenanyai seluruh teman sekelas Esya namun tak ada satu orangpun yang mengetahuinya termasuk Zee dkk.a
Biasanya Evan akan selalu ada di sekitar Esya hanya saja dirinya hari ini tidak masuk sekolah karena ada urusan penting dengan keluarganya di Inggris yang mengharuskan Evan untuk segera terbang ke sana.
Ketika bel pulang berbunyi Esya hanya mengatakan ingin pergi ke lokernya sebentar untuk mengambil jaketnya hanya saja sampai sekarang gadis itu justru belum kembali juga. Dion dan saudara-saudaranya sudah Tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tidak mungkin mereka menelpon ke mansion dan menanyakan apakah Esya ada disana atau tidak bukan?, Mereka juga sudah menyuruh seseorang untuk mencari tau disekitar tempat kerja Esya hanya saja sampai sekarang mereka belum juga menerima informasi dari sana.
__ADS_1
"Astaga Sya, sebenarnya kau ada dimana sekarang?" Ucap Dion mulai frustasi smash halnya seperti Gion dan Ken.
"Oii...kalian. aku ada informasi"
"Apa? Cepat katakan Ga" ucap Zee pada Angga yang harus saja datang menghampiri mereka.
"Ini" ucap Angga sembari menyodorkan jaket milik Esya yang ia temukan di kursi dekat loker miliknya.
"Astaga, kenapa dia tidak membawa jaketnya" ucap Gion semakin frustasi
Jika saja Esya membawa jaket miliknya maka mereka akan dengan mudah mengetahui keberadaannya karena jaket tersebut sudah mereka pasangi alat pelacak karena gelang milik Esya hanya akan berfungsi dengan baik jika gadis itu sudah berumur 15 tahun.
Trttt...Trttt....
Getar ponsel itu menyadarkan pemiliknya dari lamunannya tadi, dengan cepat Dion mengangkat panggilan tersebut yang berasal dari paman yang merupakan orang kepercayaannya selama ini.
"Bagaimana paman? Apakah ada informasi"
"..."
"Shit..." ucap Dion mulai murka saking murkanya sampai ia tak sadar sudah membanting Ponsel miliknya, membuat semua tatapan mata tertuju padanya.
"Dimana Esya kak?" Tanya Zee dengan penuh kekuatiran, mata gadis itu sudah memerah karena lelah mengeluarkan butiran bening bagai kristal itu sejak tadi, sama seperti Eve dan Ginta juga tentunya.
"Esya ada di markas Black shadow"
"Apa!!!"
"Arght...Ini benar-benar buruk" ucap Gion mulai mengacak-acak rambutnya dengan kasar
"Sial, aku harus segera menghubungi ayah" ucap Kenned sambil mengotak-atik ponselnya mencari kontak milik sang ayah
Kenned tau betul mengenai perkumpulan Mafia itu, siapa mereka dan siapa sekarang yang menjabat sebagai ketua Genk perkumpulan tersebut. Orang itu tidak lain adalah Sehan von Petter adik dari ayah Aurel sekaligus paman gadis yang memiliki tempramental buruk itu.
Kabarnya, Aurel begitu dekat dengan pamannya terlebih lagi Sehan sama sekali tidak memiliki seorang anak yang membuatnya begitu memanjakan Aurel dan akan melakukan apapun asalkan itu bisa membuat keponakannya tersenyum.
Kenned juga tahu dendam masa lalu yang masih saja terus mengalir hingga kini. Yang ia takutkan jika Sehan mengetahui bahwa Esya adalah putri kelurga Vondrienty dan cucu perempuan dari Oma Hellen maka bisa dipastikan Esya akan digunakan sebagai umpan untuk membalaskan dendam tersebut.
__ADS_1