
Dion berjalan tergesa-gesa memasuki mansion, disusul oleh Opa, Ayah, dan Unclenya. Ketika mereka sedang disibukan dengan Berkas-berkas mereka tiba-tiba mendapatkan panggilan telpon dari istri-istri mereka.
Mendengar apa yang terjadi dengan putri kecil mereka, tanpa menyusun dokumen penting itu mereka segera bergegas Kemabli ke mansion. Riska perduli jika sebentar lagi mereka akan mengadakan rapat kerja dengan beberapa klien, Semua hal itu tidaklah penting dibanding dengan princess kecil mereka.
Dion mengatur ampasnya pelan setelah tiba di kamar Esya, keempat pria Berbeda generasi itu langsung berjalan menuju ke arah istri mereka, memeluk tubuh wanitanya agar memberikan ketenangan.
"Apa yang terjadi pada princess?" Tanya Uncle Andreas pada istrinya.
"Esya mengetahui tentang kejadian itu, Yah" jawab Ken
"Bagaimana bisa itu terjadi?"
Ken mengangkat bahunya tanda tidak mengerti karena ia dan bundanya baru saja tiba beberapa menit sebelum kedatangan Ayahnya.
"Bagaimana keadaan princess?" tanya Ayah Yohan
" Dokter bilang jika princess harus banyak beristirahat dan tidak terlalu banyak berpikir" jawab Bunda Melan dengan pelan.
Yohan memeluk erat tubuh sang istri, dikecupnya dahi sang istri sedikit lama berharap agar hal itu bisa membuat Melan sedikit tenang. Hal itupun juga terjadi pada dua pasang paruh baya itu.
Sedangkan Dion sudah berada di dekat ranjang Esya bersama dengan saudara kembarnya itu, Gion sejak tadi masih saja menahan amarahnya karena mengingat perkataan Esya tadi sebelum gadis itu lunglai dan tidak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi dengan Princess!?" Pertanyaan yang sama keluar dari bibir Dion, matanya menatap sendu wajah polos adiknya yang masih terlelap.
"Ia mengetahui kejadian itu, termasuk bullying yang di lakukan Aurel dulu"
"Bagaimana bisa ia tau soal itu?!"
"Entah, tapi firasat ku mengatakan jika ini semua ada sangkut-pautnya dengan ketiga lelaki menyebalkan itu"
"Maksudmu?! Evan dkk.a"
"Ya, siapa lagi jika bukan mereka bertiga. Kau tau bagaimana perasaan Evan pada princess bukan?"
"Aku tahu, tapi ia tidak mungkin mengatakan semua itu pada princess..." ucap Dion menggantung
"Kecuali kedua lelaki itu" sambung Ken
Gion terdiam sebentar, sepertinya benar kedua lelaki itu sudah lupa dengan apa yang pernah ia katakan pada mereka ketika pertemuan pertama mereka dengan Esya setelah sekian lama tepat di halaman belakang mansion.
'apa aku harus memberi pelajaran pada kedua lelaki itu' batin Gion, ia lalu merampas kunci motor milik Dion lalu segera mungkin keluar dari ruangan, tidak memperdulikan panggilan dari Dio.
__ADS_1
Ken juga sudah ikut keluar dari ruangan itu, ia berniat untuk mengikuti Gion karena apa yang Gio rasakan sekarang juga bisa ia rasakan. Lagipula sudah lama juga Ken tidak berolahraga, bukan?!
Motor sport mereka keluar dari lingkungan mansion, Gion mempercepat laju ke daratannya di atas laju rata-rata. Ken juga seperti itu, mereka hendak menuju ke suatu tempat dimana kemungkinan kedua remaja lelaki itu berada.
'awas saja kalian berdua' geram Gion dalam benaknya.
'aku tidak sabar, sudah lama aku tidak meregangkan otot-otot ku' batin Ken menyeringai tidak sabar.
Gion akui jika ia memang kadang terlihat konyol dan menyebalkan, namun semua itu tidak akan pernah terjadi jika sudah menyangkut kelurganya sendiri. Ia tidak akan segan untuk berubah menjadi sosok yang berbeda jika seseorang mencari masalah dengan dengannya.
🌺 Queenesya🌺
E
van sudah tiba di mansionnya sejak tadi, ia langsung saja menuju kearah lantai atas hendak untuk memasuki ruangannya. Mengabaikan panggilan dari Rio dan Angga yang sudah berada di ruang keluarga tadi sedang memainkan game online.
"Apa kau yakin, jika semuanya akan baik-baik saja?" tanya Rio tiba-tiba
"Hn, tentu saja. Kau tidak perlu panik"
"Firasatku tidak enak tahu"
"Tenang saja"
Tingtong...
Suara bel di pintu masuk membuat ketenangan mereka menjadi sedikit terganggu, Rio bangkit dan menuju ke arah pintu utama mansion, sebagai tuan rumah. Ketika pintu itu baru sedikit terbuka, seseorang yang berada di luar sudah langsung mendorong pintu itu. Membuat sang tuan rumah terjungkal ke belakang.
Gion yang sudah tidak sabaran mencengkram erat kaos yang digunakan oleh Rio,memberikan tatapan tajam pada makhluk di hadapannya saat ini. Sedangkan yang di tatap hanya mengangkat alisnya acuh,seolah tidak mengerti dengan tatapan tajam sang kakak kelasnya ini.
"Apa maksudmu,hah!!!" ucap Gion tajam
"Memang apa yang aku lakukan?" tanya Rio tidak mengerti
"kau yang menceritakan semuanya pada Esya-kan?" tanya Ken
"Oh, ayolah jangan bercanda. Aku abru mengenal Esya setelah ia terbaring di RS waktu itu, aku mana tau tentang semuanya" ucap Rio menekan kata Selamanya.
'benar juga, arght ini pasti ulah Angga awas saja akan aku lapor pada Melsha nanti' batin Gion lalu melepaskan cengkeramannya dari Rio
"Hn"
__ADS_1
"Apa semudah itu?! Setidaknya kau minta maaf padaku karena tuduhan mu itu"
"Ck, dimana Evan?"
"Dia lebih sering menyendiri belakangan ini, ku harap kalian tidak mengganggunya"
"Hn..."
Ketika mata Ken melihat sosok Angga ia langsung saja berjalan mendekati lelaki itu, betapa beruntungnya ia hari ini tidak perlu susah-susah mencari atau menelpon Melsha. Orang yang ia cari sudah ada di depan matanya. Ken mencolek tengkuk leher Angga yang belum menyadari kehadirannya.
"Diamlah Rio, aku sebentar lagi akan Chicken dinner"
"Oh,astaga berhentilah mengganggu ku, kau tidak perlu khawatir tentang Esya. Dia pasti akan baik-baik saja"
"Arght.... K-au" ucapnya terbata ketika melihat siapa yang berada tepat di belakangnya.
Ken dan Gion menatap garang kearah Angga, kepalan tangan mereka sudah begitu kesemutan ingin memberi pelajaran pada lelaki yang ada di hadapan mereka saat ini.
'sudah ku bilang kan firasat ku tadi memang tepat, Mampus kau' batin Rio tertawa melihat keadaan Angga yang sudah di keroyok oleh kedua singa kelaparan itu.
"Sialan kau,Rio. Kenapa kau tidak mengatakan jika kedua monster buruk rupa ini datang"
"Apa katamu!!!" teriak Gio dan Ken ketika mendengar ucapan Angga barusan.
Bunght
Crackkk
Pletekkk
'apa salahku?!' batin Angga miris menahan sakit, memang apa salahnya mengatakan semau itu pada Esya. Lagipula Esya juga berhak mengetahuinya bukan?, Ini juga akan membantu sahabatnya sedikit agar tidak banyak berpikir lagi.
Langkah kaki Evan terhenti ketika sudah berada di lantai bawa, sejak tadi ia mendengar suara berisik yang membuat tidurnya sedikit terganggu. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengecek kegaduhan tersebut dan disinilah ia sekarang, menatap heran pada kedua lelaki yang lebih tua setahun darinya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Evan pada keduanya.
"Tidak ada, hanya berjalan-jalan sedikit"
"Hn, jika sudah selesai pulanglah. Jangan buat keributan di mansion ku" ucap Evan lalu kembali menaiki tangga.
"Bersabarlah, ia seperti itu karena merasa jaraknya dan Esya sudah semakin jauh. Terlebih ada kalian bertiga sebagai pembatasnya" ucap Rio
__ADS_1
Ken dan Gion mengangguk setuju, mereka tidak akan membiarkan adik kecil mereka jatuh ke tangan orang yang salah. Jika ingin bersama dengan Esya siapapun itu harus melangkahi mereka dulu dan bisa membuat mereka percaya bahwa Esya akan selalu aman jika bersama dengannya.
Tbc