
Remaja laki-laki itu baru saja memasuki kamarnya, sekitar 10 menit yang lalu mereka baru selesai dengan acara peresmian gedung baru milik sang ayah.
Evan, kemarin setelah menerima telpon dari sang ayah ia segera melakukan penerbangan menuju inggris dan Ia baru bisa mengabari Angga setelah ia tiba di sana.
Evan menjatuhkan dirinya di atas kasur king size miliknya, menutup matanya sebentar untuk sekedar beristirahat sejenak. Namun, sebuah nada ponsel berhasil membuat matanya terbuka kembali.
Dilihatnya nama yang tercantum disana ada nama Angga, entah kenapa perasaan Evan mulai tidak karuan. Dengan sekali hembusan napas ia segera mengangkat panggilan telpon itu.
"Hallo Ga, ada apa? Semuanya baikkan?"
"..."
"Apa!!!"
"Tunggu disana aku akan tiba beberapa jam ke depan"
"..."
Tut...
Suara pertanda bahwa sambungan telpon itu sudah putus membuat Evan segera bergegas mengemasi barang keperluannya saja, lalu segera berlari keluar kamar tak lupa ia mengambil kunci mobilnya. Berlari menuruni anak tangga tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Ekhm...Steve mau kemana?" Suara seorang wanita paruh baya membuatnya harus menghentikan langkahnya.
"Steve mau kembali ke LA Bun, ini penting demi keselamatan hidup seseorang"
Di mansion kelurahan Shakespeare Evan di panggil dengan sebutan Steve oleh keluarga terdekatnya sedangkan untuk orang luar ia akan di panggil dengan sebutan Evan
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Jelas bunda kalau Steve terlambat maka Steve bisa saja akan kehilangan dia hari ini juga"
"Dia siapa?"
"Ah, sudahlah bunda Tidak akan mengerti tentang perasaan lelaki. Aku pamit dulu Bun, yah"
Setelah mengucapkan itu, Evan segera bergegas pergi dari sana. Mengabaikan perkataan yang akan dilontarkan oleh sang bunda dan sang ayah yang hanya diam sembari tersenyum melihat kelakuan anak tunggalnya itu.
__ADS_1
"Anak kita sudah besar yah, Bun?" ucap Tuan William pada sang Istri
"Ayah benar, aku jadi penasaran siapa gadis yang sudah berhasil mencuri hati putra tampan kita. Padahal Steve belum lama tinggal di LA"
"Iya dong anaknya aja tampan apa lagi ayahnya"
"Hn"
Disisi lain tepatnya didalam mobil yang di kendarai oleh Evan sendiri, semakin tidak karuan memikirkan keadaan Esya sekarang ini. Pantas saja sejak siang tadi perasaan Evan sudah mulai tidak tenang.
"Sya...kamu bertahan yah Sya semoga gak ada sesuatu yang terjadi disana"
"Shit..." Kesal Evan pada kemudi itu ketika jalanan mulai padat dengan kendaraan. Jika seperti ini Evan Tidak akan pernah bisa sampai di LA dengan cepat.
"Astaga... Sial... Sial...sial..."
Evan mengambil ponsel miliknya yang ia letakkan di saku celananya.mencari sebuah kontak di buku telponnya itu lalu menghubungi kontak tersebut.
Trttt...trttt...
Tak berapa lama kemudian akhirnya sambungan telpon itu sudah terhubung dengan cepat Evan langsung meminta orang di seberang sana itu untuk membawa jet pribadi miliknya ke tempat dimana posisinya berada. Kebetulan didekat sini ada sebuah lapangan sepak bola yang terbilang luas pula.
Dengan cepat Evan turun dari mobilnya, tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan orang-orang sekitar karena mobilnya tidak kunjung berjalan maju.
Evan berlari dengan cepat menuju lapangan yang ia maksud tadi, dari jauh ia sudah bisa melihat jet pribadi miliknya sudah terpampang jelas disana, dibawanya ada seorang remaja lelaki yang sepertinya memang sudah tidak asing lagi dimatanya.
"Hai, Steve lama tak jumpa"
"Astaga Orion ngapain kau ada disini"
"Mau apa lagi selain bertemu dengan sepupuku yang sudah singel karatan"
"Ah, sudahlah, aku tidak ada waktu untuk bercanda denganmu kali ini" ucapnya lalu berjalan menaiki jet miliknya, di bangku kemudi sudah ada paman Abercio orang kepercayaan ayahnya untuk menjaga tuan muda
"Silahkan, Tuan muda"
"Eeh, tunggu aku ikut"
__ADS_1
"Kalau begitu cepat naik" ucap Evan yang sedikit teriak. Setelah mendengar ucapan Evan Dengan cepat Orion menaiki mesin terbang itu.
Orion adalah saudara jauh Evan, kakek Orion adalah saudara kandung kakeknya Evan, mereka berdua juga sudah sangat dekat layaknya saudara kandung.
Namanya adalah Orion Shakespeare kelak jika sudah dewasa nanti Orion akan mewarisi saham yang ada di benua Eropa sedangkan Evan sendiri akan mewarisi saham yang ada di benua Amerika itu sendiri.
🌺Queenesya🌺
Ketiga remaja lelaki itu sudah lama berjalan ke sana dan ke mari memikirkan suatu cara untuk menemukan Esya secepatnya. bahkan mereka sampai lupa untuk kembali ke mansion lebih dulu hanya untuk sekedar memberi kabar pada keluarga mereka.
Ken juga belum sempat terhubung dengan sang ayah, sejak tadi Ken sudah sejak tadi mencoba untuk menghubungi ayahnya yaitu Andreas namun sampai sekarang beliau belum mengangkat telpon darinya, padahal ini sudah sejak 5 jam yang lalu. Yang berarti hari pun sudah menyongsong malam.
"Bagaimana sekarang? Apa kita menghubungi Oma Hellen saja?" tawar Ken pada keduanya.
"Jangan gegabah, jika sampai Oma Hellen tahu bunda juga pasti akan segera mengetahuinya. Aku tidak ingin kesehatan bunda drop lagi, apa lagi jika bunda mengetahui bahwa Esya adalah Queenesya kita itu akan semakin memperbesar rasa kekuatiran mereka" tolak Gion dengan ekspresi dan dan nada yang gusar.
"Benar kata Gio, kita jangan gegabah dulu. Kita juga belum tahu apa motif penculikan Esya, di luar sana tidak ada satu orangpun yang mengetahui jika keluarga kita memiliki seorang anak perempuan" ucap Dion menyetujui perkataan kembarannya itu
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" ucap Ken bertanya lagi, jujur sekarang lelaki ini sudah tidak bisa berpikir dengan baik. Jika saja bisa Ken ingin segera pergi dan mencabik-cabik tubuh pemimpin black shadow itu sekarang juga. Sayangnya sang ayah masih melarang dirinya untuk turun langsung.
"Diam lah dulu, aku sedang berkonsentrasi" ucap Dion sambil mengotak-atik salah satu gadgetnya.
Sejak tadi Dion mencoba untuk mencari sinyal dari gelang milik Esya, meskipun besar kemungkinan hal itu akan sangat langkah terjadi. Ia ingat beberapa tahun yang lalu ia pernah berhasil menemukan sinyal dari gelang Esya meskipun semuanya jadi berantakan karena ulah saudara kembarnya itu.
"Bagaimana apakah sudah ada kemajuan?" Tanya Angga yang baru saja menuruni anak tangga mansion itu
"Masih belum"
"Aku sudah mengubungi Evan, sebentar lagi dia akan segera tiba disini"
"Ah, baiklah"
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Sudah lebih membaik, sekarang mereka sedang beristirahat di kamar Zee"
Yaps... Sejak tadi mereka semua memilih untuk berkumpul di mansion Zee karena hanya mansion inilah yang sering sepi. Orang tua Zee sibuk dengan kerjaan dan jarang pulang ke mansion meskipun itu hanya untuk bertegur sapa.
__ADS_1
Sst... Jangan pernah berpikiran jika keluarga ini tidaklah harmonis karena hal itu sangatlah salah besar. Keluarga ini begitu harmonis, hanya saja memang karena faktor pekerjaan yang membuat mereka jarang bertemu.