QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 56 Keputusan


__ADS_3

Sudah sekitar tiga hari gadis itu masih saja terbaring dalam tidurnya. Keadaannya masih saja tetap sama, sampai sekarang kondisi Esya masih belum ada kemajuan. Kadang membaik namun kadang pula memburuk, hal itulah yang membuat orang terdekat Esya semakin menghawatirkan kondisinya.


Sudah tiga hari pula, bunda Melan tidak pernah ingin beranjak dari sana. Ia ngotot akan tetap berada disisi Esya sampai keadaan gadis itu membaik, meskipun ia ahrus ikut dengan Esya dan meninggalkan suami serta kedua anaknya di negeri Hollywood ini.


Benar, Oma Amel sudah berusaha membujuk bunda Melan untuk menyetujui keputusan mereka, namun sampai sekarang bunda Melan sama sekali belum memberikan jawaban yang pasti.


"Sayang, apa kamu begitu suka tidur!?, Dibanding menghabiskan waktu bersama bunda, ayah dan kakak!?" ucap bunda Melan sambil menggenggam erat tangan sang putri


"Bagaimana, sayang?. Apa Sebaiknya kita menyetujui keputusan ibu bukan!?" tanya ayah Yohan yang berada tepat di seberang Melan, sang istri


"Tapi, aku tidak ingin jauh dari Princess"


"Aku tahu sayang, akupun juga merasakan hal yang sama tapi ini demi kebaikan putri kita sendiri. Fasilitas di RS ini belum terlalu lengkap berhubung karena pembangunannya yang belum selesai"


Bunda Melan memikirkan kembali ucapan Yohan, sang suami. Memang benar, rumah sakit ini sudah tidak dapat diragukan lagi, namun fasilitas pengobatannya belum lengkap karena kondisi gedungnya yang masih dalam proses pembangunan ke tahap akhir.


Setelah dirasa bahwa keputusannya itu memang sudah benar, bunda Melan menarik napasnya lembut. Sebelum akhirnya ia memantapkan diri untuk berdiri dan mulai berjalan ke arah dimana orang tuanya itu berada.


"Ibu..."


"Ada apa sayang!?"


"Bagaimana dengan keputusan kamu!?"


"Itu...baiklah Bu. Aku setuju dengan keputusan kalian"


"Benarkah!?"


Bunda Melan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia setuju dengan keputusan para orang tua itu. Melihat hal itu membuat semuanya turut senang, ayah Yohan tersenyum tipis kearah sang istri. Ia begitu tahu bahwa keputusan ini adalah keputusan berat untuknya.


"Aku tahu ini berat untukmu nak, karena harus berpisah lagi dengan princess"


"Tidak,Yah. Lagi pula ini semua demi kebaikan putriku juga"


"Kalau kalian memang tidak bisa jauh darinya, kenapa tidak ikut bersama kami saja. Lagi pula yang lebih berhak bersama princess itu kalian sebagai orang tua biologisnya"


"Oma apa kami juga boleh ikut bersama princess?" tanya Dion yang berdiri tidak jauh dari para orang tua itu


"Kalian bertiga tetap tinggal disini untuk melanjutkan pendidikan dan memantau perkembangan perusahaan, selama ayah kalian belum kembali"


Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah ketiga lelaki itu ketika mendengar jawaban dari Oma Amel. Terkadang Oma Amel akan selalu menyetujui permintaan mereka jika dirasa permintaan itu tidak akan membawa dampak buruk, namun kali ini Omanya itu justru menolak permintaan mereka.

__ADS_1


Terdiam untuk beberapa saat, itulah yang sedang terjadi di ruang inap ini. Rasanya seperti sudah tidak ada lagi hal yang menarik untuk mereka bahas. Dengan tiba-tiba sebuah suara ketukan pintu berhasil membuyarkan lamunan mereka.


Dilihatnya ada beberapa anak remaja yang perlahan berjalan memasuki ruang rawat itu. Siapa lagi kalau bukan Evan dkk.a serta tambahan dua anggota baru lagi yaitu Clara dan Rebecca. Kedua gadis itu memutuskan untuk kembali menjadi diri mereka sendiri dan meninggalkan Aurel yang selalu berkelakuan seenaknya saja.


Hal ini terjadi sejak tiga hari yang lalu dimana kedua gadis itu sudah meminta maaf kepada seluruh pihak sekolah atas kelakuan mereka selama ini terutama atas segala perlakuan buruknya pada Esya.


Meskipun teman terdekat Esya yakni Zee, Ginta dan Eve masih kurang percaya akan perubahan yang terjadi pada diri kedua gadis itu. Evan dan Angga pun sama halnya seperti itu.


Sedangkan untuk Dion dan Gion kedua remaja kembar itu sudah tidak menaruh curiga lagi pada keduanya berhubung jika bukan karena bantuan kedua gadis itu mereka akan sulit mengetahui lokasi Esya saat itu juga.


Zee berjalan menuju ke tepi ranjang Esya, sama seperti Evan dan yang lainnya yang juga turut mengikuti langkah gadis itu. Tanpa ia sadari setetes air jatuh dari kelopak matanya, kelima gadis itu menangis dalam diamnya. Terutama Becca dan Clara yang semakin merasa begitu bersalah pada Esya.


"Sya, maafin kami yah. Kalau bukan karena hutang pada keluarga Petter kami juga tidak akan mau menjadi kaki tangan Aurel"


"Iya Sya kami minta maaf, sekaligus mau pamit karena sebentar lagi kami akan segera pergi dari kota ini"


Semua mata kini tertuju pada kedua gadis itu, mereka tidak menyangka bahwa tujuan kedua gadis itu memaksa untuk ikut bersama mereka ke rumah sakit ini tidak lain adalah untuk mengucapkan tanda perpisahan.


Dion yang beradab agak jauh dari mereka kini menghembuskan napas berat. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berjalan mendekat kearah sekumpulan anak remaja itu, disana ada Gion dan Kenned juga.


"Berhubung karena semuanya sudah berkumpul, kami akan memberitahu satu hal pada kalian semua"


" Cepat Dio katakan sekarang!?" ucap Kenned berbisik pada Dion


"Hah!!!. Tapi kenapa!?"


"Esya baik-baik saja bukan!?"


"Besok Esya akan dirujuk ke Singapura untuk pengobatan lebih lanjut dan mungkin akan menetap disana"


"Apa!? yang benar saja" ucap Evan spontan


Remaja lelaki itu mulai memikirkan segala bentuk kemungkinan yang akan terjadi kedepannya. Dengan keadaan Esya yang sedang dalam kondisi amnesia bisa saja gadis itu tidak akan pernah mengingatnya lagi dan justru akan menjadi miliki orang lain.


Tidak, Evan tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Bagaimana dan dimana pun Esya berada,gadis itu akan tetap menjadi miliknya dan akan menjadi satu-satunya calon nyonya Shakespeare dimasa depan nantinya.


"Kebetulan sekali kami berdua akan pindah ke Singapura"


"Yang benar saja"


Evan merogoh saku celananya, ia mengambil sebuah kotak kecil yang sudah ia siapkan beberapa hari ini untuk Esya. Di bukanya kotak kecil itu, lalu mengambil sebuah liontin berbentuk bulan didalamnya. Ia membelah liontin itu sehingga akhirnya keduanya terpisah, satu dengan permata biru dan satu lagi dengan permata merah jambu.

__ADS_1


Evan mengambil potongan liontin itu lalu memakaikannya pada Esya. Ia tidak perduli dengan tatapan garang yang berasal dari ketiga pasang mata elang yang menusuk itu. Yang penting ia memiliki sesuatu yang dapat membuatnya selalu teringat dengan Esya


Di belakang liontin ini terdapat ukiran nama mereka yang sengaja Evan desain khusus untuk gadisnya itu. Liontin ini juga akan selalu menyatu dengan Esya. Tidak akan ada seorangpun yang bisa menyentuhnya selain Evan sendiri.


"Bocah ini benar-benar..." ucap ketiga lelaki itu pelan sambil menatap tingkah Evan yang tidak pernah menyerah.


Setelah mengucapkan itu, senyum tipis kini kembali merekah di wajah ketiganya. Kini mereka mulai secara perlahan memberi harapan kecil pada Evan untuk kemudian hari akan menjadi pengganti Merkea untuk selalu menjaga dan memberikan kebahagian untuk adik kecil mereka kelak.


Trrt...trrt...


Bunyi ponsel itu kini menghentikan lamunan seorang lelaki yang sejak tadi berdiam diri saja. Angga, lelaki itu kini mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


-Melsha 💕-


Itulah nama yang tertera dilayar ponsel milik Angga. Tidak ingin membuat sang kekasih menunggu lama akhirnya Angga pun mengangkat panggilan tersebut


"..."


"Hallo, bunny"


"..."


"Hah!!! kamu di bandara!?"


"..."


Tut...Tut...Tut...


Panggilan telpon itu kini berakhir sendiri, ah tidak lebih tepatnya diakhiri oleh gadis yang ada diseberang saja tadi.


"Astaga!? Mampus aku" ucap Angga sambil mengacak-acak rambutnya


"Kenapa kau seperti cacing kepanasan!?" tanya Orion yang tepat berada di sampingnya.


"Arght, sudahlah kau tidak perlu tahu. Aku pamit pergi dulu" ucap Angga yang langsung berjalan keluar ruangan mengabaikan tatapan mata yang ditujukan untuknya.


Angga baru ingat kalau hari ini Melsha, yang notabenenya adalah kekasihnya sendiri akan kembali ke kota ini untuk melanjutkan pendidikannya. Lelaki itu bahkan bisa sampai lupa kalau ia harus menjemput gadisnya itu tepat pada pukul 15.30 waktu setempat.


lelaki itu sudah tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Kekasihnya itu pasti akan menghukumnya lagi karena terlambat seperti biasanya. Melsha memang adalah gadis yang tidak suka menunggu namun suka membuat orang lain menunggu.


Itulah dia, gadisnya. Wanita berketurunan China dengan mata ciputnya dan kulit putih khas orang sana, senyum gadis itu mampu membuat hati Angga begitu nyaman, tingkah yang menggemaskan serta hobi dandan gadis itu yang sudah menjadi rutinitas Angga untuk selalu sabar menunggu.

__ADS_1


Melsha memang menyukai produk-produk make-up namun ia juga punya batas sendiri untuk penggunaannya tidak seperti gadis-gadis lain, Melsha lebih suka make-up yang tipis dan tidak tebal, ia juga hanya akan menggunakannya ketika ada acara saja, jika tidak ada acara penting Melsha tidak akan pernah mau menyentuh barang-barangnya.


__ADS_2