
Sudah hampir tengah malam, udara semakin dingin dan mencekam. Kini mereka sedang menikmati secangkir susu cokelat hangat, begitu sangat nikmat dan memanjakan lidah. Tidak henti-hentinya mereka tertawa karena gurauan yang timbul dari perselisihan para lelaki disana.
"Aku bosan, aku akan ke arah sana untuk sedikit mencari angin" ucap Esya hanya pada temannya, lalu ia bangkit dari duduknya dan pergi dari sana.
"Apa kau tidak takut sendiri?, Mau kami temani?" tanya Zee
"Tidak perlu,Zee. Aku hanya sebentar, kalian disini saja, terima kasih sudah menghawatirkan aku" Jawab Esya, lalu melambaikan tangannya.
"Berhati-hatilah dan cepat kembali jangan sampai ketiga lelaki itu mulai murka lagi" ucap Ginta sambil melirik kelima lelaki yang sedang bermain kartu.
"Baiklah, aku akan segera kembali. Katakan pada mereka bahwa aku akan baik-baik saja" ucap Esya, sembari tersenyum manis.
Esya melangkah menjauh dari sana, ia begitu penasaran dengan satu tempat yang tak sengaja mencuri perhatiannya tadi saat mereka baru saja tiba di sini. Ia yakin jika malam tiba tempat itu akan semakin terlihat indah.
"Aku tidak sabar, ketempat itu" katanya dengan wajah berbinar dan senyum bahagia.
Tanpa ia sadari bahwa seseorang sudah sejak tadi mengamati dirinya dari jauh. Mengepalkan tangannya dengan erat dan tersenyum devil tepat kearah dimana Esya berdiri sekarang.
"Akhirnya aku menemukanmu, kunci untuk menghancurkan mereka. Aku tahu kau tidak ada hubungan, namun tetap saja karena kau adalah hal terpenting bagi mereka, kau harus ikut bertanggung jawab"
Pria itu terus saja berjalan, mengikuti Esya dari belakang. Mengamati setiap pergerakan yang di lakukan oleh gadis manis berparas cantik tersebut, senyum rusa terus saja mengembang kala menikmati dinginnya malam dengan cahaya remang yang berasal dari kunang-kunang.
Kresek...
Suara ranting pohon yang patah, karena terinjak oleh pria itu membuat langkah Esya terhenti, ia membalikkan badannya dan mencoba mengamati sekelilingnya, perasaannya menjadi sedikit tidak karuan.
"S-siapa disana!?" ucapnya sembari mengepalkan kedua tangannya, perlahan bibirnya pun bergetar, tidak ada jawaban yang ia dapatkan.
Esya terus berlari, mencoba menjauh dari sosok misterius tersebut. tanpa sadar, ia pun memasuki hutan. Pikirannya menjadi kosong, yang ia harapkan sekarang hanyalah kembali dan berkumpul bersama kakak dan teman-temannya.
Langkahnya terhenti, ketika ia sudah menyadari hal tersebut, di sekelilingnya hanya ada pepohonan, tidak ada cahaya disana, ponselnya pun sudah kehabisan daya, udara dingin kini semakin mencekam permukaan kulitnya.
__ADS_1
"D-dimana ini!? Kakak, hiks... Aku takut. Cepat tolong aku, hiks...." ucapnya tersedu-sedu sembari berlutut, lemas.
Kakinya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berjalan, karena berlari tadi. Peluh keringat sudah membasahi kulit tubuhnya, kini ia tidak tahu arah mana yang sebaiknya ia ambil, untuk jalan kembali. Yang hanya bisa ia lakukan adalah menunggu dan terus menunggu hingga seseorang bisa menemukan dirinya.
Dilain sisi. Dio,Gio, Ken serta yang lainnya sudah panik karena tidak menemukan Esya di sekitar mereka bahkan di tempat yang tadinya Esya ingin kunjungi, tak ada seorangpun disana. Mereka mulai melakukan pencarian secara berkelompok, Dio bersama dengan Ginta, Melsha bersama dengan Eve dan Kenned, Angga bersama dengan Zee, dan Angga bersama dengan Evan.
"Kenapa aku harus bersama dengan orang ini!?" tanya Evan
"Kau pikir aku mau apa!? Ini sudah sesuai dengan undiannya" datar Gio, sembari melirik kearah Angga dan Zee
"Kau tenang saja, aku tidak akan mengambil milikmu. Lagipula aku sudah punya Elsha" kata Angga lalu melirik kearah Melsha yang langsung mendapatkan penolakan dari gadisnya itu.
"Bisa kalian akur sedikit, adikku menunggu entah dimana dan kalian masih saja terus seperti itu" tegas Dion
"Benar, bisa tidak kalian tunda dulu pertengkaran yang tidak penting itu" tambah Ken lalu melanjutkan langkahnya menyusul yang lainnya, meninggalkan Gion dan Evan.
"Astaga apa yang aku lakukan disini!?, Sial. Ini semua karena mu. Menjauh lah dariku" geram Gio ketika sudah menyadari bahwa ia sudah di tinggal bersama Evan.
"Apa kau bilang!!, Aku tidak akan rela jika adikku yang manis itu berakhir bersamamu, hidupnya pasti akan sial"
"Terima saja kakak ipar, kenyataan sudah ada di depan mata"
"Menjijikan" cibir Gio kala mendengar sebutan dari bibir Evan, ia melangkahkan kakinya menjauh dari Evan dan mengambil arah yang berlawanan dari Dion dan yang lainnya.
Evan mencoba menyamakan langkah kakinya dengan Gio, sembari ikut mengamati sekitar. Tak sadar langkah merekapun sudah semakin memasuki hutan, suara decitan ranting dan beberapa hewan malam menemani mereka.
Angin malam semakin menjadi-jadi, entah bagaimana keadaan Esya sekarang. Yang jelas, mereka harus sesegera mungkin menemukannya. Entah apa yang akan terjadi pada mereka jika Oma dan Opanya tahu bahwa cucu kesayangan mereka itu tidak ada di tempat.
"Sya..."
"Queenesya..."
__ADS_1
"Princess..."
Lama mereka mencari namun masih belum ada tanda-tanda bahwa Esya berada di sana padahal Gion sudah begitu yakin dengan arah langkahnya. Bisa mampus mereka jika terjadi sesuatu pada Esya, bunda dan Aunty-nya pasti akan memberi mereka ceramah yang panjang dan ayah dan uncle-nya pasti akan memberi setumpuk pekerjaan di kantor lalu Oma dan Opanya tidak usah di tanya lagi mereka akan menyita atau memblokir seluruh tabungan mereka nantinya.
"Sial, bagaimana sekarang!?" ucap Gion semakin bingung.
"Mengapa kita tidak melakukan pelacakan pada gelang miliknya?" tanya Evan, dengan tampang yang serius .
"Itu dia masalahnya. Tiga hari yang lalu, Esya meminta untuk melepas gelangnya karena bosan" jawab Gion.
"Jadi bagaimana sekarang, jam sudah mau melewati tengah malam"
"Aku----"
Ucapan Gion terhenti, ia lalu terburu-buru semakin memasuki hutan. Entah mengapa perasaannya semakin menguat, ia yakin adiknya ada disekitar sini. Evan mengikuti langkah Gio dari belakang, masih dengan mengamati sekitar.
Matanya terfokus pada siluet hitam di belakang pohon besar yang tak jauh dari mereka, siluet itu terus saja mengamati pergerakan mereka dengan seksama. Ia tidak bisa mengambil kesimpulan sekarang, sepertinya setelah ini ia harus melakukan penyelidikan. Gio masih terus berjalan hingga ia menemukan tubuh seorang gadis yang sudah tidak sadarkan diri tidak jauh di hadapannya.
"Princess..." Teriaknya membuat Evan langsung bergegas mendekati Gio.
"Princess, sayang bangun. Ini kakak, bertahanlah kakak ada disini kau akan baik-baik saja" kata Gio setelah menemukan tubuh Esya yang sedang terbaring di tanah.
"Ayo cepat, kita harus segera membawa Esya dari sini. Tempat ini tidaklah aman" ucap Evan
"Ada apa?" tanya Gio
"Sudah, nanti saja aku cerita yang penting kita harus segera pergi dari sini"
Gio mengangkat tubuh Esya lalu berjalan dengan terburu-buru, ia jadi semakin khawatir dengan kondisi adik perempuannya sekarang yang sedang tidak sadarkan diri. Dari jauh, siluet itu memandang mereka dengan senyum sumringah.
"I found you...." Katanya lalu ikut beranjak dari sana.
__ADS_1
Tbc