
Sekitar pukul 10 pagi Zee terbangun dari tidurnya, kejutan yang ia alami beberapa waktu lalu bukanlah mimpi orangtuanya benar-benar pulang dihari ulangtahunnya dan pemuda yang ia sukai menyatakan perasaannya tepat pada pukul 12 malam tadi.
Zee menggenggam liontin pemberian Gion dan memeluk boneka beruang besar itu. ia tersenyum bahagia, banyak terima kasih ia ucapkan pada teman-temanya yang sudah menyiapkan segalanya. Pantas saja mereka semua tidak ada kabar sampai seminggu.
Acara ulang tahun Zee akan dilanjutkan pada malam hari di hari. Tuan dan nyonya Stone mengundang teman-teman Zee untuk menghadiri acara makan malam ini. Sekalian untuk mengenal beberapa teman baru Zee.
Zee Bangkit dari kasurnya, ia langsung menuju untuk ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. 45 menit berlalu, Zee sudah selesai dengan ukuran paginya. Ia keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah. wangi masakan yang begitu khas menusuk Indra penciuman gadis ini.
Mamanya sedang memasak di dapur.
Ini adalah suasana yang sangat dirindukan olehnya, ketika bangun pagi ia mendapati mamanya sedang memasak untuknya. tentu, masakan mamanya adalah yang paling ia rindukan selain pelukan hangat itu.
Zee menghampiri mamanya, dan memeluk tubuh mamanya. tak lupa ia memberi kecupan selamat pagi.
"Mama masak apa? mau Zee bantuin?"
"Gak usah, sayang. inikan hari spesial kamu."
"Gak papa ma."
"Gak boleh, mama mau masak sendiri. kamu hubungi teman-temannya kamu aja, bilang sama mereka kalau nanti malam ada acara makan malam."
"Baik,ma."
Zee pergi menuju ke halaman belakang rumahnya, tak lupa ia membawa ponselnya. setiba disana, Zee duduk ia mengecek ponselnya, mungkin saja ada panggilan telpon atau pesan dari teman-temannya. Benar saja, ada 5 panggilan dari Gion fan beberapa pesan di grup mereka.
Setelah mengirim pesan di grup, ponsel Zee kembali berdering. pada layar ponselnya sudah tertulis nama Gio. Zee menggeser tombol hijau.itu, lalu ia tersenyum melihat wajah Gion.
"Kemana aja? kok baru di angkat."
"Maaf, baru bangun. hehehe."
"Lagi kosong kan? keluar yuk."
"Mau kemana?"
"Ke tempat princess. Ada kejadian menarik disana."
__ADS_1
"Boleh deh, aku ganti pakaian dulu. kamu duluan aja kesana."
"Enggak, aku jemput kamu. Gak ada penolakan."
Ponsel Zee udah ia matikan. Gadis itu pun pergi mengganti pakaiannya lalu menunggu kedatangan Gion. Sedangkan di tempat Gion, pemuda itu sudah mengambil kunci mobilnya, Ken duduk di sofa matanya tak lepas dari Gion.
"Apa?"
"Ngapain mandangin aku terus, sana cari pacar aja."
"Kau mengejek aku? benar-benar yah, belum juga sehari."
"hahaha, makanya. jadi cowok tu gerak cepat. jangan kek siput. Keburu pulangkan mereka."
Yah, Ini salah Ken memang. seharusnya dia lebih dulu jujur agar gak keduluan orang lain, namun apalah daya memiliki keberanian. Eve sudah bersama dengan Leon dan Clara sudah kembali ke Singapura. Entah kapan mereka akan bertemu lagi. Ken tidak tahu pasti.
"Kau mau kemana?"
"Mau jemput pacar."
"Serius,deh."
"Eh, Emang princess gak ada di kamar yah?"
"Enggak ada. jam 10 tadi dia buru-buru berangkat, katanya ada beberapa hal yang harus dia urus di kantor."
"Kenapa dia gak bangunin aku sih, kan bisa aku nganter. Terus Dion mana?"
"Ada urusan sama si Ginta. Ya udah, aku pergi dulu, dia pasti udah nungguin."
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut."
Gion pergi, sementara itu Ken juga mengambil kunci motornya lalu mneuju perusahaan Esya. Dari pada ia bosan di mansion sendirian, setidaknya disana ia bisa ngobrol dengan adik sepupunya itu.
Di kantor Esya sedang sibuk membolak-balikkan dokumen di atas meja kerjanya. Ia harus kembali mengecek lagi sebelum mengambil keputusan akhir. berdasarkan laporan yang ia terima, sudah ada beberapa orderan yang masuk. Esya harus.segera merekrut pekerja baru agar bisa memproduksi barangnya.
tok...tok..tok...
__ADS_1
"Masuk."
"Permisi nona. ada tamu yang ingin bertemu."
"Siapa? katakan padanya jika tidak penting,katakan padanya untuk menemui aku di lain.hari saja."
"Pemuda itu berkata kalau namanya Briand, dia adalah penanggung jawab untuk produk baru."
"Ah, Briand yah? persilahkan mereka masuk."
"Baik nona, saya mohon unsur diri dulu."
"Iya, silahkan."
.Tidak lama setelah karyawan itu keluar, dua orang pemuda masuk kedalam ruang kerja Esya. Briand dan Leon duduk di sofa yang ada di ruangan itu untuk menunggu Esya selesai mengecek dokumen tersebut.
Tidak lama setelah mereka datang, pintu kantor Esya kembali.terbuka. Kali ini Evan dan Angga yang masuk, Evan terlihat memaksa Angga untuk ikut bersamanya. Esya geleng-geleng kepala, kedua pemuda ini memang tidak banyak berubah.
"Sya, tolongin... si Evan maksa aku buat ikutan, serius Sya aku gak ada keahlian dalam bidang itu."
"Van, jangan maksain Angga kalau dia gak mau."
"Kasihan tau, temanmu."
"Dia mau kok, Sya. tenang aja, aku pasti akan bantu kamu."
"Emang kamu beneran bisa? Aku kok baru tau sih."
"Jangan mau di bohongin, Sya. Evan mana bisa kalau soal ginian."
"Siapa bilang gak bisa, jangan asal ngomong Bri."
"Tapi aku taunya emang gitu loh, kau gak pernah mahir kalau soal ginian."
"Ya udah liat aja nanti."
"Ya udah, siapa takut."
__ADS_1
"Kalian, udah deh. lebih baik bantuin aku ngecek dokumen ini."
Esya membawa setumpuk dokumen yang belum ia periksa dan meletakkannya di meja. Briand mulai memeriksa, Evan juga ikut. Leon dan Angga memandangi keduanya, dahi mereka mengkerut. apa iya di setiap hal mereka harus selalu bersaing? sangat tidak bisa di percaya.