
Jet pribadi bermerek Airbus A383 milik keluarga Vondrienty itu sudah mendarat di halaman salah satu rumah sakit milik mereka di Los Angeles
Semua mata langsung saja tertuju pada mereka. Dilihatnya CEO Vondrienty company menuruni satu persatu anak tangga jet itu dengan terburu-buru. Di gendongannya terdapat tubuh seorang gadis mungil yang sudah dalam keadaan sekarat.
Dapat dilihat dari noda darah yang menpel pada tubuh pria itu serta pakaian gadis itu yang semula berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi merah.
"Suster!?...dokter!?..." Teriak ayah Yohan sembari memeluk erat tubuh Esya, putri yang begitu ia rindukan selama ini. Tak membutuhkan waktu lama, sudah banyak suster yang berbondong-bondong membawa ranjang serta peralatan medis lainnya.
"Segera bawa cucuku ke kamar eksklusif dan jangan sampai ada yang membocorkan hal ini pada awak media" kini Opa Robert yang sudah berbicara, opa Hans sudah pergi lagi mengurus kejadian ini.
Dengan segera mereka semua mengikuti arah kemana para perawat itu membawa Esya. Tangis pilu yang berasal dari mereka sudah dapat didengar oleh beberapa penghuni rumah sakit yang ada disana.
Terlebih, Tangis dari ayah Yohan dan opa Robert yang baru menyadari semuanya dan tidak pernah mencoba mencari tau tentang Esya selama ini yang selalu menggunakan jaket di luar mansion dan kemeja berlengan panjang ketika berada di dalam mansion.
"Maaf tuan. Anda dilarang masuk"
"Dia anak saya suster saya berhak untuk masuk kedalam"
"Maaf tuan, ini demi kelancaran pemeriksaan"
Opa Robert yang melihat putranya seperti itu tak kuasa menahan tangisnya lagi. Beliau berjalan menghampiri sang putra memeluknya dalam diam, Dion serta Gion juga sudah ikut memeluk sang ayah.
Mereka bertiga mulai merasa bersalah karena menyembunyikan Esya selama ini dari anggota keluarga. Andai saja mereka mengatakan yang sebenarnya semua ini Tidak akan pernah terjadi. Esya tidak akan sekarat seperti sekarang.
Dari jauh Angga berlari membawa sebuah amplop di genggamannya. Dari belakang juga ada Zee dkk.a yang juga sudah ikut berlari seperti Angga di lorong rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Esya... Hiks... Dia akan baik-baik saja bukan?" ucap Zee dalam tangisnya sama seperti Eve dan Ginta. Ketika mereka mendapatkan kabar dari Ken mereka langsung saja menuju kemari.
Angga berjalan menghampiri Dion yang sudah tertunduk kaku. Tidak jauh dari sana ada pula Evan dan Ken yang kondisinya tidak jauh berbeda dari Dion dan Gion.
Setelah dirasa sudah cukup dekat, Angga menyodorkan amplop yang berisi sebuah dokumen penting yang tentunya sangat penting pula untuk keluarga ini.
"Apa ini!?"
"Hasil tes lab Esya, tadi kami menyempatkan diri untuk mengambilnya di laboratorium milik ayahnya Zee"
Dion mengambil amplop itu dari tangan Angga. Dengan cepat ia membuka amplop itu, dan sungguh betapa kagetnya ia ketika melihat seberapa persen kecocokan diantara ketiganya 99,99%
"Ada apa Dio!?"
"Gio, dugaan kita selama ini memang benar adanya. dia benar Queenesya kita" ucap Dion lirih hingga akhirnya ia tertunduk lemah. Rasanya kakinya sudah tidak dapat berdiri lagi.
__ADS_1
Gion mengambil isi amplop tadi,ia juga sama seperti Dion begitu kaget akan kenyataan ini. Meskipun mereka berdua sudah menduga hal ini sejak lama, namun ego untuk mencari bukti membuat mereka terus saja menyembunyikan Esya.
"Ayah... Kita harus segera memberi tahu bunda dan yang lainnya. Mereka juga berhak tau" ucap Gion sambil menyerahkan amplop itu
"Ah,iya" ucap ayah Yohan menyetujui perkataan sang putra. Meksipun di lubuk hatinya masih terdapat keraguan terhadap kondisi sang istri nantinya, jika mengetahui bahwa gadis yang selama ini tinggal bersama mereka adalah Queenesya, putri kecil mereka
"Uncle, orang-orang itu sudah berada di markas ayah" ucap Ken yang datang menghadiri mereka
Sejak tadi Ken selalu menunggu informasi dari sang ayah yang masih stay di lokasi tadi, menunggu waktu untuk melakukan penyerahan dan menangkap dalang dibalik semua ini, tentunya bersama dengan opa Hans, pria tua yang masih terlihat awet muda dan sudah ia anggap sebagai ayah sendiri.
"untuk kalian. Jangan memberitahu ibu tentang siapa orang yang sudah mencelakai Esya. Takutnya sisi gelapnya akan muncul lagi, ibu sudah tua untuk urusan semacam ini"
Semua yang berada disana menganggukkan kepala tanda mengerti. Tak lama kemudian pintu ruangan itu sudah terbuka, dengan cepat ayah Yohan dan opa Robert segera mungkin menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putri/cucu saya!?" ucap kedua pria berbeda generasi itu
"Karena benturan yang keras, pasien kehilangan banyak darah, dan harus segera mendapatkan pendonor jika tidak nyawanya akan benar-benar dalam bahaya. Selain itu...." Ucap dokter itu yang langsung dipotong oleh ayah Yohan.
"Selain itu!? Cepat katakan dokter!!?"
"Maag pasien sudah begitu parah sepertinya dalam beberapa hari ini ia sama sekali tidak pernah mengisi perutnya" ucap dokter Santos, salah satu dokter profesional di rumah sakit Vondrienty ini
'Bukan Esya yang tidak mengisi perut, merekalah yang tidak ingin memberikan anakku makanan' ucap ayah Yohan sambil menggenggam erat tangannya, menahan amarah
🌺Queenesya🌺
Keempat wanita itu mulai berjalan dengan tergesa-gesa di sekitar koridor rumah sakit.
Sekitar 2 jam yang lalu, mereka baru saja mendapatkan telpon dari Robert yang merupakan suami/besan/mertua dari keempat wanita cantik itu. Jika saja jalanan tidak macet, mereka sudah pasti tiba lebih cepat sejak tadi.
Beliau mengatakan untuk segera datang ke rumah sakit Vondrienty karena ada hal yang begitu penting, yang tentunya harus dan wajib untuk mereka ketahui.
Setelah tiba di depan lift itu, Oma Hellen langsung menekan salah satu tombol untuk menentukan lantai manakah tujuan mereka nantinya, tentu saja setelah mereka memasuki lift itu.
Dari kejauhan mereka sudah bisa melihat ada banyak orang yang berkumpul disana ada Zee dkk.a ,opa Robert yang adalah suami dari Oma Hellen, Ayah Yohan yang adalah suami dari Bunda Melan sendiri. Serta tak lupa ketiga anak lelaki yang sangat mereka sayangi.
Perasaan Bunda Melan sudah begitu berdebar, sejak pagi tadi ia merasakan ada sesuatu hal yang akan terjadi hari ini. Rasa gundam itu terus saja mendatangi dirinya, ketika langkah kakinya sudah semakin dekat dengan ayah Yohan sang suami dan ayah dari ketiga anak mereka.
Secara spontan ayah Yohan memeluk sang istri dengan erat. Air mata yang sudah sejak tadi ia tahan kini akhirnya sudah tidak tertahankan lagi. Bunda Melan semakin tidak bisa tenang, perasaanya kini sudah bercampur aduk.
"A-da ap-a?" tanya bunda Melan terbata. Entah mengapa bahkan rasanya pita suaranya sekarang ini sudah mampir tidak berfungsi lagi.
__ADS_1
"A-pa ini a-yah!?" tanya bunda Melan lagi setelah mendapatkan sebuah amplop dari opa Robert
"Bukalah dan kau akan mengerti," ucap opa Robert setelah memberikan amplop itu pada Melan, menantunya.
Bunda Melan perlahan membuka amplop itu dengan perasaan yang semakin tidak karuan. Ia mengeluarkan kertas itu dari dalam, lalu membuka lipatan kertas itu. Matanya seketika terbelalak kala ia sudah melihat apa yang telah tertera di permukaan kertas itu.
"Ja-di selama i-ni a-ku su-dah ber-sam-a de-ng-an Pu-tri ku!?" tanya bunda Melan dengan terbata karena tenggorokannya yang entah mengapa tiba-tiba mengering
"Esya Pu-tri ki-ta sayang!?" Tanya bunda Melan pada ayah Yohan yang juga tak henti menahan tangisnya lagi dan lagi. Pria itu hanya menganggukkan kepala, ia segera memeluk tubuh sang istri dengan erat.
"I--bu, a-ku sud-ah men-emuk-an put-ri-ku Bu... Cu-cu i-bu sudah dite-mu-kan..." Ucap bunda Melan lagi sebelum kesadarannya menghilang.
"Melani... Bangun sayang... bangun... SUSTER!!!!" Teriak ayah Yohan yang masih memeluk tubuh sang istri sembari memanggil perawat.
Oma Hellen dan Oma Amel juga tak hentinya menangis piluh terlebih setelah memandang kedalam ruangan dimana tubuh Esya terbaring lemah, Opa Robert pun tak hentinya menenangkan sang istri dan juga besannya itu, ia tahu jika tidak segera maka sisi gelap Hellen akan segera muncul lagi.
Sejak tadi Evan masih saja tertunduk kaku, tidak berbeda jauh dengan kondisi Dion dan Gion serta Kenned dan keluarganya. Andai saja ia datang lebih cepat pasti masih ada kesempatan untuk menyelamatkan Esya dari cengkraman mereka.
Suasananya sudah sedikit tenang, sekarang mereka hanya tinggal menunggu gadis itu membuka matanya. Sebelum Bunda Melan datang, ayah Yohan sudah lebih dulu pergi melakukan transfusi darah untuk Esya.
Karena di dalam keluarga mereka hanya Ayah Yohan dan Opa Robert yang memiliki golongan darah yang sama dengan Esya yaitu AB- dimana hanya ada sedikit orang yang memilikinya, hanya sebesar 0,6% di dunia.
"Bagaimana keadaan Esya!?" Tanya opa Hans yang baru saja tiba bersama dengan uncle Andreas
"Dokter mengatakan jika kondisi Esya begitu kritis opa, kita juga tidak akan tahu kapan Esya akan sadar" jawab Dion.
"Selain luka di kepala, dokter juga menemukan jika penyakit maag Esya kambuh" jawab Gion menambahkan ucapan Dion barusan.
Tanpa berkata lagi opa Hans kini berjalan menghampiri oma Amel yang masih tak hentinya menangis. Sama seperti opa Hans, uncle Andreas juga menghampiri Kenned yang sedang berusaha menenangkan sang bunda, yaitu Sasha.
"Dimana kak Yohan dan kak Melan?"
" Dia sedang di ruang rawat menemani Melan yang tidak sadarkan diri ketika mengetahui kenyataan bahwa Esya memang benar adalah putrinya." Ucap Sasha dengan pelan namun masih bisa didengar oleh keduanya.
Setelah mengurung semua anggota organisasi Black shadow di penjara bawa tanah yang terletak di markas rahasia termasuk Aurel meskipun gadis itu masih berada di bawa umur dan masih dilindungi oleh pemerintah, tetapi jangan katakan dia keturunan Heskiel jika dia tidak bisa mengatasi masalah ini.
Dilihatnya Yohan kini keluar dari dalam sebuah ruangan yang berada tepat di samping kamar Esya. Tatapannya begitu dingin, seperti sudah Tidak ada lagi kehidupan disana, putri yang baru ia temukan sedang terbaring lemah dan istri yang begitu ia sayangi sampai sekarang belum tersadar dari tidurnya.
"Bagaimana keadaan kak Melan?" Tanya Sasha
"Dia baik-baik saja. Cuma Melan belum sadarkan diri"
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan pergi untuk menemaninya"
Ayah Yohan hanya memberikan senyum tipis pada wanita itu, lalu segera beranjak pergi dari sana. Ia hendak ingin menemui kedua sang putra untuk menenangkan pikirannya. Sedangkan Sasha kini segera saja berjalan kearah ruangan dimana Yohan keluar tadi.