
Tidak terasa sudah sebulan lebih Esya resmi menjadi siswi di QHS, selama sebulan itu juga banyak hal telah terjadi mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal yang kurang mengenakkan sudah di rasakan oleh Esya bahkan lebih. Mulai dari teror yang selalu Esya dapatkan sehabis pulang sekolah hingga kelakuan Evan padanya yang sama sekali tidak pernah Esya sadari, makna di balik tingkah anehnya itu.
Rasa perhatian yang Evan berikan hanya menambah pertanyaan dalam benak gadis itu, katakan saja Esya bukanlah tipe orang yang peka dan hal itu memang benar adanya. Esya sejak dulu sama sekali belum pernah merasakan rasa ketertarikan terhadap seseorang, di dalam hidupnya hanya ada rasa kagum akan kesuksesan yang telah di gapai oleh para pebisnis terkemuka di berbagai bidang. Hal ini jugalah yang membuat Esya selalu bersemangat dalam hidup tanpa adanya kata menyerah.
Yah, Esya memiliki mimpi untuk menjadi seorang pebisnis tepatnya dalam bidang property dan kuliner tentunya. Esya mengambil prinsip hidupnya dari perjuangan para pebisnis sukses diluar sana, mereka berusaha dan membangun bisnisnya dari titik nol hingga bisa berada di titik puncak seperti sekarang ini. Salah satu pebisnis yang paling Esya kagumi adalah dari keluarga Vondrienty, keluarga yang sekarang ini sudah menampung dirinya dan memberikan kasih sayang yang tidak pernah Esya rasakan dulu.
Seperti sekarang ini Esya sedang asik berkumpul bersama mereka di mansion besar ini. Hari ini adalah hari Minggu dimana semua pekerjaan akan diliburkan termasuk para maid di mansion, keluarga Vondrienty memanglah seperti itu. Mereka masih memberikan hari libur tiap minggunya guna beristirahat dan menghabiskan waktu bersama keluarga masing-masing.
Di ruang keluarga ada bunda Melan, aunty Sasha, Oma Hellen dan Oma Amel serta Esya sendiri. Keempat wanita cantik serta seorang gadis manis itu sedang menghabiskan waktu bersama. Mereka melarang para pria untuk ikut berkumpul bersama mereka, maka dari itu para pria hanya bisa memilih untuk mengambil tempat di area belakang mansion bertepatan di sekitar kolam Ikan.
"Apa sudah ada perkembangan?"
__ADS_1
"Masih belum bu," ucap bunda Melan menjawab pertanyaan dari sang ibu yaitu Oma Amel.
"Aku harap kita segera menemukan dia, cucuku tersayang"
"Aku juga berharap seperti itu Bu, bukankah tahun ini Queen akan berusia 15 tahun"
"Yah, kau benar Sasha" ucap Oma Hellen menyetujui ucapan menantunya itu
Esya sejak tadi hanya menyimak pembicaraan para orang tua itu. Sejak ia pertama kali datang kedalam keluarga ini Esya memang sudah sedikit tahu mengenai rumor itu. Hanya saja dirinya memilih untuk diam, tidak ingin ikut campur dengan masalah yang sedang keluarga ini alami. Esya tahu rasanya bagaimana kehilangan orang-orang yang di kasihi. Meskipun Esya tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga sebelumnya, namun entah mengapa jika menyangkut keluarga ini Esya merasakan adanya rasa perih yang dalam, dan juga merasakan adanya sebuah tarikan yang terus menerus menarik dirinya untuk semakin mendekat dengan keluarga ini.
"Makasih sayang, bunda berharap jika anak perempuan bunda itu adalah kamu" ucap bunda Melan sembari memberi senyum hangat pada Esya, gadis manis uang sudah sebulan lebih tinggal bersama mereka.
__ADS_1
Ketiga wanita yang berada di sana juga ikut tersenyum melihat kedua orang yang saling berpelukan. Rasanya seperti melihat kedua orang itu layaknya Orang tua dan anak kandung saja. Tidak dapat dipungkiri wajah Esya begitu mirip dengan Bunda Melan dulu ketika masih muda hanya saja alisnya justru lebih mengikuti bentuk alis milik ayah Yohan. Setidaknya begitulah yang mereka pikirkan mengenai Esya, terlebih mengetahui bahwa Esya sendiri tidak memiliki keluarga, ah bukan tidak punya lebih tepatnya tidak tahu siapa keluarga kandungnya, menimbulkan banyak harap dalam hati mereka untuk gadis itu.
"Esya..."
"Iya Oma"
"Apa kau tidak bosan menggunakan kaos berlengan panjang? Jika bosan katakan saja padaku biar aku menyuruh seseorang membelikannya untukmu. Ketiga bocah itu memang tidak memiliki selera fashion yang bsik" ucap Oma Amel pada Esya yang lebih tepatnyaseperti sedikit menyudutkan ketiga cucunya itu.
Entah dimana pikiran ketiganya sehingga seluruh pakaian milik Esya semuanya berlengan panjang. Yah, seluruh kebutuhan Esya adalah mereka yang urus. Oma Amel memang sudah tahu perihal apa yang sedang ketiga cucunya itu lakukan. Mereka mencurigai Esya sebagai dia yang sudah begitu lama Rumah ini rindukan, dia yang merupakan permata sekaligus penerang untuk kegelapan yang suram dalam hidup mereka karena hadirnya sebagai keturunan perempuan terakhir di dalam generasi saat ini. Dialah Queenesya Moneque Heskiel Caroline Vondrienty cucu perempuan satu-satunya dari keempat marga keluarga besar itu.
"Ah, tidak perlu Oma, aku sudah nyaman seperti ini" tolak Esya dengan lembut sambil tersenyum tulus kearah Oma Amel
__ADS_1
Esya tidak ingin semakin menjadi beban untuk keluarga ini, sudah cukup banyak hal yang keluarga ini lakukan untuknya terutama Dion, Gion dan Kenned mereka bertigalah yang selalu melindungi Esya setiap kali Aurel dkk.a mengganggu bahkan sampai membully dirinya di sekolah. Seperti kejadian tempo hari di belakang sekolah dimana Esya yang sedang asik membaca buku bacaannya di labrak habis oleh ketiganya, mengancamnya seperti biasa untuk segera menjauhi keluarga Vondrienty.
Apa yang Esya bisa lakukan jika hatinya bahkan tidak sanggup untuk melakukan hal itu, berkali-kali Esya ingin mengatakan hal itu pada Dion tetapi ketika mata mereka bertemu Esya selalu tidak sanggup untuk berkata-kata, melihat binar mata milik Gion membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi dan ketika bersama Ken hatinya lebih tidak ingin membuat lelaki itu sakit karena Ken adalah anak tunggal dan dia bahkan ingin sekali memiliki seorang adik seperti halnya Dion dan Gion yang memiliki seorang adik perempuan yang entah dimana keberadaannya sekarang