
Tidak terasa beberapa menit yang lalu lonceng tanda pelajaran terakhir telah berbunyi, Esya masih saja setia berada di atas kasur yang mirip dengan pembaringan yang ada di kebanyakan rumah sakit bernuansa putih itu.
Dirinya sudah merasa baikan sejak tadi hanya saja ketiga lelaki itu bersama dengan seorang personel baru dalam kelompok mereka, melarang keras dirinya untuk tidak mengikuti pelajaran. Ini sama saja seharian Esya tidak masuk sekolah jadi untuk apa dirinya menghabiskan banyak waktu datang kemari.
Padahal, jika tahu seperti ini dirinya lebih baik pergi bekerja mengisi shift siang hari agar bisa mendapatkan tambahan untuk keperluan pribadinya seperti ponsel tentunya.
Sebenarnya, keluarga Vondrienty sudah pernah menawarkan ponsel padanya hanya saja dirinya menolak dengan alasan tidak ingin semakin merepotkan kelurga ini. Mendapat tempat bernaung selama ini juga sudah merupakan hal yang patut dan sangat harus ia syukuri.
Mendapatkan tempat bernaung, kasih sayang sebagaimana layaknya keluarga kandung yang selama ini Sangat Esya mimpikan, merasakan bagaimana enaknya memiliki kakak yang selalu melindungi adiknya ketika sedang berada didalam bahaya.
Yah, Esya selama ini merasakan perasaan itu. Kadang ia selalu berharap jika dirinyalah yang merupakan putri kandung dari keluarga Vondrienty yang selama ini hilang, bisakah Esya berharap hal seperti itu akan terjadi? Meskipun nantinya hal itu bisa jadi bukanlah kenyataan.
"Sya....Nih ransel kamu?" ucap Zee yang entah sejak kapan sudah berada di hadapannya.
"Ah...eh?. Te-rima Ka-sih Zee" ucap Esya sedikit terbata karena baru saja tersadar dari lamunannya.
Setelah mengambil ransel dari Zee dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada gadis manis yang merupakan musuh masa kecil Gion, ia bangkit dari posisinya kala itu lalu berjalan mengikuti Zee dan kedua gadis lainnya.
"Ayo Sya, yang lain sudah menunggu kita diparkiran" ucap Ginta pada Esya yang sedang memikirkan sesuatu
"Kalian pergi saja dulu, aku baru ingat ingin mengambil barang di loker" ucap Esya yang baru mengingat ada barang yang harus ia ambil.
"Mau kami temani gak Sya? takutnya Genk menor itu nyerang kamu lagi" ucap Eve penuh dengan rasa kekuatiran yang dalam.
"Tidak, perlu ve. Aku akan berhati-hati" ucap gadis berlesung pipi itu, mengabaikan rasa kuatir Eve.
"Beneran Sya? Kami gak perlu nemenin nih, perkataan Eve ada benarnya loh Sya" ucap Zee mencoba meyakinkan gadis itu lagi.
Rasa kuatir yang gadis itu rasakan sekarang bukanlah tanpa alasan, bayangkan saja selama sebulan ini saja Esya sudah hampir keluar masuk RS sebanyak 4 kali berturut-turut karena kelakuan Aurel dkk.a
Terakhir kali adalah kejadian yang terjadi lima hari yang lalu ketika Esya tidak sengaja menumpahkan jus tomat pesanannya itu yang telah tepat mengenai pakaian Aure.
Dengan paksaan dan perlakuan kasar yang Esya terima kala itu di belakang sekolah, mampu membuat beberapa siswa maupun siswi merasa kasihan. tidak terkecuali oleh Eve sendiri yang menyaksikan langsung kejadian itu karena kebetulan saat itu mereka hanya berdua tidak seperti biasanya berkumpul secara besar-besaran.
🌺Queenesya🌺
Setelah berhasil meyakinkan ketiganya, Esya memantapkan diri untuk melangkah berbalik arah dari tujuan yang sebelumnya. Gadis itu menarik napas dalam, meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Huft... Tenang Sya" ucap gadis itu pada dirinya sendiri
__ADS_1
Esya tidak dapat memungkirinya sendiri, disisi lain dalam diri gadis itu menyimpan banyak rasa kuatir. Kejadian demi kejadian mulai berputar searah dengan jarum jam, dirinya belum siap jika sampai Aurel dkk.a datang membuat kerusuhan seperti sebelumnya.
Disepanjang koridor sekolah yang sudah lumayan sepi dari siswa maupun siswi itu, Esya masih terus melangkah rasanya jarak untuk sampai pada loker kesayangannya itu sangatlah jauh, atau mungkin ini hanya hayalanya saja atau memang kecepatan jalannya yang sudah berkurang? Esya tidak tahu itu.
Yang jelas bagi Esya ia harus sesegera mungkin sampai di depan loker miliknya, ia tidak ingin membuat kesayangannya itu menunggu terlalu lama. Karena Kemarin-Kemarin dirinya terlalu sibuk sehingga melupakan kesayangannya.
Setelah sampai di depan loker miliknya ia segera membuka lokernya itu dengan alat pengcocok sidik jarinya. Sejak dua Minggu lalu keluarga Vondrienty sudah merubah sistem keamanan di QHS ini khususnya pada kunci loker para siswa.
"Huft... Akhirnya aku bisa membaca mu lagi" ucap Esya setelah mengambil buku bacaannya itu
Setelah demikian Esya pun pergi melangkah jauh dari sana, namun sebelum itu dirinya sudah menutup kembali. Gadis itu mempercepat langkahnya untuk segera tiba diparkiran sekolah.
Belum ia sampai di parkiran khusus itu tangan Esya sudah di cekal oleh tangan kekar seorang lelaki, dengan spontan Esya membalikan badannya guna untuk melihat siapa yang ada di belakangnya.
"E-van!!!" Kaget Esya, tidak biasanya lelaki ini masih berada di sekolah. Padahal bel sudah berbunyi kurang lebih 20 menit yang lalu.
"Hai Sya, pulang bareng aku yah?" Ucap Evan menawarkan tumpangan untuk gadis manisnya itu.
"A-ku pulang sama..."
"Mereka sudah menitipkan kamu padaku, katanya ada urusan yang harus mereka kerjakan" ucap Evan memotong ucapan Esya
Lelaki itu hanya memberikan senyuman sebagai jawaban, namun di balik senyuman itu siapa yang tahu makna apa yang tersirat didalamnya. Dengan santai lelaki itu menggenggam telapak tangan Esya lalu mengajaknya untuk segera pergi dari sana, sebelum ketiga singa dan macan tutul itu datang menghancurkan rencananya.
🌺Queenesya🌺
Sedangkan di parkiran khusus itu ketiga lelaki beserta para gadis itu sudah lama menunggu kedatangan salah satu personilnya, tadi Esya mengatakan jika ia hanya sebentar namun sampai sekarang gadis itu masih belum juga tiba disini.
"Apa terjadi sesuatu dengan Esya?" tanya Eve yang sudah kuatir sejak tadi, sama halnya dengan Zee dan Ginta.
"Tidak mungkin, karena ketiga gadis itu masih dalam masa hukuman" ucap Ken menjawab pertanyaan dari Eve
Memang benar karena kejadian yang terakhir kemarin Aurel dkk.a diberi hukuman selama 9 hari untuk tidak menginjakan kaki di sekolah ini. Jadi tidak mungkin ada yang akan mencelakai Esya lagi.
"Kau benar, lalu bagaimana sekarang?" Tanya Zee yang baru mengingat masa hukuman untuk mereka itu.
Gion yang tadi hanya diam dan menelusuri sekeliling lokasi itu menemukan seorang siswi yang baru saja keluar dari gedung sekolah, dengan lantangnya Gion memanggil siswi tersebut.
"Apa kau melihat Esya?" tanya Gion pada siswi tersebut.
__ADS_1
"Ma-af kak, tadi Esya sudah pergi di bawa oleh Evan" ucap siswi itu, yang mampu membuat ketiga lelaki itu kaget seketika.
"Oh, yasudah terima kasih" ucap Gion pada siswi itu sebelum beranjak pergi dari sana.
Ketiga lelaki itu memikirkan hal apa yang bagus mereka perbuat untuk Evan nantinya, lelaki Inggris itu di beri peluang malah semakin menjadi saja. Inilah salahnya jika Esya belum memiliki ponsel, gadis itu bahkan menolak tawaran oma Amel tempo hari.
"Dasar si Evan, tunggu saja kalau aku bertemu denganmu" ucap Gion
"Tunggu saja apa yang akan aku lakukan padamu Evan"
"Hn"
Gion dan Kenned menatap wajah saudaranya itu dengan sedikit tidak percaya, mereka pikir akan memiliki kata-kata kompak seperti biasanya, namun kali ini ternyata tidak. Entah apa yang ada di dalam pikiran Dion sekarang, mereka juga tidak akan tahu sebelum bertanya langsung pada lelaki es itu.
"Sebaiknya sekarang kita kembali, aku ingin berbicara serius dengan kalian berdua" ucap Dion dengan ciri khas datarnya namun tidak separah apa yang di lakukan Dion pada orang-orang asing itu.
"Bagus ini perkembangan namanya" ucap Ken dengan senyum khas miliknya
"Perkembangan apanya?" tanya Eve penasaran dengan ucapan Kenned
"Jumlah kata yang di keluarkan oleh manusia es ini melebihi 10 kata" jawab Gion dengan mengikuti senyum khas milik saudara sepupunya itu
"Ah iya, benar aku baru sadar" ucap Zee mengiyakan ucapan Gion barusan
"Hm...''
"Hn"
Yang tadi pun terulang lagi namun kali ini bukan hanya kedua lelaki itu namun sekarang bertambah lagi dua orang gadis yang tak kala berekspresi tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dengan kedua manusia berbeda gender itu.
"Dasar Duo ice" ucap mereka berempat secara bersamaan memberikan julukan baru untuk kedua remaja itu.
Setelah hal itu Dion seperti biasanya lebih dulu memasuki mobil dan mengambil tempat kemudi, disusul oleh kedua lelaki lainnya menaiki kendaraan itu dan mengambil duduk di tempat biasa, Ken di bagian belakang dan Gion di bagian tengah.
Sama halnya seperti Dion dkk.a di mobil para gadis itupun sama saja. Namun kali ini berbeda karena ketiga gadis itu memiliki mobil sendiri. Sebenarnya jika Gion dan Kenned mau bisa saja mereka membawa mobil sendiri Hanya saja mereka merasa sedikit aneh jika tidak bersama dengan seseorang didalamnya.
Maka dari itu, Gion dan Ken memutuskan untuk pergi dan pulang bersama Dion ke mansion. Hanya saja anehnya jika tujuan mereka tidak ke sekolah maka, mereka akan membawa kendaraan masing-masing
Tentunya dengan melakukan aksi balapan di antara ketiganya.
__ADS_1