
Tak terasa waktu terus berjalan, matahari yang tadinya masih memberikan kehangatan sekarang perlahan ingin segera terbenam, menampilkan sunset yang begitu memanjakan mata para pengunjung.
Tidak terkecuali Esya yang matanya kini telah berbinar- binar memandang sunset, sedangkan ketiga gadis dan lelaki remaja lainnya hanya menatap tingkah Esya yang menurut mereka begitu menggemaskan itu.
Karena dari mereka yang termudah adalah Esya, umur Esya sekarang baru 14 tahun namun beberapa bulan kedepan ia baru akan berumur 15 tahun. Di posisi pertama ada Zee yang lebih dulu lahir diantara mereka, lalu disusul Ginta, lalu Eve barulah urutan yang keempat diisi oleh Esya.
Jangan tanya darimana mereka mengetahui hal itu, karena jawabannya ada pada Dion yang sudah mengumpulkan banyak informasi tentang Esya.
Dan disinilah mereka, masih setia dengan apa yang sedang mereka nikmati, karena Tuhan menciptakan dunia ini untuk kita jaga dan tentunya untuk dinikmati, bukan malah di rusak.
"Sangat indah bukan?" Tanya Eve pada teman-temannya itu
"Benar, bagaimana kalau kita berfoto disana?" Jawab Zee seraya bertanya kembali dan menunjuk jalanan yang sedang ramai di lalui pengunjung.
"Ah, iya ayo"
Ketiga gadis itu mulai berdiri dari duduknya, menatap Esya lalu menarik Esya agar ikut bersama denga mereka. Mengabaikan ketiga lelaki yang hanya menatap mereka dengan tatapan datar.
"Ayo Sya," ucap Eve.
Esya masih diam dan hanya mengikuti kemana arah langkah ketiga gadis itu pergi. Setelah tiba di sana mereka dengan antusiasnya ingin segera berfoto bergantian, kecuali Esya yang memang tidak terlalu menyukai hal itu.
"Ayo Sya, sekarang giliranmu" ucap Ginta sembari menarik tangan Esya
"Ehm, i-tu tidak usah"
"Tidak apa, untuk sekali ini saja"
Esya mulai melangkah ke arah dimana Ginta sedang berdiri, ada rasa getar yang sekarang sedang melanda dirinya sekarang ini, yah Esya malu jika harus di foto karena Esya memang tidak terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
"Tidak usah bergetar seperti itu Sya, santai saja"
"Oh-em... Baiklah"
Sekarang Esya mencoba sesantai mungkin, menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskannya. Esya sekarang sudah siap meskipun masih sedikit bergetar, karena merasa seluruh mata sedang memandangi dirinya.
Cekrek
Esya mulai bernapas lega karena kegiatan itu sudah selesai, ia kini berjalan menuju ketiga sahabatnya itu. Ingin melihat hasil fotonya, yang menurutnya pasti sangat buruk.
"Ah, Kawaiii" ucap ketiga gadis itu secara bersamaan
"Ayo kita berfoto bersama"
"Benar juga,Ayo"
Merekapun memutuskan untuk berfoto ria bersama, kecuali Esya yang hanya mengikuti kegiatan ketiganya saja. Esya baru sadar jika sahabatnya itu memiliki pribadi yang sulit ditebak, terutama Ginta yang sifatnya sering berubah-ubah.
Selepas tiba di sana, matanya hanya menemukan sosok Dion saja tidak ada Gion dan juga Kenned. Esya mulai menghampiri Dion dan memilih untuk duduk samping lelaki itu.
"Princess, sudah selesai?" tanya Dion yang menanyakan mengenai kegiatan para gadis tadi.
"I-ya, Su-da-h k-ak," jawab Esya dengan terbata karena mendengar Dion memanggilnya seperti itu.
Tut...Tut...
Dering ponsel itu membuyarkan lamunan Dion yang baru sesaat, ternyata ketika telah mengeceknya itu adalah panggilan dari orang kepercayaan Dion
"Ehm, Sya kakak kesanaran sebenar,yah" ucap Dion yang hendak berpamitan dengan Esya untuk mengangkat telpon.
__ADS_1
Esya hanya tersenyum sambil memandang Dion yang dengan perlahan telah menjauh dariya, tanpa ia sadari, sedari tadi ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan kagum.
Esya mulai memejamkan matanya malas, kalau begini lebih baik ia bersama dengan ketiga sahabatnya itu, setidaknya bersama dengan mereka masih bisa berceloteh, Gion dan ken juga entah pergi kemana, padahal Esya ingin menghabiskan waktu bersama mereka.
Yah, dengan bersama mereka Esya bisa menemukan sosok kakak yang sesungguhnya, Esya merindukan hal itu, terlebih ingin merasakan Bagaimana rasanya berada didalam lingkungan keluarga yang sudah sejak lama ia mimpikan.
"Boleh aku bergabung?" Ucap orang itu dengan lembut
"Ah, iya silahkan" ucap Esya yang sudah membuka matanya lalu memberikan senyuman pada orang yang ada di depannya itu.
Untuk sesaat, orang itu semakin tertegun kagum dengan gadis yang ada di hadapannya kini, terlebih ketika ia melihat mata gadis itu dan kedua ukiran lesung pipi miliknya.
"Ah, iya terima kasih. Kenalin aku William Stevand Shakespeare, panggil saja Steve atau Evan atau panggil sayang juga bisa" ucap Evan yang sedikit ingin menggoda gadis di sampingnya ini
"Aku Esya,Queenesya" Ucap Esya dengan cueknya
'Gila, ini pertama kalinya aku dicuekin cewek, mana atmosfernya dingin lagi' Batin Evan, sambil memandang lekat wajah Esya yang sekarang hanya memandang ke depan dengan datarnya.
"Esya" panggil Gion yang kemudian datang menghampiri Esya
"Iya,kak ada apayah"
"Ayo balik, yang lain sudah menunggu kita di mobil," ucap Gion yang sekarang sudah memeluk pinggang Esya sambil menatap Evan
"Baik kak. Van pulang dulu"
Gion pun mulai menarik tangan Esya seolah takut jika gadis itu akan hilang di keramaian. Evan menatap kepergian kedua remaja itu dengan tatapan tidak suka.
"Siapa laki-laki itu beraninya menyentuh milikku," Ucap Evan sebelum pergi dari sana.
__ADS_1
Sekarang prioritas Evan hanya satu mencari informasi tentang gadis manis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali dirinya memandang Esya.
Yah, katakanlah Evan sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sesosok gadis manis yang sangat terlihat sempurna dimananya, berkulit putih, hidung mancung, bibir tipis, mata yang indah, senyum yang menawan dan jangan lupa keimutan gadis itu yang sangat menggemaskan.