QUEENESYA

QUEENESYA
Kantor


__ADS_3

Pada pagi harinya Esya buru-buru berpamitan pada teman-temanya. Ia baru ingat ada hal 0enting yang harus dilakukannya hari ini. setelah meminta izin pada Zee dan lainnya Zee memberikan salah satu kunci mobilnya pada Esya, agar gadis itu tak perlu menunggu lama untuk dijemput.


Esya tiba di perusahaan, ia langsung menuju ke ruang kerjanya. Ketika telah tiba, di ruangannya sudah ada Gion, Ken dan juga Evan. Mereka sudah menunggu Esya sejak pukul 08.30 pagi tadi karena Gion dan Evan mendapatkan telpon dari resepsionis perusahaan.


"Dari mana aja Sya? Kok lama, padahal jarak dari mansion Zee gak terlalu jauh." tanya Gion saat Esya baru tiba di kantornya.


"Maaf kak, tadi masih ada keperluan bentar. bagaimana dengan data para pelamar kerja?"


"Tidak ada yang mencurigakan. semuanya baik."


"Baguslah. Huft...."


"Ada apa? kau terlihat kurang tidur, Princess."


"Aku memang kurang tidur kak. malam kemarin kami sibuk ngebujuk Zee."


"Apa dia baik-baik saja?"


"Agak buruk kak. kondisi perasaannya sedang tidak baik, karena aunty dan Uncle lagi-lagi mengundur kepulangan mereka."


"Mungkin kakak bisa menemui Zee dan menghiburnya sedikit." Lanjut Esya.


Setelah berkata seperti itu Esya memilih duduk di meja kerjanya dan langsung mengatupkan kedua tangannya di meja. Sekarang ini dia benar-benar sangat mengantuk. Waktu tidurnya malam kemarin tidaklah cukup. Setidaknya untuk beberapa jam kedepan ia harus mengistirahatkan matanya.


"Tidurlah, Sya."


"Gio, bagaimana sekarang? apa kita harus segera menyeleksi para peserta?"


"Aku tidak tahu, sebaiknya kau yang urus. aku punya urusan lain sekarang."


"Hei kau, jangan pergi. Apa yang harus aku lakukan dengan tumpukan dokumen ini. Gio!!!"


"Urus saja sendiri, atau berikan itu pada padanya," tunjuk Gio pada Evan.


Setelah berkata seperti itu Gio meninggalkan Ken bersama dengan Evan. Yang terpenting sekarang adalah kondisi Zee. Gion tau betul bagaimana Zee, sejak dulu meskipun orang tua Zee sibuk, keduanya akan selalu menepati janji terutama jika itu tentang putri mereka.

__ADS_1


Di kantor Esya


Ken sekarang sedang disibukkan oleh Dokumen yang ditinggalkan Gio tadi, ia mengecek dan menyeleksi setiap dokumen yang berisi tentang data diri para peserta, Evan juga ikut membantu dirinya karena kebetulan ia juga tidak memiliki kesibukan lain.


"Hah, inikan?!" ucap Evan


Selembar formulir itu membuat Evan langsung membeku. Nama pendaftar itu sangat tidak asing, membuatnya kepikiran saja. Untuk apa ia melakukan hal seperti itu? maksud Evan adalah untuk apa pemuda itu melamar kerja di dunia seni yang tidak ada kaitannya dengan jurusan mereka..


Bikin kesal saja.


Saat ini, dihadapannya terlihat dokumen milik Briand dan Leon. Kedua pemuda itu mendaftarkan diri untuk menjadi penanggung jawab dalam perusahaan ini, Briand bukanlah orang yang sedang membutuhkan pekerjaan ini, kondisi keuangan keluarga mereka juga tidak ada masalah. Jadi untuk apa?


"Hei, kenapa kau diam saja? coba ku lihat," ucap Ken langsung menarik dokumen yang tadi di pegang oleh Evan.


"Hah, Dia lumayan juga," puji Ken saat melihat isi dokumen Brian dan Leon.


"Ck" kesal Evan.


Ia tidak habis pikir Briand yang selama ini sudah ia anggap sebagai musuh bebuyutannya memiliki segudang prestasi dalam hal seni, terlebih pada seni pembuatan patung lilin. ternyata memang Evan tidaklah terlalu mengenal bagaimana Briand yang sebenarnya. Karena ketika bertemu Briand selalu gampang membuatnya jengkel.


Tiga jam berlalu.


Kemana pula kedua kakaknya tadi? Mengapa mereka meninggalkan Esya berdua saja dengan Evan. Yah, walaupun secara keluarga mereka sudah bertunangan namun tetap saja belum ada peresmian sebagai acara pertunangan itu.


Wajah Evan terlihat sangat sejuk dipandang. pemuda itu adalah pilihan terbaik Esya sekarang maupun nanti. Evan sangat baik, dan juga dia adalah orang yang setia. terbukti dari dulu sejak mereka kenal, perasaan pemuda itu tidak pernah berubah.


Karena itulah yang selalu di ajarkan dalam keluarga mereka. Mereka sejak dini sudah dididik untuk tetap berpegang teguh pada prinsip, entah itu dalam bidang manapun. Perlahan Evan membuka matanya.


"Udah puas mandangin wajah aku belum, tampan kan?"


"Ih, PD banget sih," Esya bangkit dari posisinya yang masih berbaring tadi.


*Sya..." panggil Evan, lalu Esya menoleh.


Cup

__ADS_1


Evan memberi kecupan pada dahi Esya. Tentu untuk sekarang pemuda ini akan berusaha untuk mengindari area atas dagu Esya. Pipi Esya bersemu merah, yang terjadi tadi sangatlah tiba-tiba. Membuat dirinya kaget saja.


"Eh, ini kan dokumen milik para pelamar kerjakan?"


"Iya, itu adalah hasil evaluasi aku dan Ken tadi."


"Ah, terima kasih," ucapnya sambil memeluk tubuh Evan.


"Sya, ada dua kandidat yang pas buat duduk di kursi penanggung jawab pembuatan patung lilin konsumen."


",Oh,iya? Siapa?"


"Briand dan Leon."


"Mereka ngelamar jadi pekerja di sini? tapi kenapa, bukankah keluarga mereka...."


"Mungkin mereka ingin menambah pengalaman kerja."


"Hmm...Begitu. Dimana Kakakku?"


"Mereka sedang keluar, katanya ada urusan."


Benar, Tadi Ken pamit lebih dulu pada Evan. ia ingin mengerjakan sesuatu diluar, dan Gion sampai sekarang belum ada kabar sejak ia keluar menemui Zee tadi. Karena kasihan dengan posisi tidur Esya yang tidak nyaman, ia akhirnya memindahkan Esya ke sofa dimana ia duduk.


"Oh, Begitu. Van, apa kamu punya ide untuk ulangtahun Zee Minggu depan?"


"Tidak. hal ini harus kita bicarakan bersama."


"Kalau begitu, aku akan mengabari mereka dulu."


"Jangan di Grup, Chat personal aja. biar Zee gak tau."


"Iya deh, Iya."


Senyum Evan mengembang lagi. Esya mulai mengabari teman-temannya untuk segera kumpul di mansion Vondrienty, dan tentu saja pertemuan ini akan sebaik mungkin di rahasiakan dari Zee sebagai orang penting dalam rancangan acara perayaan ini.

__ADS_1


***TBC***


.


__ADS_2