QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 83 Perapian Malam


__ADS_3

Sore menjelang malam, kini matahari sudah terbenam di ufuk barat, udara semakin dingin terasa menusuk kulit siapapun, berada di luar ruangan dengan jaket seadanya dan menyalakan api di perapian.


Tidak terasa sudah sebulan berlalu dari sejak kejadian dimana Melsha melakukan mode ngambeknya pada Angga, benar-benar diluar pemikiran Angga. Kekasihnya itu benar-benar serius dengan ucapannya, bahkan mereka melewatkan hari jadian mereka karena hal itu.


Melsha sama sekali tidak mau berbicara padanya, mengangkat panggilannya saja sepertinya gadis itu tidak memiliki niat sedikitpun. Belum lagi, teman-temannya yang mendukung aksi Melsha membuat Angga semakin merasa jengkel.


Bukankah seharusnya mereka membantu memperbaiki suasana, justru melebih-lebihkan hal yang sepele.  Ia bahkan tidak memiliki akses untuk berdekatan dengan kekasihnya itu, dan pastinya mereka senang menertawakan penderitaannya semalam sebulan ini.


Seperti sekarang ini, mereka yang satu gender berkumpul di tempat yang berbeda, para gadis berada di seberang perapian, sedangkan para lelaki berada di seberang perapian itu. Nyala api seperti menjadi tembok pembatas untuk mereka.


"Hei, kenapa kita tidak duduk mengelilingi perapian saja?" usul Angga, ia tidak tahan dengan kondisi seperti ini.


"Tidak bisa. tetap seperti aturan awal" tolak Ginta


"Itu tidak adil, kenapa harus seperti itu, ku pikir jika kita duduk mengelilingi perapian itu akan membuat badan kita lebih hangat, atau kalau tidak saling memeluk pasangan, mungkin akan lebih membantu, iyakan Van?"


"Sebaiknya kau diam, dasar cerewet" geram Melsha, Angga memanyunkan bibirnya semakin kesal, ada apa dengan kekasihnya ini? Bukannya menolongnya malah membela orang lain.


"Kau salah, berurusan dengan mereka bung" bisik Evan


"Huh, kau benar" lesu Angga, sambil melirik kearah Melsha.


Para gadis itu sibuk tertawa entah karena sedang membahas apa sehingga kehadiran mereka seperti diabaikan. Sampai Esya tertawa lepas mungkin karena lelucon yang di lontarkan oleh teman-temannya, Evan tersenyum melihat hal itu.


Sekitar jam 15.00 tadi mereka berangkat dari LA ke puncak, mereka memutuskan untuk mencari hari santai setelah habis bertempur dengan ujian bulanan mereka yang selalu di laksanakan setiap akhir bulan untuk setiap jurusan.


Bulan malam ini begitu terang, bintang-bintang Kun terlihat dengan jelasnya di atas langit malam, Esya memandang bulan yang memancarkan cahayanya, sangat menenangkan, sekilas ia tersenyum dan menghembuskan napasnya 0erlahan.


"Kira-kira gimana kabar Audet yah, aku sudah lama tidak mendengar kabarnya" ucap Esya, masih dengan memandang langit malam.

__ADS_1


"Kabar terakhirnya, dia berhasil meminta izin pada ayahnya untuk mengambil jurusan kedokteran" ucap Ginta


"Kedokteran, yah. Ternyata dia berhasil" ucap Zee


"Yah, awalnya aku pikir dia akan meneruskan bisnis orang tuanya, ternyata dia mengambil jalur lain" ucap Eve


"Bisnis orang tuanya semua diserahkan pada kak Dimas, untuk mengelolanya" ucap Melsha.


Mereka mengangguk mengerti, malam ini benar-benar pas untuk menyalurkan kerinduan pada seseorang. Suasana yang mendukung, menambah kesan tersendiri bagi mereka. Kedua lelaki yang sejak tadi sibuk menatap kelima gadis di seberang mereka, ah mungkin lebih tepatnya mereka  fokus pada gadisnya masing-masing akan berpikir lain terlebih ketika kedua gadis itu tersenyum simpul.


"Apa yang kau pikirkan sama dengan apa yang sedang aku pikirkan?" Tebak Evan


"Hn, ini tidak bisa di biarkan. Jika kegiatan ini selesai aku akan segera membawa Melsha dan mengikatnya di ranjang" timpal Angga, asal.


"Hei, apa kau tidak berlebihan?" Tanyanya


"Tentu saja tidak, aku kan bilang mengikatnya di ranjang bukan memasungnya kan" jawabnya


Lama mereka terdiam dalam keheningan dan aktivitas masing-masing, mereka di kaget kan dengan kedatangan ketiga lelaki yang memang sudah tidak asing lagi bagi mereka. Salah satu dari mereka langsung menghampiri Evan dengan mata melotot penuh marah, dan di belakangnya diikuti oleh dua orang sisanya tadi.


"Evan!!! Siapa yang memberimu izin untuk membawa kabur adikku?!" Teriak Gion, membuat para gadis melihat ke arah mereka.


"Ka-kak" kata Esya


  


Mengabaikan ucapan Esya, itulah yang mereka lakukan sekarang ini. Mengetahui adiknya tidak berada di mansion membuat mereka dilanda khawatir, takut jika kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun lalu terulang kembali.


Siang tadi, tanpa meminta izin lebih dulu ada mereka, Evan membawa Esya pergi dengan embel-embel bahwa ia telah mendapat izin dari orang tuanya. Esya mengira jika seperti itu maka tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, kakaknya pasti akan tahu dan memakluminya, ternyata perkiraan Esya salah besar.

__ADS_1


Sikap Posesive ketiganya mulai kambuh lagi, terutama Gion. Lelaki itu sejak di perjalanan tadi entahlah sudah berapa banyak kata kasar yang ia ucapkan untuk memaki Evan, lelaki yang sangat menyebalkan menurut Gion.


"Kenapa kau tidak menjawab?" tanya Gion


"Aku memberimu izin karena aku percaya kau bisa menjaga adikku. Tapi, bukan berarti kau sudah bebas membawa adikku kemanapun kau mau" ucap Dion, dengan aura dinginnya.


"Apa susahnya memberi tahu kami, kau akan membawa Princess kami kemana?" Timpal Kenned


Aura di sekeliling semakin mencekam, tidak ada satupun yang berani untuk menyela ucapan ketiganya, terutama Evan yang  hanya menatap mereka dengan santai. Ini karena dia sudah terbiasa menghadapi ketiga monster posesive ini.


"Tenanglah kalian, lagipula Esya aman bersamaku. Aku tidak mungkin mau membawa Esya dalam bahaya" ucap Evan sesantai mungkin, membuat Gion semakin kesal sedangkan Dion dan Ken hanya menghembuskan napasnya pasrah.


"Kau...."


"Kakak... ayo sini gabung, bareng kami. kakak pasti lelah, menempuh perjalanan" ucap Esya, berusaha mengakhiri situasi yang sekarang.


Esya, tidak suka jika hal ini selalu terjadi. mendengar celoteh kakaknya membuat telinganya sakit sendiri. terkadang Esya akan langsung kabur dari sana dan membiarkan Evan menangani gion sendirian. kedua lelaki itu terlihat cocok dalam berargumen, menurutnya. sedangkan kedua kakanya yang lain akan mengabaikan kelakuan kedua orang tersebut. 


Malam ini, Esya hanya ingin bersantai dengan tenang tanpa keributan. tugas kampusnya belakangan ini membuat jadwalnya semakin padat belum lagi ia harus pergi mengecek perusahaan property milik omanya sebagai pelatihan untukya nanti memimpin perusahaan tersebut. ia bahkan kampir lupa, kapan terakhir kali bisa tidur siang.


"Hei!!! ini tidak adil tahu, kenapa mereka bisa melewati batas sedangkan kami tidak" ucap Angga, sangat kesal. sejak tadi dia hanya diam karena ingin menghindari masalah, namun untuk yang satu ini ia tidak akan bisa menerima hal ini.


"Mereka kakak ku, apa kau keberatan?" ucap Esya sangat santai menanggap perkataan Angga.


"Ck, perempuan memang menyebalkan" timpal Angga


"Menyebalkan?! yah, kami memang menyebalkan tapi lebih dari itu, kau jauh lebih menyebalkan" ucap Melsha 


Angga cemberut, semakin merasa kesal sejadi-jadinya entah kapan kekasihnya ini mau sedikit mengalah dan mengerti dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang ini, Melsha justru terlihat sangat tidak peka akan situasi sekarang. seharusnya gadisnya itu, datang menghampirinya dan dan membela dirinya yangb sedang berada di dalam keadaan terpojor seperti sekarang ini. 

__ADS_1


                                                                                   tbc


__ADS_2