
Udara pagi hari di pegunungan memanglah sangat nikmat, embun yang datang dan menyebar disekitar dan menghinggapi setiap dedaunan hijau memberi kesegaran yang tiada tara bagi siapapun yang berada disana.
Gadis manis berparas cantik itu, baru saja membuka matanya, tidurnya semalam begitu nyenyak, ia kembali terdiam. ia mengingat kejadian malam kemarin, tubuhnya kembali bergetar hebat. ia mengingat seseorang berjubah hitam terus saja mengikuti langkanya hingga ia pun lari memasuki hutan belantara.
'Apa kakak yang menemukan aku kemarin?' batin Esya berkata
Pintu terbuka, menampilkan dua sosok laki-laki dengan rupa yang sama persis. seorang dari mereka langsung saja berlari mendekati Esya dan memeluk tubuh gadis itu dengan erat, seorang dari mereka pun juga menyusul ikut bergabung dengan keduanya.
"uh, kakak. aku tidak bisa berna-pas" ucap Esya
"ah, maaf. kau membuat kami khawatir tahu, lain kali jangan pergi sendiri lagi, mengerti?" ucap Gion
"Benar, kau sangat tahu seberapa besar rasa takut kami kehilanganmu, princess. jangan pernah melakukan hal yang kemungkinan bisa berdampak buruk untukmu. kau tidak ingin kami bersedih buan?!" tambah Dion.
"Maaf kak, aku berjanti tidak akan membuat kalian khawatir lagi. aku sangat sayang kakak" ucap Esya dengan langsung memeluk kedua kakkanya itu dengan erat.
Dion dan Gion tersenyum lembut, adik kecil mereka ini memang sangat menggemaskan bagi mereka, dan mereka berdua begitu sangat bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk bertemu dan berkumpul kembali dengan Esya. terkadang sesekali pikiran mereka masih tenggelam pada masa lalu, dimana mereka sama sekali tidak memiliki waktu bersama dengan adik mereka itu. jarak yang membuat mereka tidak pernah bertemu, dan kesempatan untuk melihat sendiri bagaimana adik kecilnya itu tumbuh dan berkembang.
Ada pula satu hal yang mereka pikirkan saat ini atau bahkan sampai mereka tua nanti, Dion dan Gion masih penasaran dengan kata pertama yang di ucapkan oleh Esya sewaktu baru belajar berbicara dulu. sepertinya, bagi kalian akan menganggap hal ini biasa saja namun berbeda dengan apa yang kedua lelaki kembar ini pikirkan. Dulu, bunda mereka pernah bercerita mengenai momen pertama ketika mereka berdua pertama kali berbicara, hal itu merupakan salah satu momen terindah selama hidup mereka.
"Kak Ken, ada dimana?" tanya Esya
"Dia sedang mengerjakan sesuatu, segeralah mandi dan ke meja makan untuk sarapan" jawab Dion sembari mengelus kepala Esya.
"segeralah beregas, setelah itu kita berkeliling sebentar sebelum kembali ke kota" ucap Gion
kedua lelaki itupun kini berjalan keluar dari ruangan Esya sedangkan Esya sendiri beranjak dari tempat tidur, membereskan kasurnya dan segera mungkin memasuki kamr mandi, namun sebelum itu tentu saja ia tak lupa mengambil jubah mandinya. Tidak butuh waktu lama, Esya sudah selesai dengan rutinitasnya. Kini ia melangkah keluar ruangan dan bergegas menuju ke meja makan.
"Selamat pagi, Sya bagaimana keadaanmu?"tanya Zee
"Ah, selamat pagi juga Zee. Ku rasa sudah membaik" jawab Esya
"Syukurlah, sebenarnya apa yang terjadi malam tadi?" Tanya Zee lagi.
"Itu, a-ku...."
"Tak apa jika tidak ingin cerita sekarang, sebaiknya kau makan. Aku sudah membuat roti selai kacang dan secangkir susu hangat untukmu"
__ADS_1
"Ah, baik. Dimana yang lain?" Tanya Esya
"Mereka sedang berada di halaman belakang, cepat habiskan makananmu" perintah Zee
Esya duduk di salah satu kursi di meja makan lalu mulai menikmati sarapan paginya. Zee yang juga duduk tepat di hadapannya, hanya memberi senyum, tidak lama ia pun menjentikkan jarinya teringat mengenai percakapan mereka kemarin malam ketika Esya tertidur.
"Sya..."
"Hmm..." Gumamnya, lalu memandang kearah Zee
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam, sampai kau bisa tidak sadarkan diri di tengah hutan?" tanya Zee
"I-tu... Ada seseorang yang terus saja membuntuti aku, karena aku panik aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan saat itu" jawab Esya, lalu meminum susu hangatnya.
"Ck, kau ini. Lain kali jangan pernah pergi sendiri lagi, mengerti?" Ucap Zee
'Dia semakin mirip kakakku saja' batin Esya
"Apa yang sedang otak cantikmu itu pikirkan? Hmm..."
"Aku rasa kau mulai sedikit mirip dengan kak Gion" kata Esya
Pipi Zee merona, pikirannya kini kembali lagi pada sosok seorang lelaki yang selalu mencari masalah dengannya sejak kecil, lelaki yang selalu mengusilinya dan selalu ia ejek sedari dulu. Yang belakangan ini, seperti memiliki perubahan sikap pada dirinya, tidak mengusili dan tidak membuatnya jengkel seperti yang sebelum-sebelumnya.
"A-apaan sih, Sya. Gak usah bahas dia deh"
"Wah, wajahmu merona hebat"
",T-tidak"
Cekrek...
"Lihatlah, oh astaga. Kak Gion pasti sangat gemas jika melihatmu seperti ini" ucap Esya setelah berhasil mengabadikan wajah memerah Zee di ponsel pintarnya.
"Hapus gak,Sya"
"Wllekk...gak mau" Esya menjulurkan lidahnya lalu langsung lari menjauhi Zee
__ADS_1
"Awas aja, kamu Queenesya" teriak Zee lalu tak tinggal diam iapun berlari mengejar Esya.
Adegan kejar-kejaran pun dimulai, Esya berusaha membuat jarak mereka semakin jauh sambil mencari tempat dimana ia bisa meminta perlindungan. Zee masih terus mengejar Esya, ia juga mempercepat laju larinya agar bisa setara dengan Esya.
"Kakak, sembunyikan aku" kata Esya masih berlari ke arah belakang Dion
"Ada apa, siapa yang mengejarmu?" tanya Dion
"Liat saja kedepan, nanti kakak akan tahu sendiri" jawab Esya
Tidak sadar, lagi-lagi seseorang dari jarak yang sedikit jauh sedang mengamati mereka lagi, wajah orang itu terus saja tersenyum devil. Dion mengamati sekitarnya dengan seksama, sejak tadi ia sudah berbalik memandang orang itu, tatapannya tidak pernah mau lepas dari sosok berjubah hitam itu.
"Kak..."
"..."
"Kakak, ngapain sih Melamun?" tanya Esya
"Astaga, tidak. Ku rasa kita harus segera kembali ke kota" jawab Dion
"Loh, kok tiba-tiba gini kak. Ada apa sebenarnya?" Kaget Esya
"Ehm, itu---"
"Oma tiba-tiba nelpon kemarin, katanya ada hal yang perlu mereka sampaikan" ucap Gion memotong ucapan kembarannya
"Beneran?! Kakak, gak bohong kan?" tanya Esya lagi, dengan penuh selidik
"Tentu saja tidak, memang kapan kakak bohong sama kamu?" Ucap Dion
"Jalan-jalannya kita tunda dulu yah, Princess. Kita harus menyusul Ken secepatnya"
"Hmn, baiklah kak. Dimana Evan dan yang lainnya?" tanyanya
"Mereka sedang mengemas barang, duduklah dulu" kata Gion.
Zee yang baru datang pun langsung mengambil duduk di samping Esya, dan dengan sekeras tenaga ia pun mencoba untuk menetralkan ekspresinya, entah mengapa bertatapan dengan Gion membuatnya seperti ingin terbakar habis. Gion tersenyum sumringah tepat kearah Zee, mata mereka bertemu namun tidak lama karena Zee langsung buru-buru mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
'apa maksud dari mimik wajahnya itu?!' batin Zee berucap.
Tbc