QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 22 Ancaman


__ADS_3

Tawa dan kehangatan itu hadir didalam setiap jam,menit, bahkan detik sekalipun. Yang telah mereka habiskan di kantin sekolah, karena pertengkaran kecil yang terjadi antara Gion dan Musuh masa kecilnya itu, siapa lagi kalau bukan Sharon stone, atau yang lebih akrab di panggil Zee.


"Seingatku dulu badanmu memang segemuk anak gentong dan pipi mu itu segemuk bakpau" Ucap Gion yang berniat mengejek gadis itu,sembari mengingat bentuk fisik Zee beberapa tahun lalu


"Aku masih lebih baik dari pada kau yang lari terbirit-birit sampai pipis celana karena bertemu dengan cosplay nenek lampir dari indonesia dan badut berhidung merah besar saat kita berada di festival tahunan" Ucap Zee yang tidak mau kalah dari Gion, yang membuat semua orang di dekat mereka mengeluarkan tawa terutama kedua saudara laki-lakinya itu.


'sial' pikir Gion, yang menyadari kebodohannya karena mengungkit masa lalu. Sekarang ia begitu yakin jika Ken maupun Dion sedang memikirkan momen memalukan itu.


Ini jugalah salah satu alasan Gion begitu tidak menyukai para gadis yang menggunakan makeup terlalu berlebihan,bibir di merahkan,pipi juga diberi polesan agar terlihat merona, belum lagi bedak yang menjadikan diri mereka seperti zombie, tebal dan begitu menjijikan, alis tipis di gambar,


Dan apalah itu semua Gion juga tidak mengerti hanya saja Auntinya memiliki barang-barang seperti itu yang ia letakkan di meja riasnya, itu kata Ken.


"Berhentilah menertawai ku"


Tidak ada yang mau mendengar ucapannya,tidak ada yang mau merespon ucapannya dan mungkin sekarang tidak ada yang akan peduli dengannya karena pikiran mereka yang sedang berlabuh ke masa lalu.


Tanpa pikir panjang Gion mulai menatap gadis yang ada di depannya itu, ia baru sadar jika Esya sedari tadi hanya fokus pada bacaannya dan tidak peduli akan lingkungan disekitar bahkan gadis itu tidak menertawai hal konyol yang terjadi padanya di masa lalu.


"Kenapa kak?" Tanya Esya yang mulai sadar jika sedari tadi ada yang memperhatikannya


"Ah tidak. Aku rasa kau tidak memiliki selera humor seperti mereka"


"Yang patut ditertawakan itu jika di umur kakak yang sekarang ini masih saja takut dengan hal seperti itu" ucap Esya santai


Dion mulai memperhatikan keduanya, Gion tercengang mendengar ucapan Esya dengan nada santai mirip seperti sikap Dion Kembarannya itu ketika berbicara. Ken dan yang lainnya masih saja belum menghentikan tawanya terutama Zee yang sedari tadi sudah mengeluarkan air mata karena terlalu lama tertawa.


"Aku pergi dulu" ucap Esya seraya berpamitan dengan mereka.


"Mau kemana?" Tanya Ginta dan Eve secara bersamaan

__ADS_1


"Ada kerjaan" jawab Esya sambil mengamati jam dinding.


Sekarang sudah waktunya untuk pulang, dan itu tandanya jam kerja Esya sudah mau mulai, ia harus segera bergegas, jangan sampai ia terlambat seperti kemarin lagi.


Sedangkan mereka yang masih saja berada di kantin hanya memandang punggung Esya yang semakin menjauh dari mereka.


"Ehm, Zee" ucap Dion


"Ya"


"Bantu aku Jagain Esya yah, aku yakin Dialah Orangnya"


Dion meminta bantuan Zee karena Dion yakin bahwa Zee bisa menjaga Esya apa lagi Zee bisa melakukan beberapa gerakan karate bahkan taekwondo yang ia dapat dari kakeknya yang tidak lain adalah anggota keluarga petarung. Zee yang mengerti arah pembicaraan itu hanya mengangguk dengan yakin sebagai jawaban iya. Zee memang sudah lama mengetahui jika putri tunggal keluarga vondriety telah hilang diculik orang ketika umurnya belum genap seminggu.


Jangan tanya ia mengetahui hal itu dari mana karena jawabannya pasti ada pada Dion. Karena tanpa sengaja ketika little Zee dan keluarganya bertamu ke mansion mereka yang berada di California, tepat ketika mereka bermain di halaman belakang mansion Dion keceplosan mengatakan jika umur Zee tidak berbeda jauh dengan umur Queenesya, dan begitulah seterusnya hingga memicu timbulnya pertanyaan dari little Zee sendiri.


Dan ketika Esya mengatakan mengenai singkatan hurup di belakang namanya itu, ia sudah tahu jika itu adalah singkatan dari empat nama keluarga besar yang berpengaruh didunia.


Esya terus melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah dengan membawa tas ranselnya,dengan masih fokus pada bacaannya ia berjalan terus tanpa mempedulikan tatapan beberapa anak yang tertuju padanya.


Hingga sebuah cengkraman pada tangannya mulai mengalihkan pandangannya yang semula berada di buku sekarang telah berada pada seorang gadis yang seumuran dengannya.


"Ikut gua" ucap gadis itu


"Ada apa lagi Aurel"


Yah, gadis itu adalah Aurel putri tunggal keluarga Petter yang telah bersedia menampung dirinya selama ini. Aurel terus menarik pergelangan tangannya, menuju ke arah belakang sekolah yang selalu sepi tanpa pengunjung.


"Gua peringatin lu gak boleh dekat-dekat dengan Kak Dion, karena kak Dion itu hanya milik gua"

__ADS_1


"Ta-pi..."


Plakkkk...


•anggap suara tamparan•


Belum selesai Esya berbicara sebuah tamparan telah mengenai pipi kirinya itu, Esya hanya diam mematung, menahan perih pada pipinya itu sambil menundukkan kepalanya. Dengan cepat Aurel memegang dagu Esya lalu mengangkat dagu itu agar sejajar dengan wajahnya.


Ditatapnya wajah mulus Esya yang begitu membuatnya sangat iri karena bentuk dan bahkan postru tubuh serta warna kulit Esya yang begitu sempurna dimatanya, lalu dengan sengaja ia menekan atau lebih tepatnya mencubit dagu Esya hingga meninggalkan luka goresan karena kuku tajamnya


"Aaa...Ssttt" gumamnya sembari masih menahan rasa sakit yang ia peroleh, sekarang ia yakin bahwa dagunya kini sedang mengeluarkan darah.


"Itu akibatnya kalau lu berani deketin Dion, apa lu pikir gua gak tau apa yang terjadi di belakang sekolah tadi pagi hah..."


Plakkkk....


"A-u...." ringisnya ketika Satu lagi tamparan di pipi kanan yang telah di dapatnya.


Plakkkk...


"Itu buat lu yang udah berani duduk bareng mereka" ucapnya lagi


Satu lagi tamparan yang di peroleh Esya dengan dan tanpa perlawanan dari dirinya sendiri karena itu semua tidak akan berhenti jika ia melawan sedikit saja, nantinya di rumah ia akan memperoleh yang jauh lebih kejam dari ini jika sampai melawan putri tunggal keluarga Petter itu


"To-lo-ng Hen-ti-kan Au-r-el" ucap Esya dengan terbata-bata


Dipegangnya kerah baju Esya lalu menariknya dengan kuat setelah itu di hempasakannya lagi seperti layaknya sebuah batu yang di lemparkan ke dalam sungai, tubuh mungil itu telah tersungkur ketanah, rasa sakit di tubuhnya kini semakin menjadi-jadi, seluruh tulangnya seperti akan remuk karena bertabrakan dengan lantai itu.


"Awas aja kalau gua nemuin lu lagi dekat bareng mereka, gua gak bakalan segan-segan buat ngeberi lu pelajaran yang jauh lebih dari ini"

__ADS_1


Tatapan tajam itu sangat menusuk hati Esya,tatapan kebencian dan cacian yang selalu menghantui tidur malamnya, tatapan yang selalu membuatnya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan isi hatinya,tatapan yang merupakan tatapan tidak pernah ingin ia jumpai.


Aurel berjalan menjauhi Esya setelah memberikan tatapan itu, ia tidak ingin berlama-lama bersama dengan gadis sampah yang tidak tau asal usulnya darimana, dengan melihatnya menderita merupakan kebahagian tersendiri bagi dirinya.


__ADS_2