QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 26 Pembalasan Ken


__ADS_3

Bersabar adalah salah satu hal yang jika kamu telah mengerti maksud dari kata itu, maka kamu juga akan mengetahui bahwa di balik kesabaran selalu ada hikmat yang dapat dipetik.


Sama halnya dengan apa yang telah dirasakan oleh gadis manis itu, dengan penuh kesabaran akan sikap keluarga angkatnya selama ini, gsdis itu sekarang sadar bahwa masih banyak orang yang menyayanginya.


Seperti ke-6 temannya itu, ah tidak sepertinya gadis itu sudah meralat ucapannya kemarin menjadi sahabat. Esya, gadis itu merasakan rasa nyaman, bahkan rasa aman pada mereka, terutama pada ketiga remaja yang berbeda gender dengannya.


Rasanya seperti telah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang, terutama ketika Gion memeluknya semalaman. Esya belum pernah tidur senyenyak ini, rasanya begitu hangat dan nyaman dan Esya suka itu. Esya merasa seperti telah menemukan keluarganya, menemukan sosok seorang kakak didalam diri mereka.


Sekarang ini mereka masih berada di dalam kamar yang sama dimana Esya terbaring, setelah mendengar kejadian kemarin dari ketiga sahabatnya itu, edya hanya mengucap syukur setidaknya mereka yang menemukan dirinya tidak sadarkan diri di halte bus, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya jika orang lain yang menemukannya.


"Arght...dasar Gion muka Copas" ucap Ken yang baru selesai membersihkan wajahnya dengan begitu kesal, terhadap Saudara sepupunya itu.


Gion hanya cengengesan melihat raut wajah Ken yang begitu menyedihkan menurut pandangan matanya itu. Gion sangat puas telah mengerjai Ken, meskipun ia harus mendengar celoteh Ken yang hanpir sepanjang rambut rapunzel didalam cerita dongeng fantasi.


"Kau dengar tidak apa yang sudah aku katakan sedadi tadi."


"Hmhm..." gumam Gion.


"Arght...dasar menyebalkan."


Ken tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan pada saudara sepupunya ini, dirinya begitu kesal pada Gion. Sejak dulu Gion selalu saja mengerjainya, selalu saja dirinya yang menjadi objek keusilannya, katakanlah Gion pilih kasih antara dirinya dan Dion dengan alasan yanh tidak masuk di akal.


"Kalau aku mengusili Dion, itu sama saja aku mengerjai diriku sendiri. Jadi lebih baik kalau aku mengusili dirimu saja"


'Alasan apa itu' pikirnya, padahal ketika mereka masih kanak-kanak Gion fan dirinya merupakan patner keusilan, dan selalu saja Dion yang menjsdi objeknya. Seiring berjalannya waktu Gion justru tidak nau lagi dan malah mengalihkan kebiasaannys itu pada dirinya.


Ken tau bukan itu alasan Gion yang sebenarnya. Dari pengamatannya Gion takut dan tidak memiliki nyali pada saudara kembarnya itu, dikarenakan karakter Dion yang begitu Dingin dan hampir tidak tersentuh, apa lagi jika dia marah, garangnya bisa melebihi harimau betina.


"Em...itu!?"


"Tenang saja, urusan sekolah sudah kami urus." Ucap Dion dengan lembut, yang baru mengeluarkan suaranya.


Esya hanya membalas perkataan Dion dengan senyum, tidak tau lagi ingin berkata apa. Tiba-tiba Esya merasakan sebuah tangan sedang menyapu puncak kepalanya, Esya hanya bengong memandang tangan itu, sedetik kemudian matanya beralih memandang wajah Dion yang menatapnya dengan sayu


"Esya"


"Ehm...i-ya kak ken-apa ya-h?"

__ADS_1


"Kalau misalkan Esya adalah adik kami gimana?"


Sejenak, Esya terdiam. Memikirkan kembali ucapan Dion, namun setelah beberapa menit kemudian Esya mulai menatap kembali mata Dion, lalu memberikan senyum manis, alhasil menampakkan kedua lesung pipinya.


"Aku akan sangat bersyukur, karena memiliki tiga kakak yang begitu sayang Esya, yang selalu ngelindungin Esya, dan selalu ada buat Esya. Tapi itu mungkin hanya ada dalam mimpi Esya, karena mereka mengatakan jika Esya sudah yatim piatu, Esya gak punya saudara, keluarga, bahkan kerabat." ucap Esya dengan nada yang senduh.


Semua orang menatap Esya dengan tatapan yang tidak dapat di jelaskan, ketiga sahabatnya, terlebih ketiga lelaki yang sangat bisa merasakan perasaan gadis itu. Dengan refleks Dion langsung memeluk Esya, memberikan kenyamanan pada gadis itu lalu memberikan sebuah kecupan pada dahi Esya.


Dengan perlahan, Gion dan Ken mulai menghentikan argumen mereka yang kurang jelas itu, berjalan melewati ketiga gadis itu, lalu menghamburkan pelukan mereka pada kedua remaja yang sedang berada fi depan mereka saat ini.


Ketiga gadis remaja lainnya, hanya menatap mereka dengan tatapan bahagia, terutama Zee yang sangat berharap jika Esya memang merupakan adik kandung mereka.


Cinta dan Eve hanya memberikan senyum manis pada mereka, meskipun baru sedikit mengerti mengenai hal ini. Karena Zee belum menceritakannya secara rinci.


"Le-pas ka-k Es-ya g-ak bis-a Na-pas"


Sadar akan ucapan gadis itu, Dion, Gion, dan Kenned mulai melepaskan pelukan mereka. Lalu ketiga lelaki itu mulai menatap Esya kembali dengan senduh dan tatapan lain yang memiliki arti tersendiri bagi mereka.


"Mulai sekarang Esya gak usah sedih lagi, yah" ucap Ken dengan senyum yang merekah di wajahnys


"Karena mulai sekarang kami yang akan selalu jagain kamu" Diakhiri dengan ucapan Gion yang lembut.


Rasanya sekarang ini Esya ingin sekali menangis, namun bukan tangisan kesedihan namun tangisan bahagia. Tuhan sepertinya sudah menjawab doanya selama ini, melalui pertemuannya dengan ketiga gadis cantik yang sekarang telah menjadi sahabatnya.


"Ayo Sya, kita jalan-jalan," ucap Ken sambil ingin menarik tangan Esya agar berdiri.


Pletekkk


Jitakan itu mengenai dahi Ken, jangan tanya mana yang paling perih karena Ken dengan lantang akan menjawab nama Dion.


"Apa maksud kalian hah?"


"Oii, kentang goreng. Sudah tahu kalau Esya lagi demam masih saja mau kau ajak jalan" ucap Gion panjang


"Hn" gumam Dion, yang menyetujui perkataan kembarannya itu.


Esya yang melihat itu hanya tersenyum simpul, tidak menanggapi ucapan mereka. Lagi pula jika mereka pergi apa yang akan di gunakannya, karena Esya di usir dari rumah tanpa membawa apapun.

__ADS_1


"Bagaimana kalau nanti sore kita pergi ke Sunset Boulevard, kudengar itu adalah tempat terbaik untuk bersantai,"


Ucap Eve memberi saran pada mereka.


"Sunset Boulevard!!! yang seperti kebun buah itu?" tanya Gion dengan antusias


"Yupss"


"Kalau begitu aku setuju" ucap Gion dengan penuh semangat


Pletekkkk


"Ittaiii... Ken-chan" ucap Gion sambil mengelus jidatnya


Gion menerima jitakan dari sepupu laknatnya itu, 'Ada apa dengannya?' pikir Gion sambil memberi pelototan pada Ken.


"Chan!!! Jangan bilang kau Homo?"


Gion menatap Ken dengan tidak percaya, bagaimana bisa sepupunya berpikir sejauh itu hanya karena ia iseng menambahkan kata Chan pada namanya.


"Astaga Gion!!! Bagaimana bisa aku memiliki kembaran sepertimu?" Ucap Dion yang semakin membuat Gion melotot tidak percaya, bahkan sekarang saudara serahimnyapun mulai ikut-ikutan


"Kak Gion beneran Homo?" Ucap Esya dengan polosnya


"Aku tidak menyangka ternyata Gion yang dulunya penakut dan bahkan keras kepala ternyata adalah penyuka sesama jenis" tambah Zee yang sudah ikut-ikutan mengganggu Gion


"Oh,astaga!!!. Ginta kau percaya akukan?" ucap Gion penuh harap pada satu-satunya gadis yang sama sekali tidak merespon sedari tadi


"Tidak," jawab Ginta singkat.


"Arght...dasar kentang goreng," teriak Gion sambil menekan setiap katanya


'Apa yang salah?' pikir Ken yang mengamati tingkah Gion sedari tadi.


Lagipula kenapa Gion menambahkan embel-embel Chan pada namanya, setahu Ken Chan itu adalah panggilan yang sering di gunakan Naruto pada sakura di dalam serial anime Jepang Naruto SD,Naruto Shippuden, Naruto the movie dan bahkan pada anime terbaru Boruto the next generasion lanjutan dari kisah Uzumaki Naruto yang telah menikahi Hinata Hyuga seorang putri dari clan Hyuga.


Jadi karena hal itulah Ken dengan refleks mengatakan bahwa Gion homo, tapi ada bagusnya juga ia mengatakan hal itu. Hitung-hitung sebagai pembalasan atas kejadian pagi tadi.

__ADS_1


__ADS_2