QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 36 Murid Baru


__ADS_3

Pukul 07.17 AM, waktu setempat. Lingkungan Quelinety High School sudah padat dengan kehadiran para penghuni, yang akan menempati lokasi itu selama kurang lebih 12 jam kedepannya. Seperti sekarang ini banyak siswa maupun siswi yang sedang berlalu lalang di sekitar koridor sekolah, adapula yang sedang terburu-buru untuk memasuki kelasnya, dan adapula yang sedang bergosip ria.


"Apa kau tahu tentang gosip itu?"


" Apa yang kau maksud adalah siswa baru itu?"


"Ah, yah aku dengar hari ini dia sudah akan masuk, selain itu banyak rumor yang mengatakan bahwa dia begitu tampan"


Kurang lebih begitulah pembicaraan para kaum hawa mengenai kedatangan siswa baru itu, informasi tersebut memang sudah sangat tersebar luas. Semenjak, seorang siswa dengan tidak sengaja mendengar pembicaraan yang terjadi di antara kalangan guru kemarin. Informasi tersebut langsung saja tersebar luas dikalangan mereka. Bahkan sekarang ini banyak siswa perempuan yang sedang berusaha tampil cantik hari ini, demi mencoba menjadi pusat perhatian.


Merah pipi, bulu mata palsu, eyeshadow bahkan pewarna bibir pun tak lepas dari genggaman mereka. Ah tak lupa dengan cermin kecil pula, yang sudah mereka siapkan di kantung seragam sekolah. Hal itu tidak luput dari penilaian ketiga lelaki itu, sejak memasuki halaman sekolah tadi, bahkan mereka sampai tergigit nyeri membayangkan jalan pikir para gadis itu.


"Ah, kenapa hari ini banyak nenek lampir"


"Kau kira, bahkan kelompok badutpun sudah ada" 


"Bagian di sana justru sekumpulan onde-onde"


Gion dan Ken mantap kearah dimana Dion berdiri tepatnya di tengah-tengah mereka berdua. Dengan satu alis yang bersamaan terangkat, tangan mereka bergegas memegang pipi Dion, dikiri ada Gion dan dikanan ada Ken.


"Tidak panas" ucap Gion, setelah telapak tangannya menyentuh pipi kembarannya itu


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ken

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dion yang mulai keheranan


"Kau tidak seperti biasanya bicara panjang di area sekolah"


Setelah mendengar penuturan dari Gion dan diselingi oleh anggukan dari Ken yang menandakan bahwa ia sepikiran, Dion mulai melanjutkan jalannya yang sudah terhenti tadi. Mengabaikan ucapan dari Gion dan tatapan dari pengunjung koridor.


"Dia dingin lagi" 


"Hei,Tunggu kami" ucap keduanya lalu, menyusul Dion dari belakang.


👯QUEENESYA👯


Gadis itu berjalan menelusuri Koridor sekolah, hendak menuju kelasnya dengan tatapan dingin dan datarnya, tak hayal yang berpapasan dengannya hanya memberikan cibiran seperti biasanya, entah apa salah gadis itu miliki di masa lampau sehingga begitu banyak yang tidak menyukai kehadirannya. Hanya ada segelintir orang yang mau berbicara dan bahkan ingin berteman dengannya, namun dia tidak pernah mempertanyakan hal itu, yang penting hidupnya berjalan dengan normal saja sudah merupakan hal yang sudah baik.


"Selamat Pagi Sya" ucap semuanya


"Selamat pagi juga" ucap Esya membalas sapaan teman sekelasnya itu, diselingi dengan senyum manisnya


Yah, begitulah Esya hangat di dalam dan dingin diluar. Sama halnya dengan pribadi Dion,Gion, dan Kennedy. Hangat pada keluarga dan orang terdekatnya, lalu dingin bagaikan es jika bersama orang jauh.


Esya berjalan menuju kursinya, dimana sisa sudah ada ketiga sahabatnya, Zee yang sibuk mendengarkan musik MP3 lalu Eve dan Ginta yang sibuk bergosip tentang siswa baru tersebut. Esya sudah mendengarnya di sepanjang Koridor tadi ketika berpisah dengan Dion cs, dan Esya hanya terlihat biasa saja bahkan tidak peduli akan penampilannya yang sama sekali tidak memakai polesan.


15 menit kemudian, seorang guru telah memasuki kelas itu dengan membawa buku pelajaran beserta penggaris panjang. Karena sekarang adalah jadwal pelajaran matematika, guru itu menatap seluruh penjuru kelas memastikan bahwa anak muridnya sudah lengkap dan Tidak ada yang kurang.

__ADS_1


"Baik sekarang kamu masuk" ucap pak Rivan dengan tegas, memanggil seseorang yang masih ada di luar kelas.


Lelaki itu, membuka pintu kelas lalu menarik napas dan menetralkan wajahnya datar dan dingin. Setelah selangkah memasuki ruang kelas, matanya mulai menelusuri isi ruang itu hingga tak sengaja penglihatannya terfokus pada seorang gadis yang sedang terfokus pada bacaannya.


"Silahkan perkenalkan diri kamu" ucap pak Rivan lagi.


"I am William Stevand Shakespeare, call me Evan, from England" ucap Evan singkat


"Ok, sekarang kamu bisa duduk di samping Angga"ucap pak Rivan sambil menunjuk salah satu siswanya.


Evan mulai berjalan menuju arah yang telah di tunjuk oleh pak Rivan tadi, nyatanya jarak meja miliknya bertetangga dengan meja milik Esya, sayangnya Esya berada tepat di pojokan dinding, membuatnya tidak bisa lebih leluasa untuk mengamati gadis itu.


"Aku Angga"


"Sudah tahu"


"Dari mana kau tahu?"


"Pak Rivan"


Lelaki bernama tag Angga Stoichkov itu hanya berohriah, mendengar ucapan Evan teman barunya itu, lalu kembali fokus dengan pelajaran hari ini. Sama halnya dengan yang di lakukan Angga, sekarang Evan juga sudah fokus pada pelajaran yang baru saja dimulai, namun sesekali ia selalu mencuri pandang pada sosok gadis yang telah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu. Evan mudah mengetahui jika gadis itu adalah Esya meski ia menggunakan softlens untuk menutupi warna asli lensanya.


__ADS_1


__ADS_2