QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 90 Malam hari


__ADS_3

Gion berlari cepat kearah kamar Esya, baru saja ia ingin memasuki kamarnya namun karena mendengar teriakan adiknya itu ia langsung berbalik arah, tiba di depan kamar Esya, tanpa mengetuk dan meminta izin lebih dulu, Gio membuka pintu kamar itu dengan kasar dan dalam keadaan gusar.


"Ada apa, princess?" tanyanya


Hiks...hiks...hiks...


Isak tangis Esya menembus kedalam gendang telinga Gio. Lelaki itu langsung berlari kearah balkon ketika melihat Esya sudah duduk sambil menyembunyikan wajahnya.


"Ada apa? Jangan buat kakak semakin khawatir"


Hiks...


"Sya"


Hiks...


"Sayang"


Hiks...


"Princess"


Hiks...


"Kakak, takut. Hiks..."


"Ada apa? Bilang sama kakak, Sya"


Esya menunjuk kearah dimana ia menjatuhkan kotak hitam tadi. Mata Gio terbelalak ketika melihat objek yang sudah di tunjuk oleh Esya barusan.


"Apa-apaan ini!!!"


Gion memeluk erat tubuh Esya, mencoba menenangkan adiknya itu. Ia mengambil ponsel dan menghubungi yang lain. Oma Amel dan Oma


Hellen memasuki kamar Esya karena mendengar  keributan.


"Astaga, apa yang terjadi pada adikmu?"


"Ada seseorang yang mengirim benda itu, sepertinya princess kaget Oma"


"Cepat bawa adikmu ke luar, aku akan menelpon Yohan dan yang lainnya"


"Baik Oma"


Gion membawa Esya keluar kamar menuju ke arah kamarnya. Sedangkan Oma Helen dan Oma Amel menelpon Yohan dan Andreas serta yang lainnya. Gion membaringkan Esya di kasur king size-nya,


"Udah, tenang yah princess. Udah gak papa kok, kakak ada disini, sekarang kamu minum dan tidur yah" ucap Gio lalu memberikan secangkir air yang ia ambil di atas meja samping kasurnya barusan pada Esya .


Esya menggenggam tangan Gion dengan erat, seperti tak ada niat untuk melepaskan genggaman tangannya itu. Tatapan sayu dari Esya membuat hati Gio seperti teriris, ia sangat menyayangi adiknya ini, apapun akan ia lakukan asalkan Esya selalu bahagia.

__ADS_1


"Kak Gio disini aja, jangan ninggalin aku sendirian." ucap Esya


Gio tersenyum, "iya, kakak disini. Sekarang kamu tidur yah, nanti kakak bawain makan malamnya  kesini aja" ucapnya sembari menyapu lembut kepala Esya.


"Hnm...." Esya menutup matanya, mencoba untuk tertidur.


Pintunya terbuka dengan sedikit keras, Gio menatap kearah pintu kamarnya dengan mata yang melebar, lalu memberikan isyarat pada mereka agar diam dan tidak berisik. Dion dan Ken menerobos masuk melewati beberapa orang  yang menghalangi pintu.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia Syok karena menemukan kotak hitam di balkon kamarnya, entah dari mana asal kotak itu...."


"Tapi, sekarang sudah baikan. Jangan bangunkan princess dulu, ia baru saja tertidur"


"Baik, bisa kalian keluar dulu?"


"Ha, iya. Ayo sebaiknya kita ke ruang keluarga saja dan membicarakan hal ini."


"Ayo biarkan Esya beristirahat" Ajak Ken


Ginta, Eve,Zee dan Melsha mengikuti Dion dan Ken, sedangkan Gio tetap berada di kamar menemani Esya. Mereka memilih untuk membicarakan hal ini di belakang mansion saja.


Mereka yang datang, hanya teman-teman Esya saja namun,karena terburu-buru mereka lupa mengabari Angga dan Evan. Tadinya Gio hanya menghubungi Dion, dan karena kebetulan Ia sedang bersama dengan Ginta maka, Ginta memberi tahu sahabatnya saja.


"Aku penasaran bagaimana bisa kotak itu berada di balkon kamar Esya, padahal penjagaan di mansion sangat ketat"


"Sudahlah, sebaiknya kita cepat mencari tahu identitas pria misterius itu"


"Aku punya firasat buruk tentang hal ini. Semoga saja firasatku meleset"


"Apa Evan sudah menemukan sesuatu?"


"Astaga, apa ada yang sudah mengabari mereka. Aku baru sadar Angga dan Evan tidak ada disini"


"Nanti beritahukan saja pada mereka, tidak usah mengabari sekarang. Biarkan mereka fokus untuk penyelidikan"


"Benar juga, aku seharian tidak berpapasan dengan mereka"


"Yah, belakangan ini mereka sibuk mengurus hal tersebut"


"Huh, aku harap semuanya bisa segera berlalu"


"Kau benar,Zee. Aku juga berharap seperti itu" Ginta memaksakan diri untuk tersenyum, mencoba menutupi kekhawatirannya.


Dion memeluk Ginta karena ia kebetulan berada tepat di samping gadisnya.  Keheningan kembali menyelimuti mereka yang ada disana, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka.


Waktu berjalan cepat, sekarang sudah jam 21.07 malam waktu setempat. Gion yang baru saja terbangun dari tidurnya melepas genggaman tangan Esya lalu keluar ruangan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada anggota keluarga yang lain, Zee dkk.a juga sudah pulang sekitar dua jam yang lalu.


"Bunda, aku tidak akan makan malam hari ini. Aku hanya akan mengambil makanan untuk Esya "  ucap Gio, mengambil makanan untuk Esya

__ADS_1


"Apakah princess sudah bangun?" 


"Belum, tapi tenang saja. Biar aku yang menjaga princess, bunda dan Oma tenang saja"


Gio kembali berbalik arah dan segera menuju ke arah anak tangga untuk menuju ke kamarnya.  Dion dan Ken yang belum selesai, langsung menyudahi makannya  dan segera menyusul Gion.


"Mereka sama sekali tidak ada yang berubah, masih tetap sama seperti dua tahun yang lalu" ucap Oma Amel.


"Kau benar, cucu-cucu kita semakin bertumbuh dan kita pun semakin menua setiap harinya"


"Meskipun begitu, Ibu masih tetap cantik." 


Yohan terkekeh me dengar ucapan Andreas, adiknya begitu pula dengan yang lainnya. Sedangkan di kamar Gio, Esya sedang makan malam dengan Dion yang menyuapinya.


"Udah,kak. Aku kenyang"


"Sedikit lagi, princess. Tanggung tahu sisa beberapa suapan lagi"


"Ayolah, kak. Udah, perutku sudah penuh dibuatnya"


"Ya udah, kalau gitu kamu minum huh" kata Ken, sambil memberikan segelas air putih.


"Makasih kak" kata Esya, lalu meminum air tadi.


Gion naik keatas kasurnya, dan memilih untuk berbaring di samping Esya, ia terus menatap wajah Esya lalu timbullah seulas senyum diwajahnya. Ia tak menyangka bahwa adiknya sudah sebesar ini.


"Kakak nemenin aku disini yah"


"Iya, sudah pasti princess. Sekarang kamu tidur yah"


" Kakak, jangan kemana-mana."


"Enggak kok. Kakak bakalan nemenin princess sampai princess terbangun di pagi hari"


Setelah 15 menit Esya selesai makan, ia akhirnya kembali tertidur dengan di temani Dion dan Gion di sisi kiri dan kanannya. Sedangkan Ken memilih untuk tidur di sofa yang ada di dalam kamar Esya  sekalian ia menunggu informasi dari beberapa orang kepercayaannya yang sudah ia tugaskan kemarin untuk melacak orang misterius di bukit hari itu.


"Apa sudah ada kemajuan?"


"Belum, aku belum mendapat informasi dari mereka"


"Jika aku tahu siapa orang itu sudah aku pastikan akan membuat hidupnya menderita"


"Sama, tapi apa kalian tidak penasaran dengan apa yang di sembunyikan oleh Opa. Hari itu aku melihat ekspresi Opa aneh, tidak seperti biasanya"


"Aku tidak ingin memikirkan itu dulu, sebaiknya kita fokus pada Esya dulu. Opa pasti punya alasan tersendiri kenapa ia tidak ingin mengatakannya"


"Hnm...." Gumam Ken, ia mengangguk setuju dengan perkataan Dion. Opanya pasti akan mengatakan segalanya nanti jika waktunya sudah tiba, mereka harus terus menunggu sampai waktunya pas.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2