QUEENESYA

QUEENESYA
120


__ADS_3

Gadis cantik itu tersenyum sambil mengingat kejadian yang pernah ia alami dulu, tidak bisa di sangka bahwa semuanya sudah berlalu cukup lama.


Seorang wanita berdiri tepat di depannya, Esya tersenyum pada wanita tersebut.


"Bunda..."


Tangis haru wanita itu pun pecah, melihat gadis kecilnya sudah dewasa. "Sayang, apa kau sudah siap?"


"Tentu, Ayah dan kakak mana?" tanya Esya


"Mereka sudah menunggu diluar. sebentar lagi acaranya akan mulai."


"Iya, bunda. terima kasih atas segalanya."


"Tidak sayang, seharusnya bunda yang berterima kasih karena kehadiran kamu."


Pintu ruangan itu terbuka, ayah dan Kakak kembarnya ada disana, Oma dan Opanya juga serta pemuda tampan dengan setelan Tuksedonya. "Sudah siap?" Evan bertanya, ia mengulurkan tangannya pada Esya.


Esya menerima uluran tangan Evan. "Tentu saja," ucap Esya tersenyum manis.


Keduanya menuju ke Altar pernikahan. Keluarga Esya memandang punggung sepasang kekasih yang sebentar lagi akan mengikat janji sehidup semati. Ingatan mereka kembali mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu, Ketika Esya bayi seorang pesaing bisnis dari keluarga Vondrienty menculik bayi kecil tersebut, karena informasi yang bocor keluar membuat mereka tahu bahwa bayi mungil yang baru saja lahir itu adalah satu-satunya keturunan perempuan didalam 4 keluarga besar.


Kekayaan keluarga mereka tentu tidak akan cepat habis, karena tetua dari 4 keluarga ini membangun bisnis mereka di lingkungan yang berbeda. Sebelum hari penculikan itu terjadi, Opa Robert memberikan sebuah gelang dengan disain khusus untuk Esya

__ADS_1


Gelang periang Opa Robert Hanya bisa dilepas oleh orang yang terhubung dengan Esya melalui aliran darahnya. waktu berlalu begitu cepat, pada usia 5 tahun Esya sempat bertemu dengan Bunda Melan disebuah taman.


Hal itu membuat sedikit kemajuan pada kondisi tubuh Bunda Melan mulai perlahan membaik. Kedua kakak Esya setiap hari akan pergi ke taman untuk menemui gadis kecil itu, namun sejak pertemuan terakhir mereka.


10 tahun berlalu, Esya kecil tumbuh dalam sebuah keluarga besar yang selalu mengabaikan keberadaannya. Esya mencoba mencari cara untuk bisa bertahan hidup. Penderitaan berat selalu membayangi Esya setiap malamnya, luka goresan dan beberapa luka lainnya ada di permukaan kulit gadis itu.


Ketika masuk ke Senior high school, Esya bertemu dengan beberapa orang baru, seperti pertemuannya dengan dua orang anak kembar, dan teman-temannya.


Orang pertama yang menyadari tentang Esya adalah Dion, kakak pertamanya.


Karena kecerobohan mereka membuat Esya hampir dalam bahaya. penculikan yang di rencanakan oleh Aurel, anak dari pemilik rumah yang selama ini Esya tempati. Rasa iri yang ada didalam diri Aurel membuat keluarga mereka di ambang kehancuran.


Setelah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya itu kehidupan Esya berubah 180 derajat. Esya kembali pada keluarganya dan teman-temannya. meskipun karena kejadian itu, telah membuat Esya kehilangan ingatannya.


Sambil kuliah dan mengurus perusahaan Esya selalu ditemani oleh Evan. seorang pemuda yang berasal dari Inggris yang telah jatuh hati pada Esya sejak pertemuan pertama mereka di Sunset Boulevard. Esya dan Evan bertunangan tidak lama setelah kelulusan mereka, dan sekarang pasangan ini akan segera melangkah ke jenjang yang lebih serius.


Hari ini adalah hari yang istimewa untuk mengikat janji sehidup-semati. pemberkatan nikah mereka sudah berlangsung tadi. Gaun putih dan tuksedo yang Esya dan Evan kenakan terlihat sangat serasi. Kebahagiaan memenuhi gedung pernikahan tersebut, tentu saja Alvin, Clara dan Becca tidak ketinggalan. mereka juga turut menghadiri pernikahan Esya hari ini. Ken, kakak sepupunya juga sudah kembali dari Singapura. ia datang bersama dengan Clara dan Becca.


Kedua pasangan baru ini sedang sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Gion mendekati Evan lalu berbisik. "Kalau sampai adikku tidak bahagia, awas saja kau."


Evan gemetar, bagaimana tidak Gion berdiri tepat di belakangnya. "Aku tau, kakak ipar."


"Ada apa, Van?" Esya bertanya.

__ADS_1


"Tidak, barusan ada angin lewat," jawab Evan.


Wajah cantik Esya bertanya-tanya, "benarkah?"


"I-iya. Tidak usah khawatir."


Melihat Gion yang sedang mengganggu Evan, membuat Zee gemas sendiri. wanita itu menghampiri suaminya lalu menjewer telinga kanan Gion. Hal itu membuat perhatian para tamu undangan tertuju pada keduanya.


"Bagusyah, bukankah kau mengatakan hanya pergi sebentar untuk mengambil beberapa makanan kecil? Beraninya kau membuat kami menunggu lama."


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku hanya ingin menggoda mereka saja."


"Sudah cukup. Kau membuat kami tidak selera makan. malam nanti kau tidur di lantai."


"Tolong, jangan sekeras itu padaku Sayang."


"Ini hukumannya kalau kau berani membuat aku menunggu lama."


"Maaf, sayang."


Zee pergi meninggalkan Gion, Esya menggelengkan kepalanya melihat Kakaknya. Seharusnya Gion bisa semakin dewasa dan tidak sering mengganggu dirinya dan Evan. Terutama sekarang Zee sedang berbadan dua, Hal ini.baru diketahui oleh Gion 3 hari yang lalu. usia kandungan Zee juga sudah menginjak Minggu ke dua.


Setelah hari pernikahan usai, keesokan harinya Esya dan Evan memutuskan untuk langsung pergi Honeymoon keberadaan tempat di dunia lalu lanjut ke negara kelahiran Evan. Mereka akan tinggal disana karena perusahaan yang harus di urus oleh Evan sendiri. sementara itu, milik Esya di Los Angeles sementara waktu akan diurus oleh Ginta dan Eve selama Esya masih sibuk.

__ADS_1


__ADS_2