
Gadis itu berjalan menelusuri koridor sekolah, sembari menggenggam erat buku bacaannya. Masih terbayang akan kejadian yang hampir menimpanya di belakang sekolah tadi.
Sekarang timbul banyak pertanyaan dalam otak cantik Esya, yang semakin membuatnya kebingungan sendiri.
'siapa dia!!'
'mengapa lelaki tadi seperti ingin mencium dirinya!!!'
'Apa aku mengenal dia!!'
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ada di dalam benaknya itu. Sehingga dengan tidak sengaja Esya tak menyadari bahwa sejak tadi sudah ada beberapa pasang mata yang sudah mengamati pergerakannya sejak tadi.
Dengan mantap, Esya menggelengkan kepalanya, membuang segara hal yang ada dalam pikirnya. Menarik napas dalam sebelum memasuki ruang kelas itu, dari jauh Esya melihat sahabatnya sedang sedang berlarian, minus Ginta tentunya. Gadis itu justru sedang asik dalam lamunannya dengan menatap keluar jendela.
"Arght...Kembalikan MP3 milikku Ve" teriak Zee dengan frustasi. Sejak tadi Eve mulai mengganggunya, merebut MP3 miliknya ketika dirinya sedang keasikan mendengar lagu Azu-For you.
"Tidak mau, sebelum kau mau membagi episode terbaru Boruto- Naruto the next generation"
Bibir Zee terbuka lebar mendengar ucapan sahabatnya itu. Bagaimana bisa gadis itu dengan cepat mengetahui hal ini, padahal dirinya baru 3 hari yang lalu berhasil mendownload beberapa episode tersebut.
"Baiklah, datang saja ke mansion nanti" ucap Zee dengan pasrah.
"Itu baru namanya sahabatku"
"Ya, terserah apa katamu"
Esya berjalan menuju kursinya, mengabaikan tatapan Zee dan Eve yang sudah beralih padanya. Dengan cepat kedua gadis itu menyusul Esya lalu mengelilingi daerah sekitarnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ginta yang baru berbicara sekarang
"Tidak ada" jawab Esya sambil menarik napasnya pelan.
"Kau terlihat kurang baik?"
__ADS_1
"Apa kau sakit?"
"Ah,tidak. Aku baik-baik saja tidak perlu cemas"
Dari jauh Angga menatap ke sekumpulan gadis itu. Ia tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi pada Esya, dan hal iniada hubungannya dengan Evan. Lihat saja, belum lama Angga berpikir seperti itu. Dari balik pintu muncullah sosok yang baru saja berada dalam pikirannya.
Evan berjalan memasuki kelasnya dengan gaya coldnya, alis mata tebal lelaki itu terangkat ketika matanya tak sengaja berpapasan dengan mata milik Esya. Mata gadis itu memancarkan sesuatu yang tak dapat ia baca, mungkin rasa kesal atau bahkan rasa kebencian.
Setelah menarik napas dalam, Evan kembali berjalan melewati kursi dimana Esya duduk, namun matanya tak pernah lepas dari gadis itu. Evan kemudian duduk di kursinya dengan malas, mengingat kejadian di belakang sekolah tadi membuatnya merasa menyesal.
"Bagaimana?"
"Gagal"
"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Ucap Angga langsung pada intinya
"A-ku hampir menciumnya"
Angga menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan sohibnya ini. Dirinya saja selama ini, belum berani melakukan hal itu pada Melsha, sedangkan dia yang sama sekali belum saling mengenal dekat bisa-bisanya ingin melakukan hal itu.
"Kenapa kau menjitakku?"
"Dasar Bodoh, mana bisa kau ingin lakukan hal itu padanya. Sedangkan pertemuan kalian belum lama terjadi, boro-boro dia mau berteman dengammu, jika berbicara denganmu saja dia sudah tidak memiliki selerah"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Tidak tau, itu urusanmu sendiri. Aku tidak mau ikut campur"
Angga menatap nalar layar ponselnya, disana tidak ada balasan sama sekali dari sang kekasih. Padahal, dirinya sudah bersusah payah memohon pada sang ayah agar mengisi saldo pulsanya.
Yah, Angga adalah anak dari Garen Stoichkov dan Alsha Stoichkov. Ayahnya ada salah satu pengusaha sukses di bidang komunikasi seperti keluarga Evan sendiri tetapi Stoichkov Company lebih memfokuskan diri pada kebutuhan teknologi perangkat lunak. Sedangkan ibunya adalah salah seorang model profesional benua Amerika Utara.
"Sya, ayo pulang" ucap Gion yang entah sudah sejak kapan berada di kelas Esya.
__ADS_1
"Sejak kapan kau ada disana?"
"Ah, hai bakpau" sapa Gion dengan Polosnya.
"Kak Gion duluan saja, aku mau ke toilet sebentar"
"Mau ditemani gak Sya?"
"Tidak perlu Gin. Kalian ke parkiran saja dulu" ucap Esya sambil berkemas lalu berjalan keluar.
"Baiklah"
Evan menatap punggung Esya yang semakin menjauh lalu matanya mengalihkan pandangannya lagi pada sosok lelaki yang tadi berbicara dengan Esya. Mata mereka bertemu, seperti ada sorot mata tidak suka yang di pancarkan oleh keduanya, meskipun mereka sendiri tidak mengetahui alasannya.
👯QUEENESYA👯
Esya masih saja terus berjalan, ah ralat dia sekarang mempercepat langkahnya menuju toilet,untuk menyelesaikan urusannya. Setelah beberapa menit ia selesai, sekarang Esya melanjutkan jalannya keluar toilet. Namun, sebelum dirinya berhasil keluar dari kamar kecil itu, sebuah dorongan yang sedikit keras sudah mengenai bahunya , alhasil punggung Esyapun bertubrukan dengan dinding keramik itu, tubuh Esyapun tersungkur kelantai keramik yang dingin.
"Heh gadis yatim, apa kau lupa dengan ancamanku?" ucap Aurel sambil memainkan helai rambut milik Esya lalu mengeluarkan senyum devilnya.
"A-ku..."
"Kau ini sangat beruntung, setelah menyusahkan keluargaku sekarang kau mau menyusahkan keluarga Dion yah?"
"Tap-i ak-u..."
"Ah aku jadi semakin iri padamu"
Aurel menyapuh lembut rambut Esya, setelah ia rasa cukup sebuah tarikan keras dapat di rasakan oleh Esya, sebuah tarikan yang mampu membuat puncak kepalanya begitu nyeri.
Dengan bibir yang terkatup rapat Esya menahan rasa sakit itu, matanya mulai ingin meneteskan butiran kristal bening namun ia juga menahannya, Esya tidak ingin terlihat lemah dihadapan Aurel.
"Sekali lagi aku peringatkan jauhi Dion dan keluarganya, karena Dion hanya milikku seorang" bisik Aurel di dekat telinga Esya sebelum dirinya beranjak pergi dari sana, meninggalkan Esya yang sekarang sudah terisak. Esya bangkit berdiri, berjalan menuju westafel untuk membasuh wajahnya agar tidak ada yang tahu bahwa barusan ia baru saja menangis, Esya semakin tidak ingin merepotkan semuanya, benar yang dikatakan oleh Aurel tadi dirinya terlalu banyak merepotkan orang lain.
__ADS_1