
Griffith park adalah salah satu tempat wisata yang indah di kota Los Angeles, California. Pemandangan alam yang indah mampu memanjakan mata para pengunjungnya, tidak terkecuali dengan Esya dan kawan-kawannya.
Seperti pada siang hari yang indah ini, tepat pada pukul 13.22 waktu setempat. Sekelompok remaja itu sedang berkumpul di sebuah taman, mereka baru saja tiba di tempat ini beberapa menit yang lalu.
Siang tadi Esya di culik oleh ke empat sahabatnya, karena mengingat alasan yang Esya katakan kemarin di parkiran sekolah, membuat mereka tidak berhenti untuk memaksa Esya ikut bersama dengan mereka hari ini. Tadi ketika Esya ingin memasuki Coffee Cafe tempat dimana ia selama ini bekerja di waktu luangnya.
Padahal untuk hari ini Esya sangat ingin menyendiri, untuk menenangkan sedikit pikirannya. Kejadian kemarin masih terbayang dalam benaknya, terlebih oleh ucapan Aurel siang kemarin membuatnya sedikit mulai menjaga jarak dari semua. Esya tak ingin menjadi beban bagi semuanya, Esya lebih baik memilih untuk hidup sendiri dalam kesepian dari pada haruserepotkan semuanya.
"Sya, kenapa melamun?"
"Gak Gin"
Sudah sejak tadi Ginta selalu mengamati diamnya Esya, tak biasanya gadis itu terdiam seperti ini. Rasa penasaran yang dimiliki oleh Ginta sekarang semakin bergemuruh. Ia harus segera mengetahui ada apa di balik diamnya Esya. Setelah menghembuskan napas dalam, Ginta kini sudah mulai beranjak pergi agak jauh dari Esya, hendak untuk menghubungi seseorang dulu.
Selepas perginya Ginta, sekarang Esya sedang sendiri di sini. Zee dan Eve sedang pergi memotret tak jauh dari tempat dimana ia sedang berada, Gion dan Ken sedang pergi mengambil sesuatu di mobil, sedangkan Dion sih wajah datar itu entah kemana tadi.
Dari jauh terdapat seseorang yang masih saja mengamati Esya lekat seperti tak ingin melepaskan pandangannya sedikitpun dari gadis itu. Yah, orang itu adalah Evan. Kemarin dirinya tak sengaja menguping pembicaraan Esya Dkk.a,Dengan langkah yang sudah pasti, Evan memberanikan diri untuk menghampiri gadis itu. Guna untuk membangun relasi yang lebih baik, setidaknya kwjadian kemarin tidak akan terulang lagi.
__ADS_1
"Ehm, Hy." Sapa evan dengan canggung
Esya mengalihkan pandangannya kearah dimana suara itu datang, menatap wajah lelaki itu lekat seolah-olah ia sudah pernah bertemu dengannya.
"Ah,si MESUM" kaget Esya
'MESUM??' Tanya Evan dalam pikirnya. Apa tidak ada panggilan yang jauh lebih cocok untuknya, seperti 'si Tampan' atau 'sayang' gitu. Sesungguhnya Evan bukanlah orang seperti itu, bahkan untuk jatuh cinta saja Evan baru-baru ini merasakannya dan itu hanya pada Esya gadis yang ada di hadapannya kini.
"Siapa yang mesum?" Tanya Evan pada gadis itu
Melihat reaksi gadis itu membuatnya menghembuskan napas lelah. Baru kali ini ada gadis yang tidak peduli akan kehadirannya, meskipun Evan tidak pernah mempermainkan hati orang lain tetapi tidak dapat di pungkiri pula, ketampanan yang di milikinya mampu menarik hati kaum perempuan dengan mudah. Tidak menyakiti bukan berarti tidak pernah menolak mereka, Evan selalu mwmatahkan hati mereka dengan penolakannya. Baginya itu jauh lebih baik dari pada ia harus menjalin hubungan dengan seseorang yang sama sekali tidak ia cintai.
Lebih baik menolak bukan dari pada memberikan harapan palsu pada sebuah hati yang rapuh. Maka dari itu Evan bertekat hanya ingin mencintai 3 perempuan dalam hidupnya yaitu, Oma, bunda dan yang terakhir adalah gadis itu. Tidak ada perempuan lain yang akan ia cintai selain mereka bertiga, baginya omanya adalah permatanya, bundanya adalah Berliannya, dan Esya adalah Kristalnya. Dilihatnya Esya mulai bangkit berdiri dari duduknya, ia hendak ingin melangkah pergi menjauhi Evan.
"Hei, dengarkan aku dulu" ucap Evan menggenggam pergelangan tangan Esya, guna menghentikan langkah gadis itu
"Apa?" Ucap esya Dingin
__ADS_1
"Maaf, soal kejadian yang kemarin"
"Hn. Lepaskan aku"
Evan melepaskan genggaman tangannya yang semula berada di pergelangan tangan Esya, ia tidak ingin menjadi semakin jelek dimata gadis pujaannya itu.
Yah, alasan Evan membuntuti bahkan mengikuti kemana Esya pergi itu hanya untuk meminta maaf padanya, karena kejadian semalam yang hampir menimpah gadis itu akibat keteledorannya.
Lagi dan lagi Evan menghembuskan napasnya malas, melihat kepergian gadis itu membuatnya sedikit tidak relah. Padahal sebenarnya Evan masih sangat ingin berbicara dengan Esya, bahkan ingin mengenal Esya lebih jauh lagi. Dalam pikir Evan selalu bertanya-tanya tentang gadis yang sudah mencuri hatinya itu, banyak teka-teki yang ada di dalam hidup gadis itu dan Evan harus segera menuntaskan rasa penasarannya itu.
Dengan langkah yang malas, Evan akhirnya pergi dari sana, ia memutuskan untuk kembali ke mansionnya aja setidaknya disana ia masih bisa melakukan banyak hal daripada mengintip kegiatan Esya. Lagipula di samping Esya ada banyak orang yang bisa menjaga keselamatannya.
Tbc
jangan sungkan untuk berkomentar
terima kasih 🙏🏻
__ADS_1