
Selamat menikmati bacaan kalian
Jangan lupa tinggalkan
Vote + Coment-nya
🌺🌺🌺
Hari ini telah tiba saatnya, seluruh dunia akan tahu siapa gadis yang selama ini mereka remehkan, seorang gadis yang dulu setiap akhir pekan akan menghabiskan waktunya di sebuah Cafe dengan segudang kesibukannya. Berbeda dengan teman sebayanya, yang dimana di setiap akhir pekan akan menghabiskan waktunya untuk bersantai.
Sudah lebih seminggu Esya menginjakkan kaki kembali ke Los Angeles, dengan banyaknya pertimbangan dari segenap anggota keluarga. Pada akhirnya kedua Opanya memutuskan untuk memperkenalkan cucu perempuan satu-satunya mereka kemata dunia dengan menggelar konferensi pers di lingkungan Quelinety Hight School bersamaan dengan kembalinya Esya menjadi salah satu pelajar disana.
Pagi ini Esya sudah siap dengan Outfitnya, pakaian seragam khas sekolahnya, sedikit polesan yang tentunya tidak memakan banyak waktu. Hanya menggunakan bedak bayi dan pelembab bibir.
"Udah siap princess?"
"Tentu, bunda. Hanya saja aku sedikit degdegan karena ini pertama kalinya aku akan belajar di sekolah bukan di mansion lagi"
Bunda Melan tersenyum lembut menatap wajah putrinya, Sampai sekarang tidak pernah ada ada yang berani membahas tentang masa lalu kelam Esya. Karena setiap kali Esya mendengar hal itu, kepalanya akan kembali sakit.
"Princess-nya Aunty manis banget sih" ucap Sasha , ketika melihat Esya dengan pakaian seragam.
"Ayo sayang, kita berangkat" ajak Bunda Melan, Esya menghampiri kedua wanita yang sangat ia sayangi itu dan memeluknya.
Merekapun menuruni setiap anak tangga, lalu berjalan menuju pintu utama dan memasuki Mobil yang sudah terparkir indah di halaman depan teras mansion Vondrienty. Esya duduk diantara Bunda Melan dan Aunty Sasha di bagian tengah.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di Lingkungan QHS, mobil itu melewati pagar sekolah yang sudah di buka oleh seorang satpam beberapa menit yang lalu.
"Bun. kak Dio , kak Gio dan Kak Ken pada kemana yah? Sejak pagi, aku belum bertemu dengan mereka"
"Oh, mereka sudah lebih dulu berangkat tadi. Katanya ada urusan penting"
"Begitu yah"
Esya keluar mengikuti bundnaya ketika mobil itu sudah terparkir, di susul oleh Aunty Sasha. Banyak mata yang memandang mereka dengan tatapan bertanya, karena seorang gadis yang tiba-tiba keluar dari mobil pemilik sekolah.
'Siapa gadis itu,yah?'
'wah, dia sangat cantik'
__ADS_1
'aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana!?'
Sekiranya seperti itulah yang dipikirkan oleh para pelajar disana. Berbeda dengan ke tujuh pelajar yang sudah memasang senyum mereka sejak tadi.
"Sayang, apa kau mau bersama teman-temanmu atau ikut bersama kami ke ruangan Opa?" tanya Bunda Melan.
"Aku ikut bunda saja keruangan Opa. Aku akan berkumpul bersama mereka nanti setelah perkenalanku selesai"
"Oh,baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi "
Esya melanjutkan jalannya setelah mengatakan hal itu pada teman-temannya. Zee dkk.a tersenyum melihat punggung Esya yang jaraknya semakin jauh dari mereka. Seminggu kedekatan mereka telah membuat ikatan itu tumbuh kembali, bahkan sekarang mereka memiliki dua anggota baru.
Berbeda dengan Zee dkk.a hal itu tidak berlaku untuk Evan, semuanya kembali seperti dulu lagi. Evan berurusan dengan Dion dss.a bahkan sekarang bertambah satu personel lagi, Dimas kakak Audet.
Yah, semuanya menjadi jelas ketika Rio memilih untuk pergi ke mansion keluarga Audet untuk meminta penjelasan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kegugupannya ketiak bersama dengan gadis itu. Awalnya, Rio tidak percaya namun semua itu berubah ketika Audet mendapat telpon dari Mamanya yang menanyakan tentang keberadaan Dimas karena ponselnya yang sengaja ia matikan.
"Sebaiknya kita ke kelas sekarang, karena pelajaran kedua akan segera dimulai" ucap Audet mengajak ke-4 temannya untuk kembali.
"Sebaiknya kita juga pergi sekarang" ajak Rio pada kedua temannya itu. Merekapun kini berjalan melewati koridor sekolah, menggekori kelima gadis remaja itu menuju ke kelas mereka.
🌺 Queenesya🌺
Kursi-kursi di sekeliling meja itu sudah terisi penuh, begitupun dengan kursi-kursi yang berada tepat di depan panggung, yang di khususkan untuk para awak media dan seluruh keluarga besar dari teman-teman Esya dss.a
"Eh, Bunda dan Ayah ngapain disini? Bukannya banyak kerjaan di Inggris ya." ucap Evan kala melihat kehadiran kedua orang tuanya.
Pletekkk
"Arght..."
"Kau ini Stev, tentu saja orang tuamu datang karena mendapat undangan juga" geram Orion
"Tentu saja kami datang untuk bertemu Queenesya, putri cantik Amel dan Yohan"
"Bunda, Ayah kenal sama aunty Amel dan Uncle Yohan?" tanya Evan penasaran
"Tentu saja Stev, kami itu bersahabat sudah lama. Bahkan mendiang kakek mu dan juga kakeknya Esya juga."
Melihat kedatangan sahabatnya, bunda Melan langsung menghampiri mereka dengan membawa Esya ikut bersamanya, ayah Yohan juga mengikuti keduanya, berjalan beriringan dengan Esya yang ada di tengah-tengah.
__ADS_1
"Lisa/Melan" ucap kedua wanita itu bersamaan saat mereka sudah melepas rindu.
"Lama tidak bertemu, Will" ucap Yohan pada Mr. Shakespeare
"Hn.kau tidak banyak berubah,Han" ucap William, ayah Evan.
"Ah....apa ini putrimu,Mel!? Dia sangat cantik. Aku dan Will sampai kaget ketika mendapat sinyal dari gelang milik Esya saat ulang tahunnya kemarin"
"Begitulah, maaf aku belum sempat mengabari kalian saat itu karena kondisi ku yang sedang dalam masa kritis"
"Tak apa, seharusnya aku yang berterima kasih kalau bukan karena kalian kami pasti sudah lama menyerah untuk menemukan dia. Sinyal dari gelang Esya sesekali muncul dalam beberapa tahun ini, membuat kami tidak putus asa untuk menemukannya, meskipun kami baru menyadarinya ketika sebulan tinggal bersama"
Evan tidak mengerti arah pembicaraan sekumpulan orang tua di hadapannya ini, matanya terus saja menatap kearah Esya yang hanya diam menyimak pembicaraan.
"Ayah, apa maksud dari pembicaraan kalian!?"
"Kau tau Stev? Gelang yang selalu Esya gunakan Esya itu adalah buatan Ayahmu...." jawab Elisa, bunda Evan. Mewakili sang suami yang sedang asik berbicara dengan Yohan.
"Opa Hans dan Opa Robert meminta khusus untuk dibuatkan Gelang agar dapat mengantisipasi hal yang mungkin terjadi...."
"Siapa sangka, sehari setelah gelang itu di berikan kepada Esya, peristiwa itu terjadi. Sama seperti ketika putra kembar mereka lahir, peristiwanya hampir sama yang membedakan ketika penculikan Esya kemungkinan mereka sudah mempersiapkannya dengan matang sehingga sulit untuk kami temukan"
Evan mengangguk paham setelah mendengar penjelasan bundanya. Suasana aulapun menjadi hening, ketika seorang pria menaiki podium.
"Selamat siang semua, di sini saya sebagai kepala sekolah akan langsung saja mempersilahkan tuan Robert Mahesa Vondrienty untuk segera menaiki podium"
"Terima kasih Mr. Max " ucap Opa Robert
Kepala sekolah yang di kenal sebagai Mr. Max Lauren itu langsung saja memundurkan dirinya ke belakang, membiarkan salah satu pemilik sekolah untuk mengambil tempatnya tadi.
"Baiklah, Saya sebagai direktur utama Vondrienty company akan memperkenalkan cucu perempuan saya satu-satunya yang selama ini telah menghilang...."
"Princess, sini sayang" panggil Opa Robert.
Esya menghirup napas agar ia bisa sedikit tenang, melangkah pelan menaiki podium bersama dengan Kedua orangtuanya. Esya mendekatkan diri tepat di samping opa Robert. Tidak lama Oma Hellen, Oma Amel dan Opa Hans juga menaiki panggung ketika baru saja tiba di aula. Esya berdiri tepat di tengah-tengah Oma Hellen dan Oma Amel, sedangkan Opa Robert dan Opa Hans berada tepat di samping istrinya.
"Perkenalkan gadis yang berdiri bersama kami adalah Queenesya Moneque Heskiel Caroline Vondrienty, satu-satunya Putri di keluarga kami...."
Setelah acara perkenalan Esya, Opa Robert dan Opa Hans memberi kesempatan kepada seluruh awak media untuk melakukan sesi tanya jawab. Sedangkan Esya kini sudah berkumpul bersama teman-temannya lagi, seperti yang ia katakan pagi tadi.
__ADS_1