
Singapura, pada waktu setempat
Seorang gadis masih saja terbaring lemah, di ranjang salah satu rumah sakit ternama disana. Tepat di sisi gadis itu terdapat sepasang suami istri yang selalu setia menemani tidurnya.
Wanita itu terus saja menggenggam erat jari jemari gadis yang masih nyenyak dalam tidurnya. Entah kapan gadis itu akan membuka matanya dan kembali tertawa bersama mereka lagi.
Pria yang berada di seberangnya pun melakukan hal yang sama, memandang lekat wajah putri bungsunya itu dengan segala penyesalan yang ada.
Penyesalan karena setelah belasan tahun berpisah mereka baru di pertemukan dalam kondisi seperti ini, andai saja ia lebih dulu menyadarinya pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.
Setelah sekian tahun berpisah jauh dari sang putri pada akhirnya mereka berkesempatan untuk berkumpul kembali, Yohan sangat menyesal karena telah membiarkan putri semata wayangnya itu melalui kehidupan yang keras diluar sana.
Dokumen-dokumen yang tertumpuk didalam kantor miliknya pasti sudah semakin bertambah, untung saja ia memiliki kedua putra yang bisa ia percayai untuk mengurus segalanya selama dirinya menemani Esya di tempat ini.
Ia lalu mengalihkan pandangannya pada sesosok wanita yang sudah lama mendampinginya, wanita yang masih terlihat begitu cantik dimatanya. Salah satu alisnya terangkat, ia keheranan dengan mimik wajah Melan yang tiba-tiba berubah.
"Ada apa, sayang!?" tanya Yohan padanya
"A-ku merasakan salah satu jari putri kita mulai bergerak" ucap Melan
"Benarkah!?" tanya Yohan lagi
Melan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Perlahan mata wanita itu tidak sadar sudah meneteskan air matanya. Yohan yang melihat hal itu, berdiri lalu menghampiri sang istri Dan memeluk wanitanya erat, ia lalu memberikan kecupan pada dahi Melan berharap agar bisa menenangkannya.
"Kalau begitu, kamu tetap disini bersama dengan princess sementara itu aku akan pergi mencari dokter" ucap Yohan lalu beranjak keluar ruangan meninggalkan mereka berdua.
Melan lalu mengambil ponselnya yang sejak tadi ia letakkan di atas meja tepat di samping ranjang Esya. Ia mencari sebuah kontak lalu melakukan panggilan telepon tersebut. Tidak beberapa lama panggilan telpon itupun tersambung. Diseberang saja seseorang sepertinya sedang melakukan sesuatu dengan peralatan dapur.
"...."
"Princess sudah menunjukan tanda, barusan salah satu jarinya bergerak"
ucap Melan pada seseorang diseberang sana.
"...."
"Benar, tolong sampaikan pada mereka agar tidak terlalu khawatir" ucap Melan
"...."
"Baik, terima kasih Sasha. Aku tutup telponnya dulu"
__ADS_1
"...."
Tepat setelah pembicaraannya dengan Sasha, Melan kembali menatap wajah putrinya itu. Mengusap puncak kepalanya lalu memberikan kecupan tepat di dahi Esya.
"Cepat sembuh yah sayang. Bunda, ayah, kakak dan semuanya sayang kamu" ucap Melan lagi.
Tanpa ia sadari setelah mengatakan hal itu tepat di dekat telinga Esya, gadis itu tiba-tiba meneteskan air mata, ia menangis dalam tidurnya. Lalu, tidak lama kemudian pintu itu terbuka menampilkan beberapa dokter yang ikut bersama dengan mereka sebulan yang lalu.
Dibelakang para dokter itu sudah ada Oma Hellen, Oma Amel dan Opa Hans serta Opa Robert, ternyata Yohan suaminya sudah lebih dulu menghubungi mereka.
"Bisa tuan dan nyonya keluar dulu, Kami akan memeriksa kondisi Nona dulu" ucap salah satu dokter
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuk cucuku"
"Baik, tuan Robert."
Setelah berkata demikian, opa Robert berjalan keluar ruangan mengikuti yang lainnya. Ia menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat. Opa Hans dan Yohan juga melakukan hal yang sama. Mereka masih terus menunggu dokter itu keluar dari ruang rawat dimana Esya terbaring.
"Apa kalian sudah mengabari orang rumah!?" tanya Oma Hellen
"Sudah ma, tadi aku sudah menelpon Sasha" jawab Melan
"Aku harap mereka tidak khawatir lagi" ucap Oma Amel, ia prihatin dengan kondisi ketiga cucu lelakinya itu, tak hanya Oma Amel yang merasakan itu. Oma Hellen sebagai Besannya juga merasakan hal yang sama.
Lama menunggu, akhirnya pintu itu terbuka menampilkan salah seorang dokter yang langsung mereka hampiri. Diam tepat di hadapan dokter tersebut, mereka menunggu penjelasan darinya.
"Kondisinya sudah semakin membaik, hanya saja kita belum bisa memastikan kapan ia akan sadar" ucap dokter itu langsung pada intinya.
"Terima kasih, Thomas." ucap Yohan
"Apa bisa kami masuk sekarang!?" tanya Melan
"Tentu saja" ucap Dokter itu yang bernama Thomas, salah satu dokter pribadi keluarga mereka.
Setelah itu mereka semua memasuki ruangan kamar Esya setelah beberapa dokter itu sudah pergi meninggalkan ruangan kamar.
Oma Hellen serta Oma Amel menghampiri ranjang Esya, menatap sendu kearah cucu perempuannya itu. Mereka berdua tidak habis pikir dengan takdir pertemuan yang keluarga mereka alami.
Awalnya gadis manis yang masih tertidur pulas itu datang kedalam mansion Vondrienty bersama dengan ketiga cucu laki-lakinya, hingga perasaan tidak biasa mulai menghampiri mereka, memberikan mereka kehangatan seperti ketika pertama kali Queenesya lahir didunia. Ah,sungguh masa-masa itu adalah masa yang begitu membahagiakan untuk mereka semua.
"Sayang ini Oma, cepat sadar yah"
__ADS_1
"Kami sangat merindukanmu"
Setelah berkata demikian mereka berdua akhirnya berdiri dari duduknya, kecupan pada gadis itu lalu berjalan menghampiri kedua lelaki Yang adalah suami mereka sendiri.
"Apa kalian ingin pulang?"
.
"Aku rasa, sebaiknya kami menginap disini. Melan, Yohan pulanglah untuk istirahat"
"Tapi Bu ..." ucap Melan terpotong karena ucapan suaminya
"Kurasa yang ibu katakan memang benar, kita harus kembali untuk beristirahat" ucap Yohan, mengelus lembut puncak kepala sang istri.
"Tapi A-ku ...." ucapnya lagi terpotong karena ucapan salah satu diantara mereka semuanya
"Pulanglah, Kami ada disini untuk menjaganya" ucap Oma Amel
"Kalau begitu, kami pulang dulu" ucap Melan menyerah Karena ia yakin Tidak akan pernah bisa menang jika beradu argumen dengan kedua wanita itu. Melan dan Yohan kini berjalan keluar ruangan, sebelum pergi tak lupa mereka memberikan kecupan pada kedua pipi Esya.
"Selamat malam sayang." ucap Yohan didekat telinga Esya. Dua pasang manusia itu tersenyum melihat kelakuan Yohan yang begitu manis.
Merekapun keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju parkiran untuk mengambil kendaraan yang akan mereka gunakan.
"Apa Esya kita akan segera sadar!?" tanya Melan tiba-tiba
"Aku harap seperti itu. Esya sekarang lebih membutuhkan doa dan dukungan kita" ucap Yohan
"Kau benar sayang" ucap Melan setelah berhasil memasuki kendaraan itu dan duduk manis tepat di samping kursi pengemudi itu.
Pada akhirnya kendaraan itupun sudah dinyalakannya. Ia lalu menjalankan mobil Lamborghini Gallardo miliknya itu keluar dari lingkungan rumah sakit dan berniat untuk kembali ke mansion mereka.
Selama sebulan ini sepasang suami istri itu tidak pernah beristirahat dengan baik. Mereka berdua selalu berada di rumah sakit, dan hanya pulang sesekali untuk mengambil barang yang dirasa perlu dan kembali lagi ke rumah sakit.
Mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang, Yohan yang sedang asik menyetir, sesekali mencuri pandang pada Melan yang sudah terlihat kelelahan. Pada akhirnya Melan yang terlihat kelelahan kini sudah menutup matanya, wanita itu sudah tertidur pulas.
"Kau sangat terlihat kelelahan, sayang " ucap Yohan yang sesekali mengacak rambut Melan dengan gemasnya
"Hngt..." Gumam Melan dalam tidurnya
Lama menyetir akhirnya kendaraan yang sedang dikemudikan oleh Yohan memasuki sebuah mansion besar yang berada di sekitar daerah tersebut. Matanya memicing, ia tak Tega untuk membangunkan istri tercintanya itu.
__ADS_1
Pada akhirnya Yohan lebih dulu keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu seberang, membukanya lalu tersenyum tipis sebelum ia mengangkat tubuh Melan memasuki mansion.