
Pukul 07:13 waktu setempat, sebuah mobil memasuki area sekolah yang membuat penglihatan seluruh penjuru sekolah itu tertuju pada satu titik saja.
Termasuk seorang gadis bersama dengan ketiga temannya itu, yang sudah terlihat cukup antusias untuk menghampiri pemilik dari mobil Lamborghini yang baru saja memarkirkan kendaraannya, beberapa saat yang lalu.
Dari dalam mobil tersebut, keluarlah ketiga lelaki yang sudah lama mereka nantikan. Wajah yang tampan dan rupawan. Menjadikan mereka sebagai penyemangat untuk menjalani hari yang melelahkan di tempat ini, selama kurang lebih setengah hari.
Gadis itu kemudian melangkah bersama dengan kedua gadis yang lainnya, menuju kearah dimana mobil itu tadi terparkir. Hendak untuk menghampiri sang pemilik kendaraan tadi.
Namun, belum beberapa langkah mereka berjalan, gadis itu sudah menarik kedua tangan temannya untuk bersembunyi di balik tembok, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari objek yang akan mereka hampiri tadi.
Mata gadis itu melotot tidak percaya akan apa yang ia lihat sekarang, begitu pula dengan bibirnya yang tak kala terbuka lebar saking kagetnnya.
Tidak lama saat ketiga lelaki itu turun, dari dalam mobil yang sama keluarlah seorang gadis yang sangat tidak asing baginya, gadis yang beberapa hari yang lalu ia usir dari mansion keluarganya, gadis yang menjadi alasan kebohongannya pada orang tuanya.
'itu, Esya.' batin gadis itu, menatap benci pada sang objek yang sedang ia amati sekarang.
"Ada apa Aurel?" Tanya Clara yang sudah memperhatikan gerak-gerik Aurel sedari tadi.
Rebecca hanya diam dan ikut mengamati objek yang tidak terlalu jauh jaraknya dari mereka. Ketika matanya terfokus pada satu-satunya gadis di depan matanya, Rebecca seperti terlihat sedang menginterogasi gadis itu. Tatapan yang lekat membuatnya semakin larut, hingga tidak sadar ia sudah larut dalam hayalannya sendiri.
Clara yang sadar akan tingkah aneh kedua temannya itu, hanya bisa menggelengkan kepala. Namun, sedektik kemudian ia mulai menyadarkan keduanya dengan cara menjentikkan jarinya di depan
"Apasih?"
"Gadis udik itu..."
__ADS_1
"Datang bersama mereka"
"Siapa?"
"Esya"
"Oh, Esya... Apa!!!"
Sedetik kemudian, setelah Clara sadar. Ia langsung memfokuskan penglihatannya pada gadis itu, benar saja itu adalah Esya, gadis yang selalu mereka ganggu sejak di elementary school bahkan sampai mereka lulus dari junior high school.
"Kenapa dia bisa bersama mereka, bukankah dia selama ini tinggal di mansionmu?" Tanya Clara lagi
"Kami sudah mengusirnya, beberapa hari yang lalu"
"Beruntung sekali dia, keluar dari kandang singa lalu masuk ke kandang domba" ucap Rebecca dengan senyum sumringahnya.
Yah, hanya itulah tujuan hidupnya. Melihat Esya hancur sama saja dengan melihat bunga sakura mulai bermekaran indah di bawa kaki gunung Fuji. Tangisan Esya sama seperti sebuah permen yang dapat membuat moodnya membaik. Dan penderitaan Esya adalah kebahagiaan dalam hidupnya.
Entah apa alasan timbulnya rasa benci dan iri hati dalam diri Aurel pada Esya padahal dulu ketika mereka masih balita, mereka sangatlah dekat namun karena sebuah peristiwa telah mengubah segalanya menjadi lebih buruk.
Rasa iri hati memang selalu mengakar dalam diri manusia, hanya saja hal itu masih bisa kita kendalikan jika kita memiliki kesabaran, ketabahan dan rasa syukur dalam hidup ini.
👯QUEENESYA👯
Masih seperti kegiatan pagi tadi, sekarang Aurel, Rebecca dan Clara mulai menguntit kegiatan Esya. Kemanapun Esya pergi, mereka akan setia mengikutinya. Mencoba mencari tahu bagaimana dan apa yang terjadi setelah gadis itu diusir dari mansion keluarga Petter.
__ADS_1
Seperti sekarang ini, mereka sedang berada di balik dinding dimana di seberangnya terdapat beberapa kelompok siswa yang sedang duduk menanti makananya. Yah 10 menit yang lalu bel istirahat sudah berbunyi, dan pelajaran berikutnya mereka kosong karena guru akan mengadakan rapat dadakan.
"Bagaimana Sya, apa kamu senang tinggal bersama ketiga lelaki itu?" tanya gadis itu pada Esya
"Apa kau sudah bertemu dengan seluruh keluarga besar vondrienty?" Tanya gadis lainnya
"Aku jadi ingin main ke mansion mereka, ku dengar mereka memiliki kolam ikan yang begitu indah khusus untuk dia" ucap gadis yang satunya lagi pada Esya.
"Aku nyaman, dan mereka sangat baik padaku. Mengenai kolam ikan aku baru mengetahuinya" ucap Esya yang sekaligus menjawab semua pertanyaan serta ungkapan ketiga temannya itu.
Diseberang dinding Aurel yang sudah memanas karena telah mendengar pembicaraan keempat gadis tadi. Dengan mencengkram tangannya erat dan Tanpa pamit pergi dari sana meninggalkan kedua temannya itu yang tidak kalah kaget dengan apa yang mereka dengar tadi.
Aurel terus saja berjalan, mengabaikan panggilan kedua temannya itu, dan mengabaikan tatapan heran dari siswa seantero sekolah. Ia berjalan memasuki lift, menekan tombol yang bertuliskan angka lima. Yah sekarang ia hendak ingin pergi ke ruftop sekolah.
"Arght...Awas kau gadis miskin" teriaknya ketika sudah tiba di atas ruftop.
Dari jauh Rebecca dan Clara mulai menatap sahabatnya itu, lalu perlahan merekapun berjalan menghampiri Aurel, yang masih berkoar-koar tidak jelas. Dengan bersamaan mereka menyentuh pundak Aurel, lalu memberikan sapuan hangat padanya. Agar Aurel tenang dan tidak melakukan hal bodoh lagi.
Meskipun Rebecca dan Clara merupakan gadis yang suka membully dan merendahkan kaum lain, namun mereka juga memiliki rasa respect terhadap sahabatnya karena bagi mereka sahabat adalah sesuatu yang paling sulit untuk didapatkan ketimbang mencoba mendekati ketiga pangeran sekolah itu.
"Bagaimana kalau kita memberi hadiah pada gadis miskin itu"
" Hadiah, maksudnya?"
"Kita siapkan kejutan yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya"
__ADS_1
"Ah, aku lebih ingin kalau dia mati"
Dengan senyum sumringah merekapun pergi meninggalkan ruftop itu, urusan kejutan untuk Esya akan mereka bicarakan lagi nanti. Karena, sekarang mereka akan melanjutkan pengintaian yang tadinya sudah tertunda.