
Pagi harinya sesuai dengan rencana pengantin baru, Esya dan Evan akan pergi liburan berdua ke beberapa tempat di dunia. koper dan segala keperluan mereka sudah diatur, pesawat mereka akan berangkat tiga jam lagi.
Esya dan Evan sedang berada di kamar, Esya memandang keluar jendela kamar, angin yang berhembus menerpa wajah cantiknya. Evan berdiri dari kasur dan mendekat kearah Esya, memeluk pinggang wanitanya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu Esya.
"Apa kau bahagia sayang?"
"Tentu saja, aku hanya tidak mengangkah akan berpisah lagi dengan mereka."
"Kita masih bisa tinggal disini jika kau mau."
"Tidak, bukankah seorang istri harus berada di sisi suaminya? lagipula kita masih bisa berkunjung kesini lain kali."
"Iya kau benar, mungkin saat itu terjadi rumah ini akan di kelilingi oleh tawa anak-anak lagi."
"Aku tidak sabar menanti hari itu datang."
Dua jam berlalu, Evan dan Esya membawa koper mereka dan menuruni anak tangga, Bunda, Ayah, serta keluarga Esya yang lain menunggu mereka di ruang keluarga. Zee dan Ginta menghampiri Esya dan memeluknya.
"Tetap kabarin kita yah, Sya."
"Pasti suasana akan beda banget kalau kamu gak disini, Sya. Semakin sepi aja, Eve di luar kota, Melsha sudah di luar negeri dan sekarang kamu."
"Aku pasti akan kabarin kalian kok. Jangan Khawatirkan aku dan fokuslah pada kesehatan kalian berdua. aku juga tidak sabar ingin melihat keponakan ku," ucap Esya lalu memberi kedipan.
__ADS_1
"Tentu saja, aku juga berharap kau segera menyusul."
"Haha, Amin."
Esya melirik kearah ketiga kakaknya, ia lalu tersenyum dan menghampiri keluarganya, pelukan sayang Esya berikan pada keluarganya satu per satu. Setelah selesai, mereka berpamitan untuk segera menuju bandara. Di sana sudah ada jet pribadi yang menunggu mereka.
"Bersenang-senanglah sayang, percayakan segalanya pada mereka," ucap Bunda Melan, lalu melirik kearah Kedua putra kembarnya.
"Kenapa memandangi kami seperti itu,Bun?"
"Tidak, bukankah setelah ini kalian harus ke rumah sakit untuk mengecek kandungan?"
"Tentu Bun, setelah Esya berangkat kami akan segera kesana. iyakan, sayang?"
Keluarga Esya melambaikan tangan mereka ketika mobil yang di tumpangi Evan dan Esya mulai melaju meninggalkan pekarangan mansion. Ini adalah waktu yang sudah mereka atur sedemikian rupa. Keduanya menolak untuk ditemani ke bandara.
Tujuan pertama pengantin baru ini adalah kota Paris yang merupakan salah satu tempat rekomendasi untuk bulan madu. Jarak antara Los angeles dan Paris kira-kira 9.096 km, dengan kecepatan penerbangan 900 km /jam dan paling cepat 10 jam 6 menit untuk perjalanannya jika tidak ada halangan.
Setibanya mereka di bandara, Esya dan Evan segera menuju ke Jet pribadi mereka. Banyak mata yang tertuju pada mereka, keduanya mengabaikan tatapan itu dan segera menaiki mesin terbang tersebut.
"Tidurlah jika kau mengantuk, aku akan membangunkan dirimu kalau sudah tiba," ucap Evan.
Esya mengucek matanya, lalu memeluk lengan Evan. "Jangan pergi, temani aku disini."
__ADS_1
.
"Baiklah, aku tidak akan pergi. sekarang tidurlah, Sayang."
"Baik, Hoam...."
Perlahan Esya memejamkan matanya, ia tertidur di bahu Evan dengan masih memeluk dan menggenggam pergelangan tangan prianya itu. Tangan Evan yang bebas merambah rambut Esya dengan lembut.
Evan tersenyum, pikirannya kembali mengingat pertemuan pertama mereka. Saat itu matahari sudah mau tenggelam, Esya duduk di sebuah kursi, binar mata Esya saat itu membuat Evan pertama kali takjub. Bagi Evan, mata Esya sangatlah cantik, selain itu senyum wanitanya kala itu tidak pernah berubah sampai sekarang.
Yang tidak disangkah lagi, sejak pertemuan pertama mereka itu Evan tidak berhenti mencari informasi tentang Esya. Sampai dia sendiri masuk kedalam kelas yang sama dengan wanitanya.
"Mulai sekarang aku yang akan bertanggung jawab buat jagain kamu, Sya."
Ring...Ring....Ring...
Bunyi nada pesan pada ponsel Evan. Setelah mengambil ponselnya, di layar tertera nama Tiger, seorang kawan lama Evan yang sekarang sudah menetap di Kota Paris. Untuk Hotel yang akan mereka tempati nanti sudah di persiapkan oleh Tiger dan karyawan Hotel tempat mereka akan menginap nantinya.
Didalam pesan tersebut, Tiger mengatakan jika segalanya sudah hampir selesai, Hotel sudah semnetara waktu mereka hias, tidak terkecuali kamar yang akan Esya dan Evan tempati nantinya beberapa orang suruhan Tiger juga akan menunggu mereka di bandara nanti.
10 jam berlalu.
Setelah tiba di kota Paris Evan dan Esya segera menuju ke hotel Tiger. Setibanya mereka di Hotel, para karyawan dan pelayan di Hotel yang bertugas segera memberi hormat pada mereka, sebagai tamu istimewa dari sang pemilik Hotel, Tuan Yan Tiger.
__ADS_1