QUEENESYA

QUEENESYA
Episode 100 Pengejaran


__ADS_3

Esya dan teman-temannya masih berada di coffee cafe sekarang mereka sedang menikmati makanan yang telah mereka pesan tadi.  Gion yang sejak tadi mengamati adiknya secara diam-diam mulai sedikit bosan apa lagi karena ia pergi tanpa mengajak Ken maupun kembarannya itu. Tanpa ia rencanakan keputusannya untuk mengikuti Esya adalah pilihan yang paling tepat.


Dari jarak yang sedikit jauh darinya namun masih berada di ruang yang sama dengan Esya, fokus Gion teralih pada seseorang yang memakai jubah hitam. Orang itu juga terus melihat ke arah adiknya meski kadang ia menunduk atau meminum secangkir Kopi pesanannya. Sadar ia sedang di amati, orang itupun langsung berdiri dan berlari keluar dari Cafe.


Orang itu menaiki sebuah mobil, Gion tak tinggal diam. Ia langsung mengambil kunci motornya dan bergegas mengejar orang tadi. Esya dan kawan-kawannya sedikit tercengang dengan kejadian itu, mereka melihat siluet seperti Gion keluar dari cafe dengan terburu-buru.


"Apa yang tadi itu kak Gio?" tanya Esya


"Hmn, sepertinya bukan. Mana mungkin Gion keluar menggunakan Motor"


"Tapi kok, perasaan aku gak enak yah"


"Tenang Sya, kak Gion pasti ada di mansion"


"Semoga saja"


Merekapun melanjutkan makannya, jujur saja sekarang ini entah mengapa perasaan Esya memang tidaklah enak. Ia tahu jika orang yang keluar tadi adalah kakaknya, tadinya ia hanya ingin memastikan sedikit makanya ia bertanya tapi sepertinya teman-temannya tidak menyadari keberadaan Gion sejak tadi.


Kembali ke sisi Gion, lelaki itu sudah mempercepat laju kendaraannya melebihi  kecepatan rata-rata. Mobil putih didepannya ini juga melaju cepat. Gion berusaha semaksimal mungkin untuk tidak tertinggal jauh. Entah apa yang terjadi sekarang ini bahkan laju motornya juga tidak bisa menyamai laju mobil di hadapannya.


Sepertinya karena sudah lama juga Gion tidak menggunakannya, ia lebih sering menggunakan Mobilnya untuk bepergian. Siang tadi ketika ia ingin menyusul Esya kunci mobilnya entah berada di mana dan hanya ada kunci motor di atas meja belajarnya. Mau tidak maunya Gion harus menggunakan motor untuk hari ini. 


Gion terus mengejar, di tengah perjalanan ia di hadang oleh beberapa orang yang tak ia kenali. Gion merogoh sakunya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi kontak siapapun yang ia temukan lebih dulu.


"Halo, tolong kirim bantuan ke sekitar little Tokyo, bagi dalam beberapa kelompok, dan tempatkan mereka di beberapa titik"


"...."


"Aku mengejar Bima tapi sekarang aku sedang ada masalah. Ada beberapa orang yang menghalangi jalanku"


"...."


"Baik, jangan sampai Esya dan yang lainnya tahu. Mereka sedang berada di Coffee Cafe"


"...."


Setelah selesai menelpon sekarang perhatian Gion kembali pada beberapa orang yang sedang menghalangi jalannya. Ia harus bermain-main dengan orang-orang ini sebentar sampai bantuan dari markas tiba.


Jumlah mereka hanya ada 20 orang, sedikit berat untuknya meskipun Fokus utamanya sekarang adalah mengejar Bima dan menyelesaikan kesalahpahaman lelaki itu. Gion mulai menangkis serangan dari kedua orang yang lebih dulu menyerangnya. Ia menendang, menangkis dan memberi pukulan pada tubuh lawannya.

__ADS_1


"Sial, bisa kalian berhenti dan membiarkan aku pergi?"


"Tentu saja....Tidak, kami sudah mendapatkan perintah untuk menghalangi jalanmu"


"Baiklah, kalau begitu, selamat bersenang-senang"


Gion menjentikkan jarinya, lalu dari jarak yang jauh ada beberapa motor hitam yang datang dan mengelilingi mereka semua. Tidak lama, Ken juga muncul bersama dengan Dion.


"Cepat pergi, tuan muda. Biar kami yang mengurus sisanya"


"Baik, terima kasih Z"


"Astaga kau kelihatan kurang baik, sobat"


"Diam lah, Ken. Cepat menyetir jangan sampai kehilangan dia"


"Tenanglah, aku sudah meminta beberapa orang mengawasi dari udara, seharusnya dia tidak bisa kabur lagi"


"Semoga saja, kita tidak tahu trik apa lagi yang akan di mainkan olehnya nanti"


"Apa kalian sudah memberitahu hal ini pada Angga dan Evan?"


Orang yang di hubungi oleh Gio tadi adalah Z. Salah satu anggota di markas milik uncle Andreas. Setelah mendapatkan telpon dari Gion, dengan cepat Z langsung saja mengabari hal ini pada Ken ketua mereka saat ini, karena ayahnya sedang ada urusan di luar negeri.


"Apa kau benar-benar baik Gio, wajahmu sudah babak belur seperti itu"


"Aku baik-baik saja. Yang terpenting sekarang ini adalah menemukan Alvian secepatnya"


"Kau benar, tapi kau juga harus memperhatikan lukamu itu. Bunda pasti akan marah besar nanti"


"Ini hanya luka kecil, Dio. Tidak akan membuat aku menginap di Rumah sakit"


"Kau yakin!?"


"Tentu saja....tidak" 


Dion menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan kembarannya ini. Padahal sudah terluka seperti itu tapi masih saja mau bercanda. Salahnya juga pergi sendiri tadi, ia sudah berkali-kali bilang jika ada apa-apa harus di bicarakan bersama agar tidak terjadi hal seperti ini.


Tretttt....trettt....trettt....

__ADS_1


Getar ponsel milik Dion, ia mengambil ponsel yang berada di saku celananya, lalu melihat layar ponselnya. Tertulis nama Evan disana, dengan cepat ia menekan tombol hijau itu.


"Bagaimaan?"


"..."


"Ok, tunggu sana. Kami akan segera tiba"


"...."


"Baiklah, tetap waspada"


Tut...


Dion mematikan panggilan telpon tadi,  lalu memberi tahu pada Ken yang sedang menyetir untuk segera menuju ke dekat bukit karena tadi Evan mengatakan jika mereka telah menemukan mobil putih tadi sedang terparkir dipinggir jalan kearah ke arah bukit Hollywood. Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di titik yang di katakan oleh Evan tadi. Mereka bertiga turun dan menghampiri Evan dan Angga.


"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukannya?"


"Masih belum, titiknya berhenti disini. Sudah tidak ada jalan lain lagi".


"Sial, trik apa yang dia gunakan kali ini?" kesal Gion


"Kau terlihat buruk kak" ucap Evan sembari melirik ke arah Gion


"Ck, siapa yang mau jadi kakakmu"


"Mobilnya berhenti di pinggir jalan, tidak mungkin dia pergi ke arah gubuk dimana Esya di sekap dulukan? Tempat itu sangat mudah untuk di temukan"ucap Angga.


"Benar-benar.... Lain kali aku tidak akan membiarkan dia lolos lagi"


"Hah, sebaiknya kita pulang dulu. Lukamu harus di obati juga Gio, aku takut jika princess melihatnya dia akan menangis lagi".


"Astaga, kau benar. Aku tidak masalah kena Omelan dari bunda asal tidak membuat Princessku sedih"


Gion  bergegas menuju ke mobil mereka, tak lupa ia menarik tangan Dion dan Ken agar mereka juga ikut bersamanya. Evan memandangi calon kakak iparnya dari belakang. Meskipun ia sering mencari masalah dengan Gion tapi, sejujurnya dalam diri Evan yang paling dalam ia sangat menghormati Gion sebagai panutannya.


Meskipun sifat Gion sangat berbeda dengan Dion kembarannya, terkadang dalam situasi yang serius Gion akan berubah seperti pribadi uang berbeda, ia akan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Namun jika berada di situasi yang lain, lelaki itu akan sering membuat lelucon yang garing untuk mencairkan suasana.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2