
Ketika Shaina mau ke kamar, ketukan pintu membuatnya berputar arah, dan membukakan pintu untuk melihat tamu yang datang sepagi ini.
"Pagi nyonya Helena" Harris berdiri di balik pintu, "saya mau ngambil motor semalam" lanjutnya.
"Oh. Silahkan masuk, saya memberitahu Joon dulu ya?" kata Shaina dengan sopan.
Harris masuk dan duduk di sofa sembari menunggu Joon, tapi matanya tidak lepas dari wanita itu yang berjalan ke dapur.
"Temanmu semalam datang untuk mengambil motor dan sedang menunggu diluar" kata Shaina pada Joon yang masih menikmati sarapannya.
"CK, hanya untuk motor jeleknya ia datang sepagi ini, ganggu orang aja!" ketus Joon lalu beranjak dari duduknya untuk menemui sahabatnya.
Joon mengambil kunci motor di laci dan memberikan pada Harris. Anak-anak juga sudah selesai sarapannya dan mengambil tas mereka.
"Kita berangkat bareng yuk!" Ajak Harris.
"Yang benar saja, kau mau menyuruhku pulang kaki apa?" Ketus Joon, "Lagian aku juga harus mengantarkan mereka sekolah" ujar Joon.
Harris terkekeh, dia menghampiri Alice dan Alfan seraya berseru, "Waah! manis sekali kalian ini, pantes aja Paman Joon menyayangi kalian", Harris cengengesan melirik Joon.
Mendengar pujian Harris membuat Alice dan Alfan berpura-pura senang sembari mengalihkan perhatian pada Joon dimana yang sebenarnya mereka cukup kesal dengan Joon. Lalu diam-diam perhatian Harris terarah pada Shaina yang sibuk merapikan rambut Alice, namun tingkah Harris tertangkap oleh Joon dan ia segera melepaskan jaketnya untuk di pakainya pada Shaina.
"Udara pagi terlalu dingin untukmu, kau harus tetap hangat demi kebaikanmu" ujar Joon.
Sontak Shaina tersentak kaget, dengan Joon memakaikannya jaket juga menarik resleting hingga ke lehernya agar Shaina benar-benar terlindung dari udara dingin apalagi jaket Joon terlihat kepanjangan di tubuh Shaina membuatnya terlihat sangat seksi karena wajah tirusnya semakin menonjol.
"Aku tidak kedinginan" timpal Shaina.
Joon mendekat dan berbisik, "pakaianmu agak transparan, kau memancing Harris menatapmu".
"Apa?!" ucap Shaina.
Ia langsung mendekap tubuhnya dengan tangannya, baru sadar alasan Harris yang terus memperhatikannya dari tadi karena piyama tidurnya, akibat semalam Shaina terlalu mengantuk dan tidak sempat memperhatikan bahan pakaian yang ia kenakan.
Secepatnya Shaina menutup pintu dan menguncinya dari dalam setelah Joon dan anak-anak menuju ke garasi bersama Harris, tapi suara ketukan pintu kembali terdengar saat shaini di dapur hendak makan sarapannya, sebelum membuka pintu, ia menyempatkan untuk mengintip dari celah pintu dan tampak Joon yang berada dibalik pintu.
"Ada apa lagi?" Tanya Shaina sembari membuka pintu dan matanya berkelana mencari sosok Harris.
"Aku mau ngambil ponselku di kamar" kata Joon yang berlalu pergi ke kamarnya.
Joon bergegas ke kamarnya dan tidak lama kemudian ia keluar lagi, sedangkan Shaina berdiri di depan pintu untuk jaga-jaga kalau tidak ada yang masuk, tak lama kemudian Joon kembali.
"Tunggu" Shaina membuka jaket yang dikenakannya, "ini jaket mu" Shaina mengembalikan jaket itu pada Joon.
__ADS_1
Joon memalingkan muka dari Shaina.
"Jangan berpura-pura, kau sudah melihatnya dari tadi" Shaina melempar jaket ke wajah Joon.
Dibalik jaket yang menutupi wajahnya, Joon tersungging,
"telfon aku jika butuh apa-apa" ujar Joon yang berdiri di depan pintu.
"Aku tidak butuh apa-apa daripada aku kecewa kedua kalinya" balas Shaina.
Shaina kembali menutup pintu dan kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya.
COFFEE ROMANTIC, Joon berdiri di balik meja pembuatan kopi, dengan kesibukan yang sama seperti sebelumnya, menghaluskan kopi hingga jadi bubuk kopi menggunakan alat khusus, menambah gula sesuai selera pelanggan lalu menuangkan air panas dan menambah bahan-bahan lainnya.
"Joon, ngomong-ngomong kakak iparmu seksi juga ya meski sudah punya anak" celetuk Harris.
Seketika Joon berhenti dari aktivitasnya dan menoleh pada teman di sebelahnya dengan pandangan terkejut.
"Kalau aku jadi kamu, aku betah di rumah saja sambil menikmati pemandangan seindah itu setiap harinya," Harris menuang bubuk kopi ke dalam gelas, "ku rasa jika kau aduk sedikit dia juga tidak kan apa-apa" sambungnya dengan menyelipkan maksud lain dari perkataannya.
Joon melirik Harris yang sibuk menyeduh kopi, "Apa kau pernah tersiram air panas?" Joon memegang teko berisi air panas.
"Aku benar-benar akan menyirammu!!" geram Joon.
Dari suara Joon yang lantang itu terdengar oleh pengunjung dan teman-temannya yang lain sehingga ia menarik perhatian mereka semua, tapi Harris secepatnya mengalihkan suasana dengan memberitahu jika mereka sedang bercanda.
Akibat ucapan Harris, kejadian yang dipeluk Shaina saat berboncengan semalam kembali terngiang-ngiang di pikiran Joon, terlebih lagi saat bangun tidur, ia sudah disuguhi pemandangan yang indah, lekukan tubuh Helena di balik pakaiannya itu terlihat sangat menggoda dan membangkitkan gairah seksualnya Joon selaku laki-laki normal pada umumnya.
Di rumah...
Didepan cermin rias, Shaina duduk memangku wajahnya di meja sambil meringis, menatap wajah Helena di depannya yang dipantulkan cermin. Perasaannya tidak menentu, geli-geli malu jika mengingatkan bagaimana tatapan Joon, saat ia terus berlenggak-lenggok tanpa sadar, hampir seluruh bagian tubuhnya telah di lihat Joon, walau bukan tubuhnya tetap saja itu sangat memalukan.
Setelah mandi, ia mulai memilah-milah pakaian di lemari yang pantas ia kenakan dan yang tidak jika di depan orang termasuk Joon. Shaina sangat bersyukur pakaian Helena banyak yang tebal dan bisa di pakai di luar rumah dan ada juga beberapa yang terlalu mini dan seksi jika dipakai.
Sebenarnya Shaina kurang suka dengan rambut pendek seperti yang dimiliki Helena tapi itu tidak menyurutkan kekagumannya pada apa yang dimiliki Helena.
"Mulai sekarang aku akan menjadi Mamamu, oh bayi kecilku" kata Shaina sembari mengelus perutnya yang duduk di sofa.
Shaina ke dapur menyiapkan makan siang, sebentar lagi Alice dan Alfan akan pulang sekolah, beberapa hari bersama mereka, ia sudah hafal jadwal semua orang dari anak-anak pulang sekolah sampai Joon pulang kerja jadi ia tahu kapan beristirahat dan kapan harus menyiapkan sesuatu untuk mereka. Di sela-sela kegiatan memasaknya, Shaina sempat-sempatnya mengemil buah mangga muda yang telah diirisnya dan di tempatkan dalam wadah.
Setelah menyiapkan makan siang, ia juga telah merapikan tempat tidur, mencuci pakaian mereka, tidak lupa pula melakukan bersih-bersih rumah Joon seadanya sebelum ia lelah, apalagi Joon orang yang suka kebersihan dan kerapian. Shaina keluar rumah melihat-lihat disekitar kompleks perumahan Joon yang terbilang kompleks perumahan yang bersih dan indah, rumah-rumah di sekitar juga cukup bagus-bagus dengan gaya berbeda.
__ADS_1
Meski perumahan disini jarang dipasang pagar pembatas tapi setiap orang bisa hidup dengan aman dan nyaman, karena mereka semua menjaga privasi masing-masing jadi tidak khawatir soal maling apalagi banyak posko-posko keamanan yang menggunakan cctv untuk melayani dan menjaga keamanan tempat tersebut. Namun suasana sepi tetap saja menyelebungi tempat itu karena di siang hari orang-orang sibuk bekerja dan anak-anak juga jarang bermain di luar rumah.
Dari kejauhan sudah terlihat bus bewarna kuning dan berhenti di depan rumah Joon, Shaina tersenyum pada dua anak yang turun dari bus itu dengan seragam sekolah mereka.
"Mama?" gumam Alice sambil melirik saudaranya di sebelahnya.
Mereka menghampiri Shaina yang sudah berdiri dari duduknya di bangku depan rumah.
"Kenapa Mama di luar?" Tanya Alfan.
"Menunggu kalian, apa enggak boleh?" Balas Shaina.
"Tapi Ma, di luar panas" tambah Alfan.
"Kalian pikir Mama ini takut cahaya matahari, apa?" Ketus Shaina yang tersenyum.
Alfan dan Alice tersenyum lebar pada Shaina sambil menggeleng-gelengkan kepala mereka, lalu masuk kedalam rumah bersama Shaina.
"Setelah ganti pakaian langsung mandi ya" kata Shaina.
"Baik Ma" serentak sahut mereka berdua.
Usai jam kerja, Joon langsung pulang ke rumah, tapi saat membuka pintu rumahnya, ia terkejut melihat si kembar bermanja-manja dengan Shaina, bahkan mereka tidur di pangkuannya sembari membelai mereka dan menciumi dua anak itu.
Pemandangan di meja makan juga tidak kalah menariknya, Shaina tampak lebih tenang dan terus tersenyum sambil bercengkrama dengan dua anak Helena itu.
Joon terus mengamati perempuan itu bahkan di saat ia membantu Shaina mencuci piring.
Dilihat dari sudut manapun Helena memang sangat cantik apalagi dengan senyumannya tapi setiap kali Joon memperhatikan perempuan itu tetap saja dia terlihat seperti orang asing, Helena yang sekarang memiliki sudut mata yang berbeda.
Setelah beres-beres di dapur, mereka duduk beristirahat di ruang tamu, Joon juga ikut menghampirinya.
"Helena, kenapa hari ini kamu terlihat sangat bahagia?" Joon melirik Shaina yang duduk di sofa dengan setengah berbaring di sebelah Joon.
Shaina tersenyum pada Joon, "Kalaupun aku katakan kau anggap aku gila" ketusnya.
"Katakan saja, aku tidak akan membentakmu lagi" kata Joon yang masih menyibukkan diri dengan permainan gamenya dan kali ini volume ponselnya lebih kecil.
"Aku jatuh cinta" ucap Shaina.
Joon tertegun dan tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya tapi beruntung ponselnya tidak rusak karena ada karpet yang di lantai, anak-anak juga sama terkejutnya tapi mereka lebih mengarah pada rasa takut ditinggal Helena.
bersambung....
__ADS_1