Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Di pecat


__ADS_3

Lelah, itulah satu-satunya yang dirasakan Shaina saat ini, pegal-pegal menjalar sekujur tubuhnya, membuatnya enggan untuk beranjak dari ranjang yang berantakan itu, matanya sembab akibat menangis semalaman.


Ketika terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Shaina cepat-cepat mengapit selimut dan mencengkeramnya dengan kuat, berpura-pura memejamkan matanya.


Joon keluar dari kamar mandi, berjalan ke sisi tempat tidur yang masih di huni oleh Shaina, ia mengutip robekan baju yang tergeletak begitu saja di lantai kamar lalu di taruhnya di atas meja, setelah itu ia berbalik arah menuju lemari pakaiannya dan kembali mendekati tempat tidur.


Sebuah kaos miliknya di letakkan di atas ranjang sebagai pengganti kaos yang dirobeknya semalam, kemudian ia mendekat pada Shaina, menarik selimut yang lain untuk di tutupi ke tubuh Shaina.


"Maaf..." Bisiknya pada Shaina.


Aroma mint yang dingin menyapu telinga Shaina, tetesan air dari rambut Joon yang masih basah menetes di pipi Shaina dengan mata yang masih terpejam serta tidak merespon kalimat Joon, kecuali suara isakannya yang menyentakkan tubuhnya.


Tersirat ekspresi sendu dan cemas dari raut wajah Joon saat melihat perempuan itu terisak, Joon keluar untuk memberi ruang bagi Shaina, yang ia tahu Shaina sekarang hanya berpura-pura masih tertidur.


Selepas Joon pergi, Shaina membuka matanya dengan air mata membasahi pipinya, ia masih tidak percaya dengan tindakan Joon semalam yang semarah itu hanya dikarenakan ia dekat dengan Darrell.


Masih terlintas jelas di ingatan Shaina, bagaimana garangnya Joon yang memaksanya untuk bercinta dengannya, tapi ketika hasrat yang terbelenggu itu dilepaskan, Shaina yang tidak bisa melawannya, Joon mengurungkan niatnya dan melepaskan Shaina dari cengkramanya, sampai-sampai ia tidak tidur di kamar dan malah tidur di ruang tamu.


Akan cintanya mengalahkan kemarahannya membuat Joon tidak sampai hati merenggut kepercayaan perempuan yang cintanya itu atas dirinya.


Jikapun Joon tidak bisa mengendalikan dirinya semalam maka ia tidak hanya menyakiti Shaina saja tapi Elif, bayi yang selalu mereka tunggu kehadirannya selama ini.



Penyesalan demi penyesalan terus menghantui Joon, tangannya mengepal kuat seakan ingin menyakiti dirinya sendiri. Namun, letupan minyak goreng di kompor membuyarkan lamunannya yang mengharuskan Joon berhenti tenggelam dalam pikirannya tapi ia harus kembali menatap dunia nyata, kembali sibuk menyiapkan sarapan sebelum yang lain bangun.


Tanpa di duganya Shaina masuk ke dapur, mata sembabnya yang paling menarik perhatian Joon.


Sikap dingin Shaina yang mencuekin Joon membuatnya tidak nyaman, karena biasanya celoteh Shaina selalu berkumandang di telinganya.


"Maaf" kalimat yang sama kembali keluar dari mulut pemuda berparas tampan itu meski apron pink melekat padanya.


Shaina beralih ke ke lemari es untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukannya namun tidak sekalipun ia menoleh pada Joon, bahkan seakan dianggapnya tiada bersamanya.


"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak memperlakukanmu seperti itu" Joon kembali mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hatinya.


Shaina menoleh padanya sebentar, "untuk apa minta maaf? Kau tidak salah, memang benar aku ini pelacur yang bisa tidur dengan lelaki manapun seperti denganmu, bukankah begitu?" ucap Shaina.


"Aku benar-benar minta maaf, kau tidak seperti itu, aku khilaf karena terlalu emosi pada Darrell, dia itu baj*ngan yang selalu merenggut apapun yang ku miliki, orang tuaku, posisiku, rumahku, sekarang anak-anak dan kau"


PLAKKK!!!


Tamparan keras dilayangkan Shaina di pipi Joon yang membuat Joon terdiam mematung.

__ADS_1


"Kau anggap aku apa? Kau anggap aku barang atau mainan yang bisa berpindah tangan pada siapapun? Kau selalu mengatakan mencintaiku dan aku tidak mengatakan hal yang sama sepertimu, tapi pernahkah kau berpikir? kenapa aku selalu melihatmu? berbicara hal baik tentangmu? atau melakukan apapun itu denganmu?" Papar Shaina menatap tajam pada Joon.


"Itu karena aku juga mencintaimu! Aku selalu ingin bersamamu meski kau tidak di sampingmu, cinta kita berbeda, kau suka dengan kata-kata cinta seperti orang di luar sana sedangkan aku menginginkan tindakan dan kepastian, aku tidak butuh janji-janji manis!" Shaina mengungkapkan perasaannya dengan terisak, sesekali menyeka air matanya.


"Shaina... Aku tidak tahu jika kau..." Gumam Joon.


"Aku telah salah menilai mu, aku menyesal mencintaimu! Setelah memiliki ku kau menjatuhkan ku, aku jadi ragu kita bisa bersama nantinya, ku harap nona Helena segera kembali agar aku bisa segera menghilang darimu dan melupakanmu". Pungkas Shaina, ia pergi dari dapur. Meninggalkan Joon yang mematung.


Di depan meja makan suasana hening sangat terasa, tidak ada yang memulai percakapan baik Shaina maupun Joon, mereka menikmati sarapan dengan saling mendiamkan, bahkan Shaina yang biasanya melayani Joon tidak lagi terlihat.


Alfan dan Alice pun menolak pergi ke sekolah barengan dengan Joon lagi, mereka takut jika Joon akan menyakiti mereka, karena semalam mereka mendengar percakapan Shaina dengan Joon, mereka juga mengetahui jika Shaina terus menangis sepanjang malam hingga mereka juga ikut menangis.


Ketika Joon berusaha membujuk anak-anak pergi dengannya di waktu itu juga Darrell muncul, seperti biasanya. untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah, dan Joon kembali di tinggalkan bahkan kali ini Shaina juga mencuekinya.


Diam-diam Darel tersenyum puas melihat Shaina tidak lagi terlihat ramah dengan Joon, mengingat kejadian semalam Joon hampir menghajar dirinya di depan Shaina.



PRANGGG!!!


Secangkir kopi terlepas dari tangan Joon dan jatuh ke lantai, cepat-cepat Joon membersihkannya agar tidak membahayakan yang lain dengan pecahan cangkir tersebut, selesai membersihkan lantai, Joon bangkit.


BRUUKKK!


Dan dari akibat jatuh alat tersebut juga telah mengundang semua pasang mata untuk membidiknya, ke asal suara detaman nyaring tersebut. Tidak terkecuali sang pemilik kafe.


"Apa-apaan ini Joon? Kau merusak barang-barang ku!" Sembur bos nya ketika melihat Joon sedang mengutip dari lantai akan alat tersebut.


"Maaf bos, aku tidak sengaja melakukannya" ucap Joon.


"Maaf-maaf katamu, aku perhatiin sudah seminggu kerjamu cuma rusakin barang-barang ku!" Lelaki itu berkacak pinggang, tidak peduli orang-orang yang mulai memperhatikannya memarahi anak buahnya di depan orang banyak.


"Aku tidak-" ucap Joon


"Tidak apa? Sudah masuk terlambat, kerjanya enggak becus kalo enggak mau kerja, bilaNGG!"


"Bukan begitu" Joon masih cengengesan untuk menyamarkan perasaannya yang tidak nyaman di lihatin oleh yang lain.


"Kamu pulang saNA!" Titah bos-nya.


Joon mengerjap kaget, "pulang?" Tanyanya.


"Iya pulang, pulang sana enggak usah kerja lagi, aku tidak butuh pengacau di tempatku!!" Lanjut bos nya.

__ADS_1


Joon tersungging lalu mendengus kesal pada bos-nya, sambil menggaruk-garuk alisnya, seakan tidak percaya dengan apa yang baru ia dengan, tapi ia sadar itu bukan lelucon, ia benar-benar sedang di marahi di depan orang banyak.


Joon segera membuka apron yang melamar di tubuhnya dan di hempasnya ke muka pemilik kafe, "pengacau?" Joon tersungging, "Ambil ini! Kau kira siapa dirimu yang bisa membentak ku?" Lontar Joon yang mengagetkan semua orang.


"Joon, hentikan ini" kata Harris, mencoba menenangkannya.


"Hentikan? Baik. Akan ku hentikan semuanya! Aku juga sudah muak selalu hidup di bawah kaki orang-orang seperti ini!!" Joon tidak peduli lagi dengan kata-kata yang meniliknya, dari teman hingga pelanggan.


"Joon... Tolong tenanglah" Harris memegang Joon tapi tangan di tepisnya dengan cepat.


"Kau tidak perlu repot-repot mengusir ku! Aku sendiri keluar dari tempat terkutuk ini!!" Pungkas Joon.


Saat Joon hendak keluar dari kafe, ayah dari pemilik kafe menghalangi jalannya.


"Tenangkan dirimu" ucap pak Kosim pada Joon.


"Tenang? Kenapa semua orang selalu menyuruhku ini-itu? Menyalahkan ku seolah-olah aku yang bersalah! Muak aku hidup di bawah kaki seperti ini, jadi kembalikanlah hidupku!! Ungkap Joon.


Pak Kosim tersenyum, "aku tidak bisa memenuhi keinginan itu karena cuma anda sendiri yang harus melakukannya, aku percaya Anda bisa melakukannya" lelaki paruh baya itu tersenyum bahagia melihat Joon.


Joon berdecak kesal dengan satu tangan di pinggangnya, matanya teralihkan pada berbagai arah yang ia sendiri tidak tahu apa sedang dilihatnya.


"Pergi dan pikirkan itu, pintu kafe ini selalu terbuka untuk Anda" ujar pria itu.


Anaknya pak Kosim ikut menghampiri mereka, "kenapa papi bicara seperti itu pada si pengacau ini?" Tanya bos-nya Joon.


Pak Kosim tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia malah tersenyum melihat Joon yang bingung sendiri, "pergilah, tidak ada waktu lagi untuk menunggu, jadilah diri Anda sesungguhnya" sambung lelaki tua itu.


*****



HAHAHA....!


Di tempat berbeda tawa Darrell menggema diantara sekian banyak orang yang hadir di acara khusus itu, orang-orang berpakaian rapi dengan wanita-wanitanya yang seksi dan selalu rela berjoget ria bahkan tidak segan-segan melakukan lebih dari itu bersama para lelaki di acara pesta yang khusus di sediakan untuk Darrell, orang yang paling mereka hormati.


"Ini baru yang di namai pesta.... hahaha...!" Lontar Darrell.


Dari kalangan artis, super model, anak pejabat ataupun kalangan atas lainnya ikut larut dalam suasana pesta yang meriah itu, dan gelas anggur dengan kualitas terbaik selalu setia menghiasi tangan-tangan mereka.


"Kau memang yang paling tampan sayang, sebentar lagi kau akan jadi satu-satunya pemilik Calista groups, CEO di perusahaan terbesar, aku mencintaimu sayang..." Bisik Gladys, tangannya mengelus-elus dada bidang Darrell dengan duduk di pangkuan lelaki kekar itu, sesekali berciuman mesra meski di depan semua orang.


Darel tersenyum tipis dan kembali mengalihkan perhatiannya pada sebotol anggur, "Joon, waktumu selesai" gumamnya yang diikuti senyum jahatnya.

__ADS_1


__ADS_2