Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Bergerak lagi


__ADS_3

"Cepatlah! Ini keluar semakin banyak, sampai-sampai aku sudah basah" kata Shaina yang terus memegang kran air.


Joon mengerjap kaget melihat mini dress berwarna putih yang dikenakan Shaina sudah basah kuyup hingga lekukan tubuhnya dan bra merahnya terekspos jelas, bahkan memperlihatkan perut buncitnya yang seakan tak tertutupi. Namun Shaina tidak menyadarinya karena ia terlalu fokus pada kran air yang bocor.


Joon menunduk ke bawah kran untuk mengencangkan baut dibawah agar dapat menghentikan kebocoran air tersebut, meski batinnya juga sedang bergulat yang memaksanya hanya bisa menelan salivanya saja.


Perlahan-lahan air yang mengalir berhenti dan Shaina juga melepaskan gagang kran, Joon juga meletakkan perkakas di atas meja wastafel seraya mengeringkan tangannya dengan handuk kecil.


"Wah! Hampir saja kita kebanjiran" seru Shaina dengan gaya agak kelaki-lakian serta senyuman yang tidak luput darinya.


Walaupun Shaina tampak lega tapi Joon masih terlihat sibuk dengan handuk kecil yang digunakan untuk mengeringkan tangannya, ia enggan untuk berbalik badan karena penampilan Shaina dibelakangnya sungguh menggugah birahinya.


"Maaf ya, aku merepotkanmu padahal kau baru pulang" ujar Shaina.


"Tidak apa-apa, aku keluar dulu, aku akan bersiap-siap kita akan pergi malam ini" Joon berbalik badan dengan menahan matanya dari melihat Shaina.


Shaina mengangguk dengan berkata, "iya, tapi aku keringkan lantai ini dulu karena licin seperti ini sangat berbahaya" tambah Shain.


Shaina bergeser untuk memberi jalan Joon keluar, tapi baru selangkah kakinya berpijak sudah membuatnya terpeleset karena lantai kamar mandi yang masih licin akibat genangan air. Beruntung Joon sempat melirik Shaina jadi dengan refleks Joon dapat menangkapnya untuk tidak terjatuh.


Jantung Shaina berdebar-debar hebat saking takutnya, ia terus berpegangan pada Joon dengan erat, hampir saja dirinya dan janinnya Helena dalam bahaya karena kurangnya hati-hati. Joon yang menangkap tubuh Shaina dari depan membuat mereka seperti dalam keadaan berpelukan, akibatnya jantung Joon juga berpacu hebat selaras dengan rangsangan seksualnya yang bergelora, terlebih lagi perut Shaina yang sudah tak berpakaian itu menyentuhnya.


Perlahan Joon melepaskan tangannya dari Shaina yang sudah tenang seraya berkata, "jangan bergerak dulu ini sangat berbahaya".


Joon menuruti dengan berdiam diri sambil berpegangan pada tembok kamar mandi, tampak Joon membuka lemari dibawah wastafel untuk mengambil handuk, dan ditutupnya tubuh Shaina tepatnya bagian dada dan perutnya.


"Bisa-bisanya kau nanti masuk angin" kata Joon.


Perkataan Joon tersebut menyadarkan Shaina tentang bajunya yang basah sehingga mengekspos tubuh membuatnya sangat malu karena tidak mengetahui sejak tadi telah melihat hampir bagian tubuhnya, dari itu semua perutnya yang paling menonjol. Shaina menjepit handuk itu dengan tangannya agar tidak merosot sambil membuang muka agar tidak sampai bertatap mata dengan Joon.


Perlahan-lahan Shaina melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi tapi sekali lagi ia hampir terjerembab karena lantai yang licin, Joon juga selalu mengawasi Shaina jadi sekali lagi keberuntungan memihak pada mereka, Joon kembali dapat menangkap shaini.


"Makanya hati-hati" kata Joon.


"Aku sudah berhati-hati! Lantainya saja yang licin!" Timpal Shaina dengan nada tinggi.


"Kakimu saja lemas dan tidak bisa berjalan" kata Joon.

__ADS_1


"Bagaimana aku tidak lemas? Kau kira hamil itu mudah, apa? Kau mana tahu karena kau laki-laki!" Ketus Shaina, "dan tolong jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!!" Tambah Shaina karena Joon memegang perutnya.


"Siapa yang ambil kesempatan dalam kesempitan? Jika aku lepas bisa-bisa kau jatuh lagi"


"Terserah!" Gumam Shaina sambil menapaki kakinya di lantai dengan sangat berhati-hati.


Tapi usahanya mendekati pintu sangat sulit selain lantainya yang licin, kakinya juga benar seperti yang dikatakan oleh Joon. Selama menjadi perempuan hamil, akhir-akhir ini Shaina mudah lelah dan otot-ototnya juga tidak sekuat dulu.


"Apa-apaan ini?" Timpal Shaina yang sudah dalam gendongan Joon.


"Diam saja! Menunggumu berjalan bisa tua aku disini" gerutu Joon yang membawa Shaina keluar dari kamar mandi.


Shaina berhanduk didudukkan di ranjang dengan wajah kecutnya dan tidak mau menatap Joon walau yang sebenarnya Shaina sedang menahan malu.


"Kau duduk saja biar aku yang mengeringkan lantai kamar mandi" ujar Joon.


Shaina hanya diam sambil membuang muka tapi tiba-tiba ia memekik, "Aaauuu!!".


Joon pun berbalik dan ternyata jam tangan Joon menyangkut di baju Shaina, Joon kembali membungkuk untuk melepaskan jamnya sambil menahan salivanya karena penampilan Shaina dapat menggoyahkan iman siapapun, apalagi jam tangannya menyangkut di bagian pinggang Shaina.


"Pindahkan handuk, aku tidak bisa melihat tanganku karena ketutupan" ketus Joon.


Joon mendongakkan wajahnya pada Shaina yang melihatnya dengan tatapan kecut, lalu melanjutkan melepaskan jamnya. Tapi karena Shaina yang menjepit lengannya ke badannya membuat Joon kesulitan.


"Singkirkan handuk ini!!" Joon menarik handuk yang menutupi perut Shaina.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Shaina.


"Kau ingin berlama-lama disini dan enggak jadi pergi atau menyingkirkan handuk???".


"Baik! Baik! Jangan marah-marah! Fokos saja ke jam mu!!" Timpal Shaina.


Shaina menyingkirkan handuk sehingga memperlihatkan perutnya dibalik baju basahnya. Tidak dipungkiri tangan Joon juga menyentuh perutnya yang menimbulkan sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuh Shaina namun ia juga merasa kenyamanan disetiap sentuhan itu. Sesekali mereka mencuri-curi pandang dengan perasaan masing-masing.


Shaina mengapit pahanya, dan salah satu tangannya menarik bajunya agar tidak terlalu menempel di pahanya yang memperlihatkan ****** ********, tangannya yang lain menempel perutnya menutup pusarnya yang kelihatan.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, bagaimanapun ini tubuh Helena, istri kakakku" ujar Joon.

__ADS_1


"Istri kakakku" ejek Shaina, "dia juga kan perempuan" sambung Shaina.


"Aaaa...." Shaina terkejut.


Ia meringis karena bayi didalam perutnya bergerak, yang membuat Joon juga ikutan kaget. Tapi setelahnya senyuman kembali merekah di bibir Shaina yang merasakan pergerakan bayi.


Shaina meraih tangan Joon untuk diletakkan di atas perutnya, "coba rasakan dia bergerak", katanya.


Joon terpaku karena telapak tangannya menempel di permukaan perut Shaina, karena tanpa sadar itu membuatnya tidak karuan, tersesat dalam pikirannya dengan perasaan bergejolak.


"Waaaa!!! Iya benar, ada yang bergerak" seru Joon yang semringah ketika merasa ada yang bergerak-gerak dari dalam perut Shaina.


Shaina tertawa dengan tangannya di atas tangan Joon yang berada di permukaan perutnya.


"Apa itu sakit saat ia bergerak?" Tanya Joon.


"Sedikit..." Ucap Shaina yang tersungging.


"Dia bergerak lagi..." Seru Joon yang berbagi senyuman kebahagiaan dengan Shaina.


Mereka melupakan kesenjangan diantara mereka dan hanya fokus pada pergerakan bayi didalam kandungan saja, Joon meraih handuk tadi untuk mengeringkan baju Shaina dan tidak segan-segan ia mengelap bagian perut yang buncit itu.


"Kau harus kering agar bayinya juga hangat" kata Joon.


"Iya"


Shaina bangkit dari duduknya tapi ia kembali mengalami kesulitan untuk bangun jadi Joon membiarkan bahunya dijadikan tempat Shaina berpegangan. Namun, hal itu malah membuat posisi mereka saling berhadapan membuat mereka saling menatap satu sama lain dikarenakan posisi mereka yang berhadapan.


"Terimakasih" kata Shaina.


"Sama-sama, setelah cepat ganti pakaianmu agar kamu tidak kedinginan, dan jangan masuk ke kamar mandi dulu, lantainya masih licin" ujar Joon.


"Baik" sahut Shaina


"Jika ingin ke kamar mandi, gunakan kamar mandi di kamarku saja" tambah Joon.


Shaina mengangguk.

__ADS_1


Halo...! para reader yang baik hati dan suka menabung, terima kasih untuk mampir ke Rahasia Jiwa Mama, jangan lupa tinggalkan jejaknya biar author nya semangat untuk ngehalu, hehehe....!!


__ADS_2