Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
keluarga besar Mama


__ADS_3

"Mama" ucap Alice yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


Secepatnya Shaina menyeka genangan embun bening di matanya sembari memalingkan wajahnya lalu menghampiri Alice, sedangkan Joon masih di tempatnya memalingkan wajahnya dari Alice dan Shaina.


"Hai sayang, kamu udah mandi ya? Kita ke kamar yuk, kita lihat hari ini Alice mau pake baju apa ya" ujar Shaina dengan menciptakan senyuman yang di buat-buat.


"Iya Ma" sahut Alice.


Shaina keluar dari kamar Joon bersama Alice yang berselimutkan handuk yang ia ambil dari rak kamar mandi Joon.


Usai membantu Alice mencari pakaian yang cocok di kenakan, Shaina kembali ke dapur untuk melanjutkan menyiapkan sarapan untuk semuanya, meski perasaannya sedang kacau karena pernyataannya Joon tapi Shaina sedikit dapat bernafas lega karena ia juga telah mengatakan apa yang telah ingin ia katakan pada Joon, walau itu agak berlebihan.


"Alice bantu ya Ma?" Ucap Alice yang mengambil piring berisikan makanan yang tergeletak di meja dapur untuk di bawanya ke meja makan.


"Tentu Alice, tapi hati-hati ya" kata Shaina.


"Baik Ma" sahut Alice.


"Ngomong-ngomong Mama punya Mama juga?" Celetuk Alice sembari membagikan piring-piring di meja makan.


Shaina terkekeh, "ya tentu sayang, Mama juga punya Mama dan papa juga, tapi kalau kami nyebutnya Mak dan ayah" ujar Shaina.


"Mak dan Ayah?" Sela Alfan


Joon juga masuk ke ruang makan sambil menyingkap lengkap bajunya yang panjang, sesekali ia melirik Shaina tanpa sepengetahuan sang tubuh.


"Mama juga punya adik, semuanya cowok cuma Mama aja yang cewek, Mama juga punya sepupu yang banyak, mereka seumuran dengan kalian, dan juga lucu-lucu" ujar Shaina.


"Waaaahhh, pasti sangat seru, bisa main sepuasnya kapan saja" sela Alice.


Shaina mengangguk dan tersenyum lebar melihat mereka sangat antusias mendengar cerita seputar keluarga aslinya.


"Kami bisa manggil Mak Ayah juga dong?" Tambah Alfan.


Shaina mengerling dan memanyunkan bibirnya, ia tampak serius dengan berkata, "tidak boleh".


Kedua anak itu menundukkan wajah mereka dengan ekspresi sedih, dan Joon hanya melihat mereka tanpa berkata apapun.


"Kalian enggak boleh manggil Mak ayah seperti Mama panggil mereka, tapi kalian manggilnya dengan panggilan nenek dan kakek" sambung Shaina yang tersenyum lebar.


Mendengar itu, senyuman indah langsung merekah dari bibir Alfan dan Alice.


"Benarkah Ma?" Sudi si kembar.


Shaina mengangguk.

__ADS_1


"Yeah! Yeah! Kita punya nenek kakek lagi....!" Seru mereka, sampai-sampai Alice dan Alfan berpelukan dan bertepuk tangan saking gembiranya sambil menyeru panggilan nenek kakek.


"Kalian juga punya banyak paman, kakak, Abang dan adik" tambah Shaina.


"Paman?" Alice dan Alfan saling berbagi pandangan, "waaaahhh kita punya paman lagi, kita punya kakak dan Abang juga, kita punya banyak saudara, kami suka...! Kami mau ketemu sama mereka...kami bisa main sepuasnya...! Kami sangat senang....! Senang-senang sekali....!" Seru Alice dan Alfan tanpa henti hingga mereka berlarian mengelilingi meja makan.


Mendadak Alfan berhenti tepat di depan Alice sampai-sampai ia hampir di tambrak olehnya karena mengerem mendadak.


"Berarti Paman punya Papa dan Mama lagi dong" gumam Alfan.


UHKUUKKK! UKHHUKK!


Joon tersedak dengan air hangat yang baru seteguk ia minum karena mendengar perkataan Alfan.


"Paman punya Papa lagi, berarti Paman enggak boleh berantem lagi sama Papanya Mama dan jangan buat Mamanya Mama khawatir lagi kalau enggak mau mereka ngusir paman lagi" ujar Alfan.


Seketika Joon menolehkan wajahnya pada Alfan lalu beralih pada Shaina yang terdiam dan bingung dengan pernyataan Alfan barusan.


"Iihh...! Anak kecil tahu apa? jangan ikut ngomongin orang dewasa!" Timpal Joon yang mengatup mulut Alfan dengan mulutnya.


Alfan menggeserkan mukanya dari tangan Joon yang memencingkan mata padanya, "Tapi benarkan? Paman berantem sama kakek dan Papa, sampai-sampai Paman enggak diizinin pulang lagi ke rumah kakek" tambah Alfan.


"Iya, Alice juga lihat waktu itu saat kita di kantor kakek, nenek nangis-nangis dan mengatakan paman bukan lagi anak nenek gara-gara Paman ketahuan mabuk bersama banyak perempuan joget-joget" sambung Alice.


"Issshh kalian ini...!, apa enggak bisa enggak gosip pagi-pagi?" Tukas Joon yang melirik ketus pada si kembar.


"Iya Ma, paman saat itu sangat menakutkan, apalagi pas marah-marah sama Mama Helena dan mengatakan Mama Helena orang luar yang sok ikut campur urusan keluarganya papa dan Paman, tapi papa memarahi balik hingga mereka hampir berantem, untung saja nenek sakit saat itu dan mereka berhenti berantem" ungkap Alice.


"Tapi karena nenek sakit saat itu Alfan jadi tidak bisa main lagi sama nenek sampai sekarang" tambah Alfan.


Joon terdiam dan beberapa kali ia memalingkan wajahnya.


"Sudah ceritanya, kita makan aja dulu, nanti kalian malah terlambat sekolah" ucap Shaina menghentikan cerita mereka karena ia merasa ada yang aneh dengan Joon yang lebih terlihat diam dan ia juga tampak menghindari kontak mata dengan siapapun, belum lagi ia tampak berkaca-kaca.


Setelah acara sarapan selesai Joon lebih sering diam setelah percakapan itu bahkan ia hampir tidak berbicara dengan Shaina, kecuali saat berpamitan pergi kerja.


Namun saat Joon dan si kembar hendak keluar rumah, mendadak Shaina memanggil mereka.


"Alice? Mana tas mu?" Tanya Shaina pada Alice yang pergi ke sekolah tanpa membawa tas sekolahnya.


"I-itu Ma, Alice malas bawa tas jadi buku milik Alice di masukkan ke dalam tas Alfan saja" ujar Alice yang berbohong pada Shaina.


Shaina juga mengarahkan pandangannya pada Alfan.


"I-iya Ma, Alfan juga enggak apa-apa kok bawa punya Alice" tambah Alfan untuk membantu Alice meyakinkan Shaina dan Joon.

__ADS_1


"Oh" ucap Shaina.


Dengan bergandengan tangan Joon berjalan menuju ke halte yang tidak jauh dari rumah mereka, udara dingin mampu menghangatkan Alfan dan Alice hanya dengan genggaman tangan Joon yang hangat, itu mengingatkan mereka pada kehangatan papa mereka dulu.


Di halte bus tersebut tidak hanya mereka saja, tapi juga sepasang suami istri tua yang berdiri di ujung halte, mereka saling mendekap untuk menghangatkan satu sama lain, pandangan mereka tertuju pada Joon yang juga sedang melihat mereka.


Disaat Joon sedang fokus melihat pasangan tua itu, bus yang mereka tunggu berhenti, Joon dan keponakannya segera masuk kedalam agar tidak semakin dingin di luar, namun pasangan tua tersebut masih berdiri di tempat mereka dan tanpa mengalihkan perhatian mereka dari Joon.


Di dalam bis Joon duduk di sebelahnya anak-anak, pandangannya masih tertuju pada pasangan di halte tersebut dan merasa ada yang aneh dengan pasangan tua itu, tiba-tiba Joon di buat seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat, pasangan suami istri tua itu menghilang bersama hembusan angin dingin yang tertiup dari selatanl, ketika Joon ingin memastikan penglihatannya tersebut, bis yang ditumpangi sudah terlalu jauh dari halte.


Dan tidak satupun orang-orang didalam bis itu menyadari apa yang dilihat Joon itu, selain keheningan diantara mereka. Joon kembali ke tempat duduknya bersamaan air mata yang menetes tapi segera dihapusnya, Joon sangat mengenal sosok pasangan yang baru dilihatnya adalah orang tuanya yang telah pergi dari dunia ini.


Seperti biasanya Joon mengenakan apron pelindung sebelum ia berkutat dengan pekerjaannya.


"Joon, kenapa tanganmu di perban? Apa itu parah?" Tanya Harris yang kaget melihat kondisi tangan Joon.


Tidak hanya Harris yang penasaran tapi rekan yang lain juga ikut penasaran termasuk bos mereka.


"Ya biasalah, ternyata tulangku ada yang retak" sahut Joon dengan santainya.


"Memangnya apa sih yang terjadi di dalam gudang tuh hingga tanganmu parah gini?" Tambah Gia.


"Aku aja yang ceroboh" jawab Joon.


"Tapi, apa kamu bisa bekerja? Jika tidak kamu boleh cuti hari ini" sela bos.


"Tidak masalah, aku bisa bekerja kok karena aku dominan menggunakan tangan kiri" Joon mengangkat tangan kirinya memperlihatkan pada mereka.


****


KLOTAK! KLOTAK!


Gesekan sol high heels dengan lantai menggema dari sepatu Nyonya Rossie yang memasuki ruang pribadi putranya, langkahnya semakin cepat dan tegas, lalu di lemparkan beberapa kertas kecil ke meja kerja milik Darrell.


"Apa-apaan sih Mom?" Tanya Darrell yang heran dengan sikap Mominya.


"Kamu yang apa-apaan? Memberikan berlian mahal untuk perempuan itu!!!" Lontar Nyonya Rossie.


"Apa yang salah sih Mom? Aku hanya memberikan sedikit hadiah kecil untuknya" jelas Darrell.


"Hadiah kecil? berlian seharga ribuan dolar kau bilang hadiah kecil? Pelac*r seperti dia tidak pantas mendapatkannya!!" Nyonya Rossie tidak sedikitpun menurunkan nada suaranya.


"Momi jangan marah dulu, aku hanya menitipkan sebentar pada Gladys, karena aku membutuhkannya" Darrell memeluk Mominya.


Nyonya Rossie mengerling pada putranya yang berusaha menenangkannya.

__ADS_1


Nyonya Rossie berbalik badan dan menuju pintu keluar tapi beberapa langkah ia kembali berhenti dan berkata, "ku harap benar seperti yang kau katakan itu, dan kau jangan sampai lemah oleh yang namanya wanita, karena wanita itu terlihat lemah di luar tapi didalamnya berbahaya".


Nyonya Rossie melanjutkan langkahnya yang keluar dari ruangan Darrell.


__ADS_2