
Tiga tahun kemudian...
Di ruangan yang cukup besar, didominasi warna putih dan abu-abu dengan berbagai interior dan furniture modern yang menyempurnakan kenyamanan pemiliknya, namun diantara semua kenyamanan dan kemewahan itu tidak membuat pemiliknya lupa akan sang penciptanya, ia duduk bersimpuh, menyatu diri di lantai setelah bangkit dari sujudnya untuk merendah diri dihadapan Sang pemilik, menyatakan dirinya yang tidak lebih dari sebutir debu tak berharga.
Mengadahkan telapak tangan ke langit, mengharapkan keridhaan sang ilahi agar sudi memaafkan dosanya di masa lalu, sekarang dan dimasa yang akan datang.
Sepenggal doa di lampirkan untuk sebagian hatinya yang tidak ia ketahui keberadaannya agar tetap baik-baik saja. Tanpa terasa retina birunya menjadi basah sekali lagi.
Setelah menyelesaikan kewajibannya itu ia beranjak dari duduknya dan memindahkan sajadah yang menjadi alas ia bersimpuh, tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dan seorang lelaki masuk.
"Klien mulai marah-marah karena menunggu mu di ruang rapat dari tadi" ucap lelaki yang baru masuk itu, lelaki bersetelan kantor itu melapor pada atasannya.
"Aku baru membuatnya menunggu sebentar saja ia sudah marah?" Dengus sang atasan dengan senyuman sinisnya.
Ia adalah Joon dengan penampilan barunya, tapi masih dengan hati yang sama.
"Cepatlah! Kita tidak punya waktu untuk bermain-main!" Tukas bawahannya, sambil melempar jas yang tergantung di tempat gantungan jas.
"Kasar sekali kau, aku bos mu, setidaknya tunjukkan sedikit rasa hormatmu" tukas Joon.
"Aku tidak punya waktu menghormati mu sekarang, kau harus cepat ke ruang rapat agar cepat selesai, sebentar lagi anak-anak datang, aku tidak mau jadi bahan omelan mereka gara-gara kamu terlalu lama bersama klien itu!" Lontar sang bawahan yang tak lain adalah Harris, kini telah bertransformasi menjadi seorang asisten pribadi Joon.
Joon berjalan malas sambil mengancing jasnya, dan berdecak kesal pada Harris.
"Sebenarnya aku ini bos apa bukan sih? Semua orang lebih khawatir dimarahin oleh anak-anak daripada aku" dengus Joon.
"Jangan banyak bicara! Sekarang masuk dan lakukan saja tugas mu!" Pekik Harris melototi Joon di depan pintu ruang rapat.
Harris membukakan pintu untuk Joon masuk, sisi pimpinan dengan karakter tegasnya kembali muncul saat langkahnya memasuki ruangan tersebut, semua orang berdiri dan membungkuk sebagai penghormatan mereka kepada CEO itu.
Tanpa basa-basi basi atau senyuman yang dapat meluluh-lantakkan hati kaum hawa, Joon langsung memanjakan dirinya di kursinya dan memulai rapat tersebut, klien yang awalnya marah-marah karena dibuat menunggu jadi tidak berkutik saat melihat Joon.
Satu jam berlalu, rapat panjang itu berakhir, Joon dan beberapa petinggi keluar dari ruangan itu dan berjalan mengekor di belakangnya. Di atrium langkah Joon kembali berhenti, dia berpapasan dengan Darrell. Beberapa orang langsung meninggalkan Joon dan Harris bersama Darrell.
"Waaaahhh tuan benar-benar keren... Pengen deh jadi Mama anak-anak..."
"Kau benar aku juga mau gitu, tapi tuan Darrell juga tidak kalah ganteng, dia sangat seksi..."
Dua pegawai perempuan sibuk bergosip memperhatikan Joon dan yang lain dari meja resepsionis.
Di tangga atrium Joon dan Darrell tampak membicarakan sesuatu yang serius lalu mereka berjalan berbarengan ke living room sebuah ruangan yang nyaman untuk bersantai.
Beberapa saat setelah tiba di living room seorang lelaki lain ikut masuk dan langsung menjatuhkan diri di sofa yang empuk itu tanpa peduli kakinya mengenai Harris.
"Apa-apaan ini?" Pekik Harris pada orang yang baru tiba itu.
"Aku mau tidur minggir kau!" Ujar orang tersebut dengan mendorong Harris dengan kakinya.
Darrell dan Joon tersungging melihat tingkah Harris dan Calvin yang baru tiba.
__ADS_1
"Tidur! Kau kira ini hotel apa? Main tidur sembarangan!" Berang Harris.
"Berisik!" Balas Calvin yang menumpuk Harris dengan bantal, hingga mereka beradu mulut.
"Dasar brengs*k, setelah bersenang-senang dengan perempuan malah istirahat disini" gumam Harris.
"Dasar otak mesum, aku lelah bukan karena bermain dengan perempuan! Aku sudah insyaf tidak melakukan itu lagi tapi aku lelah karena semalaman melakukan operasi tau gak sih!" Balas Calvin, "kau enak bisa bersantai di sini" lanjutnya.
"Enak apanya? Ngurus tuh manusia kau bilang enak? Kalau gitu kamu aja yang gantiin" tukas Harris yang menunjuk pada Joon.
Joon melirik sinis pada Harris, membuat Darrell dan Calvin tertawa. Tidak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, derap langkah kaki bergema di living room.
"Papa...." Gadis kecil berusia tiga tahun berlari dan melompat ke atas Joon yang tampak sangat senang melihat gadis manis itu.
"Manisku... papa sangat kangen sama kamu..." Kata Joon sembari menciumi pipi dan memeluk balita tersebut.
Tingkah lucu gadis itu ikut membuat yang lain tertawa lepas. Di belakang gadis mungil itu juga masuk sepasang remaja yang cantik dan tampan. Mereka duduk di sofa sebelah Darrell.
"Ih! Papa enggak malu di depan orang bertingkah seperti anak kecil" keluh gadis remaja itu.
"Memangnya kenapa? Papa cuma peluk putri papa bukan orang lain" balas Joon pada Alice yang sudah tumbuh remaja.
"Alice kayak gitu karena cemburu tuh Pa" sela remaja yang lain, yaitu Alfan yang semakin menawan dengan mata safirnya.
"Alice sama paman Darrell aja" celetuk Darrell menggosok-gosok kepala Alice.
Mereka semua menertawakan Alice cemberut yang bersikap seperti gadis dewasa meski ia baru berumur 13 tahun.
"Papa, Elliiis hauss mau susu" balita itu menengadahkan wajahnya pada Joon.
"Oh Elif haus? Papa buatkan dulu ya?" Ujar Joon.
Elif mengangguk lucu.
"Sini Elif sama om Harris aja, papa Elif mau buat susu dulu" sela Harris menyorongkan tangannya pada Elif.
Namun Elif semakin erat berpegangan pada Joon, menempel dengan kuat dan tidak mau melepaskan pelukannya dari Joon.
"Euunggak mau" gumam Elif.
"Sama om Calvin?" Sela Calvin.
"Om Darrell saja" tambah Darrell.
Elif kecil mengucapkan kalimat yang sama dan diikuti dengan geleng kepala seperti sebelumnya. Joon tersenyum dan menggendong Elif ke belakang menuju pantry di ruangan itu.
Setelah siap menyeduh susu dan suhunya juga sudah pas buat Elif minum segera di berikan Joon pada putri bungsunya itu. Wajah manis dengan pipinya yang kemerahan itu semakin terlihat menggemaskan. Tidak menunggu lama air susu didalam botol tersebut hampir tidak tersisa.
"Besok kau dan orang tuamu jadi pulang ke Indo*****?" Tanya Joon pada Harris yang tidur di sofa dekat sofa Calvin berbaring.
__ADS_1
"Iya jadi, karena salah satu sepupuku akan menikah dan keluarga besar kami di wajibkan berkumpul sekalian reuni keluarga" celetuk Harris.
Calvin beranjak dari tidurnya, "kalau gitu aku ikut ya? Karena mulai besok aku ambil cuti untuk liburan" sela Calvin.
"Enak aja! Mau taruh di mana muka ku nanti didepan keluargaku, mereka mengharapkan ku membawa perempuan sebagai calon pasanganku bukan laki-laki, bisa-bisa aku di anggap lelaki enggak benar" timpal Harris.
Calvin melempar bantal lagi pada sahabatnya itu, "kalau tidak di perbolehkan ya udah! Enggak usah ngegas kayak gitu! Aku juga ogah berduaan dengan makhluk sepertimu!" Balas Calvin.
"Alfan dengar-dengar negara tersebut banyak makanan enak dan tempat wisata yang keren-keren ya om Harris?" Imbuh Alfan.
"Tentu saja, kau tertarik untuk ikut?" Tanya Harris.
Alfan mengarahkan pandangannya pada saudara kembarnya dan mereka tersenyum dan serentak mengatakan, "iya! Kami ingin pergi juga" sahut mereka.
Harris mengarahkan pandangannya pada Joon yang hanya tersenyum melihat anak-anaknya yang ingin liburan bersama Harris.
"Bagaimana?" Sela Darrell, meminta tanggapan Joon mengenai keinginan si kembar.
Alice segera bangkit dari duduknya dan duduk di sebelah Joon dengan gaya manjanya.
"Pa, boleh ya? Kami sudah bosan liburan ke tempat lain, kami mau ikut pergi dengan om Harris... Boleh ya Pa... Papa..." Rengek Alice.
Alfan juga duduk sisi yang lain, ia juga ikut merengek, "Pa... ayolah, kita juga bisa ikut menikmati acara pesta itu, itu pasti sangat seru" Alfan menarik-narik tangan Joon, lalu ia mengeluarkan ponselnya merek terbaru, "lihatlah Pa, tempatnya sangat keren-keren" Alfan menunjukkan beberapa lokasi wisata yang terdapat di negara tersebut.
Dengan cepat Elif menyerobot ponsel kakaknya dan menciumi layar ponsel tersebut sambil bergumam.
"Mama... Mama..." Gumamnya.
Semua orang terkejut mendengar Elif mengucapkan kata itu, kata yang tidak pernah diucapkannya selama ini, bahkan sejak pertama kali ia bisa mengucapkan kata.
"Sayang, apa yang kamu bilang?" Tanya Joon untuk memeriksa kalimat Elif.
Semua orang menunggu jawaban Elif dari pertanyaan Joon sebelumnya.
"Mama.... Mama... Mama mau ketemu Eliiss" gumamnya.
Semua terdiam menganga, seakan tidak percaya apa yang mereka dengar dari mulut balita itu, Joon langsung memeluk Elif dan menciumnya, kedua anak kembarnya juga tidak luput dari pelukannya.
"Iya, Mama pasti menunggu kita" kata Joon.
Tiga laki-laki lainnya memalingkan wajah mereka dari pemandangan yang mengharukan itu, bahkan Harris ikut berkaca-kaca.
Apa yang dirasakan Harris juga dimengerti oleh Calvin dan Darrell, bahkan Darrell yang sekarang sudah jadi salah satu orang kepercayaan Joon setelah kejadian tidak menyenangkan itu, tapi Joon telah memaafkan semuanya dan membebaskan Darrell dari tuduhan apapun.
Karena pada dasarnya Darrell memang tidak berurusan dengan pembunuhan apapun, dari dulu tujuannya hanya ingin menyaingi Joon saja agar ia juga di hormati namun kata-kata dan perhatian yang pernah di dapatkannya dari Shaina telah mengubah hidupnya.
Ia mulai mencari jati dirinya yang sebenarnya untuk mendapatkan ketenangan jiwanya yang lama hilang darinya. Berbeda dengan ibunya, nyonya Rossie yang menginginkan jadi penguasa dan tamak akan kekuasaan yang pada akhirnya kekuasaan itu juga yang menghancurkan hidupnya, sekarang nyonya Rossie di berada di tempat rehabilitasi, kondisi jiwanya yang buruk membuatnya sulit mengerti apapun, psikisnya dan mentalnya tidak lagi dapat berjalan dengan normal.
*****
__ADS_1