Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Jangan rindukan aku


__ADS_3

Belum urusannya selesai tangannya sudah berdarah karena tergores serpihan gelas tapi Joon yang melihatnya tidak tinggal diam, ia segera meraih tangan Shaina dan memintanya berdiri, lalu Joon bergegas mengambil kotak p3k yang terdapat disalah lemari untuk mengobati tangan Shaina yang berdarah tersebut.


"Kamu sih ngeyel! kan sudah kubilang biar aku saja yang membersihkannya, lihatlah sekarang, berdarah!" Lontar Joon pada Shaina.


"Mama tidak apa-apa kan?" Tanya Alice dan Alfan yang cemas melihat darah keluar dari jarinya bahkan Shaina sampai meneteskan air matanya.


"Aku tidak apa-apa, ini juga tidak sakit" ujar Shaina seraya menyeka air matanya.


"Lalu, kenapa kau menangis?" Sudi Joon.


"Ehh! Tidak apa-apa, aku hanya lagi ingin menangis saja" kilah Shaina.


"Jangan nangis lagi, ayo kita makan, Alice dan Alfan pasti sudah sangat lapar kan?" Ujar Joon pada mereka.


Si kembar itu mengangguk di kursi mereka masing-masing setelah itu melanjutkan sarapan mereka yang tertunda karena Marissa. Tapi Shaina tampak terdiam memandangi hasil masakannya di piring yang sangat kental dengan masakan asalnya, dan beda jauh dengan yang seharusnya dimakan oleh Joon dan anak-anak.


Meski rasanya tidak terlalu buruk seperti yang dikatakan Marissa tapi tetap saja itu tidak sesuai dengan lidah mereka orang barat, bagaimanapun Shaina merasa tersinggung sekaligus malu. Pertama, Shaina bersusah payah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan agar ada yang bisa dimakan. Kedua, ia terlalu percaya diri menghidangkan masakannya pada Joon dan anak-anak, yang pasti mereka berpura-pura menikmati makanan tersebut karena menganggapnya sebagai Helena.


"Shaina! Shaina!" Panggil Joon yang seketika menyadarkan Shaina dari lamunannya.


Shaina mengerjap menatap mereka yang rupanya sedang memperhatikannya saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya.


"Jika tidak enak jangan dihabiskan buang saja" tukas Shaina.


"Kau memikirkan perkataan Marissa ya?" Tanya Joon.


"Tidak, kenapa aku memikirkan perkataan perempuan itu, eh! maksudku Marissa" kilah Shaina, ia menekukkan wajahnya.


"Aku akan menghabiskan jatah sarapan ku dan jika kamu tidak makan, maka jangan marah aku merebut punya mu" celetuk Joon seraya tersungging saat melihat Shaina dengan meliriknya.


"Jangan di paksakan jika tidak mau, aku tidak akan marah" kata Shaina.


"Hei! Aku serius mengatakannya, sebaiknya kau makan saja sebelum aku merebutnya" tambah Joon.

__ADS_1


"Joon..." Gumam Shaina.


"Habiskan susu mu, aku tidak mau bayi di perutmu melemah karena Mamanya yang yang suka ngeyel saat di bilangin" tukas Joon.


Shaina sempat tertegun sejenak karena Joon, kemudian ia melanjutkan sarapannya bersama mereka seperti pagi-pagi sebelumnya, di meja persegi itu dimana ia duduk bersebelahan dengan Alice dan berhadapan dengan lelaki coklat terang yang duduk bersama Alfan, sesekali Shaina juga mencuri pandang pada Joon yang mampu mengobrak-abrik jantungnya.


Acara sarapan pagi usai, Joon menyempatkan diri untuk membantu Shaina mencuci piring di dapur sebelum ia pergi kerja.


Tidak bisa dipungkiri, pagi Joon juga dimulai dengan sesuatu yang tidak mengenakan, dimana untuk pertama kalinya ia bertengkar hebat dengan Marissa, kekasihnya yang sudah dua tahun lebih jadi tambatan hatinya, luar-dalam juga sudah saling mengetahuinya, kecuali soal seluk beluk keluarga Joon.


Tapi Joon tidak merasa bersalah sedikitpun meski bertengkar dengan Marissa, malahan ia senang bisa membela Shaina, apalagi saat Shaina tersenyum padanya. Seperti saat mereka sedang mencuci piring di wastafel, Shaina yang menekuk wajah namun ia melirik-lirik lelaki disebelahnya yang juga sedang berlumuran busa sabun. Hati Joon benar-benar tidak tahan melihat Shaina begitu, ekspresinya yang seperti anak kecil yang sedang cemberut tapi menggemaskan.


Beberapa kali Shaina kedapatan sedang menggigit bibirnya membuat Joon ingin sekali menikmati lembutnya bibir Shaina tapi sayang, itu tidak bisa dilakukannya dikarenakan itu tindakan yang bertentangan dengan keyakinan mereka berdua dan Shaina juga bukan perempuan gampangan seperti di luar sana, selain itu sosok perempuan tersebut adalah kakak iparnya sendiri yaitu istri dari kakak kandungnya, jika sampai ia melakukannya, Joon pasti akan merasa sangat bersalah terhadap Ervian.


Walaupun hati dan pikiran sedang bergelut, Joon masih bisa tampil tenang di depan semua orang tidak terkecuali Shaina sendiri yang sudah menjadi magnet bagi Joon.


Cuma bisa meniup gelembung sabun ke muka Shaina untuk menggodanya sekaligus membuatnya tertawa karena Shaina juga tidak mau kalah dari Joon yang mengganggunya dengan gelembung sabun sehingga membuat keduanya tertawa lepas. Namun, disela-sela keriuhan di depan wastafel tersebut, diam-diam Joon terkesima dengan Shaina yang selalu ceria dan kerap tersenyum tapi ia juga terkadang agak mudah sekali sensitif baik itu marah atau kesal tanpa sebab, walaupun itu tidak sampai berkepanjangan, disebabkan karakter Shaina yang positif dan mudah di bujuk.


"Kamu hati-hati ya di rumah, jangan angkat yang berat-berat" pesan Joon pada Shaina.


"Siap bos!" Sahut Shaina, lengkap dengan gerakan siapnya bak seorang prajurit negara dan bibinya juga tidak lekang dari tersenyum.


Joon tersungging, "Kalian berdua jangan lupa belajar walau tidak sekolah, jangan main terus di rumah" kata Joon pada Alice dan Alfan.


"Iihh paman! Jadi sebel! Masa disuruh belajar?" Gerutu Alice menghantam-hantam kakinya ke lantai, lalu berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri ke sofa tersebut, sedangkan Alfan hanya berdecak kesal, ia juga terlihat tidak senang dengan perintah Joon yang satu ini.


Alfan juga ikut duduk di sofa bersama adik kembarnya dengan wajah mereka yang sama-sama di tekuk.


"Dibilangin kok pada marah-marah?" Ujar Joon.


Shaina segera mencegah Joon yang hendak masuk kembali kedalam rumah dengan menghalangi jalannya, "jangan khawatirkan mereka, nanti aku bicara dengan mereka. Kamu bekerja aja dengan tenang" kata Shaina.


Joon menatap perempuan itu yang memiliki pandangan menenangkan jiwanya apalagi saat Shaina menempatkan tangannya di dada Joon untuk menenangkannya, yang bagaikan sebongkah salju diantara kobaran api yang menyala.

__ADS_1


"Baik, aku percaya padamu" sahut Joon, ia merunduk setengah perut Shaina, "Elif juga sehat-sehat ya, jangan bikin Mama sakit" lanjutnya di perut Shaina..


Seketika Shaina terkekeh dengan aksi Joon yang mulai sering mengobrol dengan janin dalam kandungannya.


"Ada-ada saja kau ini! Mau berangkat kerja saja sudah kayak mau perang, pergi sana! Jangan sampai kau terlambat nanti" tukas Shaina.


Joon kembali memancarkan senyuman mautnya karena ucapan Shaina.


"Aku pergi dulu, jangan rindukan aku ya!" Celetuk Joon.


Mendadak Shaina merona, pipinya memerah seperti kepiting rebus. Ia mendorong Joon masuk ke mobil agar tidak berlama-lamaan dengan drama berangkat kerja. Tidak seberapa lama kemudian mobil Joon menjauh dari halaman rumah, dan Joon jadi tersungging melihat Shaina masih melambaikan tangannya yang terlihat melalui kaca spion mobilnya.


*****


Di COFFE ROMANTIC, Joon kembali bekerja seperti halnya hari-hari yang dilaluinya, tapi yang berbeda Joon terlihat lebih bersemangat dan kerap kali memeriksa jam tangannya atau mengecek ponselnya. Namun, aksi Joon tersebut tertangkap oleh perhatian sahabatnya, Harris mulai curiga ada sesuatu dengan Joon yang belum pernah ia lihat sebelumnya, jadi ia mencoba bertanya untuk menjawab penasarannya.


"Kenapa sih? Dari tadi ngecek hp terus, memangnya ada jadwal apa?" Tanya Harris.


"Aku lihat apa ada panggilan masuk dari rumah, aku khawatir jika melewatkannya" sahut Joon dengan datar.


"Apa ada yang sakit?" Tanya Harris.


"Tidak. Aku cuma khawatir mata Shaina tampak bengkak tadi pagi, dan aku tidak tahu yang terjadi karena aku tidak tidur bersamanya semalam" kata Joon sambil serius dengan tugasnya sebagai barista.


Beberapa saat kemudian Joon menyadari sesuatu ada yang salah dari kalimatnya yang barusan ia lontarkan, karena pernyataannya tersebut mengandung makna yang ambigu dan bisa di salah artikan oleh Harris. Benar saja seperti diduga Joon, Harris terlihat cengengesan pada Joon yang mendadak jadi kalap dengan temannya tersebut.


"Bu-bukan itu maksudku, bukan tidur bersama seperti yang kau pikirkan" jelas Joon pada temannya itu yang terlanjur berpikir jorok.


"Tidak apa-apa, aku ngerti kok, lagian Marissa tidak akan curiga, aku mendukungmu kawan" ujar Harris yang semringah.


"Bicara apa kau? Kami tidak ngapa-ngapain cuma tidur saja" jelas Joon agar tidak terjadi salah paham tentangnya dan Shaina.


Tapi, Harris masih kekeh dengan apa yang dipikirkannya dan tidak henti-hentinya tertawa meski masih dalam konteks wajar agar tidak mengganggu para pelanggannya. Joon yang kesal dengan sikap temannya memilih menghindar dan kembali bekerja membuatkan espresso untuk para pelanggan.

__ADS_1


__ADS_2