Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Hari yang melelahkan


__ADS_3

Ketika suara mesin mobil Nyonya Rossie sudah menghilang dari kejauhan baru Shaina bisa bernafas lega, ia duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya karena kelelahan beraktivitas seharian penuh dari bersih-bersih ini itu sampai harus berpura-pura menjadi Helena di depan Nyonya Rossie.


"Joon, entah apa yang sedang kau sembunyikan dariku, tapi jangan salahkan aku jadi detektif mulai sekarang" Shaina tersenyum jahat sendiri di ruang tamu.


Tawanya menggelegar hingga mengundang anak-anak menghampirinya.


"Kenapa Mama tertawa sendiri?" Tanya Alfan.


Shaina menyeringai lebar, "Mama mau main detektif-detektifan" ujar Shaina.


"Alice ikut Ma" tambah Alice.


"Tentu saja sayangku" Shaina cekikikan dengan gaya coolnya, ia juga menyingkirkan rambutnya yang menutupi matanya, "apa Mama terlihat keren?" Sudi Shaina.


"Tentu saja, Mama sangat keren...!!! Tapi Ma, apa yang sedang ingin Mama usut?" Tanya Alfan.


"Mama mau menangkap kecoa kecil" sahut Shaina.


"Ayo Ma Alice juga mau ikut sepertinya seru..." Alice sangat antusias.


"Tidak sekarang Alice, Mama lelah" Shaina kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan malasnya.


Tidak lama kemudian Alice dan Alfan ikut merebahkan diri dalam pelukan Shaina, bermanja-manja dengannya, menggelitik hingga tertawa bersama.


"Ngomong-ngomong Paman kalian lagi ngapain ya?" Gumam Shaina pada mereka berdua.


Shaina membuka ponselnya dengan wallpaper Alice dan Alfan yang tersenyum lebar.


"Tidak tahu Ma, telpon aja" sahut Alfan.


"Enggak ah nanti ke g-erran dia" lanjut Shaina.


"Mama kangen sama Paman ya?" Sambung Alice yang cengengesan.


"Nggak, ngapain kangen sama dia?" Kilah Shaina dengan meletakkan ponselnya kembali di meja.


Ia kembali berpikir sambil gigit jari, sesekali matanya tertuju pada ponselnya yang tergeletak di meja.


Drreeeett!!!


Joon meletakkan kotak kardus di rak berjejer dengan kotak-kotak lain yang telah ia rapikan, bunyi ponsel di saku celananya menghentikan kesibukannya, keringat juga telah membasahi kaos yang ia kenakan, meski cuaca sedang dingin tapi karena terlalu banyak bergerak dan mengangkat-ngangkat barang, hingga mengeluarkan banyak keringat.


Joon mengangkat telponnya dan suara perempuan terdengar dari ponselnya.


"Hai beb"


"Ya, ada apa?" Sahut Joon.


"Kita ketemuan yuk aku kangen..., kita bisa shopping".


"Aku tidak bisa. Marissa, aku sedang bekerja nanti saja bicara" ujar Joon.


"Joon...! Kenapa sih kamu selalu tidak punya waktu untukku? Dasar laki-laki egois!" Timpal Marissa.


"Marissa, berhenti seperti anak kecil! Aku memang sedang bekerja, Marissa! Marissa!"


TUT! TUT! TUT!..

__ADS_1


Panggilan itu diputuskan sepihak oleh Marissa, membuat Joon berdecak kesal dan segera menyimpan ponselnya kembali. Ia melanjutkan pekerjaannya tapi ponselnya kembali berdering karena kesal Joon mengabaikan bunyi ponselnya hingga ponsel itu terus berdering beberapa kali.


Karena merasa terganggu Joon akhirnya menghasilkan lagi ponselnya dan segera menarik keatas tombol warna hijau yang terdapat di layar ponselnya.


"Ada apa lagi? Aku lagi sibuk!!" Berang Joon penuh emosi.


"Maaf mengganggu aku kira kau sedang istirahat karena sekarang waktunya kamu istirahat" suara itu terdengar melemah.


"Shaina?" Ucap Joon.


Panggilan itu terputus, Joon memanggil-manggil Shaina tapi tidak ada gunanya karena ponselnya telah ditutup oleh Shaina. Joon mencemaskan Shaina yang marah karena tadi ia tidak sengaja membentaknya berpikir itu Marissa. Joon meninggalkan pekerjaannya dan fokus ke layar ponsel dan menghubungi Shaina kembali berharap Shaina tidak marah, tapi beberapa kali di coba tidak tersambung karena Shaina mengabaikan panggilan tersebut.


Lebih sepuluh kali Joon menelpon Shaina, tidak peduli ia sedang duduk di lantai berdebu itu.


Sekali lagi Joon menelpon dan itu tersambung, membuatnya sangat senang.


"Halo Shaina..." Ucap Joon.


"Ini bukan Mama tapi Alfan" ujar Alfan di seberang.


"Alfan, Mama di mana? Kenapa Mama tidak menerima panggilan Paman? Mama tidak lagi marah kan?" Tanya Joon.


"Paman egois! Kenapa membentak Mama? Bukan maunya Mama menelpon Paman tapi karena adek bayi yang kangen!!!" Sela Alice menyerobot handphone di tangan Alfan.


Joon kaget mendengar suara Alice yang berteriak hingga berdenging di telinganya, mengharuskan Joon menjauhkan handphone dari telinganya.


"Sayang paman minta maaf, tolong kasih HP nya sama Mama biar paman bisa minta maaf juga" ujar Joon membujuk Alice dengan memelankan suaranya.


"Mama enggak mau ngomong" tambah Alice.


Joon kembali kecewa, memegang kepalanya yang mendadak terasa sakit karena rasa bersalah pada Shaina, ia ingin sekali meminta maaf atau segera pulang tapi ia pasti tidak di perbolehkan oleh bosnya. Ditambah lagi Joon merasa sangat lelah setelah angkat-angkat barang pindah-meminda dari satu tempat ke tempat yang lain, ia juga harus membersihkan lantai dari debu dan kotoran lainnya, harinya semakin sulit karena orang-orang rumahnya sedang marah padanya.


Joon menyandarkan tubuhnya ke bagian rak untuk mengistirahatkan tubuhnya tapi perkakas didalam kotak yang terletak di atas rak jatuh dan palu yang terdapat di dalamnya ikut terjatuh hingga mengenai lengan kanannya.


Itu terasa sangat sakit tapi Joon lebih memilih mengambil ponselnya yang kembali berdering ketimbang mengkhawatirkan lengannya yang sakit.


Joon kembali berjalan ke dinding kosong sebelumnya untuk menerima panggilan masuk itu dan menyembunyikan lirih kesakitan itu.


"Hai, kamu lagi ngapain?" Tanya Joon yang melihat Shaina bersama anak-anak melalui layar ponsel.


"Tidak ngapa-ngapain cuma duduk-duduk santai, tadinya mau nanya kamu udah makan apa belum, tapi sepertinya kamu lagi sibuk" gerutu Shaina yang cemberut.


Joon tersenyum, "maaf ya, ku kira tadi penelpon iseng" ujar Joon, "emmm... Kalian udah makan?" Lanjutnya.


"Udah, Mama masak enak tadi sampai-sampai Alice rebut punya ku" sela Alfan.


Sontak Alfan mendapat cubitan dari Alice dan memarahinya, seketika si kembar berdebat hingga membuat Shaina kewalahan menghadapi mereka, sedangkan Joon terkekeh melihat mereka.


"Kamu udah makan siang?" Tanya Shaina pada Joon.


"Udah" sahut Joon sambil melirik jam tangannya, yang menyatakan ia melewatkan makan siangnya karena kelamaan di gudang dengan pekerjaan yang tiada akhir itu, "ngomong-ngomong siapa nih yang kangen? dedek bayinya apa Mamanya yang kangen?" Goda Joon yang tersungging pada Shaina.


"Ge-er mulu... Ya tentu Elif kalo tidak ngapain aku nelpon kamu, sekarang saja Elif bergerak lagi" papar Shaina.


Joon tertawa lepas melihat Shaina tersipu malu, "aku tidak percaya, aku mau lihat peri kecilku bergerak" tambah Joon.


Shaina meringis sambil menggigit bibir, karena alasannya malah membuatnya dalam masalah, ia juga melirik ke sampingnya yang di kelilingi oleh si kembar.

__ADS_1


"Oh seperti jangan, aku tidak mau melihat Elif sekarang, bisa-bisa aku pengen yang tidak-tidak disini" Joon mengedipkan matanya pada Shaina dengan kode tertentu.


Shaina mendengus kesal pada Joon karena kode yang diberikan dapat di tangkap dengan tepat oleh Shaina.


"Bye sayang paman kerja dulu ya, tunggu paman pulang, kalian mau apa? Nanti di beliin" ujar Joon.


"Mau ayam goreng dan permen karet" sahut Alice yang mendorong Alfan agar ia lebih dulu bicara dengan Joon.


"Alfan juga mau, karena Alfan mau buat balon yang sangat besar" sambung Alfan.


"Mama mau apa?" Tanya Joon.


Shaina memanyunkan bibirnya dengan ekspresi jutek.


"Aku tahu yang Mama mau, nanti paman pulang ya sayang,,, tunggu aku" sambung Joon dengan gaya berbisik ke arah Shaina.


Aksi Joon itu mampu membuat Shaina tersungging sambil menjulur lidah dengan agak mengejek.


"Paman jangan genit-genit ya kalo lagi kerja" tambah Alice sebelum telpon itu putus.


Joon menggenggam ponselnya sambil tersenyum lebar, perasaan gelisahnya tadi menghilang sudah, tak ada lagi kecemasan maupun kekhawatiran, hanya tersisa rasa senang dan rasa lelahnya pun telah tergantikan dengan semangat baru.


"Tunggu aku pulang, sayang" gumam Joon dengan senyuman terukir di wajahnya.


Ia segera bangkit dari duduknya untuk memulai pekerjaannya kembali, namun tiba-tiba lengannya terasa sangat sakit tapi ia tetap mengabaikannya untuk mempercepat pekerjaannya.


Sesekali ia meringis kesakitan tapi tetap melanjutkan pekerjaannya agar ia dapat pulang tepat waktu.


Beberapa jam berlalu, Joon telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, ia segera keluar dari gudang, jam kerja pun telah usai. Joon meraih mantelnya yang di simpan di loker khusus pegawai, Harris menangkap ada yang berbeda dengan Joon, tampak ia memegang lengannya.


"Kenapa tanganmu Joon?" Tanya Harris dan Gia pun ikut penasaran.


"Tidak ada, cuma terjadi masalah sedikit tadi" sahut Joon.


Harris mendekat dan meraih tangan Joon, "ya ampun Joon tanganmu memar, memangnya apa yang terjadi?" Tambah Harris yang panik.


"Aku baik-baik saja, jangan di perbesarkan" jawab Joon.


"Joon sepertinya tuh parah, sebaiknya kau ke rumah sakit" lanjut Gia.


Bosnya yang lewat juga ikut mendekat dan penasaran apa mereka bicarakan, ia cukup terkejut melihat lembam di tangan Joon dan menyuruhnya ke rumah sakit, tapi lagi-lagi Joon menolaknya karena ia ingin segera pulang meski Harris menawarkan diri untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Di luar kafe Harris tampak sendu melihat Joon, ia berkata, "aku benar-benar tidak berguna dan hanya menjadi penonton, soal kau dan orang itu" gumamnya.


"Jangan khawatir, aku bisa menahan emosi ku karena aku lagi butuh pekerjaan, aku tidak peduli lagi dengan Darel" sahut Joon.


Harris tersenyum puas dan diikuti oleh Joon.


"Ku rasa bos sengaja mengerjai mu dengan pekerjaan di gudang itu" ujar Harris.


"Aku tahu, Darel kembali bermain denganku tapi aku tidak mau lagi berurusan dengan orang-orang itu, yang ku pikirkan sekarang adalah pulang ke rumah bertemu mereka yang sedang menungguku" papar Joon.


Harris kembali tersungging, "iya, Alice dan Alfan pasti sedang menunggumu pulang dan Shaina..." Senyuman Harris mendadak hilang dan berubah menjadi panik, " Shaina? Joon jangan bilang Shaina juga menunggumu! Joon! Aku tidak suka itu!!" Pekik Harris pada temannya yang sudah berjalan ke halte.


Harris yang mendadak kesal mengejar Joon tapi terlambat karena Joon sudah naik ke dalam bis, di belakang Harris masih mengumpat Joon karena tidak terima dengan kenyataan Shaina juga menunggu Joon pulang.


wahai pembaca yang baik hati dan rajin menabung calon orang kaya, tolong dong jangan pelit-pelit lihat dan vote nya biar author semangat ngetiknya....

__ADS_1


__ADS_2